
Senin telah tiba, semua anak kembali berkegiatan. Virgou menyerahkan semua pekerjaan pada Satrio dan Gomesh.
Pria dengan sejuta pesona itu akan membawa Gino mengunjungi ayahnya yang ada di penjara.
"Jadi mas mau bawa baby Gi ke sel tahanan?" tanya Puspita.
"Iya sayang," jawab Virgou.
"Ck!" decak Puspita kesal.
"Kenapa putraku itu baik sekali, padahal ayahnya dulu ingin membunuhnya dengan meminta Baby mendonorkan hatinya!" lanjutnya kesal.
"Sayang," Virgou memeluk istrinya.
Netra pekat sang istri menghipnotis Virgou. Sebuah pagutan terjadi, keduanya saling memberi saluran cinta melalui mulut dan lidah mereka.
Puspita meremas kemeja suaminya. Virgou melepas pagutannya. Pria itu harus memadamkan kobaran api gairah yang sedikit menyulutnya.
"Jangan sekarang ya," ujarnya lalu kembali mengecup bibir yang selalu membuatnya candu itu.
"Baby akan baik-baik saja kan?" tanya Puspita sambil mengusap dada sang suami.
Virgou mengerang, pria itu lalu membaringkan sang istri di atas kasur empuk.
Pekik tawa Puspita terdengar. Wanita itu harus menutup mulutnya rapat-rapat karena Virgou menyerang area sensitifnya.
Tangan pria itu hendak menyusup ke balik baju sang istri, tetapi ....
"Kakak! Kakak!" suara Terra terdengar dari luar.
"S ....!" Virgou nyaris mengumpat.
"Kakak buka pintu!" teriak Terra menggedor pintu jati berukir itu.
"Adik sialan!" umpat pria sejuta pesona itu.
Puspita tersenyum, tapi bibirnya manyun. Wanita itu tengah berada di atas awan. Namun perbuatan adik iparnya itu meruntuhkan semua birahi mereka.
"Kakak buka sebelum Te dobrak!" teriak Terra.
Virgou membenahi pakaiannya. Pria itu gegas turun dari atas tubuh sang istri dan berjalan menuju pintu.
"Ka ... Kak!' Terra tersenyum lebar ketika pintu terbuka.
Seraut wajah kesal tampak di sana. Terra tersenyum usil, ia langsung masuk ke kamar dan naik ke tempat tidur saudara sepupunya itu.
"Mommy!" rengeknya lalu memeluk Puspita yang masih terbaring karena harus menetralkan nafas dan degup jantungnya.
"Apa sayang?" ujar Puspita.
"Mommy kenapa keluarnya lama sekali? Semua anakmu bertanya?" ujar Terra usil.
"Dasar adik sialan!" umpat Virgou lagi.
Terra terkekeh, ia bangun. Perempuan itu memang ingin mengganggu sepupunya paling tua itu. Ia bangkit dari kasur dan langsung ngacir ketika Virgou hendak menggelitiknya.
Puspita bangkit menyusul adik iparnya itu. Ia mengelus punggung suaminya.
"Ba bowu hubby!' ujarnya lalu mencium pipi Virgou.
"Ba bowu sayang," balas Virgou.
Ketika di lantai bawah. semua bayi menatap Puspita dengan mata menyelidik.
"Ommy tot mama?" tanya Ryo sambil mengunyah sarapannya.
"Mommy kan mesti siapin Daddy dulu baby," jawab Puspita.
"Empanna Addy wawu susasala?" tanya Faza.
"Susasala?" tanya Horizon dengan remahan biskuit memenuhi pipinya.
"Addy peundela?" lanjutnya lalu memberi hormat.
"Kalian ngomong apa sih baby?" tanya Puspita bingung.
"Woh Ommy deundili yan wuwat mami inun!" sengit Ryo.
Puspita gemas, ia menciumi bayinya. Arimbi menterjemahkan bahasa para bayi, barulah Puspita mengerti.
"Oh Babies pikir daddy-nya bendera dan mau upacara jadi mesti bersiap?" ujarnya sambil terkekeh.
"Iya mommy," jawab Arimbi manja.
Perut Arimbi juga makin besar. Rosa di sana sedang membantu semua ibu.
"Sayang, aku berangkat ya!" pamit Virgou.
Pria itu mencium semua bayi lalu ke istrinya. Puspita sedikit khawatir karena Gomesh tak bersama sang suami.
"Tumben Kak Gom nggak ikut?" tanya Terra.
"Banyak kerjaan," jawab Virgou.
