THE BIG FAMILIES

THE BIG FAMILIES
KESALAHAN



Virgou menatap putranya. Kean hanya duduk santai. Akhirnya pria dengan sejuta pesona itu menghela napas panjang.


"Kean nggak beneran ilangin datanya kok dad!" ujar pemuda itu.


"Tapi setidaknya itu bisa jadi shock terapi buat pria berengsek itu!' lanjutnya kesal.


Virgou akhirnya memeluk putranya. Ia begitu bangga karena Kean sangat melindungi keluarganya tanpa banyak bertanya.


"Jadi bagaimana pria itu?" tanya Virgou.


"Tuan Alam sudah pulang ke huniannya. Dia tak banyak melakukan kegiatan, ia seperti orang linglung," jawab Dahlan menjelaskan.


"Tuan, lapor!" Theo datang membungkuk hormat.


"Santos melakukan perjalanan ke kota M!' lanjutnya melapor.


"Awasi terus!" titah Virgou.


"Baik ketua!' ujar Theo membungkuk hormat.


Dahlan mengikuti Theo. Kean memeluk ayahnya manja. Virgou balas memeluknya.


"Daddy, Kean nggak jahat kan sama pria itu?" tanya sang pemuda.


"Tidak sayang. Baby sudah benar melakukannya!" jawab Virgou lalu mencium kening Kean.


Pemuda itu tiba-tiba minta gendong. Virgou tentu mengumpat putranya.


"Kamu sudah besar baby, Daddy nggak sekuat itu!'


"Daddy!" rengek Kean.


Virgou menggendong putranya yang manja itu. Calvin datang, pemuda itu langsung merengek melihat saudara kembarnya digendong.


"Daddy!"


"Hais kalian ini!" keluh Virgou pusing.


"Turun kau dari ayahku!" teriak Calvin menyingkirkan Kean dari gendongan ayahnya.


"Bweee!" ledek Kean menjulurkan lidahnya.


"Daddy!" rengek Calvin.


Herman datang bersama Gomesh. Pria itu mengetahui apa yang terjadi.


"Baby Kean apa benar kau memberi pelajaran pada benalu itu?!" tanyanya langsung.


Calvin lalu mendekati Herman. Pemuda itu merengek dan mengadu.


"Ayah ... Daddy pilih kasih!"


"Baby!' tegur Virgou.


Herman menghela nafas besar. Kean terkekeh, ia memang usil. Pemuda tampan itu turun dari gendongan ayahnya.


"Baby," Calvin manja pada Herman.


Gomesh lalu mendekati ketuanya. Virgou menatapnya.


"Apa kau juga minta gendong?" tanya pria bermanik biru itu kesal.


"Tidak tuan!' sanggah Gomesh.


"Sudah-sudah!" seru Herman kesal.


"Ayo cerita soal Santos!" lanjutnya lalu duduk di sofa.


Kean menceritakan semuanya tanpa kecuali. Herman mengangguk-angguk tanda mengerti.


"Bagus nak, ayah bangga dengan tindakanmu melindungi adik-adikmu!" ujar Herman.


Kean tersenyum, Calvin pun memuja perbuatan saudara kembarnya itu.


"Calvin nggak seperti Kean ayah," ujarnya menunduk.


'Hei baby, kau juga adalah kebanggaan ayah!' seru Herman.


"Tapi Calvin tak seperhatian Kean," ujar Calvin lemah.


"Itu karena Dominic yang menyita semua kesibukanmu baby!" sahut Virgou kesal.


"Hei!" peringat Herman tak suka.


Virgou cemberut, Kean dan Calvin ada di sisi pria tua itu. Herman menumpahkan semua kasih sayang pada dua kembar yang berbeda karakter itu.


Sementara itu Santos menaiki bus menuju kota di mana ia meninggalkan Renita, mantan istri dan juga anak sambungnya.


Lima tahun sudah berjalan, ia tak pernah memberi kabar atau mendapat kabar apapun dari perempuan yang menindasnya dulu.


"Apa kabarmu Ren? Apa kau telah mengurus surat perpisahan kita?" tanyanya dalam hati.


Butuh waktu empat jam menuju kota yang di maksud. Hari sudah beranjak sore. Santos memutuskan untuk menginap di sebuah losmen yang harganya sangat murah dan tidak memerlukan identitas untuk menyewanya.


"Atas nama siapa pak?' tanya penjaga losmen.


"Ahmad!" jawab pria itu.


Setelah mendapat kunci kamar. Santos diantar ke ruangannya. Pria itu mengucap terima kasih dan masuk ke kamar itu.


Santos menatap ponselnya. Ia hanya mengganti nomor dan memasukkan identitas palsu di sana. Pria itu berselancar di dunia maya untuk mencari info tentang mantan istrinya itu.


"Renita Sudirman, seorang pengusaha sukses yang mampu membawa perusahaan menuju internasional ...."


Santos membaca artikel di mana ada kabar wanita yang pernah jadi istrinya itu.


Renita dengan balutan pakaian formal yang mewah dan berkelas. Wanita itu menunjukkan kelasnya. Santos tertawa lirih.


"Rupanya kau berhasil menjalankan bisnis itu tanpa aku!"


Air matanya menetes. Pria itu menangis penuh sesal yang dalam. Ia dulu meremehkan perempuan yang mengangkat hidupnya itu.


"Bagaimana kabar putrinya, Alina?"


