THE BIG FAMILIES

THE BIG FAMILIES
IDUL ADHA



Suara takbir menggema, semua umat muslim tumpah ruah di halaman masjid.


Nai, Langit, Arimbi dan Reno berada di masjid yang didirikan oleh salah satu ayah mereka, yakni Virgou.


"Hewan kurban kita dua sapi kan?" tanya Nai pada Arimbi.


"Iya baby," jawab Arimbi.


"Papa katanya pulang besok bersama rombongan. Nai udah rindu mereka Bu'lek," rengek wanita itu.


Nai menyender pada bahu Arimbi. Arimbi mengelus kepala Nai yang terbungkus mukena warna putih, lalu mengecupnya.


Mereka sholat Ied berjamaah. Semua berbaur jadi satu, kaya dan miskin tak ada yang membedakannya. Nai dan Arimbi berada di barisan ibu-ibu muda yang juga tengah hamil besar.


Usai sholat, semua pulang ke rumah masing-masing. Hanya Langit dan Reno yang tinggal. Dua pria tampan itu menjadi panitia kurban.


'Kita potong kambing dulu ya," ujar salah satu panitia.


"Kambing ada dua puluh ekor. Sapi ada dua puluh juga. Sepertinya waktu tidak akan cukup. Bagaimana jika kita lempar dua sapi ke kampung sebelah?" sebuah saran bagus diutarakan.


"Saya setuju!" ujar Langit antusias.


"Tapi di data dulu apa kampung itu benar-benar butuh sapi," sahut Reno.


Ketampanan keduanya memang membuat siapapun terpana. Terlebih iris hazel milik Reno. Banyak wanita tergila-gila pada ketampanan pria itu.


"Pak Sanz, apa rela sapinya kami bawa ke kampung paling utara?" tanya salah satu panitia.


"Di mana itu?" tanya Reno dengan kening berkerut.


"Kampung X, Pak. Di sana padat penduduk dan hanya kurban tiga ekor kambing," jawab pria itu.


"Boleh, saya akan bawa sendiri ke sana!" ujar Reno tak masalah.


"Saya bawa sapi saya ke sana juga pak!" sahut Langit.


"Baiklah, untuk sapi milik Pak Sanz dan Pak Dewangga akan diserahkan ke kampung sebelah!" putus ketua panitia.


Dua sapi diangkut oleh truk besar. Langit dan Reno telah memberitahu istri mereka jika sapi-sapi milik mereka dipotong di kampung sebelah.


"Pita itut syih pa!" rengek Fael.


"Iya pa, ikut!" ujar Bomesh.


"Ya sudah, ikut sama Papa Michael ya!" suruh Gomesh.


"Asit!" seru Angel senang.


Semua anak ikut Michael, Dion, Sukma, Ambar dan Ully ikut serta mengawal anak-anak.


"Tinti Susma ... Ael pama tamuh ya,"ujar Fael genit.


Gomesh berdecak mendengarnya. Sukma tentu menciumi gemas pipi gembul bayi tampan itu.


Angel digendong oleh Michael, Bariana digandeng oleh Dion. Sedang Bomesh dan Domesh berjalan sendiri.


"Anak-anak mau kemana Pa?" tanya Nai yang sudah pakai baju daster dengan kepala berjilbab.


'Itu mau lihat sapi dipotong di kampung sebelah," jawab Gomesh.


"Tumben boleh?" sindir Nai.


"Baby,"


Nai menggayut manja pada pria raksasa itu. Arimbi mengganggu Maria yang tengah memasak.


"Mama ... Apa sudah buat bumbu rendangnya?" tanyanya entah yang ke berapa kali.


"Sudah baby," jawab Maria dengan sabar.


Arimbi merengek manja pada wanita itu. Maria mengurusnya juga bersama Terra. Tentu sangat paham kelakuan semua anak-anak.


Sementara di Mekah, hewan kurban telah disembelih dan dimasak. Keluarga besar itu masih di sana dan memilih berbelanja.


"Kita pakai pesawat sendiri jadi bisa bawa banyak oleh-oleh," ujar Dav senang.


"Papi, beliin Kak Domesh, Kak Bomesh sama Bariana gamis itu sih!" tunjuk Azha pada sebuah kurta untuk anak laki-laki dan gamis untuk anak perempuan.


"Boleh Baby," jawab Dav.


Pria itu membelikan pakaian yang diinginkan oleh putra pertamanya. Dav tentu tau ukuran semua anaknya.


"Apih ... Apih!" panggil Ryo pada Dav.


"Apa baby," pria itu langsung mengangkat Ryo.