Lalu pria itu pun pergi setelah mengucap salam. Virgou memakai mobil milik Safitri. Honda Civic warna putih itu melesat membelah jalan raya.
Sampai sana, Marco, Santoso, Ken, Lia dan Andin tengah berada di luar gerbang.
'Aku akan ijin membawa Baby Gi. Kalian jaga semua anak!" titahnya.
"Baik Ketua!" sahut Marco.
Virgou masuk dalam gedung panjang itu. Pria dengan sejuta pesona memang sangat memukau semua mata memandang terutama kaum hawa.
"Permisi, assalamualaikum!" sapanya ketika masuk ruang guru.
"Oh Pak Virgou, mari pak! Wa'alaikumusalam!" sambut salah satu guru.
"Silahkan duduk!" suruh guru itu.
"Begini pak, saya minta ijin membawa putra saya Gino untuk menjenguk ayahnya di sel tahanan!" ujar Virgou langsung.
"Baik pak, silahkan saja ke kelasnya!' ujar guru pria itu.
Virgou mengangguk, pria itu berjalan beriringan bersama guru.
"Ananda Gino!" panggil guru itu ketika sampai di kelas sang bocah.
Gino tengah ada di depan kelas tengah menulis jawaban di papan tulis.
"Ayahnya jemput, katanya mau bawa ananda bersama!" ujar guru itu.
Virgou menyembul di belakang pak guru. Gino tersenyum, wali kelas memberikan ijin. Gino membawa tasnya.
"Sini biar Daddy yang bawa sayang!" ujar Virgou lalu mengambil tas bocah itu.
"Makasih Daddy. Biar Gino bawa saja," ujar Gino.
"Baiklah!" sahut Virgou tak memaksa.
Pria itu menggandeng tangan kecil Gino.
"Marco bawa mobil!" ujarnya melempar kunci kendaraan itu.
"Siap ketua!" sahut Marco yang menangkap kunci.
Ia membuka pintu penumpang untuk Virgou. Pria sejuta pesona itu menyuruh Gino masuk lebih dulu, baru ia yang masuk.
Butuh waktu tiga puluh menit mereka sampai ke bangunan yang kaku.
"Ayo Baby!' ajaknya pada Gino.
Gino keluar dari kendaraan itu. Virgou menatap bocah yang hanya setinggi pinggangnya. Gino harus mendongak untuk menatap pria di depannya.
"Kamu takut baby?" tanya Virgou.
Gino menatap lama pria yang menyayanginya. Ia menghela nafas untuk menetralisir degup jantungnya.
"Bismillahirrahmanirrahim!" ujarnya lirih.
"Ayo!" ajak Virgou mengulurkan tangannya.
Gino menggenggam tangan besar itu. Keduanya melangkah masuk ke dalam bangunan yang diperuntukkan para penjahat.
Gino memandang pria yang kurus. Prapto duduk di depan putranya yang ia abaikan selama ini.
"Sepertinya kau sangat bahagia sekarang?' ujar Prapto sinis.
Gino tak menanggapi, ia menatap pria lain di sudut ruang. Virgou di sana memenangkannya.
"Untuk apa kau ingin menemuiku? Apa ingin pamer jika kau sudah bahagia?" tanya Prapto lagi-lagi sinis.
"Gino mimpi papa!" jawab Gino lirih.
Bocah itu menahan seluruh gejolak di dadanya. Ia menahan semua amarah dan juga rindu yang dirasakan. Biar bagaimanapun Prapto pernah menggendongnya, menciumnya dan memberi kasih sayang walau itu semua palsu.
"Cis ... Aku tak pernah memimpikanmu!" sahut Prapto masih sinis.
Air mata Gino meleleh, ia merindukan ayahnya. Tapi sepertinya sang ayah tak merindukannya sama sekali.
"Apa papa benar-benar tak mencintai Gino sama sekali pa?" tanya Gino lirih.
"Hahahaha ... cinta ... Apa itu cinta?!" tawanya lalu menatap anak laki-laki di depannya.
"Lalu apa kau mencintaiku sebagai Ayahmu?" lanjutnya bertanya.
"Gino ...."
"Kau sama jahatnya denganku Gino. Kau tak mencintaiku makanya kau menempatkan ayahmu dalam penjara!" potong Prapto dengan seringai sinis.
Rupanya pria itu ingin meracuni pikiran putranya. Ia mau Gino merasakan bersalah karena memenjarakan ayahnya.
"Pa?"
"Kau sama jahatnya denganku Gino. Bahkan kau jauh lebih jahat memenjarakan ayahmu yang kini sedang sakit!" sengit Prapto menekan Gino.
Bersambung.
Eh ...
Next?