Santos pun mengetik nama putri sambungnya. Di sana ada foto Alina dengan piala dan sertifikat kejuaraan.


Santos makin menangis, putrinya yang dulu juga selalu menghinanya. Hingga ia gelap mata jika Alina bukan darah dagingnya bahkan mengatakan jika Alina adalah anak hasil hubungan gelap.


"Besok aku datang Renita ... Aku datang meminta maaf ...."


Sementara di hunian Virgou. Semua bayi tampak duduk dengan perut terbuka. Kean menyembur perut Arsh hingga batita itu tergelak dan protes.


"Ata'!"


Kaila memilih menggoda enam bayi yang masih setia dengan memejamkan mata.


"Bobo teuyus baby!' ia menciuminya hingga bayi-bayi itu terbangun dan menangis karena kesal.


"Baby!" peringat Puspita.


"Habis gemes mommy, bobo mulu!" sahut Kaila gemas.


"Nanti kamu menikah akan merasakan bagaimana punya bayi sayang," ujar Nai.


"Batsutna Aypi peusal?" tanya Zaa yang menguping.


"Hei ... Kamu masih bayi ... Nggak boleh kepo!" sengit Nai pada bibi kecilnya itu.


"Peslalu peudhitu ... peslalu peudhitu!" protes Zaa kesal.


Nai menggelitik Zaa. Bayi itu pun tergelak. Semua tertawa dan bermain dengan para perusuh kecil itu.


"Mana cicitku?" tanya Bart lalu menatap enam bayi yang kini terlelap kembali.


"Babies ...," matanya berbinar melihat semua keturunannya.


*********


Pagi menjelang, semua orang kembali pada kegiatan mereka. Anak-anak bersekolah dan para pria bekerja.


Di kota M, Santos menaiki sebuah angkutan umum. Ia perlu menaiki kendaraan itu agar sampai ke perusahaan yang dulu ia kembangkan.


Matahari sudah begitu terang. Banyak orang lalu-lalang, mereka tak saling mengenal satu dan lainnya. Semua mata dan tangan sibuk pada satu benda pipih, yakni ponsel mereka.


Santos sampai pada sebuah bangunan bertingkat. Bangunan itu makin besar dan megah. Ia nyaris tak mengenali perusahaan yang ia bangun dulu.


Santos mendatangi resepsionis. Pria itu memberi salam pada sosok gadis yang menatapnya dengan pandangan curiga.


"Saya ingin bertemu dengan Nyonya Sudirman," ujar pria itu.


"Apa anda ada janji?" tanya gadis itu sedikit sinis.


"Katakan Santos Alam ingin bertemu," jawab Santos begitu percaya diri.


Gadis resepsionis itu melakukan panggilan telepon. Hanya sebentar Santos diminta masuk ke ruangan di mana atasannya berada.


"Mari ikut saya, pak!" ujar resepsionis itu.


Santos melangkah tegap. Pria itu mengenakan setelan terbaiknya. Ia sangat percaya diri.


Setelah keluar darah lift. Pria itu sedikit tertegun dengan interior yang sangat mewah dan membuat semua karyawannya betah.


Tok! Tok! Tok!


"Masuk!"


Resepsionis membuka pintu, gadis itu memberitahu jika Santos ada bersamanya.


Santos dipersilahkan masuk. Pria itu melangkah dengan begitu percaya diri.


"Selamat pagi ...."


"Silahkan duduk Tuan Alam!" sebuah perintah keluar dari mulut bergincu.


Renita begitu cantik, wanita itu memakai setelan yang berbahan sutera terbaik. Ia memakai perhiasan kecil namun bernilai fantastis.


Santos diam terpaku. Penampilannya kalah dengan wanita yang ia tinggalkan begitu saja.


"Silahkan duduk Tuan Alam!" suruh Renita lagi.


Akhirnya Santos duduk di hadapan Renita. Wanita itu menarik laci dan mengeluarkan sebuah dokumen.


"Ini surat perceraian kita ... Mas," ujarnya pelan.


Santos tertegun dengan amplop coklat di depannya. Pria itu membuka dan melihat jika dirinya kini telah resmi bukan suami dari wanita cantik di depannya.


"Ren ...."


"Jangan datang lagi mas ...," pinta Renita lagi.


Wanita itu menyerah sebuah cek senilai dua ratus juta rupiah.


"Ini adalah bayaranmu telah ikut andil atas berkembangnya perusahaan ini," jelas Renita.


"Bagaimana dengan Alina ... pasti Alina ...."


"Alina baik-baik saja. Bahkan jauh lebih baik dari sebelumnya!" potong Renita cepat.


"Aku akan menikah lagi dan ayah sambungnya lebih bisa mengajari Alina dan menerima putriku apa adanya!" lanjutnya tenang.


Santos diam, pria itu masih tak percaya dengan semuanya.


"Maafkan aku Ren ...," ujar Santos menyesal.


"Kau tak salah mas. Yang salah adalah aku di sini. Terima kasih telah meninggalkan kami. Kami cepat belajar dan ikhlas. Tak menyangka Tuhan membayar keihklasan kami begitu luar biasa!" putus Renita.


Santos pergi dari bangunan megah itu. Pria itu menatap perusahaan yang dulu ia perjuangkan.


"Apa salahku?" tanyanya lagi pada Sang Maha pemilik hidup.


Bersambung.


Salahmu itu satu!


Kurang bersyukur!


Next?