
Kean bersama Herman, pemuda itu berjalan di belakang pria panutannya.
Sosoknya yang tegap, dingin dan datar. Wajah dengan ketampanan hakiki. Kean patut dijuluki pemuda dengan sejuta pesona.
Otaknya genius, pendiam dan tak bisa didekati. Siapa sangka jika sosok paripurna itu adalah pemuda yang sangat polos, usil dan manja.
"Kean, kamu pimpin rapat hari ini!" perintah Herman duduk di kursi pendamping.
Kean memang terbiasa menggantikan pria tua itu. Ia memimpin rapat antar perusahaan.
Virgou, Haidar, Dav, Satrio, Dominic, Al, Sean, Demian, Darren, Rion, Calvin, Frans, Leon dan Jac ada di sana. Mereka adalah pebisnis yang pasti sudah diketahui banyak orang.
Ada beberapa petinggi perusahaan lain juga datang. Kean mulai mereview proposal proyek yang akan digelar.
Calvin bersama Dominic, Sean bersama Haidar. Sedang Rion bersama kakaknya Darren. Al sudah menjadi tangan kanan Remario. Pria itu kini tengah berada di Eropa mengurus data-data yang tersisa.
"Maaf saya terlambat!" Andoro masuk bersama asistennya Zack.
"Kami baru mulai!" dengkus Herman kesal.
Andoro menundukkan muka dihadapan pria itu begitu juga Zack. Virgou meledek besan saudari sepupunya itu.
"Jangan bercanda di sini!" tekan Herman yang membuat Virgou anteng.
Kean pun kembali mengulang reviewnya. Semua mendengar. Hingga akhirnya perebutan proyek berlangsung.
"Saya invest sepuluh miliar dibidang material dan suku cadang!" ujar Dominic memulai penawaran.
"Tiga puluh miliar untuk suku utama dan baja!" sahut Satrio yang mewakili Virgou.
Penawaran proyek selesai. Semua mendapat jatah proyek sesuai investasi yang ditawarkan masing-masing perusahaan.
"Anda luar biasa sekali tuan. Entah berapa banyak ide bisnis yang dikeluarkan dari perusahaan anda!" ujar salah satu kolega bangga.
"Saya tak melakukan apapun. Semua adalah andil dari putra atau cucu saya Kean," ujar Herman membanggakan pemuda yang ada di sisinya.
"Ayah, Sean juga ayah bangga kan?" tanya Sean dengan tatapan menghiba.
"Sat juga kan yah?"
"Cal juga dong!"
"Al!"
"Ion juga!"
"Darren yah!"
"Kalian adalah kebanggaanku!" ujar Herman tegas.
Semua pria muda itu memeluk Herman. Para kolega iri dengan banyaknya jumlah anak yang dimiliki oleh pria pebisnis nomor satu itu.
"Kalian keroyokan!" gerutunya kesal.
"Bukan dong!" sanggah Dav kesal.
"Bibit kami itu tokcer dan bisa menghasilkan banyak keturunan!" lanjutnya membela diri.
"Bagaimana jika kita adakan perjodohan bisnis?" tawar kolega lain.
"Maaf, anak-anakku masih kecil!" ujar Virgou langsung menolak.
"Astaga, bukan kan Tuan muda Triatmodjo menikah baru setahun yang lalu?" sahut pebisnis lain yang diangguki beberapa pebisnis juga.
"Memang ... Ah sudah jangan paksa putraku!" sengit Virgou menjawab kesal.
Semua pebisnis diam, mereka tentu tidak mau berurusan dengan keluarga pebisnis paling berpengaruh di negara ini.
Setelah rapat, Haidar mengajak semua keluarga untuk makan siang di restoran milik ayahnya. Bram mengundang mereka untuk makan siang.
"Tapi masakan istriku?" Frans sedikit khawatir.
"Semua ada di sana dad," ujar Haidar menenangkan pria itu.
"Alhamdulillah, pasti ramai di sana!' sahut Leon tersenyum.
