
Minggu ini semua anak berkumpul di hunian milik Demian. Pria itu tengah mengusili putri bungsunya. Faza memang sangat manja dengan ayahnya itu.
"Apah ... Ambun Apah ... Ambun!" pekik Faza sambil tergelak.
Lidya tersenyum mendengar tawa putrinya. Ia menatap dua jagoannya yang asik bercengkrama dengan kakak dan adik-adik mereka.
"Sebentar lagi tambah pasukan empat bayi. Pasti makin ramai," gumamnya tersenyum.
Di sana Nai dan Arimbi tengah bermanja dengan Herman. Pria itu mengelus perut dua anak dan cucunya.
"Ayah," Lidya mendatangi Herman.
"Sini sayang," Nai menyingkir.
Wanita itu sangat tau arti Lidya bagi Herman. Nai mengalah, ia juga sangat menyayangi Tantenya itu.
"Mama," rengek Nai lalu meletakkan kepalanya di bahu Lidya.
"Baby!" teriak Rahma memanggil putranya yang sudah ada di atas lemari.
Demian menyemangati Meghan. Pria itu bertepuk tangan.
"Zaza ugha au ait!" pekik Faza lalu dengan cepat kakinya menaiki meja.
"Tuh ugha!" Horizon pun ikut-ikutan.
"Baby!" Gisel mengangkat putra bungsunya itu.
"Ah ... Bommy!" teriak Horizon kesal.
Faza juga sudah diambil alih Maisya. Gadis itu mengangkat tinggi-tinggi bayi cantik itu.
"Kamu kok ikutan kak Meghan baby?" tanyanya gemas.
"Wial Apah danda, amah seusil!' jawab Faza.
Maisya menciumi pipi gembul kemerahan Faza. Bayi itu tergelak ketika tantenya itu menyembur perut bundarnya.
"Baby mommy udah buatin salad buah nih!' seru Maria.
Meghan berhasil diturunkan. Bayi itu terjun bebas dan Zack menangkapnya.
"Papa," Meghan mengelus wajah Zack.
Pria itu tersenyum dan mencium pipi Meghan yang gembul. Semua bayi menatap makanan baru dengan pandangan bingung.
"Ommy mih pa'a?" tanya Zora nyaring.
"Salad buah sayang," jawab Layla mewakili.
"Lalat wuwah?" sahut Aisya sampai miring kepalanya.
"Salad baby bukan lalat. Kalau lalat itu binatang jorok yang ada di tempat kotor," ralat Dewi.
"Pati Ata', watu ipu Zaa wihat dada lalat peulban-peulban ban hindap pi wuwah!?" debat Zaa yang ingat ada lalat hinggap di buah.
"Wah biya ... tan wuwah putan pampah ya?!' seru Aarav mengingat.
"Itu karena ada kotoran di buah baby, jadi lalat suka hinggap di sana!' jawaban Dewi membungkam mulut-mulut yang penuh dengan makanan itu.
Salad buah pun habis. Semua anak kekenyangan. Makan siang masih dua jam lagi.
Arsh menatap Theo yang berdiri tak jauh di sana. Bayi tiga tahun itu berjalan mendekati pria yang kini duduk menatap bunga anggrek yang bermekaran.
"Papa!" panggil bayi itu.
Tubuh Theo menegang. Pria itu mendadak kaku. Ia memang belum beradaptasi dengan para bayi.
"Papa teunapa syih!" tanya Arsh kesal melihat pria yang kaku itu.
"Papa pihat bantu?!' sengit Arsh berkacak pinggang.
Theo tak mengerti apa yang dikatakan oleh bayi tampan itu. Pria itu hanya menganga.
"Papa!" teriak Arsh kesal.
"I-iya baby?!' pria itu tergagap menyahuti bayi itu.
"Pa'a yan papa pitiltan?" dengkus Arsh kesal.
Theo mencerna perkataan bayi itu.
"Apa yang dipeluntir baby?" tanya pria itu dengan suara kecil.
Arsh mengerutkan keningnya. Bayi itu menemukan bahasa baru.
"Pa'a ipu seluntil?" tanyanya ingin tahu.
"Papa nggak punya kutil baby!' keluh Theo protes.
"Sutil?" Arsh makin tak mengerti.
"Sutil ada di dapur. Kamu tanya Bik Gina sana!' suruh Theo makin kesal dengan bayi bermata biru itu.
"Papa usil Apan Baji Baby Alsh?" tanya Arsh dengan mata besar.
"Papa nggak pernah usil!' sanggah Theo.
"Papa padhi susil Apan Baji Baby Alsh!' teriak Arsh berkacak pinggang.
Virgou melihat Theo dan Arsh yang bersitegang. Pria itu menghela nafas panjang. Memang Theo sangat dingin, pria itu tak pernah bersinggungan dengan para bayi.
"Bahkan Baby Lidya enggan memeluk Theo. Rupanya memang karakter anak itu terlalu keras," gumam Virgou.