"Yiyo wawu otlat, awu ulma!' pinta bayi tampan itu.


"Mau banyak nak?" tanya Seruni.


"Atu jaja Amih!" jawab Ryo sambil mengacungkan semua jarinya.


"Berapa?' tanya Seruni dalam bahasa arab.


"It's free!" jawab penjual tersenyum.


"Bilang syukron, baby!' suruh Seruni.


"Yuyon!" sahut Ryo tentu membuat penjual tertawa.


Bart membawa semua anaknya berbelanja. Ia membelikan kalung emas untuk semua putrinya sedang putra-putranya mendapat jam tangan.


"Makasih Papa," ujar Azlan.


Remaja yang kini berusia tujuh belas tahun itu makin tampan. Ayahnya Ardi telah mengakui dirinya adalah putra kandung.


Azlan menolak ikut ayah kandungnya dan memilih bersama ayah angkatnya.


"Nak, apa kau tau jika ayahmu juga ada dalam rombongan haji?" tanya Bart.


Azlan hanya diam, ia memang tau. Bahkan pria itu berkali-kali berusaha berinteraksi padanya.


"Nak, jangan buat Papa jadi orang jahat sayang. Papa nggak ngajarin kamu melawan orang tua. Terlebih ayahmu sudah meminta maaf," ujar Bart memberikan pengertian.


"Pa, udah ya. Biarkan saja dulu begini. Azlan hanya mau sama papa dan merawat papa!" sahut Azlan dan Bart menghargai keputusan putranya itu.


"Papa Leon, boleh Deta dibelikan itu!" pinta Deta pada Leon.


"Mau apa sayang, tentu boleh!" ujar Leon.


Deta mengambil beberapa baju kurta warna biru. Ia akan memberikannya pada Doni dan juga beberapa teman satu kelasnya.


Doni yang dulu pernah memfitnahnya tentang uang lima ribu tanda minyak. Kini dua remaja tanggung itu jadi sahabat baik.


"Sayang, kamu mau apa ambil saja ya!" suruh Kanya pada beberapa anak yang diam saja.


"Tiana, kau tak membelikan ibumu gamis?" tanya Khasya.


"Uangnya nggak cukup bunda," jawab Tiana malu.


Khasya tersenyum, ia membelikan gamis untuk ibu dari pengawal yang ingin ia jodohkan dengan Dimas.


"Kau harus jadi milik Dimas sayang!" ujar Khasya lalu tersenyum.


Khasya sangat bisa melihat karakter seseorang. Ia adalah penemu anak-anak terlantar dan mengasuh mereka dengan tangannya sendiri.


"Ini buat ibumu dan ini buat kamu ya," ujarnya tersenyum.


"Makasih bunda!" ujar Tiana terharu.


Gadis itu tentu bahagia sekali. Ia benar-benar tak bermodal untuk pergi beribadah kali ini. Tiga adiknya juga sangat bahagia bersama kakak-kakak baru mereka. Lalu dua mata bertemu.


Deg ... Deg ... Deg ... Deg!!


Mata Tiana langsung mengalihkan ke tempat lain. Ia sedikit kesal dengan ritme jantungnya yang tiba-tiba berdetak kencang.


"Astaga Tuan muda!" keluhnya lalu mengelus dadanya.


Khasya tersenyum melihatnya. Ia adalah seorang ibu yang paling peka dengan semuanya. Setelah berhasil mendapatkan Adiba untuk putra tertuanya.


"Kali ini Tiana harus jadi milik Dimas. Bismillahirrahmanirrahim, mudahkan lah ya Allah!" pintanya berdoa dalam hati.


"Punda ... Punda!" teriak Zora.


Bayi sembilan bulan itu tampak tertatih dengan mukena putihnya. Khasya mengangkat Zora lalu menciuminya.


"Baby,"


"Punda ... Yoya pasa pidat lipeliin pasu ama Amah?!" adunya kesal.


"Luisa!" tegur Khasya langsung.


"Bunda ... Dia nggak mau gamis!" sahut Luisa tentu tak mau disalahkan.


"Memang baby mau apa?" tanya Khasya yang gemas sendiri pada bayi cantik itu.


"Wawu pasu tayat wayah Yeyan!" jawab Zora semangat.


"Sayang, itu laki-laki," kekeh Khasya.


"Punda ... Yoya tan nanat sisilan judha ... mama pama Yayah!" sahut bayi itu bersikeras.


"Sadhi loleh don ... Pate ayat unya Yayah Yeyan!' lanjutnya dengan mulut mancung.


Bersambung.


Atur aja Zora.


next?