THE BIG FAMILIES

THE BIG FAMILIES
CURIGA



Mansion besar itu tak pernah sepi penghuni. Keributan para bayi jadi perhatian semua ibu. Begitu juga Nai yang baru saja jadi seorang ibu.


"Assalamualaikum, Mama Rimbi bawa kue nih!" seru Arimbi.


Wanita itu datang bersama suaminya. Remario belum pulang dari Eropa. Pekerjaan di sana masih menumpuk terlebih cuaca yang tidak mendukung.


"Amah wawa pa'a?" tanya Faza.


"Bawa kue banyak, baby juga bisa makan kok!" jawab Arimbi.


"Asit!" seru Horizon bertepuk tangan.


"Yiyo wawu tua amah!" ujar Ryo menunjuk seluruh jarinya.


"Itu sepuluh baby, bukan dua!" kekeh Arimbi.


"Anan Yiyo wuwa amah!' sengit Ryo yang mengatakan jika tangannya dua.


"Oh iya, kamu benar sayang," kekeh Arimbi lagi.


Semua bayi makan kue yang diberikan Arimbi. Perut wanita itu makin besar dan sedikit naik.


"Babies!' Khasya mencium perut besar putrinya.


"Ih nenek, bukan anaknya yang dicium!' protes Arimbi kesal.


"Sayang," kekeh Khasya lalu mencium sayang putrinya.


"Oh ya, aku pergi lagi ya!" ujar Reno lalu mengecup pipi istrinya.


Ia mencium punggung tangan semua ibu. Arimbi tadinya mau mengantar sang suami tapi Reno melarangnya.


"Sudah sayang, kamu istirahat saja," ujar Reno mengelus pipi Arimbi.


Reno pamit dengan mengucap salam. Arimbi sedikit khawatir dengan suaminya.


"Bun,"


"Kenapa sayang?" tanya Khasya ikut cemas melihat kecemasan putrinya.


"Kok aku merasa gimana ya sama Kak Reno," ujar Arimbi memberitahu.


"Rasa apa sayang?" tanya Khasya.


"Entah, aku ngerasa jika Kak Reno menyembunyikan sesuatu. Dia nggak semesra dan seromantis dulu," jawab Arimbi menjelaskan.


"Eh, tapi bunda liat nggak ada yang kurang. Suamimu tetap berlaku sama kok?" ujar Khasya yang tak melihat perubahan Reno.


"Malah terlihat makin sayang sama kamu," lanjutnya.


Arimbi cemberut, ia masih mencurigai suaminya. Wanita itu merasa jika perhatian sang suami tak seperti dulu lagi.


"Bun, satu jam lagi aku mau susul Kak Reno di perusahaannya!" putus Arimbi.


"Sayang, jangan mencurigai suamimu!" peringat Khasya.


"Nantinya kamu salah paham. Karena pandangan itu kadang tidak sesuai kenyataan," lanjutnya.


"Nggak, pokoknya Rimbi mau lihat sendiri. Apa perasaan ini hanya sebatas kecurigaan belaka!" tandas Arimbi tak peduli.


Khasya tak bisa melarang putrinya itu. Arimbi termasuk anak yang keras kepala. Sifatnya sama dengan Nai.


"Bu'lek kenapa?" tanya Nai bingung yang melihat wajah Rimbi yang jutek.


"Mukanya dikondisikan Bu'lek! Banyak anak-anak di sini!" peringat Nai.


"Baby, Bu'lek lagi gelisah ini!" sungut Arimbi kesal.


"Kenapa?" tanya Nai bingung.


"Kamu enak, kak Langit perhatian sama kamu selama kamu hamil! Tapi Kak Reno nggak!" ujar Arimbi lagi kesal.


"Eh ... Nggak perhatian gimana?" tanya Nai.


"Perasaan Kak Reno perhatian banget sama Bu'lek deh. Tuh, ampe dia rela telat ke kantor hanya untuk nganterin Bu'lek kemanapun kan?" ujar Nai mengingatkan.


"Itu karena Bu'lek pasang wajah ngambek, tadinya nggak mau! Malah nyuruh naik taksi online!" lanjutnya mendumal.


"Jangan bohong baby!" peringat Khasya.


"Setau bunda Reno tak seperti itu!" lanjutnya.


"Itu benar Bun!" sungut Arimbi benar.


Memang Reno sempat menolak ajakan Arimbi mengantarnya ke pasar pagi membeli jajanan untuk anak-anak. Pria itu ada meeting penting yang harus ia hadiri.


Namun Arimbi langsung bermuka masam. Wanita itu menyambar tas berisi dompet dan berjalan cepat hingga membuat Reno mengalah.


Sementara di perusahaan, Reno setengah berlari menuju ruang rapat yang tertinggal sepuluh menit.


"Tuan!" seorang sekretaris menyambutnya.


