THE BIG FAMILIES

THE BIG FAMILIES
RUSUH



Pagi menjelang, jumat ini seluruh keluarga kembali ke villa. Para pria akan melakukan ibadah jumat di masjid yang didirikan sepuluh tahun yang lalu.


Masjid Al-Huda tak pernah sepi jamaah. Itu di karenakan Virgou yang selalu membagikan sebagian hartanya untuk para warga sekitar yang hanya status sosialnya menengah ke bawah.


Walau tak jarang diantara jamaah ada juga yang bermobil ikut mengantri sembako yang dibagikan.


"Dad, dia datang pake mobil loh!" ujar Calvin sambil menyenggol ayahnya.


"Biar saja, mungkin dia sedang kesulitan," sahut Virgou tak masalah.


"Ih, Dad. Mestinya kan ada orang yang lebih membutuhkan yang dapat bagian ini!' sengit Calvin tak setuju.


"Lalu gimana solusinya. Ini satu-satunya cara menarik jamaah agar memenuhi masjid agar sering di-sholati?" tanya Virgou.


"Gini aja Dad. Gimana kalo dibagiin kupon aja?" ujar Calvin memberi ide.


"Kupon?" Virgou menatap putranya.


"Iya dad. Jadi nanti dua hari sebelum hari jumat. Calvin dan anak-anak seumuran bergerak membagikan kupon pada yang benar-benar berhak. Jadi mereka yang punya mobil nggak akan dapat kupon ini!" jelas Calvin semangat.


"Terus, Calvin juga mau menggerakkan remaja pecinta masjid. Agar ada kegiatan lain di masjid," lanjutnya memberi pencerahan.


"Ya sudah, kau atur saja dengan semua saudaramu baby," ujar Virgou setuju.


Pria itu senang dengan ide putranya. Terkadang, ia juga sedikit kesal dengan para jamaah yang mampu tapi masih antri sembako.


"Sembako habis ya pak!" ujar ketua DKM masjid.


"Yah pak!" protes beberapa pria dengan baju koko yang lusuh.


"Maaf, pak. Kami selalu menyediakan sesuai kapasitas jamaah. Kami tak menyangka jika jamaah lebih dari kuota sembako yang dibagikan!" jelas ketua DKM menyesal.


Dua puluh jamaah pria tampak kecewa. Sudah ada bayangan di depan mata sembako untuk kebutuhan hidup beberapa hari.


"Belum rejeki kali ya," ujar salah satu pria menatap beberapa orang yang memegang tas besar berisi sembako.


"Iya, ikhlas aja deh. Padahal bapak itu pake mobil ke sini," tunjuk salah satu jamaah pada pria yang memegang tas sembako masuk dalam mobil.


"Mungkin itu mobil tuannya. Dia sebagai supir," sahut lainnya maklum.


"Bisa jadi ia nyewa buat taksi daring. Kan kita nggak tau!" sahut satunya lagi.


Kean memanggil dua puluh orang itu. Ia mengajak para pria ke sebuah toko besar di seberang masjid.


"Kita beliin sembako buat bapak-bapak yang nggak kebagian!' ujar pemuda itu.


Bart senang dengan kepedulian cicitnya. Beni menepuk bahunya.


"Saya bangga dengan apa yang mereka lakukan mas," ujarnya.


"Ya, aku juga bangga. Mereka ternyata memiliki kepedulian dan jiwa sosial yang tinggi," ujar Bart mengangguk.


Sementara itu Kaila yang bosan mengajak bibi dan kakak perempuannya untuk kabur dari pengawalan.


"Ayo Bu'lek!" rayu Kaila.


"Baby," Dewi menolak ajakan keponakannya itu.


"Kak," rengek Kaila pada Maisya.


"Bu'lek, mumpung Tinti masih latihan. Penjagaan kurang. Kita pergi sebentar aja yuk!' rayu Maisya.


"Ayo Bu'lek!" paksa Kaila.


"Ayo deh! Mumpung para perusuh pada tidur," angguk Dewi akhirnya setuju.


Ketiga gadis beda usia itu pun bergerak. Memang, pengawal banyak dilatih ulang. Semenjak Rasya, Rasyid, Dewa dan Dewi berhasil mengalahkan mereka dengan hanya tusukan jari.


Fio tengah cuti, pria itu berbulan madu bersama istrinya ke Bali. Begitu juga Theo dan Ratini.


"Aypi!" ketiga gadis menoleh.


Zaa dan Chira rupanya belum tidur. Dua bayi cantik itu berhasil keluar kamar karena sang ibu tak menutup rapat pintu kamar mereka.


"Eh ... Aunty baby kok nggak bobo?" tanya Dewi.


