
Arraya sudah lebih baik. Kali ini Terra harus lebih sabar dengan putri bungsunya.
"Mama!" rengeknya jika Terra sedikit sibuk mengurus semua saudaranya.
"Sudah tidak apa-apa Te. Biar saya dan lainnya yang mengurus anak-anak!" ujar Maria.
"Iya Kak, ada Layla dan lainnya di sini. Fokus sama Baby Aya saja," ujar Layla.
Terra berterima kasih, semua ibu membiarkannya fokus pada kesehatan Arraya.
Gadis kecil itu tak mau lepas dari ibunya. Setelah mengobati Arraya, Saf, Lidya, Putri dan Aini pun pergi ke rumah sakit.
"Kalian kok nggak pergi kerja?" tanya Terra pada Nai dan Arimbi.
Perut kedua wanita muda itu sudah terlihat membuncit. Terra sedikit sedih, sebentar lagi ia akan menjadi seorang nenek.
"Malas ma. Dari tadi Kak Langit nggak mau ditinggal. Dia bangun jam dua malam terus nggak bisa tidur sampai selesai subuh," jawab Nai.
Langit ada di sana tengah dipijiti oleh Zaa, Nisa dan Chira. Zora sang adik ada dipangkuan pria itu sedang Vendra tengah bermain bersama yang lain.
"Kalau Rimbi?" Terra melihat Arimbi yang menggelayut manja pada Khasya.
"Mama kak Reno tuh tadi malam ngajak main sampai mau subuh!" adu Arimbi, Terra melotot.
"Papa azat bain pa'a?" tanya Al Bara kepo.
"Main cangkul," jawab Arimbi berkhias.
"Bain santul balam-balam?" kali ini Aisya bertanya dengan mata bulat tak percaya.
"Iya baby, kan pingga Mama jadi sakit karena dicangkul papa," jawab Arimbi mengeluh.
"Baby!" peringat Khasya kesal, Terra makin melotot dibuatnya.
"Papa santul Mama Bimbi? Yan beunel zasa!?" pekik Fatih tak percaya.
"Baby ... Kalian main sana!" suruh Terra kesal sendiri.
"Mama teunapa sih!" sungut Maryam yang juga ikut dengar apa yang dibicarakan Bu'leknya.
"Pundhu pulu, tatana Mama Imbi disantul papa. Meman Mama ladan peultamina ...."
"Peultanian baby!" ralat Alia lirih.
"Wah ... Ata' sisa omon!" Faza bertepuk tangan.
"Ah ... Zaza nya dide!" ujarnya semangat.
"Pa'a baby?" tanya Al Bara sang kakak.
"Zaza au ain antul ama Ata' Yiya!" ujarnya. "Zaza antul Ata' Yiya!"
"Eman santul pa'a?" tanya Chira.
"Pidat pahu!" jawab Faza menggendikkan bahu.
Semua mata menatap Arimbi. Wanita itu sedikit gelagapan.
"Cangkulnya itu berat baby ... Jadi kalian nggak akan sanggup mainnya," jawabnya kemudian.
Terra sangat kesal dengan perkataan Arimbi. Tapi memang itu sifat semua anak. Membuat kesal orang tuanya.
"Mama ... Mau makan bubur sumsum!" rengek Arraya.
"Mama buatin ya," ujar Terra.
Arraya mengangguk, akhirnya Terra bisa lepas. Bukan tidak mau menggendong atau memangku putri bungsunya. Tapi, Arraya berat dan sedikit panas. Terra membuat makanan yang diinginkan putrinya itu.
"Papa gendong!" pinta Arraya pada Haidar.
Pria itu menggendong putrinya. Sedikit berat, Haidar merasakan jika sesuatu itu masih menempel pada sang putri.
"Robbi a'uudzubika min hamazaatisy-syayaathiin wa a'udzubika robbi ayyahdhuruun." Artinya: “Ya Tuhanku, aku berlindung kepada Engkau dari bisikan-bisikan setan, dan aku berlindung (pula) kepada Engkau ya Tuhanku, agar mereka tidak mendekati aku.”
"Papa!" rengek Arraya.
Haidar menjauhi anak-anak. Ia membawa sang putri ke ruang depan. Bau sangit tercium keluar dari tubuh Arraya.
"Tubuh putriku wangi. Wahai kau makhluk pengganggu. Pergilah dari putriku. Kau sama sekali tak pantas mengganggunya!" gumam Haidar.
"Herggghhh!" Arraya bersendawa.
"Hoeeek!"
"Tuan?" Alma khawatir dengan nona mudanya.
"Tolong ambilkan kresek hitam!" suruh Haidar.
Alma bergegas ke belakang dan mengambil apa yang diminta tuannya. Setelah itu ia memberikan pada Haidar.
"Muntahkan ke sini baby!"
Haidar duduk dan memangku putrinya. Arraya memasukkan kepala ke kresek hitam dan muntah.
""Robbi a'uudzubika min hamazaatisy-syayaathiin wa a'udzubika robbi ayyahdhuruun." Artinya: “Ya Tuhanku, aku berlindung kepada Engkau dari bisikan-bisikan setan, dan aku berlindung (pula) kepada Engkau ya Tuhanku, agar mereka tidak mendekati aku.”
