THE BIG FAMILIES

THE BIG FAMILIES
KEJADIAN



"Assalamualaikum," salam Zack dalam hati sambil menatap gadis yang sudah lama terpatri di hatinya.


Senyum indah sang gadis, mata gelapnya yang bersinar dan kecantikan wajahnya yang tak pernah membosankan.


"Apah Sat!" pekik Ryo dengan jalan berjinjit.


Pandangan Zack teralihkan. Pria yang kini lebih suka berada di kediaman Terra. Hanya di sana ia bisa puas menatap gadis idamannya.


"Baby," Zack mengangkat Ryo.


"Apah ... Apah anten ... Apah ait!' rayu bayi itu tiba-tiba.


Zack tersenyum lebar. Ia sangat yakin jika Ryo akan meminjam kakinya.


"Apa baby?" tanyanya lalu mencium pipi bulat Ryo.


"Sinsem atina don," dugaan Zack benar adanya.


"Buat apa baby? Kan kemarin janji nggak mau kabur?" tanya pria itu terus mencium gemas Ryo.


"Zack, kau masih di sini?" tanya Andoro heran.


"Iya Tuan, sebentar lagi saya berangkat," sahut Zack.


"Ah Apah dat asit!" cebik bayi tampan itu.


"Baby, papa pergi dulu ya. Mau cari uang buat beliin Babies mainan!" janji Zack.


"Eunel ya Pah!" sahut Ryo dengan mata bulat.


"Iya baby," jawab Zack lalu kembali mencium bayi tampan itu.


Ryo merangkak cepat, ia lupa meminjam kaki Zack. Setelah pria itu pergi barulah Ryo mengoceh kesal.


"Hesusbbwgsbznwuaajnsuejsbdhsmausjsnshzhsnsuzuswiiaus!'


"Apah Sat puwat dithu?' tanya Vendra.


"Hiks ... Yiyo tan au insem atina ... Pati Ate Landolo uwuh Apah endih!" adu Ryo.


"Meumanna tamuh bawu papain binzem tati papa Aypi?" tanya Zaa.


"Au tabun?" lanjutnya.


"Dat ... Dat au abun tot!' sanggah bayi itu.


"Tewus bawu papain?"


Ryo tak menjawab, bayi itu masih ngambek karena lupa meminjam kaki Zack.


"Tuh au sesal ... Au ait jajai, au ansat bohon ...," gumamnya lirih.


"Talo ansat bohon dat susah pesal baby!' sahut Aarick semangat.


"Wowiya ... atel meumalin asat ohon danda!" sahut Ryo tak sedih lagi.


Sementara itu, Tiana menutup pintu rumah dan menguncinya. Sang ibu dan ketiga adiknya telah berada dalam mobil. Gadis itu baru saja membeli kendaraan roda empat pribadinya.


Walau hanya mampu beli yang bekas. Tiana mulai menaikan standar ekonomi keluarga.


"Nak,"


Seorang pria datang dengan mata menghiba. Tiana tak peduli sama sekali. Gadis itu telah menutup pintu pada pria yang kini memandangnya dengan derai air mata penyesalan.


Mobil bergerak, Utsman menatap pria itu dan melambaikan tangannya.


"Daaah Apah!"


"Baby ... Dia bukan papa!" teriak Tiana.


Ustman langsung memeluk ibunya. Bayi satu tahun itu takut mendengar teriakan kakaknya, begitu juga Arif dan Sania.


"Nak!" peringat sang ibu.


Tiana menghentikan laju mobilnya. Sania yang duduk di kursi khususnya di depan tampak mulai menangis.


"Pipu ... Hiks ... Hiks!"


"Tolong diam lah!" pinta Tiana memejamkan mata.


"Nak," peringat Sri.


"Pibu ... Hiks ... Hiks!"


"Diam kataku!" bentak Tiana marah.


"Tiana!" hardik sang ibu juga marah.


Tiga anak balita menangis. Sri kesal pada putrinya. Ia membuka pintu, menurunkan Arif dan menggendong Ustman.


Setelah itu ia membuka pintu di mana Sania berada, menurunkannya. Wanita itu menutup pintu mobil.


"Bu ... Please Bu!" seru Tiana.


Sri memang marah pada mantan suaminya. Tapi apa yang dilakukan putrinya membuatnya sakit.


"Ayo sayang, Arif bisa jalan kan? Gandeng adiknya ya!" pinta wanita itu lirih.


"Iya Bu ... hiks!" Arif mengandeng Sania.


Bayi berusia dua tahun mengangguk sambil terisak. Dalam mobil Tiana membenamkan kepalanya di kemudi.


"Aarrggh!" teriaknya.


Drrrrttt! Drrrrttt! Bunyi ponsel terdengar. Khasya memanggilnya.


"Assalamualaikum bunda ... Huuuu ... Hiks ... Hiks!'


"Sayang ... Kamu kenapa?!" teriak Khasya di seberang telepon.


"Maaf bunda ... hiks ... Saya tidak bisa bekerja sekarang ... Hiks ... Saya baru membuat ibu saya turun dari mobil bersama adik-adik," jelasnya sambil terisak.


"Bun?" Herman mendatangi sang istri yang berwajah cemas.


