
Seperti hari jumat yang lalu. Masjid Al-Huda milik keluarga kembali membagikan sembako.
Hal itu membuat banyak jamaah datang dari berbagai penjuru kota. Mereka sama-sama menginginkan satu kantung plastik isi sembako.
"Yang pegang kupon bisa ngantri ya selepas sholat!" ujar pengurus masjid memakai pengeras suara.
Banyak pria mengeluh akan pemberitahuan itu. Mereka tak mendapat kupon. Calvin telah membaginya dua hari lalu bersama para saudaranya. Pemuda itu bahkan membangun satu organisasi pemuda cinta masjid.
Beberapa ibu datang membawa plastik-plastik besar berisi makanan. Para ibu itu berasal dari pemukiman tak jauh dari masjid.
"Ini buat jumat berkah pak. Mohon diterima. Hanya lima puluh bungkus nasi sekali hap," ujar wanita itu menyerahkan satu kantung plastik berwarna putih.
"Oh makasih Bu, semoga apa yang ibu berikan diberi balasan yang setimpal dari Allah!" sahut pengurus masjid senang.
"Mashaallah jadi kita nggak perlu beli atau manggil mamang-mamang jualan lagi nih?" tanya Terra memastikan ketika diberitahu jika banyak makanan tersedia.
"Iya Ma, ibu-ibu komplek baru itu pada jualan nasi atau katering gitu. Jadi mereka membagi sebagian harta mereka ke masjid ini," jawab Kean yang tau.
"Alhamdulillah, tapi kasihan mamang jualan ya kalau gitu?" ujar Terra.
"Ya dari pada mubazir ma," sahut Kean.
"Berarti hari ini belum rejeki mamang jualan itu," lanjutnya menenangkan Terra.
Beberapa pedagang sengaja mangkal di sekitaran masjid. Mereka sepertinya mengharap dagangan mereka diborong seperti yang sudah-sudah.
Tetapi hingga masuk dhuhur. Wanita yang memanggil mereka untuk masuk masjid tak kunjung datang.
"Eh, kok kita nggak dipanggil lagi ya?" tanya salah satu pedagang sambil kepalanya menjulur melihat bangunan besar yang ada di sebelah masjid.
"Huh, tau gini aku nggak buat banyak-banyak!" sungut lainnya kecewa.
"Dah mendingan aku ngider dari pada mangkal di sini nggak ada hasil!" lanjutnya lalu mendorong gerobak jualannya.
"Nggak sholat jumat dulu?" tawar pedagang lain.
"Cuma sunah ini kan? Sholat dhuhur biasa aja ntar!" jawab pedagang yang kecewa.
Beberapa pedagang mengikuti rekannya yang kecewa. Tapi ada juga yang membopong dagangannya masuk halaman masjid untuk menunaikan ibadahnya di sana.
"Kita nggak ngider aja gitu?" tanya pedagang yang ikut ke masjid.
"Ya kalau mau ngider, ya ngider aja. Saya mau sholat dulu," jawab pedagang lalu memasukkan uang dalam kantung tas pinggangnya.
"Tapi dagangan kamu masih banyak tuh!" ujar rekannya itu membuka tutup panci bakso.
"Iya, tapi kalo mikirin dagangan tanpa mikir yang ngasih rejeki mah, nggak habis-habis!" jawab pedagang bakso malang itu lalu melangkah ke area wudhu.
Empat pria yang berprofesi sebagai pedagang ikut sholat. Mereka telah berusaha, tinggal meminta dan memasrahkan semua pada sang maha pemilik rejeki.
“Allah yang menciptakan kamu, kemudian memberimu rezeki, lalu mematikan, kemudian menghidupkan (kembali). Adakah di antara mereka yang kamu sekutukan dengan Allah itu yang dapat berbuat sesuatu yang demikian itu? Maha Suci Dia dan Maha Tinggi dari apa yang mereka persekutukan.”
Q.S. Ar-rum: 40
"Jadi apa daya manusia kehendak Allah lah yang jadi. Tak ada satu manusia yang luput dari pantauan Allah!" ujar Khotib mengurai kotbah jumatnya.
Usai sholat, siapa sangka dagangan empat pria itu banyak pembelinya. Mereka melayani dengan wajah gembira.
"Jika kita percaya Allah itu maha kaya. Ini adalah bukti setelah kita berpasrah, Allah menggantinya dengan berlipat ganda!" ujar pedagang siomay.