"Hoeeekkk!"
"Baby!" Haidar sedih sekali.
Alma duduk bersimpuh, ia menggosok punggung Arraya. Terra yang kecarian putrinya mendatangi ke depan.
Jika dilihat, perbuatan Alma memang sangat dekat dengan Haidar. Terra yang berpikiran lurus dan polos tak pernah menganggap itu macam-macam.
Alma langsung berdiri dengan gugup. Wajahnya sedikit pias, Terra mengernyit melihatnya.
"Kamu kenapa?" tanyanya heran.
"Tidak apa-apa nyonya. Saya hanya terkejut," jawab Alma menunduk.
"Ya sudah, sana jaga yang lain!" suruh Terra.
Alma membungkuk hormat. Haidar tak peduli, ia hanya fokus pada putrinya yang masih "ketempelan" jin.
"Baby nggak apa-apa kan sayang?" tanya Terra khawatir.
"Tidak sayang. Baby masih kenapa-kenapa," jawab Haidar sedih.
"Baby ... Apa yang mesti kami lakukan agar kamu lepas dari dunia itu?" tanya Terra sedih.
"Kata ayah, setelah ia dewasa akan ada pemilihan. Baby bisa mengasah kemampuannya atau membiarkannya dan akan menghilang seiring waktu berjalan," jelas Haidar.
"Jadi selama ia belum dewasa akan terus seperti ini?" tanya Terra sedih.
Sementara itu Alma menatap sepasang suami istri itu dari balik kaca. Matanya tertuju pada sang pria. Hatinya mendadak berdebar keras, ia merabanya.
"Jangan berpikir macam-macam Tinti!" peringat Nai.
Wanita yang tengah mengandung lima bulan itu melihat gelagat tak beres pada salah satu bodyguard wanita.
Alma telah bekerja selama satu tahun dan bertugas menjaga Arraya. Gadis itu masuk SavedLived dan lolos uji lalu bekerja di keluarga Terra.
Alma lebih dulu masuk daripada Sukma yang baru bergabung empat bulan lalu.
Nai mengambil ponselnya. Ia menatap tajam pada gadis yang tak berkutik di depannya.
"Assalamualaikum Baba!" Alma pucat.
"Pindahkan Alma ke kantor pusat!" pinta Nai yang makin membuat Alma bungkam dan takut.
"Kenapa baby?" tanya Budiman dari seberang telepon.
"Alma mencuri pandang pada Papa. Dia mau jadi pelakor!" sahut Nai tanpa filter.
"Saya tidak ...."
"Jangan membantah Alma!' sentak Nai.
"Baby, jangan khawatir. Nanti Papa Gom yang urus ya!" ujar Budiman dari seberang telepon.
Nai menutup sambungan telepon. Alma menangis tertahan.
"Jangan macam-macam dengan keluargaku Tinti! Aku tak segan-segan melibas siapapun yang hendak mengacau!" tandas Nai pedas dan tajam.
Nai memilih bergabung dengan ayah dan ibunya. Alma menangis tertahan. Arimbi melihat semuanya dan tersenyum sinis.
"Pergi dan jangan tampakkan batang hidungmu!" tekannya.
Alma membungkuk hormat dan setengah berlari menuju kamarnya. Mereka ada di ruang tamu.
Tak ada yang peduli dengan Alma yang seperti bergegas keluar rumah.
"Doni!' teriak Haidar.
Doni salah satu pengawal datang dengan berlari. Haidar menyuruh Doni membuang kresek bekas muntah Arraya ke air yang mengalir.
"Baik tuan!" ujar Doni lalu membawa kresek itu dan menaiki motor.
Arraya sudah membaik, ia makan dua piring bubur sumsum.
"Ata' ... pa'a yan seupeunelna teulsadhi?" tanya Maryam pada kakaknya.
"Ah ... Itu biasa," jawab Arraya santai.
Semua anak pulang dari sekolah. Mereka bertanya dengan keadaan Arraya.
"Alhamdulillah aku udah nggak apa-apa kok," jawab gadis kecil itu.
"Aku itu sebel tau sama kamu!" sungut Bariana kesal.
"Eh ... Kenapa?" tanya Harun heran.
"Masa dia aja yang tau arwah gentayangan! Aku kan sama keponya sama kek adik-adik!" semua perusuh paling junior mengangguk setuju.
"Janan pilan walwah ipu layanan butus!' sahut Zaa tak terima.
"Yah emang perumpamaan seperti itu!" sahut Arraya.
"Tu beunayis ...."
"Aypi janan banyi ladhi! Posan atuh!" sungut Chira malas.
"Janan peulnah tatatan pahwa, sintamu banyalah puntuttuh ....."
Aaima tetap melanjutkan nyanyiannya di depan Chira yang menutup telinga dengan kedua tangannya.
"Baby, jangan ganggu aunty baby sayang!" peringat Rahma baru lah Aaima berhenti.
Bersambung.
Kasihan Baby Aya
Next?