
Pesantren di mana istri Fabio dan Pablo miliki. Tengah mengadakan acara maulid nabi.
Perayaan diselenggarakan dengan menggelar doa dan shalawatan bersama.
Adiba ada di sana sebagai alumni anak didik yang berhasil. Ia bersama suaminya Satrio.
"Kami persembahkan suguhan tarian sufi yang akan dipertontonkan oleh grup Assalam!" seru pembawa acara.
Semua bertepuk tangan. Empat orang anak laki-laki maju dengan busana kurta warna hitam dan sorban yang menjadi penghias kepala mereka.
Para bayi menatap tarian itu sampai miring kepalanya karena tarian hanya berputar.
"Amah ... Pusin wihatna!" keluh Maryam yang enggan melihat tarian.
"Yiyo boba ah!" ujar Ryo lalu ikut berputar seperti penari.
"Babies, tarian itu harus dengan dzikir," ujar Azizah lalu mengambil bayinya sebelum Ryo tersungkur.
"Amah ... Uten-uten!' keluhnya pusing.
Azizah terkekeh, tarian pun telah selesai dipersembahkan. Semua bertepuk tangan meriah.
"Tapan pita matan?" tanya El Bara.
"Aypi ... Pi mumah padhi pita dudah matan woh!" peringat Nisa.
"Atuh lapan Tanti aypi!" keluh Al Bara mengusap perutnya yang tiba-tiba keroncongan.
Panitia membagikan kue dalam kotak. Para ibu dan ayah memberikan kotak isi kue pada bayi-bayi mereka.
"Momud dat bawu?" tanya Fatih pada Rosa.
"Buat baby aja," ujar Rosa lalu mencium bayi itu.
Suaminya ada di sisi Rosa. Ia memangku Zizam dan menyerahkan kotak kuenya pada bayi tampan itu.
"Matasyih papa," ujar Zizam.
"Sama-sama baby," sahut Remario.
"Ata', pita dat papat!" bisik Firman.
Kean melihat beberapa adiknya yang tak dapat kotak kue. Sebenarnya ia sangat berat memberikan kotak kuenya. Pemuda itu paling suka dengan kotak isi makanan.
"Ini baby, kakak punya, kita bagi ya!" ujar Kean berbesar hati memberikan kotak kuenya.
Calvin, Sean, Al dan Daud juga melakukan hal sama. Begitu juga Dimas, Affhan, Rasya, Rasyid, Maisya, Kaila, Dewa dan Dewi.
"Kalian luar biasa sayang!' puji Zack pada semua perusuh paling senior itu.
Kean tersenyum bangga. Hafsah dan Salma sedikit menyesal tak melebihkan kotak itu.
"Kita lupa jika banyak anak," ujarnya sambil mengusap perutnya yang besar.
Salma mengangguk, ia juga tengah menantikan kehadiran buah hatinya. Fabio menenangkan istrinya.
"Tidak masalah sayang, mereka belajar berbagi dengan saudaranya sendiri,"
Acara berlanjut dengan makan bersama. Semua antusias mengantri. Kean paling depan. Virgou dan Puspita hanya bisa menghela nafas panjang.
"Kapan putramu itu punya istri jika seperti itu?" tanya Bart pada Virgou mengeluh.
"Dia masih bayi!" sungut Virgou tak terima jika putranya sudah besar.
Bart menatap Virgou malas. Pria dengan sejuta pesona itu cemberut. Ia masih menganggap semua anak masih bayi.
"Lihat kau sudah punya banyak cucu!" sengit Bram.
"Tate Lildo!" pekik Faza yang mendekatinya dengan merangkak.
"Hei bayi kau mau apa?" sengit Virgou gemas.
Bayi itu dalam gendongannya. Gelak tawa tercipta karena Virgou menyembur perut bulat bayi cantik itu.
Usai makan siang, acara pun selesai. Zora masih mengunyah telur rebus. Bayi itu dalam gendongan Adiba.
"Ayo kita ke mall beli baju!" seru Terra.
"Hore!" pekik Kean senang diikuti seluruh bayi.
Lagi-lagi Virgou dan Puspita menggaruk kepalanya yang tiba-tiba gatal. Tingkah polos putra pertama mereka itu memang sangat diluar nalar.
"Baby Kakak akan belikan kalian sepatu!" janji pemuda itu.
"Beunel Ata'?" tanya Aaima semangat.
"Boleh dengan syarat harus ikut kakak ngamen di lampu merah!" sahut Kean dengan seringai jahil.
"No baby!" tolak Dav membuat Kean cemberut.
"Apa kau pikir Papi nggak bisa belikan mereka sepatu?" sengit Dav lagi.
"Pidat!" seru Arsh meledek Dav.
"Apan Baji Baby Alsh pate dendal sepit!" ujarnya memperlihatkan kakinya yang hanya memakai alas kaki yang ia sebut.
"Ih Kak Widya!" ledek Terra.
"Sumpah tadi kakak udah pakaikan sepatu!" ujar Widya bersikukuh.
"Anakku!" keluh Gabe tak habis pikir.
"Papa siput ... Siput peyus!" ledek Arsh kesal pada ayahnya.
"Ayo kita ke mall!" seru Kean tak sabaran.