Tak hanya dagangan empat pria itu habis. Mereka juga dapat kantung sembako dari masjid.
"Kami nggak ada kupon pak!" tolak pedagang mie ayam.
"Ini kelebihan pak, ambil saja!" ujar Dav menyerahkan kantung.
Empat pria itu langsung mengucap hamdalah. Andai delapan temannya tadi mau bertahan dan sedikit menurunkan ego untuk memohon pada sang maha pemilik hidup.
"Kamu percaya ini?" tanya pedagang siomay menatap kantung besar di tangannya.
"Nggak, saya masih nggak percaya. Tapi ini adalah kebesaran Allah yang maha pengasih dan maha penyayang!" ujar pedagang bakso cuanky.
"Aku minta sama Allah pas sujud daganganku dilariskan. Aku bingung dengan penyakit anakku, bingung dengan kontrakan yang sudah jatuh tempo," sahut pedagang siomay curhat.
"Iya, aku juga gitu. Sholat hanya ingin menenangkan pikiran untuk jualan kemana yang tidak diganggu preman," sahut pedagang cuanky.
Keempat pria itu pun pulang dengan wajah ceria. Kean mendengar itu semua. Pemuda itu menatap tanah kosong yang ada tak jauh dari masjid.
"Kalau kudirikan pujasera di sana apa dibolehin Daddy ya?" gumamnya.
Pemuda itu tiba-tiba memiliki ide bisnis yang mampu membantu tukang jualan tadi.
"Bangun taman bermain dan juga tempat jajanan dengan harga sewa murah. Pasti rame!" lanjutnya antusias.
Kean langsung mendatangi ayahnya. Ia mengemukakan idenya.
"Kau lakukan apa yang menurutmu baik sayang," ujar Virgou mempercayakan penuh pada putranya itu.
"Makasih dad!" seru Kean antusias.
Virgou menatap putranya bangga. Kean adalah anak laki-laki yang masih polos, usil tapi sangat menyeramkan jika marah.
Santos ayah dari triple eL, sampai tak berkutik dibuat oleh pemuda yang makin mirip dengan Virgou itu.
"Ketua, dewan mafia tengah mengincar Tuan ShadowAngel dan The Son of BlackAngel!" lapor Gomesh.
"Apa?" Virgou menatap Gomesh.
"Tuan Satrio dan Tuan Kean membom rombongan pembawa kokain dengan berat satu ton kokain," jawab Gomesh tersenyum penuh kegirangan.
Virgou menggaruk kepalanya. Ia yakin bukan hanya dua laki-laki itu yang turun tangan menghabisi peredaran ilegal itu.
"Baby pasti terlibat," ujarnya yang diangguki tanda setuju oleh Gomesh.
"Sudah biarkan saja. Mereka tidak akan berani macam-macam dengan keberadaan BlackAngel. Suruh Leo mengurus semuanya!" ujar Virgou sambil memberi perintah.
"Baik Tuan!" ujar Gomesh membungkuk hormat.
Sementara Kean mendatangi Tanah kosong yang dijual pemiliknya bersama Langit dan Reno.
"Luas tanah 700m², di sebelahnya juga ada tanah kosong baby," ujar Reno memberitahu.
"Kita beli semua papa!" ujar Kean tak mau ambil pusing.
"Nanti aku serahin desaign tamannya sama Pa'lek Dewa," lanjutnya.
Sore hari mereka kembali pulang ke mansion Rion. Hari ini adalah ulang tahun Ryo, Hasan, Hafsah dan Horizon.
Mereka sudah berusia satu tahun. Ryo dan lainnya senang dengan balon-balon yang dihias sedemikian rupa.
"Amah, tutusin lalonna!" perintah bayi tampan itu.
Dor! Satu balon meletus. Raka menutup erat telinganya. Pria itu juga ikut menusuk balon dengan jarum.
Gelak tawa tercipta hingga hiasan balon habis tanpa sisa.
"Selamat ulang tahun, selamat ulang tahun dan bahagia!" seru Azizah membawa kue besar yang ada foto putra dan putrinya.
"Atuh bawu banyi pandut!" seru Aaima tak mau kalah.
"Doyan domblet ... doyan domblet ...!"
"Sel ... Poha!" seru semua bayi ikut bergoyang pinggul.
Bersambung.
Ketika kamu tak tau jalan. Sujud lah, ingat Allah. Yakin dan percaya Allah pasti beri jalan tak terduga.
Next?