
Uang memang merajai segalanya. Kali ini semua orang berada di sebuah mall inventaris keluarga Pratama.
Sebuah butik ternama jadi sasaran mereka. Para wanita sibuk mencocokkan sebuah kebaya pada gadis yang telah piatu.
"Kebaya modern ini aja Te," Kanya menyodorkan sebuah gaun kebaya warna peach.
"Mashaallah cantik sekali ini!" puji Lastri pada gaun pilihan Kanya.
"Kamu coba ini sayang," suruhnya kemudian.
Rosa tak menolak, padahal hampir lima gaun ia coba di tubuhnya. Karena terlalu kurus jatuh gaun itu jadi aneh.
Gadis dengan tinggi 169cm dengan bobot 49kg, Rosa terbilang kurus.
"Kamu terlalu kurus sayang ...," ujar Lastri ketika melihat gaun yang melekat di tubuh sang gadis.
"Ayah sih ... pake buru-buru. Kan kita nggak bisa jahit sama designer," protes Arimbi.
"Iya ya ... tapi ayahmu memang tak pernah mau berlama-lama jika ingin menikahkan seseorang," jelas Khasya.
"Beliau memang nggak mau sepasang manusia berlama-lama menjalin hubungan. Ayah pasti marah jika kita pacaran," sahut Nai.
"Ngapain jagain jodoh orang. Udah dipegang-pegang, dicium-cium sampai dipeluk-peluk. Pacaran sampai kek nyicil rumah. Pas giliran lunas, malah nikah sama orang lain!" ketus Kaila.
Dewi mengangguk, gadis itu memegang sebuah atasan kebaya warna jingga. Mengambil beberapa helai atasan lalu mencocokkannya di ruang ganti.
"Bun, Dewi udah dapat dua kebaya!" ujar gadis itu keluar dengan salah satu kebaya pilihannya.
"Mashaallah canti sekali sayang," puji Najwa.
Dewi memang belum berhijab, ia menyanggul rambutnya yang hitam pekat dan tebal.
"Kok bawahannya celana sayang?" protes Khasya.
"Nggak apa-apa Bun," sahut Dewi tak mau ditolak dengan pilihannya.
Khasya tak bisa melarang. Padahal ia ingin Dewi tampil anggun, tapi sepertinya gadis itu terlalu tomboy.
"Jangan dipaksa Mba!" tegur Kanya.
"Tapi kalau dia pakai gaun kan cantik banget," keluh Khasya.
"Itu bukan karakter Baby Dew mba," sahut Kanya lagi.
Maisya dipilihkan gaun oleh ibunya. Sedang Arimbi dan Mai juga Kaila memilih gaun mereka sendiri.
Di butik lain, Terra mencocokkan dress-dress cantik untuk semua anak perempuan yang kecil-kecil.
Arraya dipakaikan dress warna biru lengan sepotong dengan rok mengembang. Bocah itu tampak cantik terlebih sang ibu mengurai samping rambut Arraya yang kemerahan dan memberinya aksen mahkota.
Arraya Naraina Hovert Pratama, 6 tahun.
"Ih gemesin amat sih anak mama!"
Terra mencium gemas putri bungsunya itu. Arraya memang jadi sangat menggemaskan.
Bariana juga tak kalah cantik dengan gaun warna senada dengan Arraya. Gadis kecil itu memakai gaun berlengan panjang berbahan tile. Maria mengangkat rambut anak gadisnya dan memberi uraian poni. Menambah kesan menggemaskan.
Bariana Putri Diablo, 6 tahun.
"Ah ... baby mama cantik sekali!" puji Terra pada Bariana.
Gadis kecil itu hanya bisa mendengkus kesal. Bariana tak menyukai gaunnya yang membuatnya jadi aneh.
"Ma ... ganti sama yang lain ya!" pintanya.
"Baby," keluh Maria.
"Aya juga nggak begitu suka," protes Arraya.
Terra dan Maria saling tatap. Dua anak gadis mereka memang sangat berbeda.
'Dia sama seperti kakak-kakaknya yang tomboy itu," sahut Maria.
Lidya, Putri dan Aini memilih baju pink untuk anak gadis mereka. Faza didandani oleh Putri.
Mafaza Starlight, 9 bulan.
''Ih gemesin!" Putri menciumi anak perempuan sahabatnya itu.
"Bipu!" teriak Aaima yang tak terima.
"Nanatna pipialin laja!" protesnya.
"Hem ... baby sini sama Bibu!" ajak Dinar.
Bayi itu diangkat Dinar dan didandani. Tapi Aaima menolak semua gaun.
