THE BIG FAMILIES

THE BIG FAMILIES
MERDEKA



17 Agustus tahun 1945, Indonesia merdeka. Satu-satunya negara yang berdaulat karena mengusir penjajah.


Bung Karno sebagai presiden saat itu melihat peluang di mana Indonesia bisa menjadi negara yang berdaulat.


Setelah proklamasi kemerdekaan. Indonesia juga masih terus berjuang untuk lepas dari penjajahan, karena agresi tentara sekutu.


Banyak darah tertumpah untuk merebut dan mempertahankan kemerdekaan negara ini.


"Kemerdekaan hanyalah didapat dan dimiliki oleh bangsa yang jiwanya berkobar-kobar dengan tekad, 'Merdeka, merdeka atau mati'!" itu kata Bung Karno.


Sekarang Indonesia telah merdeka. Sebagai rakyat Indonesia, kita harus melanjutkan perjuangan dan mempertahankan kemerdekaan ini.


Pesan dari Bung Karno sebagai tokoh proklamator.


“Aku tinggalkan Kekayaan alam Indonesia, biar semua negara besar dunia iri dengan Indonesia, dan aku tinggalkan hingga bangsa Indonesia sendiri yang mengolahnya.”


Sekarang adalah masa kita sebagai rakyat untuk mengolah tanah kita sendiri.


Merdeka! Merdeka! Merdeka!


Suara riuh tepuk tangan mengiringi kelompok pemuda-pemudi yang tengah beraksi di panggung.


Usai upacara bendera. Semua anak tengah berada di aula indoor, menonton drama teater tentang perjuangan.


Budiman tersenyum lebar melihat putra-putranya bermain dengan gemilang. Samudera, Sky dan Domesh berperan sebagai tokoh nasional.


Samudera menjadi Bung Tomo tokoh perobek kain warna biru di hotel oranye. Benua sebagai tentara kecil yang menyerang pertahanan penjajah. Domesh menjadi raja Airlangga yang gugur akibat pengkhianatan.


Budiman begitu bangga. Air mata haru menyeruak di sudut mata pria berusia lebih empat puluh itu.


"Baba ... Gimana tampilan kami?" tanya Domesh yang memeluk Budiman.


"Mashaallah ... Kalian luar biasa!" jawab Budiman memuji.


"Ayo pulang!" ajaknya kemudian.


"Tunggu Ba, kami mau bawa nasi kotak dulu!" ujar Benua.


Budiman hendak melarang tapi tiga putranya sudah berlari mengantri. Pria beruban itu menggeleng.


"Anak-anak ini!" keluhnya.


Setelah mendapatkan apa yang mereka inginkan. Akhirnya semua pulang.


Sementara di sekolah. Harun dan semua saudaranya tengah bertanding.


"Ayo Arfhan!" teriak Radit.


"Ayo baby lari dan lompat yang jauh!" seru Theo memberi semangat.


Arfhan sedang bersiap-siap. Bocah itu sudah mencapai babak final. Ia menghirup nafas dari hidung dan membuangnya lewat mulut.


Sementara itu Bariana sudah mendapat medali kemenangannya. Harun dan lainnya juga sama. Semua menduduki juara satu.


"Salim baru kali ini loh juara satu balap karung!" ujar bocah itu bangga.


"Iya, aku juga!" sahut Harun juga bangga, ia baru saja memenangkan juara lompat ban.


Kembali ke Arfhan, bocah itu memutar sendi kakinya agar tak cedera.


"Bersiap!' seru pemandu lomba.


Arfhan memulai ancang-ancang. Bocah itu berlari cepat dan ketika di garis lompat. Ia mengangkat tubuh tinggi-tinggi dan berjalan di udara lalu meluruskan kaki ke depan.


Brug! Ugh!


"2,7 meter!" seru petugas ketika mengukur lompatan Arfhan.


"Wah sedikit lagi menyamai lompatan Sky!" Theo bertepuk tangan.


Bomesh mendapatkan kemenangannya setelah menjuarai lomba lari jarak dua ratus meter.


Bocah itu juga telah memenangkan cabang lompat tinggi menggantikan Sky yang mundur dan memilih ikut lompat jauh.


Sky mendapat juara satu dan Arfhan mendapat juara dua. Mereka sangat senang karena mendapat hadiah.


"Pulang yuk!" ajak Bariana.


"Aku sudah lapar!" lanjutnya mengusap perutnya.


"Ayo!" ajak Radit.


Semua anak pulang membawa kemenangan. Sampai rumah mereka disambut para perusuh paling junior.


"Ata' ... Imi puwat Liyah?" tanya Alia ketika Arfhan memberinya medali perak.


