THE BIG FAMILIES

THE BIG FAMILIES
PERISTIWA



"Kau lah yang jahat di sini Gino!" seringai Prapto.


Virgou mengepalkan tangan kuat-kuat. Darahnya mendidih mendengar perkataan pria yang mestinya jadi pengayom keluarga. Ia menatap Gino. Bocah itu memang berurai air mata, tapi tak keluar suara.


"Baby," gumam Virgou iba.


"Jadi menurut anda, saya adalah biang anda masuk penjara?" tanya Gino dengan bibir gemetar.


"Jaga mulutmu bocah. Kau berbicara dengan orang tua!" desis Prapto marah.


"Kaulah yang membuat dirimu dipenjara. Kau pukuli ibuku ... Kau rampas hartanya ...."


"Ibumu itu wanita malam! Aku terpaksa menikahinya karena tergiur hartanya!" potong Prapto.


"Bajingan kau!" teriak Gino sambil berdiri di kursi.


"Kau memang tak pantas aku sebut papa. Kau tak layak mendapat kehormatan itu!" lanjutnya menunjuk pria yang duduk di depannya.


Dua sipir berada di sisi Prapto. Borgol dikenakan di kedua lengan pria itu. Prapto baru saja hendak menyenggrang putranya. Tapi dua sipir menahan bahunya kuat-kuat.


"Jangan sentuh!" tekan salah satu sipir.


"Kau bajingan yang membunuh ibuku! Kau dipenjara karena kesalahanmu sendiri!" teriak Gino.


"Kau membangkang ayahmu?"


"Bukankah kau tak pernah mengakui aku anakmu?!" balas Gino sinis.


"Cis ... Sepertinya ajaran orang tua angkatmu tak berguna, kau sama bejat denganku!" sindir Prapto.


"Aku bejat hanya di depanmu Bapak Praptono!" sergah Gino.


"Tapi aku pastikan aku tak sebejat dirimu!" lanjutnya dengan nafas memburu.


Gino turun dari kursi, bocah itu sepertinya sudah cukup berbicara dengan ayahnya itu.


"Aku akan mati Gino ... aku akan mati!" teriak Prapto.


Langkah Gino terhenti, dadanya naik turun. Ia menahan semua amarah dan kesedihan yang ada di dadanya.


"Maka mati saja kau Prapto!" ujar bocah itu lalu pergi meninggalkan ruangan itu.


"Gino!" teriak Prapto.


Pria itu hendak mengejar. Virgou gegas berdiri dan menghalangi laju Prapto. Dua sipir menahan pria itu.


"Gino ... Gino!" teriak Prapto.


Lalu pandangan buramnya ia layangkan ke arah pria di depannya.


"Kau yang membuat putramu membencimu!" ujar Virgou dengan senyum sinis.


"Kau pasti mencuci otaknya!" tuduh Prapto.


"Sshhh! Jangan banyak bicara!" ujar Virgou langsung menempelkan telunjuk di bibir pria itu.


"Atau mulutmu tak akan bisa bicara lagi ...," ancamnya.


Virgou pun pergi, pria itu menyusul Gino. Prapto berteriak-teriak.


"Aku menuntutmu Virgou Black Dougher Young! Kau tadi mengancamku. Dua penjaga ini saksinya!"


"Tidak ... saya nggak dengar tuh!' ujar sipir di sebelah kiri Prapto.


"Kamu denger itu Le?" tanyanya.


"Nggak, emang tadi Tuan Black ngomong apa?" jawab pria di kanan Prapto sambil bertanya.


"Kalian berdua ... Ughhh!"


Prapto tak bisa mengucapkan apapun. Salah satu sipir menyikut perutnya dengan dengkul.


"Banyak bicara!" sentaknya lalu ia dan rekannya menyeret Prapto ke sel bersama napi lainnya.


Di luar gedung tahanan. Ia mendapat Gino yang dipeluk oleh Marco. Bocah itu memukuli dada bidangnya.


"Baby!' peringat Virgou.


"Huuwaaaa ... huuuu ... uuuu ...!" isak Gino dengan air mata meleleh.


"Sayang," Virgou menitikkan air matanya.


Pria besar itu merengkuh tubuh Gino yang kecil. Tangisan bocah itu begitu pilu.


"Menangislah sayang ... Menangislah!" ujar Virgou mengusap punggung Gino yang bergetar hebat.


"Daddy ... hiks ... Apa salah Gino Daddy? Gino tak pernah meminta dilahirkan ... huuuaaa ....!"


"Nak,"


"Padahal, Gino pengen banget dipeluk sama papa ... pengen banget denger papa bilang cinta sama Gino ... Pengen banget papa bangga sama Gino ... Huuuu ... Uuuu!"


