
Tuduhan Sinta terhadap rumah sakit milik Nai langsung ditanggapi oleh pemiliknya sendiri.
"Saya laporkan anda dengan pasal pencemaran nama baik!" ujar wanita yang tengah hamil muda itu.
"Tapi ini anaknya, saya hanya ditiduri oleh dia!" ujar Sinta tak mau kalah.
"Tapi bukti ini menyatakan kalau anak itu bukan anakku Sinta!" bentak Pram marah.
Sinta terdiam, ia bungkam. Ia merasa yakin jika dirinya hamil dengan pria itu.
"Tapi kita tidur berdua di hotel waktu itu," ujar Sinta.
Pram diam, ia memang terbangun dan tidur dalam keadaan tanpa busana.
Nai menatap dua orang yang sepertinya sedang bingung. Ia mengeluarkan ponselnya.
"Katakan di mana kalian tidur?" tanyanya.
"Untuk apa kau tanya!" bentak Sinta.
"Untuk mengetahui ayah anak ini!" bentak Nai.
Nai tentu sangat berani, wanita itu adalah anak perempuan yang paling berani menyuarakan suaranya.
"Hotel xx, di kota M!' jawab Pram.
Nai mengetik, ia menghitung waktu dan bulannya.
"Nyonya Sinta, anda pernah tidur dengan pria lain sebelum dengan tuan Pram!" ujar Nai langsung.
"Sembarangan kau!" bentak Sinta marah.
"Aku masih suci ketika direnggut oleh dia!" lanjutnya berteriak sambil menunjuk Pram.
"Benarkah, lalu siapa itu Biyan Andianto?" tanya Nai tersenyum miring.
"Kau berpacaran dengannya dari kelas dua SMA. Bahkan saya bisa menyebut tempat di mana kalian melakukan perbuatan mesum itu dari awal hingga perbuatan mesum lainnya!"
"Tunggu, siapa namanya?" tanya Pram.
"Biyan Andianto!" jawab Nai.
Perawat memilih menyusui bayi yang baru lahir beberapa jam itu.
"Nak, minum ya, anggap aku ibumu," ujarnya pelan lalu membawa bayi itu di ruang yang berbeda.
"Jika ayah dan ibumu menolakmu, biar ibu yang jadi mamamu ya nak," lanjutnya mengecup kening bayi itu.
Perawat Andira memang bisa menyusui. Wanita itu baru saja kehilangan bayi dalam kandungan setelah tujuh bulan bertahan.
Tiga bulan lalu ia diceraikan suaminya karena dianggap ceroboh hingga membuat janinnya gugur.
"Sus Dira?" Andira menoleh.
"Kenapa disusui anak orang?" tanya rekannya itu.
"Ibunya menolak menyusui," jawab Andira santai.
"Tapi apa sudah dapat ijin?" tanya rekannya.
"Belum, walaupun mereka tau. Sepertinya anak ini tetap tak dipedulikan," sahut Andira lagi-lagi santai.
"Jangan gitu, anak ini masih ada orang tuanya loh!" peringat rekannya.
Andira hanya tersenyum, ia sangat yakin jika orang tua bayi ini tak peduli lagi. Ia melihat bagaimana keengganan si ibu yang tak mau menyusui lalu sang ayah yang langsung memeriksa jika bayi itu bukan darah dagingnya.
Nai keluar dari ruangan kelas dua itu. Wanita itu tak punya urusan lagi dengan keduanya. Ia telah membongkar kebusukan wanita yang baru saja melahirkan itu.
Sementara di Mekah, keluarga besar naik bus bersama. Mereka menuju padang Arafah. Semua sedang berpuasa Arafah.
Virgou melihat ponselnya. Ia selalu melihat apapun yang dilakukan oleh keluarga yang tinggal di rumah.
"Halo Michael!" ujarnya setelah sambungan ponselnya tersambung.
"Ketua!" sahut pria di seberang telepon.
"Panggil pengacara untuk menuntut Sinta Laksono atas pencemaran nama baik!" perintah Virgou.
"Daddy ada apa?" tanya Darren yang duduk di sebelah pria itu.
"Adikmu ...."
Virgou menceritakan apa yang terjadi. Tentu saja pria sejuta pesona itu tahu. Bravesmart ponsel miliknya tersambung pada Nai.
"Jadi Baby Nai dituduh menukar bayi padahal memang perempuan itu hamil bukan dari suaminya?" tanya Darren tak percaya.
