THE BIG FAMILIES

THE BIG FAMILIES
GAGAL



Pesta pernikahan berlangsung meriah. Banyak pebisnis dan artis ternama datang ke acara yang digelar itu.


Ratini dan Jelita bersama suami mereka menjadi raja dan ratu sehari. Persembahan anak-anak membuat semua tamu senang dan tertawa.


"Doyan pandut memuwana!" seru Arsh menggoyang pinggulnya.


"Sel poha!" lanjutnya.


"Wel hoha!" tiru Zora dan Hafsah.


"Amah Yiyo ape ma!' teriak Ryo yang menguap lebar.


Azizah langsung menggendong bayinya. Ryo memeluk erat leher ibunya dan langsung pulas.


Zora menuju ke Jelita, bayi itu minta di ninabobokan. Jelita memangku bayi cantik itu dan sekejap saja Zora terlelap.


'Biar baby Mama bawa ya," ujar Luisa hendak mengambil Zora.


Zora diambil alih dan kini dalam gendongan ibunya.


Semua bayi dibawa untuk makan siang. Usai makan, semua pun dibawa ke kamar dan tidur siang.


Pesta berakhir usai dhuhur. Walau Virgou menyediakan hotel bintang lima miliknya. Tapi Bram membooking tiga lantai untuk kenyamanan keluarganya.


"Dek," Fio mengecup pipi istrinya.


Jelita malu luar biasa. Untuk pertama kalinya, ia disentuh oleh laki-laki. Kedua orang tua Fio sangat senang mendapatkan Jelita sebagai menantu. Mereka tak mempermasalahkan asal usul gadis itu.


"Dek, kamu buat Abang kan?" Jelita mengangguk dengan muka merona.


"Abang mau lihat semua dek," pinta Fio lalu membuka jilbab istrinya.


"Astaghfirullah, kenapa jarum pentulnya banyak banget!" gerutu pria itu kesal ketika kesulitan membuka hijab istrinya.


"Au ... bang! Pelan-pelan dong!" teriak Jelita kesakitan karena Fio sedikit kasar menarik kain penutup kepalanya.


Sementara di ruangan lain. Theo memandangi istrinya, ia menanti Ratini membuka kerudung yang membungkus kepalanya.


Ratini perlahan membuka satu persatu jarum pentul yang mengaitkan kain penutup itu.


"Ih, kok banyak amat sih!" gerutunya kesal.


"Sabar sayang, mas bantu ya!'


Ratheo membantu menarik semua jarum pentul yang menjepit kain penutup kepala itu.


"Mashaallah, ini jarum kenapa ada yang kecil dan besar sih?" gerutu pria itu.


"Dah ah ... Langsung buka baju aja ya sayang!"


"Apaan sih Abang!" sengit Ratini kesal.


"Sayang," rengek Ratheo.


"Ah, udah nggak usah pake malam pertama!" sengit Ratini cemberut.


"Eh?!" Ratheo akhirnya membantu gadisnya membuka jilbab.


Sementara di kamar lain. Bart tengah berbaring di ranjang. Tubuhnya telah cepat sekali lelah.


"Usia memang tak bisa bohong!' ujarnya lalu menghela nafas.


Pintu diketuk, pria itu langsung menyuruh masuk, Azlan datang dengan senyum lebar.


Remaja itu memang sering dibawa ayahnya menginap, ibu sambungnya juga sering memintanya datang.


"Sayang?"


"Pa," Azlan merebahkan diri di sisi Bart.


"Udah lama nggak bobo bareng papa kek gini," ujarnya lalu memeluk pria tua itu.


"Sayang," Bart mengecup kening Azlan.


Keduanya terlelap, sementara di kamar lain Virgou meminta Puspita memijitinya.


"Sayang, aku pegal!' rengek pria sejuta pesona itu.


Virgou benar-benar kelelahan. Bart mengerjainya habis-habisan. Puspita dengan telaten menginjak tubuh besar suaminya itu.


"Di punggung sayang ...," perintah Virgou.


Puspita berjalan menuju pundak pria itu lalu menekannya perlahan.


"Ya ... Di situ ... Ahh, mashaallah ...!" seru Virgou keenakan.


Sedang di kamar lain, Kean memilih keluar kamar. Ia sangat yakin jika seluruh pengawal tengah beristirahat.


"Mumpung nggak ada yang jaga!' kekehnya jahil.


Pemuda itu berjalan santai menuju lift. Ia tadi melihat ada sebuah even besar di utara hotel.


"Dompet bawa, ponsel bawa!' pemuda itu memeriksa dompetnya.


'Satu juta cukup kali ya," angguknya.


Ting! Pintu lift terbuka, senyum lebar mendadak jadi cemberut.


Dahlan ada di sana, menatap datar salah satu perusuh paling senior itu.


"Mau kemana Baby?" tanyanya datar.


"Abi ... Kean mau ke carnaval yang di utara hotel!' pinta pemuda itu.


"Abi ... Hiks!" pemuda itu langsung mencebik-cebikkan wajahnya.


"Ayo, masuk baby!"