Virgou memeluk bocah yang sedang kehilangan nahkodanya. Seorang anak adalah kapal di mana ayah adalah pengendali kapal itu.


"Pulang Daddy, Gino mau pulang ... hiks ... Gino mau pulang ... hiks ... Hiks!"


"Ayo sayang," angguk Virgou.


Mereka pun naik mobil dan bergerak membelah jalan raya. Sedang di dalam selnya. Prapto menghadap tembok.


"Maaf ... Maafkan papa nak ...."


Dua iparnya ada di sana. Keduanya menggeleng pelan. Mestinya mereka mendapat potongan tahanan, tapi akibat perbuatan Prapto lagi. Rujukan potongan ditangguhkan hingga batas waktu ditentukan.


"Jika kau mati sendiri di sini. Mati saja kau mas!" sentak Heru marah pada iparnya itu.


Prapto hanya diam, ia memang salah. Hatinya berbulu melihat putranya berpipi merah dan bertubuh gempal. Gino tampak sehat di matanya.


Sebagai ayah, mestinya ia bahagia melihat anaknya tumbuh dengan sehat. Akibat kekasarannya pada Gino. Virgou memberi layangan surat protes pada lembaga hukum agar membatalkan potongan hukuman.


Heru dan Aldo duduk di sudut sel. Beberapa napi tak menghiraukan apa yang terjadi.


Sementara itu, Virgou membawa Gino ke rel kereta api. Bocah itu berteriak keras ketika kereta melintas. Ia meluapkan semua emosinya.


"Baby!" Gino jatuh tak sadarkan diri.


Virgou mencium pipi bocah itu. Netra Gino mengerjap, rupanya ia terlalu berlebihan meluapkan emosinya.


"Lapar Daddy," ujarnya lemah.


"Kita pulang sayang," angguk Virgou.


Mobil itu bergerak, hanya butuh lima belas menit mereka sampai. Semua orang menunggu.


"Baby!' panggil Karina dengan wajah cemas.


Gino menatap semua ibu dan ayah yang berwajah khawatir. Ia tersenyum, dirinya masih banyak yang sayang.


"Mommy!' panggilnya.


Virgou menyerahkan Gino pada Karina. Wanita itu menciumi wajah bocah itu. Lilo, Seno, Vera dan Dita sedih melihat kakaknya yang lemas.


"Ganti bajunya Karina, habis itu kita makan siang!' suruh Virgou.


Karina menurut, wanita itu membawa Gino ke kamarnya. Empat adik Gino yang ingin ikut tentu dialihkan oleh, Zheinra, Raffan, Setya juga Davina.


"Yuk kita cuci tangan!" ajak Davina pada semua adiknya.


Lilo, Seno, Vera dan Dita menurut. Mereka mencuci tangan bergantian dengan yang lain.


Tak lama mereka pun makan siang bersama, usai makan. Semua diminta untuk tidur siang.


"Baby bobo sama Mommy mau?" tawar Puspita.


"Nggak makasih mommy, Gino bisa sendiri," jawab Gino menolak.


"Baby nggak mau cerita sama mommy?" tanya Puspita lagi.


"Mommy selalu ada loh buat baby!" lanjutnya meyakinkan Gino.


Puspita menggandeng tangan Gino dan mengajaknya ke kamar. Virgou membiarkan istrinya. Alia sudah dibawa tidur bersama saudaranya yang lain.


Di kamar, Gino naik di kasur empuk milik Virgou. Puspita merentangkan tangannya. Gino masuk dalam pelukan hangat salah satu ibunya itu.


"Yang harus baby ingat. Kami semua sayang sama Baby. Jadi baby jangan takut ya," ujar Puspita lalu mengecup kening Gino.


Bocah itu mengangguk, ia sudah tenang.


"Baby sudah maafin papanya baby?" tanya Puspita.


"Ya, Gino udah maafin papa. Gino kan diajari mommy agar selalu jadi pemaaf," jawab Gino lalu menatap mata Puspita.


Perempuan itu tersenyum, lalu keduanya pun terpejam dan terlelap.


Bart memanggil Virgou dan menanyakan apa yang terjadi tadi. Virgou menceritakannya.


"Pria kurang ajar!" umpat Bart marah.


"Ada pria macam itu di dunia ini?!' sengitnya kesal.


Virgou menatap kakeknya. Pria itu dulu juga menghancurkan hidupnya dulu.


"Oh baby, aku dulu juga kejam!" aku Bart.


"Grandpa!" Virgou memeluknya.


"I am sorry boy ... I'm so sorry!" ujar Bart.


'It's pass away Grandpa, look we know. We're happy family," ujar Virgou.


Bersambung.


Next?