"Benar sayang," jawab Virgou ikut kesal.
"Tenang, baby aman. Tadi Daddy sudah suruh Michael untuk menunjuk pengacara dan menuntutnya!" ujar pria itu menenangkan.
"Iya, benar," jawab Virgou.
"Hahaha ... rasakan itu. Meninggalkan berlian hanya untuk sebuah batu kerikil," sengit Sean mencibir.
"Eh ... perbanyak istighfar!" peringat petugas haji.
Mereka pun tenang kembali. Semua beristighfar mengingat dosa. Perjalanan kali ini membuat semua keluarga tegang terutama yang berusia lanjut.
Bart, Beny, Leni, Fery, Mia, Sriani, Shama dan Basri. Mereka menatap jalan yang perlahan mendekati padang Arafah.
"Pak, kok ibu deg degan ya," ujar Leni pada suaminya.
Ayah dari Lastri itu mengelus punggung tangan istrinya. Ia juga berdebar tak karuan.
Sampai sana, mereka langsung menuju tenda-tenda putih. Mereka dikelompokkan.
"Pak Bart dan para lansia yang berjenis kelamin laki-laki ada di tenda ini ya!" ujar panitia haji.
"Saya mau sama dengan ayah saya!" ujar Frans tak mau berpisah dengan Bart.
"Kau punya istri nak!" peringat Bart.
"Jaga mereka. Mereka butuh kamu dibanding aku," lanjutnya memberi pengertian.
"Iya nak, biar ayahmu bersama kami!" ujar Beny pada menantunya.
Frans dan Leon akhirnya pasrah. Semua dibagi sesuai dengan urutan. Semua remaja berpisah dengan ibu mereka kecuali yang masih bayi dan dibawah usia tujuh belas tahun.
"Kami sama siapa?" tanya Azlan.
"Kalian bersama kami Nak!" ujar Gio.
Semua anak angkat Bart yang laki-laki sebagian bersama pengawal. Anak perempuan pun sama, mereka bersama Dian dan Rosa.
"Ayo persiapan semuanya!" seru petugas haji.
"Kita sholat dulu ya!" ajak pria itu.
Semua jamaah berkumpul di sebuah lapangan terbuka. Begitu luasnya tempat itu hingga bisa menampung 2,5 juta jemaah haji.
Tata cara wukuf, Dimulai dengan mendengarkan khutbah wukuf.
Dilanjutkan dengan sholat jama' taqdim (pengumpulan dua sholat) untuk sholat Dzuhur dan Ashar.
Wukuf dapat dilaksanakan dengan berjamaah atau sendirian.
Memperbanyak istighfar, zikir, dan doa sesuai sunnah Rasulullah SAW.
Ketika menjelang sholat dhuhur semua tenang mendengarkan Khotib. Bayi-bayi tampak tenang. Tak ada yang rewel. Bahkan bayi-bayi yang berusia belum satu tahun tampak kuat berpuasa.
"Amah ... antut," ujar Ryo menguap lebar.
Azizah menidurkan putranya. Ia menepuk-nepuk bokong bayinya itu hingga terlelap. Cuaca cukup teduh padahal matahari bersinar cukup terik di sana.
Sholat dhuhur dimulai. Kumandang adzan bergema, semua bergerak untuk sholat berjamaah.
Usai sholat semua jamaah kembali berdzikir. Ryo yang tadi sempat tertidur ikut bangun ketika sholat. Bayi itu ikut sholat.
"Amah aca pa'a adhih?" tanya Zora pada ibunya.
"Baca istighfar baby," jawab Luisa.
"Tayat bijimana Amah?"
Luisa nyaris tersedak mendengar pertanyaan putrinya. Putranya bersama sang suami.
"Astaghfirullah, alladzi la ilaha illa huwal hayyul qayyumu wa atuubu ilaih."
"Pusyah Amah!" keluh bayi itu tentu tak bisa mengikuti ucapan ibunya.
"Ya nggak apa-apa baby, ucapin astaghfirullah saja," suruh Luisa.
Waktu bergulir, anak-anak masih kuat berpuasa padahal sebagian mereka sudah bermandi peluh.
"Haus nggak baby?" tanya Terra khawatir pada dua anak kembarnya.
"Insyaallah kuat Mama!" jawab Aya dan Ayi kompak.
Semua bayi juga menolak minum susu. Akhirnya waktu buka tiba. Semua mengucap hamdalah ketika meneguk air zamzam.
"Alhamdulillah!'
Bersambung.
Next?