"Eundat ... Pana pisa popo ... banas!" jawab Zaa.


Memang sedang ada pemadaman listrik. Jenset baru saja dinyalakan. Kemungkinan kamar mereka belum berasa pendingin ruangannya.


"Taliyan bawu teumana?" tanya Chira pada tiga gadis.


"Kami nggak kemana-mana kok!" jawab Kaila cepat.


"Janan bolon aypi!' geleng Zaa tak percaya.


"Bener!" sahut Maisya dan Dewi kompak.


"Tot sawabna palenan? Wah sulidha atuh!" ujar Zaa memicingkan mata curiga.


"Bener!"


Dua bayi cantik itu melirik para ayah dan ibu mereka. Juga keberadaan pengawal.


"Memang apa yang mau baby lakukan?" tanya Dewi gemas.


"Papa Cecel!" pekik Chira melihat keberadaan pria bernama Michael.


"Ah!" decak Kaila sebal.


Michael yang dipanggil pun datang. Chira menatap penuh kemenangan pada tiga gadis yang kini bermuka masam.


"Iya nona baby?" sahut Michael.


"Papa, kami mau pergi beli es krim boleh," pinta Maisya.


"Di kulkas saya lihat banyak es krim nona!' jawab Michael tak bisa dibohongi.


Tiga gadis pun gagal pergi. Mai bersunggut. Dewi meminta maaf pada keponakannya itu.


"Bu'lek sih! Mereka itu otaknya boleh kecil. Tapi lebih cepat melihat situasi!" Dewi terkekeh.


Gadis itu memang meremehkan dua adik bayinya itu. Siapa sangka jika Zaa dan Chira berotak cerdas.


"Ya udah, kita di rumah aja ya," ujar Dewi yang memang sedang malas keluar.


"Ah ... Bu'lek!" rengek Kaila sebal.


"Baby," kekeh Dewi lalu mencium gadis bermata biru itu.


Listrik pun menyala. Semua senang dan lega. Para ibu bisa melanjutkan kegiatannya memasak.


"Ma," Dewa mendatangi Terra.


"Apa baby?" sahut wanita itu.


"Ma, boleh nggak ibunya Rana kerja di sini?" tanya Dewa.


"Mama udah banyak bibi sayang," jawab Terra menyesal.


"Eh, kemarin kan Bunda keluarin Bi Idah, tanya bunda. Siapa tau bunda butuh!' ujar Terra lagi mengingat.


"Oh iya!' Dewa baru teringat.


Remaja itu mendekati ibunya dan langsung mengatakan keinginannya membantu salah satu teman kampusnya itu.


"Oh yang kemarin itu ya nak?"


"Iya Bun, apa bisa Bun?" tanya Dewa penuh harap.


"Tapi, kan ibunya baru sembuh dari sakit. Apa sudah bisa bekerja?" tanya Khasya ragu.


'Bisa Bunda! Kata Rana, selama pemulihan dia yang bantuin ibunya bekerja," jawab Dewa antusias.


Khasya menatap putra bungsunya. Ia melihat jika Dewa ada ketertarikan dengan teman yang ingin dia tolong itu.


"Bisa ya Bun!" pinta Dewa lagi penuh harap.


"Oke, besok kamu suruh mereka datang ke rumah ya," angguk Khasya setuju.


"Makasih bunda!" Dewa langsung memeluk dan mengecup pipi ibunya.


Tampak kebahagiaan terpancar dari raut wajah putranya. Dewa yang pendiam dan tak banyak tingkah. Mendadak berubah jadi sosok yang penuh semangat terlebih membicarakan teman perempuannya itu.


"Rana cantik ya?" tanya Khasya menggoda.


"Iya Bun ... cantik!" jawab Dewa lurus.


Tatapan polos Dewa menyadarkan Khasya. Putranya murni ingin membantu temannya itu.


"Kenapa Bun?" tanya Dewa bingung.


"Nggak ... Nggak ada apa-apa!" jawab Khasya cepat.


Dewa mengendikkan bahu tak acuh. Remaja itu pun kini sibuk menggangguku para bayi yang sudah bersih.


"Aaah!" pekik Ryo kesal karena Dewa menciuminya gemas.


Khasya menatap putranya. Lalu ia menghela nafas panjang.


"Dimas saja belum berpikir untuk menikah. Ia sama polosnya dengan saudaranya yang lain," keluh wanita itu.


"Ah, mereka memang masih terlalu kecil!" lanjutnya lalu kembali mengurusi makanan yang sepertinya cepat habis.


"Ah ... bayi-bayi itu!" keluhnya melihat pipi semua bayi yang sibuk mengunyah makanan.


Bersambung.


belum heboh ya?


Next?