Gadis berkacamata menyerahkan dokumen pada Reno.


"Sudah tuan, beruntung Mister Loudan belum datang, beliau terkendala macet parah karena adanya kecelakaan beruntun!" jawab sang sekretaris.


Reno sedikit bernafas lega. Ia duduk di kursi utama. Secangkir teh hitam hangat sudah tersaji.


"Maaf tuan, dasi anda miring!' ujar sang sekretaris membenahi dasi atasannya.


"Terimakasih!' ujar Reno membiarkan gadis itu membenahi dasinya.


Tak lama kolega yang dinantikan datang. Reno membaca cepat semua berkas yang ada.


Dua puluh lima menit berlalu. Ada adu argumentasi ketika penawaran kerjasama. Tetapi akhirnya bisa diselesaikan dan langsung mendapat kontrak kerja.


"Terimakasih Tuan Sanz! Saya sangat puas dengan hasilnya!" ujar Mister Loudan menjabat tangan Reno.


"Sama-sama Tuan. Semoga kerjasama ini bisa memajukan perusahaan kita!" ujar Reno senang.


Pria bule itu pun pergi bersama sekretaris dan juga asisten pribadinya. Reno bernafas lega.


"Beruntung ada nona Cindy! Sekretaris anda sangat kompeten tuan!" puji salah satu staf.


"Itu tugas saya tuan!" ujar Cindy merendah.


"Kerja bagus Cindy! Nantikan bonusmu akhir bulan nanti!' ujar Reno.


"Terimakasih Tuan!" ujar Cindy membungkuk hormat.


Reno dan Cindy kembali ke ruang kerja mereka. Penampilan Cindy sangat modern.


Gadis itu memakai setelan formal yang sangat trendy. Rok span hitamnya sepanjang dengkul dengan belahan pendek di sebelah kiri. Kemeja putih dengan kerah pita dipadu dengan blazer warna senada dengan roknya.


Rambut Cindy yang diwarnai kemerahan, dengan riasan tipis dan dihias kacamata trendy. Sangat menunjang penampilan sang sekretaris.


"Gila, kok bisa serasi sih?" bisik-bisik pegawai melihat atasan dan sekretaris berjalan.


"Cindy memang cantik, dia juga pintar!" sahut lainnya ikut memuji.


"Sayang, boss udah punya istri," sahut lainnya lagi.


"Eh, kita nggak pernah liat istri boss?!" sahut satunya lagi nimbrung.


"Katanya dokter kandungan termuda di Indonesia," sahut lainnya lagi.


"Masa sih?" tanya lainnya lagi tak percaya.


"Katanya sih gitu!"


Sementara di ruangan. Keduanya bekerja secara profesional. Reno tak memiliki asisten pribadi.


"Cindy, coba kau buka lowongan mencari asisten untukku!" perintah Reno.


"Buat apa tuan?" tanya Cindy sedikit keberatan.


"Apa maksud pertanyaanmu Cindy?" tanya Reno.


"Ah ... Maksudnya, saya bisa merangkap semua pekerjaan jadi Tuan tidak perlu ...."


"Aku yang menggajimu ingat itu Cindy!" tekan Reno membungkam sang sekretaris.


"Jadi jangan banyak membantah!" lanjutnya menatap sang gadis yang menunduk.


Cindy tak banyak bicara. Ia mengerjakan apa yang diperintah atasannya.


Telepon, di meja Cindy berdering. Gadis itu menerima panggilan.


"Tuan, kepala staf ingin merayakan kemenangan proyek tadi di kantin!" ujar Cindy dengan muka semringah.


Reno mengangguk, ia mengiyakan ajakan anak buahnya. Tadinya, ia selalu pulang ke rumah untuk makan siang.


Tak lama, jam makan siang pun tiba. Reno dan Cindy berjalan beriringan. Naik lift yang sama. Tentu saja Cindy sebagai sekretaris harus tau tugasnya.


"Selamat datang Tuan. Saya tak menyangka jika undangan saya diterima!" ujar kepala staf lalu mengangguk pada Cindy.


"Tak masalah! Ayo semua yang ada di kantin ini gratis!" ujar Reno yang disambut tepuk tangan semua karyawan.


"Mari bersulang!' ujar kepala staf mengangkat gelas berisi teh manis.


Reno pun mengangkat gelas berisi es jeruk. Cindy juga melakukan hal sama. Hingga ....


Byur! Entah bagaimana Cindy menumpahkan air es yang dipegangnya ke baju Reno.


"Maaf tuan!" ujarnya lalu buru-buru mengambil tisu untuk membersihkan kemeja atasannya.


"Jauhkan tanganmu dari dada suamiku!" sebuah suara keras membuat semua kepala menoleh.


"Sayang?"


Bersambung.


Ah ... Cindy cari mati!


next?