"Abi ... Huuuu ... Hiks ... Hiks!" Kean langsung menangis.


Dahlan tak peduli, pria itu tetap membawa Kean ke kamarnya. Pemuda itu pun tak berkutik, Dahlan tak bisa dikecoh seperti pengawal lainnya.


"Abi nggak asik!' sungut Kean kesal.


"Ya ... Nggak apa-apa. Dari pada kamu kenapa-kenapa!" sahut Dahlan.


Dahlan membawa masuk Kean. Ia juga menidurkan pemuda itu hingga terlelap. Pria itu menghela nafas panjang.


"Baby, maaf ya sayang. Kami memang tidak ingin kau kenapa-kenapa, setiap kalian lepas dari pengawalan, ada saja kejadian buruk yang menimpa,' ujarnya lalu mengecup kening Kean.


Kean tentu sudah seperti Meghan, putranya sendiri. Ia telah mengurus Kean sejak pemuda itu merah.


Dahlan memilih tidur bersama salah satu putra ketuanya itu. Sedangkan di kamar lain. Sky, Bomesh dan Arfhan sudah siap dengan penyamaran mereka.


"Udah nggak keliatan anak orang kaya kan?" tanya Bomesh dengan bajunya yang berwarna pudar.


"Udah, nggak ada yang ngenali kita!" jawab Sky bangga dengan idenya.


Arfhan mengangguk, ketiga bocah itu memang memiliki rasa keingintahuan tinggi. Mereka akan melakukan apapun demi mendapat pelajaran baru di luaran sana.


Mereka akhirnya berhasil masuk lift. Arfhan memilih tulisan angka satu. Ia ingat jika lobi hotel ada di angka itu.


Kotak bergerak. ketiganya berpegangan, jantung mereka berdegup kencang.


"Kita bawa uang kan?" tanya Sky memastikan lagi.


"Ada nih!" jawab Bomesh menepuk saku celananya.


"Di kaos kakiku juga ada!" ujar Arfhan lagi.


"Selama kita punya uang dan bisa membayar apapun. Tak ada yang mengusik kita!" ujar Sky.


Ketiga bocah pemberani itu akhirnya sampai lobby. Keberadaan pengawal memang tak kelihatan sama sekali.


"Tunggu dulu Sky!" tahan Bomesh melihat sekitarnya.


"Kenapa?" tanya Sky bingung.


"Kok aku curiga, kenapa para pengawal malah tidak kelihatan sama sekali?" tanya Bomesh.


"Mungkin kecapean!' jawab Arfhan.


"Oh ... Nggak mungkin. Mereka dilatih fisiknya sedemikian rupa. Masa hanya pesta empat jam membuat mereka lelah sih?!" sahut Bomesh tak percaya.


"Apa mereka ada di sekitar, tapi kita tak mengetahuinya?" tanya Bomesh.


"Ah, sudah lah. Itu pintu lobi. Kita gegas ke sana dan langsung lari hingga jalan raya!' ujar Sky.


"Oke!' sahut Arfhan dan Bomesh semangat.


ketiganya berjalan cepat untuk sampai pada luar lobi. Mata mereka berbinar ketika sudah sampai teras lobi.


"Satu ... Dua ... Tiga!" seru Sky memberi aba-aba.


Ketiganya berlari cepat. Tak ada yang mengejar mereka. Hal ini membuat ketiganya memelankan lari mereka.


"Udah, stop!' ujar Arfhan.


Nafas mereka terengah, keringat menetes di pelipis mereka.


"Sudah tidak ada yang ngejar kita!" ujar Arfhan bahagia.


"Berarti benar jika mereka ada di kamar dan istirahat!" lanjutnya semringah.


Lalu ketiganya bergandengan tangan dan melangkah lebar. Mereka menaiki angkot dan duduk. Banyak yang masuk angkot, baik Arfhan, Sky dan Bomesh terlalu senang hingga tak menyadari siapa yang naik.


Mobil bergerak, Arfhan bersenandung.


"Ah ... Senangnya dalam hati. Bisa kabur lagi ... Seperti dunia ... Ana yang punya!'


Bocah itu mengcover lagu madu tiga yang diganti liriknya.


"Mau kemana dek?' tanya seorang yang duduk di sebelah Bomesh.


"Mau ke carnaval Pak!' jawab Bomesh tak melihat siapa bertanya.


"Mana orang tua kalian? Kenapa tidak bersama mereka?" tanya pria itu lagi.


"Kami ...," Arfhan menatap pria di sebelahnya.


Ken ada di sana dengan senyum lebar. Aldi, Santoso dan Bram ada di sana.


Tak butuh waktu lama, ketiganya kini berhadapan dengan Virgou. Sky, Bomesh dan Arfhan menunduk.


"Sudah lah sayang!" ujar Khasya memaklumi.


"Kalau gitu kita ke carnaval itu!" ujar Virgou membuat semua anak bersorak.


"Horeee!"


Bersambung.


Akhirnya untuk pertama kalinya para pengawal berhasil menggagalkan usaha kabur para perusuh.


Next?