"Tapi semua bay cewe pakai gaun sayang!' ujar Layla gemas pada bayi perempuan paling bossy itu.
"Mima pidat mawu!" tolak Aaima melipat tangannya di dada.
"Baby," Layla terkekeh sendiri melihat semua anak perempuan banyak menolak gaun.
"Tuh dat wawu Amah!" tolak Zora ketika sang ibu hendak memakaikan gaun warna pink.
Jangan tanya Angel. Bayi itu malah mengancam.
"Jejel sobet dawunna talo matsa Mama!"
Chira malah lari dan duduk di bawah meja kasir. Dian membujuk bayi itu namun malah kena tendangan.
"Baby ... kenapa kasar? Siapa yang ajarin kasar?" Najwa sedikit meninggikan suaranya.
Zaa dan Nisa tampak berdebat dengan Lastri sang ibu. Dua bayi bermata biru itu juga menolak gaun.
Adiba juga sedang mencari gaun-gaun pesta khusus muslimah. Karena rata-rata putri angkat Bart bahkan, Aminah adiknya memakai hijab. Wanita muda itu bersama para pengawal perempuan lainnya.
Berbeda dengan para jagoan. Semua cepat beres karena mereka memilih setelan formal dibanding baju koko.
"Kita bukan ke masjid, masa pake baju koko!' protes Satrio.
"Eh ... lucu juga kalo pake batik Pa'lek!" sahut Kean.
"Pa!" panggilnya pada Haidar.
Pria itu menoleh, Haidar mengangguk setuju. Frans juga mencoba beberapa kemeja batik, sedang Leon mengikuti kakaknya.
Gabe dan David sibuk memilih kemeja untuk para putra mereka.
Virgou dan Bart paling malas memilih, mereka berdua sudah menguap dari tadi.
"Kapan mereka selesai Grandpa?" tanya Virgou malas.
"Aku tak tau. Mereka terlalu banyak," jawab Bart.
"Pa ... Ajis pake ini bagus nggak?" tanya remaja tanggung itu sedikit berbatuk.
"Baby ... kamu masih sakit ya?" tanya Gio mengusap kening Ajis yang berkeringat.
"Sedikit Pa. Kan mau ke Mekah jadi harus sehat dulu!" ujar remaja tanggung itu.
Gio mengambil dua kemeja batik yang cocok untuk Ajis, beberapa anak angkat Bart sudah menemukan baju-baju mereka.
Tiga jam mereka habiskan untuk membeli baju keperluan menikah Remario. Pria itu juga telah menemukan pakaian yang cocok dan pastinya senada dengan calon istrinya.
"Aku sudah mati kelaparan!" teriak Herman.
"Ih ... spasa ya yang tadi bilang entar lagi?" sahut Virgou meledek.
"Anak si ...."
"Ayah!" peringat Terra melotot.
Herman berdecak, Budiman juga sama dengannya. Terlebih Haidar yang sangat banyak belanjaan di banding Herman.
"Ayah padahal beli satu tapi milihnya ...!" protes Andoro.
"Ah ... jangan banyak protes!" sahut Herman kesal.
Maka semua anak diam, Virgou juga akan marah jika masih ada yang menyahuti Herman. Dahlan telah membooking satu restoran di mall.
Usai makan mereka langsung pulang ke mansion Herman. Di kediaman pria itu akan dilangsungkan pesta pernikahan Remario dan Rosa.
"Apa semua sudah siap Her?" tanya Bart.
"Sudah Dad!" jawab Herman menunjukkan ibu jarinya.
Sampai hunian besar itu. Semua dekorasi nyaris rampung. Bunga-bunga hidup dihias demikian cantiknya.
Rosa berbinar melihat pesta pernikahan yang katanya sederhana itu sangat luar biasa mewah.
"Untuk putriku pastinya spesial!" ujar Herman mengelus pipi Rosa.
"Makasih ayah ... makasih!"
Rosa memeluk pria paling dihormati di sana. Dari sosok Herman ia mendapat kasih sayang seorang ayah.
Rumor di kalangan para pengawal mengatakan jika Herman adalah sosok yang jahat dan ditakuti memang diakui.
Rosa tak begitu dekat dengan Herman karena bekerja sebagai pengawal para bayi. Tapi setiap pria itu datang, Herman selalu melimpahkan kasih sayang pada semua pengawal tanpa terkecuali.
"Kamu adalah ayah terhebat yang pernah kami miliki ayah!" aku Rosa yang diangguki setuju semua anak bahkan para pengawal.
bersambung.
Bravo Ayah!
next?