Mereka semua menaiki mobil. Iring-iringan mobil mewah itu jadi sorotan mata semua orang. Terlebih ketika masuk dalam halaman parkir mall besar.
"Kita ke area selatan ya, di sana banyak barang bagus dan harga terjangkau!" ujar Virgou memberitahu.
"Apa tidak bisa beli barang branded?" tanya Puspita.
"Nggak," jawab Puspita tersenyum.
Virgou memutar mata malas. Perempuan itu sedikit aneh.
"Kau bawa adik sepupuku itu untuk beli apa yang kau mau sayang!" suruh Virgou.
"Makasih sayang!" seru Puspita lalu mengecup pipi suaminya.
Puspita menggandeng Terra. Para suami menyuruh istri mereka mengikuti Puspita.
"Anak-anak?" tanya Layla yang menolak.
"Ada kami di sini nak!" ujar Sriani.
"Ibu ikut kami!" ajak Widya
Sriani digandeng putrinya. Gisel mengaitkan tangan pada ibu mertuanya. Najwa dan Lastri juga sudah lama tak berbelanja kebutuhan mereka.
"Berani taruhan!" ujar Demian yang melihat semua perempuan memisahkan diri untuk berbelanja.
Semua menoleh pada pria bermata biru itu.
"Yang mereka beli pasti untuk anak-anak!" lanjutnya yang diangguki semua pria.
Butuh waktu nyaris dua jam untuk berbelanja. Tebakan Demian benar adanya. Para ibu memborong baju-baju untuk anak dan suami mereka.
"Mana tas dan sepatu brandedmu sayang?" tanya Haidar pada Terra.
"Ih, males amat beli buat kaki harga sampai dua juta!" sengit Terra menjawab.
"Mending beli baju buat Babies. Dapatnya lima!" lanjutnya ketus.
Puspita juga sama, ia gelap mata melihat dress untuk anak perempuan. Ia membeli banyak, begitu juga para ibu lainnya.
"Ayo pulang! Aku lapar!" ajak Bart.
Semua pun pulang, Kean senang dengan setelan barunya yang dibelikan sang nenek, Lastri.
"Makasih Nini!"
"Sama-sama baby," ujar Lastri yang senang pemberiannya diterima oleh Kean.
"Ini buat Sean ni?" Sean merentangkan kaos warna abu-abu dan celana kulot yang dibelikan Lastri.
"Iya baby," jawab Lastri.
"Makasih Nini!" Sean mencium pipi wanita paru baya itu.
Lastri tersenyum bahagia. Frans menatap istrinya yang berseri-seri. Ia pun tertular bahagia Dua bayinya juga mendapat dress lucu dari Terra dan Puspita.
"Kau bahagia bro?" tanya Leon.
"Of course!" jawab Frans.
"Baby Sat dan istrinya mana?" tanya Herman yang kecarian putra pertamanya itu.
"Udah sih Yah, mereka udah gede!" sengit Arimbi.
"Baby!" peringat Rion.
Arimbi manyun, Rion melakukan panggilan telepon. Satrio dan Adiba memang masih berada di mall. Mereka memisahkan diri dari keluarga.
"Mereka masih di mall," ujar Rion menutup teleponnya.
Herman menghela nafas panjang. Ia sedikit takut terjadi sesuatu pada putra dan menantunya itu.
"Udah sayang, mereka udah gede," ujar Khasya menenangkan suaminya.
Sementara di mall, Satrio menggandeng sang istri mesra. Usia keduanya yang masih belia jadi sorotan terutama Adiba yang berwajah anak-anak.
"Itu mereka suami istri apa pacaran?" bisik-bisik beberapa orang yang melihat kemesraan keduanya.
"Yakin mereka itu pacaran. Lihat, itu cowok sama ceweknya muda banget!" sahut lainnya juga berbisik.
"Apa mereka married by accident ya?" tanya salah satu menuduh.
"Yakin sih iya!" angguk lainnya setuju.
Adiba sangat kesal dengan gosip yang tengah berkembang itu. Pernikahannya dengan Satrio memang belum dipublikasikan secara umum.
"Mas kita pesta pernikahan yuk!' ajaknya dengan raut wajah kesal.
"Hah?" Satrio tak mendengar permintaan istrinya.
"Kita digosipin MBA!" seru Adiba kesal.
"MBA? Emang kamu mau kuliah lagi?" tanya Satrio bingung.
Adiba berdecak, ia lupa jika suaminya itu adalah pemuda polos. Ia pun membisiki arti yang ia maksud.
"Eh ... Sembarangan mereka ngomong!" sergah Satrio kesal.
Pemuda itu mendatangi sekolompok ibu-ibu yang tadi menggosipi mereka. Semua tentu ketakutan dan menunduk.
"Kalian ...."
"Mas udah ah!" ujar Adiba lalu menyeret tubuh besar suaminya itu.
Bersambung.
Yah gitu deh!
Author Maya Melinda Damayanty mengucapkan selamat hari Maulid nabi Muhammad shalallahu alaihi wasallam.
semoga kita semua mendapat syafaat dari Rasulullah di akhirat kelak ... Aamiin ya rabbal alaamin.
Next?