THE BIG FAMILIES

THE BIG FAMILIES
KENCAN ALA MARCO



Pagi menjelang, semua orang kembali berkegiatan. Karena sekolah ada pertemuan komite guru se-Indonesia.


Indah bersiap, gadis itu merapikan beberapa baju di tas kecil. Setelah membawa semua perlengkapannya. Ia pun pergi menaiki motornya.


Usai menggembok pagar. Kendaraan roda dua itu harus menempuh jarak sebelas kilometer. Butuh waktu nyaris tiga jam ia baru sampai di sebuah bangunan.


Banyak orang memakai seragam sama dengannya. Gadis itu turun setelah itu ia mengunci ganda kendaraannya.


"Wah, pagi Bu guru! Cepat sekali nyampenya. Padahal pake motor!" sapa seorang guru.


Indah hanya tersenyum sambil menganggukkan kepala. Gadis itu tak menggubris beberapa rekan seprofesinya. Hatinya hanya tertuju pada satu pria.


Sementara itu di tempat lain. Marco yang sedang off kerja memilih jalan-jalan. Para pengawal memang diberi kebebasan selama mereka off kerja.


"Mau kemana ketua?" tanya Sukma yang melihatnya hendak pergi.


"Mau jalan-jalan. Dari pada bosen," jawab Marco malas.


Sukma hanya menatap pria itu sampai menaiki mobilnya. Gadis itu menghela nafas panjang.


"Kenapa sih cowok-cowok di sini dingin melebihi kulkas empat pintu!" gerutunya pelan.


"Spasa tultas Tinti?" tanya Al Bara tiba-tiba.


"Astaga!' Sukma terkaget-kaget.


Al Bara menatapnya polos dan sangat ingin tau. Sukma gemas dengan bayi kepo itu.


"Nggak ada baby," ujarnya lalu menggendong bayi itu pergi dari sana.


Al Bara menatap mobil yang keluar dari halaman mansion Virgou. Bayi itu memicingkan matanya.


"Papa Balto peuldhi?" tanyanya pada Sukma.


"Iya baby," jawab Sukma.


"Oh tot pidat ajat-ajat?" sengit Al Bara.


"Wawas talow pidat pawa loleh-loleh!" geramnya dengan kilatan mata sinis.


Marco yang mengendarai mobilnya menggaruk telinga yang tiba-tiba berdenging.


"Siapa lagi nih yang mau nyelakai aku?" gumamnya pada diri sendiri.


Kendaraan itu membelah jalan ibu kota. Marco hanya mengikuti kata hatinya menggerakkan tangan mengemudi.


Hingga ia sampai di sebuah kota asri. Banyak pemandangan sawah membentang. Pria itu mengingat wajah-wajah para perusuh di mansion.


"Astaga aku harus beli oleh-oleh!" ujarnya tiba-tiba.


Pria itu membelokkan kemudinya. Mobil itu keluar dari daerah asri. Ia pergi ke sebuah pusat oleh-oleh.


"Selamat datang pak!" sapa penjaga toko ramah.


Marco hanya mengangguk. Pria itu mengambil keranjang dan mulai mengisinya dengan beberapa makanan.


Ketika hendak berbelok, pria itu tak melihat jalan.


Brug!


"Aduh!" pekik suara wanita.


"Maaf!" seru Marco.


Dua pasang mata saling menatap. Pupil hitam Marco menatap iris coklat gelap milik gadis yang ia kenali.


"Bu Indah?"


"Pak Marco?"


Marco sebal, ia menatap gadis yang hanya setinggi dadanya.


"Apa anda menguntit saya hingga ke sini?" tanya Marco menuduh.


"Hah?" Indah terbengong.


"Saya apa?" tanyanya lagi.


"Anda mengikuti saya ...."


"Apa urusan saya mengikuti anda!" sengit Indah marah.


"Lagi pula anda tinggal di mana sampai harus ada di kota ini?" tanya Indah menatap pria itu sengit.


"Jangan-jangan anda yang mengikuti saya!" senggrang Indah lalu melengos meninggalkan Marco.


Marco berdecak, pria itu mengumpat kebodohannya. Ia menuduh sang guru sembarangan.


Indah yang tadinya memuja Marco langsung uring-uringan. Gadis itu mendumal panjang pendek. Ia telah selesai mengikuti komite dan hak guru kembali menang.


Gadis itu pergi ke pusat oleh-oleh membeli buah tangan untuk dibagikan pada murid-muridnya nanti.


"Bu Indah!" Marco mencekal tangan sang guru.


Indah menatapnya marah. Marco sangat tau ia berbuat salah.


"Maaf, bukan maksud saya menuduh ... Hanya saja ...," Marco tak bisa membela diri.


