
Tinggal beberapa hari lagi menjelang wukuf. Mereka memang diberi makanan bergizi dan juga vitamin.
Seragam putih sudah disiapkan. Azizah, Layla, Rahma, Dinar, Rosa dan Terra menyiapkan popok untuk semua anak bayi.
Botol-botol susu sudah disiapkan. Para ibu telah memeras susu mereka untuk keperluan bayi jika mereka butuh minum.
Hasan, Hafsah, Ryo, Faza, Sabila, Nabila, Zora dan Vendra adalah jemaah haji paling belia karena baru berusia sembilan bulan.
Lalu disusul oleh triple Starlight, Zaa, Nisa, Chira dan Aarav yang baru berusia satu tahun setengah.
Kemudian di atas mereka adalah Arsh, Nouval, Xierra, dan Meghan, Alia, Izzat Dougher Young dan Zizam Starlight yang berusia dua tahun setengah.
Kemudian triplet Dougher Young, Fathiyya ocean, Aliya Rinjani Dougher Young, Arsyad, Aaima, Dita, Verra, Firman dan dua Bara. Mereka masih berusia empat tahun.
Kakak-kakak mereka adalah Della, Ari, Aminah, Lino dan Seno yang berusia lima tahun.
Disusul oleh, Harun, Azha, Arraya dan Arion enam tahun. Setelah itu Gino dan Alim tujuh tahun, Radit sembilan tahun, Ahmad sepuluh tahun, lalu Sky, Arfhan, Amran yang berusia sebelas belas tahun dan Ditya berusia dua belas tahun.
Di atas Sky ada Benua, Ajis yang tiga belas tahun, lalu Samudera dan semua anak angkat Bart berusia sama.
Setelah itu duo R, duo De dan Kaila yang mau kuliah.
Di atas mereka, Affhan, Maisya dan Dimas, Anggi, Asiah dan Alina yang telah menjadi dokter.
Kemudian angkatan pertama, Kean, Calvin, Sean, Al, Daud dan Satrio.
Azizah dan Adiba bersama para ibu lainnya yang ikut mengemasi beberapa pakaian untuk semua orang.
"Mashaallah ... kenapa seperti mau menunggu kematian ya?' tanya Bart berdebar tak karuan.
"Grandpa apa tidak apa-apa?" tanya Dahlan khawatir.
"Tidak, aku tidak apa-apa. Hanya sangat antusias, sampai jantungku seperti mau meledak!' jawab Bart.
"Banyak istighfar saja Pak. Nanti di sana juga kalian harus perbanyak istighfar dan juga memuji kebesaran Allah!" lanjut pria itu.
"Apa tidak mau ziarah lagi? Ke masjid jin misalnya?" tawar staf itu..
"Basjid jin?" tanya Maryam sampai besar matanya.
"Iya Nak, ada namanya masjid jin," jawab pria itu.
"Coba jelaskan lebih rinci Pak!' pinta Ajis antusias.
"Masjid Jin adalah sebuah masjid yang terletak di Kota Makkah, tepatnya di kampung Ma'la dan berada 1,5 km di sebelah utara Masjidil Haram!' jawab staf itu lalu duduk di sofa.
Semua anak juga ikut duduk menyimak dengan serius, apa yang dikatakan staf itu.
"Jadi suatu hari ada serombongan jin yang datang dan menjadi Islam karena mendengar Rasulullah mengaji," jelas pria itu memulai cerita.
Lalu mengalirlah kisah salah satu yang ada kisahnya dalam Al-Qur'an surat Al-Ahqaf ayat 29-30.
"Yang artinya "Dan (ingatlah) ketika Kami hadapkan serombongan jin kepadamu yang mendengarkan Al Quran, maka tatkala mereka menghadiri pembacaan(nya) lalu mereka berkata: "Diamlah kamu (untuk mendengarkannya)".Ketika pembacaan telah selesai mereka kembali kepada kaumnya (untuk) memberi peringatan. Mereka berkata: "Hai kaum kami, sesungguhnya kami telah mendengarkan kitab (Al Quran) yang telah diturunkan sesudah Musa yang membenarkan kitab-kitab yang sebelumnya lagi memimpin kepada kebenaran dan kepada jalan yang lurus!"
"Allahuakbar!' seru semua anak takjub mendengar kisah luar biasa itu.
"Pati atuh helan ya!' celetuk Zaa.
"Teunapa lolan-lolan balah zauh-zauh mama bibut talo lada olan paca tul'an?" lanjutnya miris.
Staf melongo mendengar perkataan bayi mau tiga tahun itu. Tentu saja dia tak mengerti. Tapi semua keluarga hanya mengangguk setuju dengan perkataan salah satu perusuh itu.
