THE BIG FAMILIES

THE BIG FAMILIES
DEWA 2



"Mas!" Dewa menoleh.


Di sana Dewi berlari diikuti duo R, Kaila dan Abraham. Remaja itu tersenyum lebar. Rana hanya menatap kumpulan saudara itu sedikit iri.


'Andai aku punya banyak kakak. Mereka pasti melindungi ku,' keluhnya dalam hati.


"Mas mau kemana? Kenapa nggak ajak-ajak kita!" cecar Dewi protes.


"Kita harus cepat dik. Mumpung belum lama," ujar Dewa.


"Tuan, sebaiknya kita tunggu ...."


"Ibu saya akan mati jika masih menunggu!" seru Rana dengan pandangan cemas.


Air mata gadis itu mengalir deras. Kaila langsung menenangkannya.


"Ayo cepat!" ajak Dewa.


Mereka pun bergerak cepat. Semua dengan degup jantung yang berpacu.


Sementara di sebuah hunian kecil. Di sana Rano masih terbaring lemah. Tendangan di area sensitifnya masih terasa ngilu hingga ia tak bisa bergerak leluasa.


"Kau pasti mati Rini!" ujarnya mengancam.


"Ughhh!" erang pria itu.


Rini hanya berdiri mematung di sana. Pikirannya buntu. Ia hanya menjaga putrinya agar tak disakiti oleh pria yang seharunya menjadi pelindung mereka.


Rano mengeluarkan ponselnya. Pria itu menggunakan bahasa daerah yang tak dimengerti Rini.


"Aku pastikan harganya sesuai!" ujarnya dengan seringai jahat pada Rini.


Setelah merasa baikan, pria itu berdiri dengan sedikit terpincang. Rini yang lemah dan tak berdaya hanya bisa menghalangi pintu dengan tubuh kurusnya.


"Jangan dekati putriku!" ujarnya menebalkan keberanian walau suaranya bergetar hebat.


Rano mendekati wanita itu. Selama lima bulan menikah. Ia tak pernah menyentuh istrinya. Dengan sekali gerakan, ia mencengkram dagu Rini dan mengangkatnya hingga kepala wanita malang itu mendongak.


"Kau semakin berani kucing liar. Kau tau, sebenarnya kakak iparmu itu tak memiliki utang apapun padaku. Tapi ia menjualmu juga putrimu dengan harga cukup tinggi," lanjutnya dengan seringai menyeramkan.


"Kau bohong!" seru Rini dengan suara tercekat.


Rano mengulum bibir yang tak pernah ia sentuh. Rini yang tak siap mengatup bibir rapat-rapat. Rano memaksa membuka mulut wanita itu dengan lidahnya.


Rini mulai melawan, ia mengigit lidah Rano dengan keras.


"Aarrggh!'


Bruk! Rini dibanting ke lantai. Rano mengusap darah yang mengalir di lidahnya.


"Bangsat!" maki pria itu.


Dug! Ia menendang kuat perut wanita yang meringkuk di lantai. Rini hanya melindungi perutnya dengan kedua belah tangan. Rano menjambak rambut wanita itu.


"Kau ikut denganku!" ujarnya lalu mengangkat ringan tubuh kurus istrinya.


Rano membuka pintu dan membawa Rini. Tak ada yang mau menolong wanita itu. Rano membekap mulut istrinya agar tak berteriak.


Rano membawa perempuan itu dengan setengah menyeretnya. Wanita itu sedikit memberontak.


"Diam, atau kupatahkan lehermu!" ancamnya tak main-main.


Rini diam, suami kejamnya itu mengambil benda pipih yang ia kantongi. Menelepon seseorang lagi-lagi ia memakai bahasa yang tak dimengerti Rini.


"Aku bawa barang sekapannya. Anaknya pasti muncul. Dia masih perawan!" ujarnya memberitahu.


Rini melotot, ia meyakini jika yang dibicarakan suaminya itu adalah perihal putrinya.


"Tolong jangan sakiti putriku. Bawa aku saja. Aku akan melayanimu!" pintanya penuh menghiba.


"Cis ... Siapa yang mau dengan tubuh kurusmu!" Rano memandang istrinya.


"Dadamu rata, apa lagi bokongmu itu tulang semua!" lanjutnya menghina.


"Anakmu pasti akan datang padaku dan meminta melepaskan mu!' ujar pria itu bengis.


"Mas ... Aku mohon ... Lepaskan putriku!" pinta Rini memelas.


Rano abai dengan perkataan istrinya. Ia menyeret paksa. Sedang Dewa dan lainnya telah sampai rumah.


