
"Apa?! Jadi kita dapat kloter khusus itu Dahlan?" tanya Bart tak percaya.
"Benar Tuan. Kita dapat kloter khusus karena banyaknya calon jemaah haji yang mendaftar haji plus," jawab Dahlan terharu.
Pria itu juga mendapat kloter haji bertiga dengan istri dan putra tunggalnya. Dahlan baru masuk Islam. Ia pun memeluk Bart.
"Thank you Grandpa ... thank you!" ujarnya tergugu.
"Oh ... please don't cry," pinta Bart ikut menangis.
"Sudah ... sudah ... ayo kita beri tahu berita bagus ini pada semua orang!" ajak Bart.
Keduanya pun pergi ke ruang tengah di mana semua orang berkumpul.
"Guys!" kikiknya geli sendiri.
"Apaan sih Dad!" cibir Herman sebal.
"Nak, kita dapat kloter khusus itu nak!' seru Bart.
Semua menoleh, menatap Bart dengan pandangan tak percaya.
"Apa benar Dad?" tanya Bram.
"Ya ... kita dapat kloter haji. Semua yang Islam berangkat haji!" seru Bart.
"Alhamdulillah ya Allah!" teriak Kanya, Najwa dan Lastri.
Mereka berpelukan, Khasya juga terharu mendengarnya. Gomesh dan yang berbeda keyakinan hanya bisa tersenyum bahagia.
Bomesh, Domesh, Bariana tercenung. Mereka akan berpisah sementara dengan saudara-saudara mereka. Maria tiba-tiba menggendong Fael dan Angel.
"Tuan ... daftarkan mereka haji!" pinta perempuan itu.
Bart menoleh, ia menatap wanita berwajah manis itu. Ada genangan mata haru di sana.
"Tidak bisa Maria ... mereka tidak bisa ikut," jawab Bart.
"Kenapa Tuan ... mereka kan bagian dari semua anak-anak!" tanya Maria.
"Sayang ... itu karena kau dan Gomesh berbeda. Fael dan Angel masih terlalu kecil untuk tau jika mereka berbeda. Terlebih dua bayimu belum bersyahadat," jelas Bart menjawab pertanyaan wanita itu.
Maria menatap Gomesh, ada sisi berat. Ia mempercayai keyakinannya. Bart memeluk Maria.
"Jangan paksakan sesuatu yang akan membuatmu menyesal Nak. Kami tetap bersamamu walau kau berbeda," ujar Bart menenangkan Maria.
"Ma ... kalau Bariana bisa ya? Kan Bariana bisa syahadat," ujar bocah cantik itu lirih.
Maria diam, ia kembali menatap suaminya. Bart lagi-lagi melarang Bariana mengucap syahadat dengan alasan sama, masih terlalu kecil.
Ani, Gina dan Deno terharu ketika Terra mengatakan mereka akan berhaji bersama.
"Apa benar Nyonya?" tanya Ani.
Terra mengangguk, dua perempuan itu saling peluk. Mereka lagi-lagi menangis karena teringat Romlah.
"Bi Ani bisa ba'dal haji untuk Bi Rom. Nanti kita tanya sama petugas hajinya ya!" Ani mengangguk.
Semua bayi ikut heboh. Mereka bersorak karena ikut berhaji. Arsh langsung ingin dipanggil Haji Bayi.
"Baji Baby Alsh!" ujarnya.
"Tuh udha paji don!" sahut Faza.
"Baby ... haji itu artinya berangkat berkunjung ke tanah suci. Tetapi pulang kita bukan haji lagi," jelas Layla.
"Pati Alsh bawu pipandhil baji Mumi!" rajuk Arsh bersikeras.
Perempuan berjilbab itu tersenyum. Ia yang tadinya tak percaya bisa berangkat ke tanah suci itu, kini sebentar lagi ia, suami dan dua anak kembarnya akan berangkat ke sana.
Bart memanggil para orang tua untuk berdiskusi tentang pemberangkatan mereka. Jumlah mereka yang sangat banyak tentu butuh pengaturannya.
"Kita harus sesuaikan semua dengan anak-anak kita!" ujar Frans memberi ide.
"Kau benar sayang. Data semua anak dan orang tuanya!' perintah Bart.
"Ah ... kenapa kalian pakai acara punya anak banyak!" keluh pria itu.
"Paling banyak juga Daddy!" ketus Virgou.
Bart mengapit leher pria sejuta pesona itu, lalu menciumi kepala Virgou.
Di ruangan lain, Gomesh duduk bersama Maria. Keduanya menatap anak-anak yang tengah bermain.
"Sayang," panggil Gomesh pada istrinya.
Maria menatap suaminya. Netranya berkaca-kaca, hatinya terasa galau setengah mati.