Semua menaiki mobil masing-masing. Kean bersama Herman dan tiga pengawalnya.
Iring-iringan mobil mewah di jalan protokol membuat decak kagum dan iri dengan pebisnis nomor satu itu.
Butuh waktu dua puluh menit untuk sampai pada bangunan mewah bertingkat. Semua turun di lobi dan kendaraan mereka diparkir melalui petugas valet.
"Nak!' sambut Bart dengan senyum indah.
Pria paling tua itu memeluk satu persatu semua orang. Bart juga memberi hadiah fantastis untuk Kean dan lainnya.
"Ini adalah saham perusahaan tambang yang ada di Afrika, Eropa dan juga di sini," ujar pria itu.
"Masing-masing kalian mendapat saham sebesar 20%!" lanjutnya tersenyum bangga.
"Kecil amat!" gerutu Virgou lirih.
"Ish ... Nggak boleh gitu!" tegur Leon, Virgou mencebik.
"Ayo masuk!" ajak Bart menatap sengit pada cucu paling bandel itu.
Semua masuk, mereka disuguhi tarian hula-hula dan tulisan "Sonsulesiyon Apah, Addy, benpa memuwana!"
"Sonsoslesiyon Apah!" seru Zaa memberi selamat pada ayahnya.
"Makasih babies!" ujar Frans bahagia.
"Apah Yiyo ali!' seru bayi baru satu tahun sehari lalu menggoyangkan bokongnya.
"Ayo makan semuanya!" seru Bart memerintah.
Semua duduk, Indah menggenggam tangan suaminya. Wanita itu tak menyangka bisa masuk ke keluarga paling kaya di negaranya itu.
"Alhamdulillah sayang," jawab Marco lalu mengecup buku tangan istrinya.
"Aku ingin mengucapkan selamat untuk semua yang telah berhasil mendapatkan proyek ini. Saham keluarga menjadi naik!" ujar Bart begitu antusiasnya.
"Alhamdulillah dad!" ujar Khasya memberi peringatan pada pria itu.
"Ah iya ... Alhamdulillah!" ralatnya.
"Jadi ...."
"Pusdahlah Benpa!" potong Aarick protes.
"Pita bapan imih!' lanjutnya sambil mengusap perut gembulnya.
Bart berdecak, pria itu akhirnya berhenti bicara dan menyuruh semua makan. Dominic mengacungkan dua jempol pada putranya itu.
"Papa juga sudah lapar!" kekehnya berbisik.
Semua makan dengan nikmat. Tak ada wartawan bisa mendekati untuk mengorek keterangan di sana.
Penjagaan ketat dan sangat privasi. Membuat semua pemburu berita itu kehilangan moment penting keluarga kaya raya itu.
"Ayo lah mba! Kita bisa cingcay lah!" rayu salah satu kuli tinta.
"Maaf pak!" ujar resepsionis kukuh menolak.
Akhirnya mereka semua menunggu di depan lobi. Para awak media mencoba peruntungan dengan menerbangkan drone untuk menangkap gambar.
"Ah!' decak kecewa salah satu dari mereka.
"Kenapa? Kenapa?" tanya wartawan.
"Droneku ditembak!" jawab pria itu kesal. Drone pulang tanpa mendapatkan apapun.
Dua jam berlalu keluarga itu tak keluar melalui pintu masuk. Tentu saja tempat itu memiliki pintu darurat. Semua melewati pintu itu.
"Kenapa sih kita nggak pernah bersinggungan dengan rekan media?" tanya Rasya ingin tau.
"Buat apa. Mereka itu suka membuat berita bohong. Kadang pertanyaannya juga tak pernah nyambung. Selalu mencari informasi keluarga!" jawab Terra.
Semua kembali pada hunian mereka masing-masing. Para pria kembali ke perusahaan mereka sendiri-sendiri.
Bersambung.
Maaf Readers othor sakit.
minta doanya.
Next?