THE BIG FAMILIES

THE BIG FAMILIES
ADVENTURE



Tiga minggu waktu yang diberikan Bart pada Michael Suarez. Pria berkebangsaan asing itu memang mempunyai visa pekerja.


Sebagai pengawal pribadi, pria itu masih harus tinggal setidaknya empat atau lima tahun lagi untuk menjadi warga negara Indonesia.


"Jadi bagaimana, apa data-datamu dipersulit oleh keluarga?" tanya Dahlan pada bawahannya itu.


Michael menatap penuh permohonan. Pria itu memang dipersulit oleh keluarga setelah kepindahan agama.


"Tolong aku ketua," pintanya memohon.


Dahlan menepuk bahu pria tampan itu. Michael nyaris putus asa karena datanya dicoret.


"Kau punya paman di negara itu kan?" tanya Dahlan.


"Saya yakin jika ada salah satu keluargamu yang membela dan mendukungmu!" lanjutnya yakin.


Michael berpikir keras. Selama ini hanya satu paman yang selalu bertanya keberadaannya. Pria itu memang juga diusir keluarga karena menikahi kekasih prianya.


"Ada paman Horald Suarez dan pasangannya Pedro Guanituzer!" jawabnya lirih di ujung kalimat.


"Kau bisa minta tolong padanya," ujar Dahlan.


Michael menggeleng, ia tak mau berurusan dengan pasangan yang pasti akan menyulitkannya juga nanti.


"Aku tau siapa dia ketua," Dahlan menghela nafas panjang.


"Apa mesti mencuri datamu sendiri?" tanyanya.


"Ah, kenapa tidak minta tolong duta besar agar memberimu akses pada keluarga. Mereka pasti tak bisa menolak jika ada polisi yang mendatangi dan meminta berkasmu kan?" Michael tersenyum.


"Rupanya ini yang membuat anda jadi ketua!" pujiannya membuat Dahlan kesal.


"Maksudmu?"


"Saya memuji ketua!" sanggah Michael takut.


Dahlan terkekeh, ia menepuk lebih kuat bahu pria itu. Rambut Dahlan tak ada yang putih, padahal usianya mau mencapai lima puluh tahun.


"Tuan, aku bawa Baby Meghan ya!"


"Jika kau berani menghadapi Rahma," Michael cemberut.


Tentu tak ada yang berani pada perempuan lembut itu. Rahma memang banyak diam, tatapan dalamnya tak ada yang mampu melawannya.


"Ayo, aku temani kau ke kedutaan!" ajak Dahlan menghentikan lamunan Michael.


Pria beriris biru itu tersenyum lebar, ia mengangguk antusias. Jika perkara menikah, semua pengawal akan cepat membantu terlebih jika ingin menikahi salah satu keturunan klien mereka.


Walau Anggraini bukan keturunan langsung Dougher Young. Tapi gadis itu diasuh selama tujuh tahun.


Sementara di hunian besar Bart. Semua anak berkumpul. Mundurnya masuk sekolah membuat anak sedikit bosan di rumah.


"Ma, Sam boleh main sama Raja nggak?" pinta Samudera.


"Sama Papa Ranto ya!" ujar Terra.


"Sendiri sih Ma, Sam sembunyi-sembunyi, biar Babies nggak tau," ujar Samudera merayu.


"Baby!" peringat Terra.


Samudera menghela nafas. Remaja itu malas jika harus keluar ditemani pengawal.


"Ata' ... Ata' bawu papain?" tanya Dita lalu naik ke pangkuan Samudera.


Dita baru dua tahun, bayi itu adalah adik bungsu dari Gino, Seno, Lilo dan Verra.


"Kakak mau main keluar, tapi mesti sama bodyguard," jawab Samudera malas.


Dita menyuapi kakaknya makanan yang ada di tangannya Samudera memakannya.


"Kue pukis ya?"


"Pidat pahu ... Ita atan laja ... Wowan nenat!" jawab Dita mengunyah.


"Ambil lagi baby, nanti kakak ajak keluar mau!" suruh Sam lalu tiba-tiba mendapat ide brilian.


"Bawu!"


Dita turun dari pangkuan Samudera. Bayi itu mengambil empat potong kue hingga memenuhi tangannya.


"Aypi ... wawa nyat atanan wuwat pa'a?" tanya Zora.


"Puwat Ata' Pasmulda anti seusil!" jawab Dita renyah.


"Woh, piyal anti antu!" ujar Zora menawarkan diri.


"Pidat ...."


Dita ingin menolak, tapi kue sudah berpindah tangan. Zora melangkah tertatih dengan dua kue pukis di tangannya.