"Maaf saya salah!" ujar Marco membungkuk hormat.


Indah menghela nafas kasar. Gadis itu lalu beristighfar. Ia juga salah tadi menuduh pria itu menguntitnya.


"Saya juga minta maaf pak!"


"Eh!" Indah terjajar.


Marco menaruh semua barang belanjaan termasuk belanjaan Indah. Pria itu membayarnya.


"Saya bisa bayar sendiri!"


"Sudah tidak apa-apa. Sebagai permohonan maaf saya!" ujar Marco tak mau dibantah.


Indah kesal, tindakan main paksa pria dingin itu membuatnya tak berkutik. Bahkan respon tubuhnya mengkhianati seluruh akal sehat gadis itu.


"Kita makan di mana?" tanya Marco yang buta arah.


"Bisa lepaskan pak?" pinta Indah pada tangannya yang digenggam oleh Marco.


Pria itu melihat tangannya yang enteng menggenggam tangan seorang gadis. Lalu ia berdehem untuk menahan rasa malu dan melepas genggamannya.


'Sial, tangannya halus sekali!' umpatnya memuji dalam hati.


"Bapak bisa ikuti saya!' ujar Indah yang langsung meruntuki hatinya yang lagi-lagi mengkhianati pikirannya.


"Kau naik motor?" tanya Marco tak suka.


Indah yang memakai helm menatapnya polos. Keningnya berkerut.


"Memangnya saya mesti naik apa? Becak?"


Marco berdecak, pria itu mengambil helm yang dikenakan sang gadis dan langsung ia kenakan.


"Pak?" Indah bengong.


"Naik!" suruh pria itu lalu menaruh semua barang belanjaannya di kaitan yang ada di tengah stang motor.


"Pak?" Indah bergeming.


"Naik kataku!" perintah pria itu kesal.


Indah naik dengan menyamping. Marco menyalakan motor. Tangannya menarik tangan Indah untuk memeluk pinggangnya.


Indah menurut, perlahan kendaraan itu pun bergerak menuju sebuah restoran mewah.


Marco tak melepas genggamannya. Indah harus menunduk untuk menyembunyikan rona merah yang ada di pipinya. Gadis itu malu dan sangat bahagia.


"Duduklah!" perintah Marco menyorongkan kursi untuk Indah.


Penampilan keduanya memang jauh dari busana sosialita. Marco hanya mengenakan setelan kasual. Sedang Indah masih mengenakan seragam PNS-nya.


Beberapa mata menatap keduanya dengan pandangan aneh. Bahkan para pelayan seakan enggan maju memberi menu pada pelanggan yang baru saja masuk itu.


"Apa di sini tidak ada pelayan?" tanya Marco dengan suara keras.


"Maaf ... Maaf tuan. Mau pesan apa?" ujar salah satu pelayan magang.


Seorang pria bersetelan hitam putih menyerahkan menu. Marco memilih steak Wagyu dengan kematangan medium. Indah membola melihat daftar harga di menu.


"Pesankan sama dengan saya!' ujar Marco tegas.


Indah menelan saliva kasar. Gadis itu merasa sayang menghabiskan uang setengah juta hanya untuk makan sepotong daging.


"Tenanglah!" ujar Marco lalu meraih tangan Indah dan menggenggam serta mengusapnya pelan.


Indah pun tenang. Makanan datang. Marco memotong kecil-kecil daging di piringnya. Lalu ia menukarnya dengan piring Indah.


"Makasih Pak!" ujar Indah.


"Panggilnya jangan pak lagi boleh?" pinta Marco.


"Hah?" Indah melotot dengan mulut terbuka. Ia hendak memasukkan potongan daging ke mulutnya.


Marco terkekeh, pria itu mengambil garpu yang dipegang Indah. Gadis itu mengerjap lalu mengatup bibirnya.


"Aaa!" sodor Marco.


Indah menatap pria di depannya. Marco menyuapi potongan daging padanya. Perlahan Indah membuka mulut dan daging itu masuk.


"Enakkan?" tanya Marco.


Indah hanya mengangguk, ia nyaris tak mampu menelan makanannya karena melihat Marco memasukkan daging ke mulutnya melalui garpu yang sama.


"Pak?"


"Panggil sayang ya," pinta Marco lembut.


"Hah?" Indah merasa pendengarannya tuli.


"Panggil sayang ... Ibu guru sayang!' perintah Marco lagi.


"Jangan bercanda ...."


"Aku tak bercanda sayang!" potong Marco.


"Aku juga suka sama kamu!' akunya jujur.


"Hah?"


Bersambung.


Papa Marco ... Bu guru Indah memang suka sama Papa. Tapi kan belum bilang! 🤭🤭🤦


Papa pede abis ya?


Next?