THE BIG FAMILIES

THE BIG FAMILIES
HEBOH



Arsh tengah memanjat tebing buatan yang ada di taman belakang hunian Bart. Aarick dan bayi lainnya mengikuti.


Michael, Exel, Arga, Dian, Sukma, Ambar, Ringgo, Heri dan pengawal lainnya berjaga-jaga. Kali ini Gomesh ingin melatih semua perusuh paling junior.


"Atuh dah pampai tatas!" seru Aarick yang langsung loncat kegirangan.


"Hati-hati baby!" seru Gomesh khawatir.


"Wayo wewat simih!" ajak Arsh.


"Apan Baji Baby Alsh, tananna tasyih peupun Pulu!" suruh Zora.


Bayi cantik itu membalur tepung di seluruh tubuhnya. Bayi baru satu tahun itu juga sangat kuat.


"Nggak semua baby!" ujar Gomesh.


"Apah ... Apah pate!' Faza menerjang Gomesh dan membalur seluruh wajah pria itu dengan tepung.


"Baby,"


Gomesh menyeka mukanya di kedua pipi Faza. Bayi itu tergelak.


"Wayo pita satuh tan Apah lastasta!" seru Chira juga melompat ke tubuh Gomesh.


Terdengar gelak tawa, tubuh besar itu dikerumuni bayi berbagai ukuran dan berat.


Virgou menghela nafas panjang. Bukannya melatih anak-anak malah pria raksasa itu banyak bermain.


"Benpa!" Ryo merangkak cepat ke arah Virgou.


"Hai bayi mau apa kau?" sengit pria dengan sejuta pesona itu.


Ryo diangkat oleh Virgou. Bayi itu menorehkan tepung di wajah kakeknya.


"Hahahaha!" tawa khas bayi terdengar dari mulut Ryo.


Wajah tampan Virgou kini sudah berbedak tepung.


"Baby usil ya!' sengit Virgou lalu mengelap mukanya di pipi Ryo.


"Babies makan agar yuk!' ajak Della.


Della, Lilo dan anak lainnya sudah pulang sekolah dari tadi. Mereka baru taman kanak-kanak. Aminah membantu Maria menata puding di piring besar.


"Terima kasih baby sayang," ujar Maria mengecup pipi gembul Aminah.


"Sama-sama mama!" sahut Aminah tersenyum.


Semua anak berhamburan dari atas tubuh Gomesh. Mereka berebut ingin makan puding.


"Cuci tangan dulu sayang," suruh Maria.


"Sini kakak bantu!" Della, Aminah dan Ari membawa semua anak-anak ke keran air untuk membersihkan mereka dari tepung.


"Daddy mukanya kenapa?" tanya Della dengan senyum lebar.


"Baby, mau Daddy cium?" ancam Virgou.


Della harus berkelit dari pelukan Virgou yang ingin mengelap mukanya di wajah gadis kecil itu.


Gelak tawa terdengar, mulut semua bayi sibuk mengunyah. Luisa tersenyum melihat semua anak begitu lahap makan.


"Mashaallah ... mereka sepertinya kelaparan," kekehnya.


"Ata' Miman dhidhina pompon!" ledek Sabila menunjuk gigi Firman yang tanggal.


"Wiya aypi, banti judha dhidhi aypi atan pompon!" angguk Firman.


"Dat!" geleng Sabila marah.


"Dhidhi Pila badhus!" lalu ia mulai mencebik-cebikkan bibirnya.


"Oh iya baby, gigi Baby bagus!" ujar Della menenangkan bayi itu.


Sabila mengangguk puas. Firman mengalah. Ari memberi pengertian padanya.


"Nggak apa-apa baby. Nanti juga ada saatnya gigi baby Bila tanggal,"


"Wiya Ata'," sahut Firman mengerti.


Faza berjalan ke arah kotak mainan. Ia menarik kain lebar berwarna merah.


Brak! Bunyi mainan yang berjatuhan. Semua orang menoleh. Bayi itu balas menatap polos semua orang.


"Baby nggak apa-apa?" tanya Dian lalu mengangkat bayi itu.


"Zaza muma nalit imih Tinti," jawab bayi itu memperlihatkan kain yang ada di tangannya.


Exel membenahi mainan yang berserakan. Usai makan puding, anak-anak yang sekolahnya lebih tinggi pulang.


Usai makan siang, mereka semua disuruh tidur siang. Semua harus menurut, karena Terra tak mau kompromi.