"Addy!' Arsh menatap Virgou.
Theo langsung tegang. Pria itu memang takut dengan Virgou.
"Sini Baby," ajak Virgou lalu menggendong Arsh yang sudah mencebik-cebikkan bibirnya.
"Addy, papa Beo dalat ... Pasa susil-susil Apan Baji Baby Alsh!" adu bayi itu sedih.
"Saya nggak punya kutil ketua!" sanggah pria itu.
"Kau pergi temui Budiman!" suruhnya dengan tatapan tajam Theo.
Theo hanya bisa membungkuk hormat. Herman datang, Theo makin pucat.
"Aku bilang pergi!" sentak Virgou pelan.
"Ada apa? kenapa kau memarahinya?' tanya Herman.
"Aku nggak marahin dia kok yah!" sahut Virgou membela diri.
"Ate!" Arsh mengalihkan tangannya ke Herman.
Bayi itu kini dalam gendongan Herman. Khasya mendekati mereka.
"Sayang, ada apa?" tanyanya.
"Dia marahi anak buahnya!' adu Herman.
"Theo marahin Abang haji Baby Arsh!' adu Virgou.
"Saya tidak ...."
"Eh ... Sudah, sini sama bunda!" ajak Khasya pada Theo.
"Tapi dia aku suruh ke Budiman. Biar mau dipindah tugaskan saja!" seru Virgou.
"Jangan melawan ibumu Virgou!' tekan Budiman.
Virgou kesal, pria itu manyun. Hal itu membuat Arsh tertawa.
"Addy ulutna maju!' tunjuknya.
Virgou mencium gemas bayi itu. Sementara itu Khasya mendudukkan Theo di sebuah sofa. Ia pun duduk di sebelah pria kaku itu.
"Nak," panggilnya lembut.
Theo hendak menangis mendengar panggilan itu. Selama ini ia tak tau nasib kedua orang tuanya. Pria itu meninggalkan keluarga karena merasa tak dianggap sama sekali.
"Hanya kau yang bisa meruntuhkan tembok yang kau bangun di hatimu nak," ujar Khasya lembut.
Satu tetes bening jatuh dari pelupuk mata pria itu. Khasya mengusapnya. Ia tau jika Theo tengah berupaya dekat dengan semua anak.
"Buka hatimu nak," ujarnya lalu mencium pelipis Theo.
Khasya meninggalkan pria itu sendirian. Theo mengusap kasar wajahnya. Air matanya tak berhenti membasahi pipinya.
"Apah ...," Faza mendekat.
Sungguh Theo masih takut dengan para bayi. Tapi Faza yang pemberani naik ke pangkuan pria itu.
Theo menyandarkan punggungnya di kepala sofa. Faza mencakup wajah tampan Theo.
"Apah waluwalu?" tanyanya.
Theo menggeleng, ia benar-benar tak mengerti bahasa bayi itu.
"Anan ayis Apah ... Zaza ininih!' ujar bayi itu lalu memeluk kepala Theo.
Sebuah kecupan kecil dari bibir mungil Faza melelehkan hati yang dingin. Theo menangis dipelukan Faza.
"Baby Faza!" panggil Lidya mencari putrinya.
Wanita itu pergi ke ruang tengah. Di sana ia melihat Faza tertidur ala koala di dada Theo yang juga tertidur memeluk bayinya.
"Ah, papa. Akhirnya kamu luluh juga," gumamnya tersenyum.
Demian mendekati istrinya. Pria itu hendak mengambil bayi cantiknya. Tapi Lidya menahan keinginan suaminya.
"Biarkan pa,"
"Eh, kenapa?" tanya Demian.
"Papa Theo sudah ketemu pawangnya," jawab Lidya.
Demian ditarik dari sana oleh sang istri. Sementara itu, tak lama malam siang telah siap.
"Makanan siap!"
Faza yang tertidur terbangun. Bayi itu membangunkan Theo.
"Papa matan yut!" ajaknya.
Faza turun dari pangkuan Theo dan menariknya. Pria itu menurut. Di ruang makan semua bayi menatapnya.
"Papa sanan tatut!' Tamih butan bantu ladhi tot!" ujar Al Bara menenangkan pria itu.
"Duduk lah nak!" suruh Najwa pada Theo.
Untuk pertama kalinya, hati dingin pria tampan itu menghangat.
"Jadi dia mau dipindah kemana ketua?" tanya Budiman.
"Nggak mau!" tolak Theo cepat.
"Bunda ... ketua nih!' adunya.
"Eh! Dasar anak sialan!' umpat Virgou.
"Kakak!' peringat Terra kesal.
"Wah lada nanat sisilan balu!" seru Maryam lalu bertepuk tangan.
"Pamat datan nanat sisilan palu ... Peultenaltan atuh nanat sisilan sewet yan syantit selita!" ujar Aisyah memperkenalkan dirinya.
Bersambung.
Welcome nanat sisilan baru!
Next?