"Iya baby," ujarnya lalu mencium pipi bulat Aliya.


"Puwat Filman bana Ata'?" tanya Firman.


"Ini buat Firman!" ujar Arfhan memberikan medali emas.


"Della dapat Thropy ya!" Della mengangguk.


Balita itu juga baru saja memenangkan beberapa perlombaan.


"Wah ... Pita sudha pitin pompa yut!" ujar Al Bara yang melihat banyaknya hadiah.


"Spasa yan tasyih tadona Aypi?" tanya Aarav.


"Binta pama wuyuy!" sahut Fathiyya.


"Apan baji baby Alsh!" panggil Zaa.


Bayi tiga tahun itu berjalan mencari keberadaan pria paling tua di sana.


"Wuyuy!" panggilnya.


"Baby sini kamu!" Arsh mendekat.


Bart langsung mengambil cicit tampannya. Ia bersama Bram dan Kanya.


"Wuyuy puwatin tamih tado don!" pinta Arsh langsung.


"Eh ... Kalian tidak ada yang ulang tahun hari ini!" ujar Bart.


"Puwat bomba Wuyuy!" sahut Arsh tak sabaran.


"Eh ... Kalian yang mau lomba kenapa Uyut yang harus kasih kadonya?" sengit Bart.


"Dad!" peringat Bram.


"Oh sadhi selitana Wuyuy pidat bawu tasyih tamih tado puwat bompa?" tanya Arsh meyakini.


"Tidak!" jawab Bart usil.


"Oh paitlah!" ujar Arsh lalu turun dari pangkuan Bart.


"Tate ... Talo Tate tan pait bati ... Tate judha taya laya," bujuk Arsh beralih pada Bram.


"Tate basti pidat teupelatan talo tasih tamih tado puwat bompa," lanjutnya merayu.


"Tentu sayang, Kakek pasti kasih kalian kado," ujar Bram.


"Nah, apan Baji Baby Alsh pahu talow Tate Plam ipu pait hati. Pidat tayat ...," Arsh menghentikan ucapannya lalu melirik Bart sinis.


"Eh ... bayi si ...."


"Dad!" peringat Kanya.


"Pa'a ... Wuyuy bawu pilan pa'a?" tanya Arsh sengit.


"Tidak ada baby, yuk kita adakan lomba itu!" ujar Bram lalu menggendong Arsh.


"Daddy ih!" ujar Kanya kesal pada pria paling tua di sana itu.


"Masa cicit sendiri mau dibilang sialan!" lanjutnya sengit.


"Woh ... Butan tah tamih meman nanat sisilan?" sahut Fael yang tiba-tiba ada di sana.


"Astaghfirullah!" seru kedua orang tua terkejut.


"Pati pundu Pulu!" lanjut Fael tiba-tiba mengingat perkataan Kanya.


"Moma pilan talo tamih sisit sisilan!" Fael menatap Kanya.


Perempuan itu kesal sekali. Ia tidak melihat adanya bayi lain selain Arsh.


Fael pergi meninggalkan Kanya. Wanita itu harus berlari mengejar bayi kepo itu.


"Baby!"


"Days!"


Semua bayi menoleh. Mata besar dengan rasa keingintahuan yang tinggi. Kanya kesal dengan wajah super sok ingin tahu itu.


"Pa'a Aypi?" tanya Nisa.


"Pasa wuyuy pilan pita butan nanat sisilan!" lapor Fael.


"Pa'a!?" semua tentu tak suka dengan kenyataan itu.


"Janan nadhi-nadhi wuyuy!" sengit Aisya Dougher Young kesal.


"Netnet Teya sasa nanat sisilan. Basa tamih butan?!' lanjutnya cemberut.


"Tewus talo tamih butan nanat sisilan. Tamih nanat spasa?" tanya Angel.


"Tenan pita bastina nanat fifiya!" sahut Xierra.


"Badhusan nanat sisilan dali bada nanat fifiya!" sahut Nouval kesal.


Terra sangat kesal dengan percakapan itu. Ia melihat kue yang ada di sana.


"Ah kenapa semua kue malah tidak ada!" keluhnya kesal.


"Baby ... Mama bawa kue pukis nih!" teriak Nai masuk rumah setelah memberi salam.


Dan para bayi kepo itu melupakan tentang nanat sisilan. Mereka asik mengunyah kue yang dibawa kakak mereka.


"Alhamdulillah, selamat!" ujar Kanya mengelus dadanya.


Bersambung.


Untung ada makanan ya Oma Kanya 😁


Keluarga Big Families mengucapkan


"Dirgahayu Republik Indonesia yang ke 78 tahun 🇮🇩!"


"Sekali merdeka tetap merdeka!"


Next?