"Mas ... Tiana mas," ujar wanita itu.


"Kenapa dengan Tiana?" tanya Herman.


Khasya langsung memberi tahu apa yang terjadi.


"Itu bukan urusan kita sayang. Biar mereka selesaikan sendiri ya," ujar pria itu memberi pengertian pada istrinya.


Khasya menghela nafas masghul, memang ia tak memiliki kewajiban mencampuri urusan gadis yang ia incar untuk jadi menantunya itu.


Sementara di tempat Sri berada. Tampak wanita itu berjalan sambil menahan kesedihannya. Tiga anaknya masih sedih. Pram yang masih ada di sana langsung menyambangi.


"Sri!"


Pria itu menggendong Sania yang sangat sedih. Bayi satu tahun itu pecah tangisannya ketika berada di pelukan Pram.


"Ayo ... Ayo ikut ayah!' ajaknya.


Ciittt! Decit bunyi ban dan aspal berbunyi. Tiana mengerem mendadak dan sampai pada ibunya.


"Lepaskan mereka!' teriak Tiana dari dalam mobil.


Tiana yang gelap mata dan masih marah pada Pram. Gadis itu turun dan langsung menarik Sania dari gendongan pria itu.


"Huuwaaaa!" teriak Sania menjerit takut.


"Nak ... Lepaskan adikmu ... Dia kesakitan nak," pinta Sri.


"Ibu bela pria berengsek itu?!" sentak Tiana.


"Nak ... Ibu hanya ingin kau tak menyakiti adikmu!' ujar Sri memberi pengertian.


Sania yang takut dan menolak tarikan sang kakak. Membuat Tiana sangat marah.


"Baik kalau kau tak mau ikut kakak. Pergi kau dengan pria berengsek itu!


"Tiana jaga ucapanmu!" teriak Pram.


"Kenapa ... Nggak terima kau!'


"Tiana!"


Plak! Satu tamparan keras didapat di pipi sang gadis. Sri menatap putrinya kecewa. Ia mengambil alih Sania yang menangis.


"Ibu kecewa nak ... Kami pergi jika kehadiran kami menyusahkanmu," ujar Sri.


"Ayo sini sama ayah nak!"


"Pergi kau Pram!' usir Sri.


"Jangan sentuh anak-anakku!" peringatnya dengan kilatan mata marah.


"Sri ... Aku mohon ...," Pram memohon pada wanita yang dulu mencintainya itu.


"Pergi kataku Pram!' bentak Sri lagi.


Pram menangis seiring tangisan Arif, Sania dan Ustman. Arif mengenal ayahnya. Tapi selama itu sang ayah memang tak menginginkan dirinya.


Tiana bergeming, Sri menghentikan satu taksi. Wanita itu naik dan membawa tiga anaknya.


Setelah Tiana sadar. Baru gadis itu berteriak mengejar mobil yang membawa ibu dan tiga adiknya.


"Ibu ... Maafkan aku Bu!"


Pram masih tergugu dan bersimpuh di aspal. Pria itu telah kehilangan segalanya. Tiana juga yang menyesal ikut terduduk dan menangis sambil menenggelamkan kepala di lipatan tangannya.


"Pibu ... Pita teumana?" tanya Sania lirih di dalam mobil.


Sri menghapus air matanya kasar. Ia sungguh tak percaya putri pertamanya sanggup berkata kasar pada adiknya yang tak tahu apa-apa.


"Kita ke tempat nenek ya," ujar wanita itu menjawab.


"Netnet Syasya?" tanya Sania dengan binaran mata indah.


Sri mengangguk, ia sungguh tak tau harus kemana. Satu tujuannya adalah pergi kekediaman majikan putrinya.


"Mudah-mudahan nyonya Khasya mau meminjamkan uang untuk kita pulang kampung nak," gumam wanita itu.


Sedang di mana Tiana berada. Pram dan gadis itu masih setia dengan penyesalannya. Tiana sudah menenangkan diri. Ia gegas menghapus air mata dan berdiri.


Ia menatap pria yang notabene ayah kandungnya. Tatapan mata Pram kosong. Pria itu telah kehilangan segala-galanya.


Perlahan, Pram juga berdiri. Tiana tadinya tak peduli sama sekali. Namun, matanya tetap menatap punggung lebar sang ayah.


Dulu, punggung itu selalu menggendongnya kemanapun.


"Ayah kurusan ...," gumamnya.


'Ah ... Apa peduliku!' putusnya lalu melajukan kendaraannya.


Lagi-lagi matanya tak berhenti menatap sosok ayah yang tak masuk dalam mobilnya. Pram berjalan begitu saja dengan pandangan kosong.


"Sial!" umpatnya kesal.


Entah kenapa, gadis itu memilih mengikuti ayahnya berjalan dari pada menyusul sang ibu.


Sri sudah sampai pada bangunan besar itu. Lucky tentu membiarkan wanita itu masuk.


"Sri?" Khasya bingung dengan kedatangan Sri yang bersimbah air mata.


"Nyonya ... Saya pinjam uang nyonya ... Saya mau pulang kampung!" pinta Sri langsung.


Bersambung.


Weh .... Gemana neh?


Next?