"Bu ... Ibu!" panggil Rana.


Rana masuk dan keadaan rumah kosong juga berantakan. Ia mencari keberadaan ibunya.


"Ibu tidak ada!' ujarnya panik.


"Tenangkan dirimu Rana!" pinta Kaila ikutan sedih.


Abraham memanggil rekan-rekannya untuk datang ke lokasi. Pria itu meminta semua anak untuk pulang.


"Nak, ibu kalian pasti juga cemas! Kita serahkan sama polisi saja ya!" ujar Abraham.


"Pa!" tolak kelima remaja itu.


"Pulanglah kalian!" suruh Rana tiba-tiba.


"Ran?" Dewa menatap gadis itu.


Rana menyeka pipinya kasar. Ia merasa tidak bisa membawa Dewa terlalu jauh menolongnya.


"Pulanglah, benar kata pengawal kalian. Ibu kalian pasti sedih menunggu kepulangan kalian ... hiks ... hiks!"


Air mata gadis itu berderai. Ia bertekad untuk menolong ibunya sendirian. Gadis itu pergi ke dapur. Ia mengambil sebuah pisau.


Rana menatap sebentar pisau itu lalu menyelipkannya di lipatan roknya.


Gadis itu pun gegas pergi. Dewa menahan lengannya. Rana merintih kesakitan karena bekas memar di sana belum hilang.


"Jangan gegabah. Kau yang akan dipenjara dan mereka senang akan hal itu!" ujarnya memberi pengertian.


"Aku mau menolong ibu. Kami pasti mati berdua, tapi setidaknya aku bisa menusuk beberapa tusukan pada pria jahat itu!" teriak Rana.


"Rana!" bentak Dewa.


Remaja itu hanya menggunakan teknik tekanan pada sela ibu jari dan telunjuk. Rana lemas dan Dewa mengambil pisau yang terselip di pinggang sang gadis.


Abraham cepat mengamankan senjata tajam itu. Rana menangis pilu, Dewa merengkuhnya dan memeluknya.


Kepala Rana berada di dada Dewa. Jemari remaja itu mengelus kepala sang gadis, ia menenangkannya. Sungguh jika ayahnya melihat ini. Mungkin Dewa tak selamat dari amukan sang ayah.


"Istighfar Rana ... Jika kau setenang senja sesuai namamu. Kau pasti bisa melalui ini semua!" ujar Dewa lagi.


"Ayo kita pergi!" lanjutnya mengajak.


Mereka pun pergi tak peduli Abraham merayu mereka. Empat rekan pria itu baru sampai dan dalam keadaan masih lemas.


"Kita ikuti saja dari jarak yang terlihat!' ujar Lukman memberi perintah.


Semua naik kendaraan dan mengikuti para remaja yang ingin menolong temannya itu.


Hanya berjarak lima ratus meter. Rana tau di mana ibunya dibawa oleh ayah tirinya itu. Sebuah bangunan sedikit tak terawat menjadi markas para preman.


Letaknya agak sedikit masuk ke dalam gang. Banyaknya para masyarakat yang disogok untuk tutup mulut bahkan pihak RT dan RW setempat mendapat upeti dari para penjahat.


Semua tutup mulut dengan adanya bangunan yang digunakan sebagai tempat kejahatan. Perdagangan manusia, penjualan obat terlarang dan juga minuman keras. Judi serta pelacuran tersedia di sana.


Dewa menahan laju semua saudara termasuk Rana. Ia menatap jalanan menuju arah bangunan itu.


"Mana semua orang?" tanyanya.


Dewa sangat peka dengan keadaan. Ia yakin jika mereka sudah ditunggu.


"Sepi apa benar-benar disepikan?" tanya Rasya memandang sekeliling.


"Rana ... Kau sudah ada di sana!" sebuah teriakan menggema dari ujung gang.


Rasyid melihat satu tower pengamat. Ia menarik lengan saudara kembarnya.


"Sya ... Lihat itu!" bisiknya menggunakan kode dagu ke arah pengintai.


"Oh ada yang intai toh!' ujar Rasya.


"Kaila, Dewi, Dewa! Kita harus waspada, kemungkinan kita dikeroyok di ujung jalan itu!" bisik Rasya memberitahu.


"Apa tidak ada senjata menjatuhkan orang itu?' tanya Kaila.


"Ah ... Andai ada katapel?" gerutu Rasyid protes.


"Butuh bantuan nak?"


Semua menoleh lalu sebuah senyum terbit di bibir mereka.


bersambung.


Hayo siapa yang datang Yo?


Next?