"Itu karena hati mereka lebih dari iblis baby," jawab Rahma.
"Tatana banusia siptaan yan palin peumpulna. Teunapa tayat dithu?" tanya Aarav tak mengerti.
"Buntin meuleta pisptatan tali panah seunteta!" sahut Nisa yang membuat semua tersenyum lebar.
"Butan panah seunteta. Pati dali panah halam!' sahut Chira.
"Pilaun ipu judha batina pama pama biblis talo dithu!" sungut Maryam kesal.
"Woh ... pasa Lilaun Apah?" tanya Ryo pada ayahnya.
"Fir'aun raja dzalim yang mengaku dirinya Tuhan baby," jawab Rion.
'Lada wowan pespeulti ipu?" tanya Xierra tak percaya.
"Om Silaun buntin bainna tulan zauh!' sahut Aaric santai.
"Seutalan Pom Silaun nayis-nayis binta pawubat!' ledek Aisya mencibir Firaun.
"Apah ... Zaza au te neulata bawu pinput Pom Pilawun!" ujar Faza kesal.
Staf dari kementerian baru tertawa lepas setelah mengetahui artinya. Della menterjemahkan bahasa semua bayi.
"Mashaallah ... Kalian luar biasa!" ujar staf itu.
"Saya bersyukur kalian tidak lahir di jaman Fir'aun nak!' ujar pria itu.
"Kalian akan jadi buruan Firaun untuk dibunuh!' jawab staf setelah diartikan lagi oleh Della.
"Tan lada Papa peunawal!" sahut Nouval tak percaya.
"Papa basti nolon tamih!" ujarnya yakin.
Staf hendak menjawabnya karena sudah mulai mengerti namun ditahan karena Hendra melotot pada pria itu.
"Kita ke masjid itu yuk!" ajak Satrio.
"Ayo!" sahut Sean.
'Pes do!" sahut Arsh semangat.
Sedang di hunian besar lainnya. Seperti biasa, Nai dan Arimbi datang ketika makan siang.
Kali ini Pablo dan Fabio juga datang bersama istri-istri mereka. Gomesh mengomel panjang pendek pada dua kembar tak sedarah itu.
"Ketua!" keluh Fabio.
"Ngapain kalian?" desis Gomesh masih cemberut.
"Sayang!" peringat Maria.
"Kakak!" Salma dan Aisyah juga tak kalah manja dengan Gomesh.
Walau tak berani bergelayut, tapi Maria jadi sasaran pelukan keduanya.
"Ayo makan!" ajak Maria.
"Seringlah datang berkunjung. Kakak kalian hanya sedih karena merasa sendiri," ujar Maria memberi pengertian.
"Maaf Kak," ujar Pablo.
"Tapi di kantor Ketua sudah seperti boss!' adu Fabio.
"Kau!"
"Sayang, sudah ... dilihat anak-anak!' lanjut Maria memperingati.
Akhirnya mereka diam dan makan dengan tenang. Empat wanita hamil ngidam soto ayam buatan Maria.
"Enak Mommy!" puji Arimbi yang membuka lebar mulutnya ketika disuapi oleh Aisyah.
"Tamih imi nanat tili tah?" sungut Fael tiba-tiba marah.
"Eh ... Baby?" Maria tak suka perkataan putranya itu.
"Ommy ... tamih dali padhi matan eundat pisusapin woh!" lanjutnya protes.
"Sini Papa suapin!' ujar Pablo.
"Peulampat Pa ... pudah babis matanana!" ujar Fael ngambek.
"Oh sayang ... Maafkan mama," ujar Arimbi dan Nai menyesal.
"Baby kan baik hati dan sayang sama baby dalam sini!' ujar Nai membujuk.
"Baby Mama nanti panggil Baby Om loh!" lanjutnya merayu.
"Pasa pita dudah puwa!" protes Angel.
"Atuh pidat bawu pidandhip Tinti!' tolak bayi cantik itu.
"Maunya dipanggil apa baby?" tanya Arimbi.
"Eum pa'a ya?" Angel menopang dagu dan mengelusnya.
Semua gemas melihat tingkah bayi cantik itu. Fael yang ngambek ikut-ikutan berpikir.
"Ata' ... Beunulut Ata' pita pidandhil pa'a?" tanya Fael pada Bomesh.
"Uncle!" jawab Bomesh.
"Ah tantel!" sahut Fael mengangguk setuju.
"Talo atuh Ata'?" tanya Angel.
"Aunty!' jawab Bomesh.
"Ponti!' angguk Angel setuju.
Bersambung.
Oke lah ... Apa katamu baby!
Next?