"Nanti kerja kalian nggak bisa bobo siang lagi kecuali week day!" ujar perempuan itu beralasan.


"Sayang, nanti malam kita makan malam di luar yuk!" ajak pemuda itu.


"Lalu Babies?" Adiba kepikiran semua anak-anak.


"Yah, sayang. Aku mau kencan romantis berdua aja sama kamu," rengek pemuda itu.


"Tapi nanti semua perusuh musuhin kita loh!" ujar Adiba.


Satrio berdecak, ia ingin berduaan dengan istrinya menikmati malam. Ia juga ingin merasakan pacaran itu seperti apa.


"Ya mau ya," bujuk Satrio.


"Oke deh," angguk Adiba.


"Kita bawa oleh-oleh banyak buat anak-anak ya!" lanjutnya mengingatkan.


"Iya sayang," ujar Satrio tersenyum lebar.


Keduanya pun berangkat ke perusahaan berbeda. Adiba menjadi tangan kanan kakaknya, Azizah. Perempuan beranak satu itu masih suka bekerja karena perusahaan masih membutuhkan dirinya.


Pulang kerja, Satrio menjemput istrinya. Ia tidak bersama Virgou, pemuda itu minta ijin untuk jalan-jalan dan diijinkan.


"Sayang!" sambutnya ketika melihat Adiba.


Darren dan Saf juga Azizah tentu tak bisa melarang. Mereka pernah berada di posisi pasangan muda itu.


"Apa kita nggak triple date sayang?" tanya Darren pada istrinya.


"Saf cape mas. Tadi menangani empat persalinan," tolak Saf.


"Lagian Saf kangen sama empat anak kita yang super itu," lanjutnya geregetan sendiri.


Azizah tentu tak ikut serta. Wanita itu harus tidur sendiri bersama putranya karena Rion keluar kota bersama Haidar dan Sean.


Darren pun pulang bersama istri, adik ipar, Theo dan Rahardian. Satrio bersama Erik dan Fabian.


Kendaraan BMW itu meluncur membelah jalan ibu kota. Berbelok ke masjid setempat untuk beribadah. Adiba tentu menjadi pengingat tiga pria yang bersamanya.


"Kita mau makan di mana sayang?" tanya Satrio usai sholat maghrib.


"Mau pecel ayam atau sate mas," jawab Adiba.


"Ya udah, kita ke seberang jalan itu yuk, mumpung sepi!" ajak Satrio sambil menunjuk tempat di seberang jalan raya.


Mereka bertiga pun berjalan kaki dan membiarkan mobil di halaman parkir masjid.


"Mang mau pecel ayam satu, ada sate kambing nggak?" Satrio langsung memesan.


"Ada mas!" jawab pedagang.


"Papa sate kambing kan?" tanya Sat pada dua pengawalnya.


"Iya tuan muda," angguk keduanya.


"Dua porsi sate kambing sama lontong. Satu sate ayam sama sop buntu plus nasi dan satu pecel ayam ya pak!" pesan Satrio.


Butuh waktu lima menit untuk pesanan selesai dibuat. Mereka makan dengan lahap.


"Mang bungkus sate ayam seratus tusuk bumbu pisah ya!"


"Seratus emang cukup?" tanya Adiba tak yakin.


"Ya udah bikin dobel ya mang!" pesan Satrio lagi.


Usai makan dan membayar makanan. Mereka pun pergi dari tempat itu.


Benar saja, ketika sampai rumah. Semua mata polos menatap mereka dengan pandangan kesal.


"Dayi bana laja?" tanya Zaa sengit.


"Beli sate ayam aunty baby," jawab Satrio lalu menunjukkan satu bungkus besar.


"Wah ... Matan ladhi!" seru beberapa bayi bertepuk tangan.


"Tot lama?" tanya Aaima memandang curiga pada Satrio dan Adiba.


"Sudah baby, kan papa sama ibu udah pulang. Bawa sate lagi!" ujar Terra menenangkan para bayi.


Usai makan semua masuk kamar. Satrio masuk bersama istrinya. Ia sedikit kesal karena tak bisa bermesraan dengan Adiba.


"Masa mau mesra-mesraan di depan papa yang masih jomblo!" sengit Adiba kesal.


"Ya biarin aja sih sayang! Abis mereka juga kenapa mau jomblo!' sengit Satrio juga sebal.


Bersambung.


Yah ... Begitulah


Next?