"Anak-anak nanti mengerti kok jika mereka berbeda. Iya kan?" tanya Gomesh.
"Fael dan Angel belum," jawab Maria.
"Nanti kalau mereka bertanya. Aku jawab apa?" lanjutnya bertanya.
"Ketua!" Budiman mendatangi Gomesh.
"Ini dari Grandpa," ujarnya memberi amplop besar.
"Apa ini?" tanya Gomesh.
"Buka saja," ujar Budiman lagi.
Gomesh membuka amplop coklat itu. Di sana ia sudah terdaftar bersama beberapa orang pengawal yang beragama sama. Sebuah tur ibadah ke Betlehem.
"Sayang, kita bisa pergi walau berbeda penerbangan!" ujar pria raksasa itu.
Maria hanya tersenyum, entah kenapa hatinya tak begitu senang mendapat hadiah fantastis itu.
Bayangannya hanya bangunan kubus dibungkus kain warna hitam yang dikelilingi jutaan manusia.
"Labbaik Allahumma labbaik. Labbaik laa syarika laka labbaik. Innal hamda wan ni’mata laka wal mulk laa syarika lak!" Samudera melafazkan doa ketika ingin melakukan tawaf.
"Asyhadu an laa ilaaha illallaahu, wa asyhaduanna muhammadar rasuulullah," Maria menggumam lirih.
"Apa kau mengatakan sesuatu?" tanya Gomesh.
Maria segera menggeleng, ia masih ragu dengan apa yang menggetarkan hatinya itu. Gomesh juga tampak tak antusias dengan hadiah yang ada di tangannya.
"Kalau kita kasih ke ibunya Raja gimana?" tanyanya.
"Kasih aja mas!" jawab Maria langsung.
Gomesh menatap istrinya. Dua ujung bibir melengkung cantik. Gomesh mengecup cepat bibir yang membuatnya candu itu.
Pria yang mengira tak bisa menikah dan jadi seorang ayah. Siapa sangka ia memiliki banyak anak.
"Papah!" pekik Horizon.
Budiman sudah pergi dari tadi ketika Gomesh membuka amplop coklat. Bayi bermata biru itu menaiki Gomesh.
"Hai baby,"
"Hai Apah!" Horizon mengecup pipi pria raksasa itu.
"Apah atana Ata' Ael mama Ata'Jel ntut ait jaji?" tanya bayi itu.
Gomesh tak menjawab, ia menciumi gemas bayi tampan itu hingga tergelak. Semua bayi mengerumuninya. Meminta hal yang sama. Gomesh dan Maria tak keberatan.
"Tiana, ini pasport haji untuk ibu dan tiga adikmu ya!" Fio memberi tiga paspor pada gadis cantik itu.
"Kami ikut juga?" tanya Tiana tak percaya.
"Tentu saja, aku juga ikut kok!" jawab Fio senang sekali.
"Alhamdulillah ya Allah!" pekik Tiana tertahan.
Air matanya meleleh seketika. Ia menangis dan menciumi paspor untuk ibu dan tiga adiknya itu. Fio menepuk bahu Tiana.
Di sana Rosa, Dian dan beberapa pengawal wanita terharu karena akan pergi bersama rombongan naik haji.
"Selamat ya kawan. Semoga jadi haji mabrur!" ujar Sukma memeluk Rosa.
"Aamiin, makasih ya!" ujar gadis itu.
Andoro, Luisa dan Remario juga senang akan naik haji. Hanya sayang, Nai dan Arimbi yang tidak bisa ikut karena tengah hamil muda. Para suaminya juga tak ikut.
"Kenapa nggak ikut sayang?" tanya Nai pada Langit.
"Nggak, nanti aja pas anak-anak kita satu tahun baru kita daftar!" jawab Langit.
Nai tersenyum, padahal ia tak masalah jika suaminya pergi untuk haji. Arimbi juga senang karena suaminya memilih untuk tinggal.
"Rosa ... ayahmu datang!" ujar Lex salah satu pengawal.
"Ngapain dia datang?" decak Rosa kesal.
"Eh ... nggak baik gitu. Biar gimana juga dia adalah ayahmu!" peringat Dian.
Rosa ikut Lex, salah satu pengawal mansion Bart. Gadis itu masih bingung. Bagaimana sang ayah bisa tau di mana ia berada.
Remario menatap Rosa yang berjalan keluar mansion. Entah kenapa ia juga mengikuti gadis itu.
Sampai pos penjagaan. Rosa mendapati ayahnya yang duduk dengan santai.
"Ada apa ... pak?" tanyanya dengan ujung kalimat bernada malas.
"Rosa ... akhirnya aku menemukanmu! Kau harus memberi papa uang. Adikmu mau menikah, ia menghamili anak orang!' ujar pria itu tanpa segan.
Bersambung.
Weh? Bapak macam apa itu?
next?