Dita menatap Samudera lemah dan tak berdaya. Remaja itu hanya tersenyum.


"Aunty baby," kekehnya.


"Imih Aypi peusal. Tuh auh yan tan tauh latutan!" ujar Zora menyeringai.


"Ayo sini!" ajak Samudera lalu menggendong keduanya.


"Ata' ... pa'a tamih pidat peulat?" tanya Dita khawatir.


"Iya sih," jawab Samudera.


"Pake gendongan kembar aja ya!" ujarnya melihat gendongan milik Hasan dan Hafsah.


Samudera melihat tak ada orang di ruang jemur. Rupanya para pengawal sudah melupakan jika semua ruangan harus dijaga ketat.


"Apa papa Aldi dan Papa Heru makan ya jadi nggak jaga?" gumam Samudera.


Setelah meletakkan dua bayi dan memasang gendongan. Sam, mengangkat satu persatu bayi dalam gendongan.


"Beyat pidat?" tanya Dita khawatir.


"Sedikit, tapi nanti kita naik angkot ya," dua bayi mengangguk.


Sam juga memakaikan dua bayi itu topi agar tak kepanasan.


"Pakaikan juga jaket baby!" teriak Virgou di ruang pengintai.


Bart berdecak, ia tak suka jika Virgou membiarkan anak-anak lepas begitu saja.


"Kau suruh pengawal ikut. Aku takut Baby Sam kelelahan menggendong dua bayi sekaligus!" peringat pria gaek itu.


Virgou berdecak, ia tak mau menuruti kakeknya. Ia memang melatih semua anak-anak dan membiarkan mereka berpetualang.


"Fio, Exel ikuti mereka. Bawakan jaket untuk dua bayi itu!" suruh Virgou melalui interkom di ruangan itu.


Tapi sejurus kemudian Virgou lega karena Samudera memakaikan jaket bahan katun pada Zora dan Dita.


"Aunty baby, mau bawa susu nggak?" tawar Sam yang khawatir jika Zora kehausan.


Bayi itu tentu masih meminum ASI. Zora memasukkan jari ke mulutnya. Sam menghela nafas panjang. Ia kembali meletakkan dua bayi di belakang.


"Kalian tunggu di sini, jangan bergerak apalagi berisik!' perintahnya yang diangguki dua bayi cantik itu.


Setelah dua menit, Sam berhasil mengambil tiga botol susu milik Zora yang dikemas sedemikian rupa.


"Ayo kita let's go" bisik Samudera.


"Pes do!" seru Zora dan Dita mengacungkan sebelah tangannya.


Ketiganya berhasil menyelinap dari pintu belakang. Di sana benar-benar tak ada penjaga sama sekali.


Pintu itu memudahkan maid yang ingin berbelanja dan membuang sampah.


"Aypi au!" keluh Zora sambil memencet hidungnya.


Mereka memang melewati tong sampah besar. Samudera harus bergerak cepat meninggalkan tempat yang penuh kuman itu.


"Huuff!" serunya lega ketika sampai di jalan besar.


"Beyat Ata'?" Dita mengusap wajah Samudera yang berpeluh.


"Nanti tidak baby," jawab Samudera yakin.


Mereka naik angkutan umum. Sedang di hunian besar itu. Luisa menangis melihat putrinya menghilang. Gino dan tiga adiknya sedih karena Dita ikut-ikutan hilang.


"Ata' Pasmulda bana?" tanya Fatih yang tak melihat keberadaan kakak mereka itu.


"Palingan Aunty Baby dan Baby Dita sama Kak Sam!" sungut Sky kesal.


Bocah itu melirik sebal pada penjaga yang begitu ketat mengawasinya.


"Jagain Sky malah kecolongan Kak Sam!" ledeknya pada Ken dan Ando.


Luisa ditenangkan oleh suaminya. Sedang pada bayi mulai protes. Terlebih Vendra kembaran dari Zora.


"Tuh ja ... Pi dadain anyat odidal!" protes.


"Ommy pupa talow Aypi Oya yan pandel!" ocehnya lagi.


"Ah ... au babun udha ah!' ujar Faza.


"Tuh au udha!" pekik Horizon.


"Baby mau kemana?" Dian menggendong Horizon.


"Inti ... Eupas tan atuh ... Atuh au abul!' pekik Horizon.


"Potu ... Potu ... Zinzem atih na don!" rayu Faza pada Remario.


"Apa katamu?"


"Insem atih Potu. Za wewa teh!" jawab Zora seperti ingin bernegosiasi.


"Zaza yayal ate wawun!' angguk bayi itu meyakinkan Remario agar menyewakan kakinya.


Bersambung.


Atur deh Faza ...


Next?