
Virgou menatap berkas yang dibawa Budiman. Pria itu menyerahkan semua penyelidikan yang telah ia lakukan bersama tim yang ia bentuk.
"Ketua, ini berkas tentang Anya Liana," ujar pria itu.
Virgou membuka berkas itu dan membacanya. Pria itu mengerutkan kening.
"Apa ini semuanya akurat?" tanyanya.
"Kita terhenti dengan bukti yang menandakan jika Anya mati bunuh diri ketua," jawab Budiman.
"Lalu suaminya?"
"Nando menikah lima bulan setelah Anya di makamkan. Perempuan itu masih kerabat dengan Anya," jawab Budiman.
"Seluruh keluarga yang meminta Nando untuk menikah dengan sepupu dari mendiang Anya," lanjutnya.
"Apa mereka ada main di belakang Anya?" tanya Virgou.
"Semua data ada di Bravesmart ponsel ketua. Mereka selalu bertemu dengan mendiang Anya. Mereka benar-benar bersih!" lapor Budiman lagi.
Virgou menghela nafas panjang. Kecanggihan bravesmart ponsel milik Darren rupanya tidak bisa diandalkan.
"Jadi semua ini murni bunuh diri?" tanya Virgou.
"Daddy!" Darren masuk ke ruang kerja pria yang dulu ia takuti itu.
"Baby, sini sayang!" Budiman membungkuk hormat ketika Darren masuk.
"Baba," ujarnya lalu ia duduk di pangkuan Virgou.
"Hei kau sudah besar sayang," ujar Virgou.
"Daddy ... Darren udah lama nggak kek gini!" rengek pria beranak empat itu manja.
Virgou mencium gemas pipi keponakannya itu. Ia sangat menyayangi Darren.
"Ini apa Daddy?" tanya Darren lalu membuka berkas.
"Masalah Anya," jawab Virgou.
Darren bangkit dari pangkuan Virgou. Pria itu lalu duduk di sofa yang tak jauh di sana.
"Jadi semua buntu karena minim bukti?" tanya Darren.
"Perselingkuhan Nando dan istrinya sekarang tidak bisa dibuktikan sayang," ujar Budiman.
"Kenapa?" tanya Darren.
"Mereka selalu bertemu bertiga. Ketika menginap pun semua tidur di kamar masing-masing," jawab Budiman.
"Bagaimana Anya terbunuh?" tanya Darren.
Pria itu mengeluarkan ponsel canggihnya. Budiman menceritakan bagaimana Anya terbunuh dengan menusuk pisau di dadanya sendiri.
"Baba, apa mendiang Anya memiliki penyakit kejiwaan atau apa?" tanya Darren.
"Tidak ada," jawab Budiman pasti.
"Bagaimana orang bisa menusuk dirinya sendiri dengan kesadaran penuh? Terlebih mendiang Anya sedang tidak dalam masalah kejiwaan?" tanya Darren.
Virgou mulai tertarik, ia pun bangkit dari kursinya. Pria itu duduk di sebelah Darren.
"Lanjutkan nak!" pintanya.
Darren menguraikan pendapatnya. Virgou dan Budiman tampak menyimak dengan seksama.
"Masalahnya satu. Keluarga dari korban tidak mau membuka kasus dan memilih percaya jika anak mereka mati bunuh diri," ujar Budiman.
"Kita akan kesulitan jika kita yang melapor. Kita tak ada hubungan apa-apa dengan korban!"
Virgou menghela nafas panjang. Ketiga pria dengan ketampanan yang berbeda itu berpikir cukup keras.
"Daddy, kalau bukti ini tiba-tiba ada di tangan salah satu petinggi kepolisian bagaimana?" tanya Darren.
Virgou menatap putra dari paman yang sangat ia benci dulunya itu. Darren sangat mirip dengan Ben.
"Kita seperti bertaruh dengan harapan kosong baby," jawab Virgou.
"Yang penting ada harapan walau itu kecil Daddy!" ujar Darren lagi.
"Kita nggak mungkin membawa baby Aya atau baby Ditya untuk melihat hantu Anya lagi!" lanjutnya.
"Baiklah, kita lakukan itu!" ujar Budiman.
"Jangan kirim semua. Tapi bua potongan-potongan seperti puzzle. Kirim secara random!" perintah Virgou.
"Baik ketua!" Budiman membungkuk hormat.
"Anya ... Hanya sejauh ini aku bisa membantumu. Semoga semesta berpihak pada ketidakadilan ini. Jika pun semesta tak mendukung. Kau tunggu mereka di pintu neraka lalu bersenang-senanglah kau menindas mereka di sana!" ujar Virgou dengan muka memerah menahan amarah.
Di sebua kantor pelayanan masyarakat. Seorang polisi berpangkat perwira mendapat kiriman pesan singkat dari nomor tidak diketahui.
"Apa ini?"
Pria itu tadinya tak menggubris. Karena pesan singkat berupa link. Maraknya aksi penipuan dengan menyertakan link, membuat ia menghapus pesan singkat itu.
Sedang di ruangan lain tiga polisi berpangkat berbeda tampak mendapat pesan yang sama.
Pria itu tertarik, ia adalah seorang aparat penegak hukum. Banyaknya laporan tentang kasus penipuan yang menggunakan link untuk mendapat data dari pengguna ponsel.
"Sepertinya bisa dijebak dan bisa diangku untuk nyobain baju orange nih!" ujarnya dengan seringai di pipi.
Pria itu mengklik link yang berwarna biru. Satu rentetan tulisan dibaca.
"Apa ini? Anya Liana?"
"Kasus pembunuhan Anya Liana?" keningnya berkerut.
Jika semesta mengiringi. Sebuah peristiwa pilu yang dirasakan seorang istri dan seorang kakak sepupu sebentar lagi akan terungkap.
"Anya Liana apa dia korban bunuh diri di daerah M?" tanya perwira tinggi itu.
Karena merasa tertantang dengan puzzle yang dikirimkan. Pria bernama Adan Permana SH berpangkat IPDA.
Sementara di hunian besar, tampak sepasang suami istri tengah bermesraan.
"Sayang ... Bagaimana?" tanya pria lalu mendaratkan kecupan di bibir kenyal istrinya.
"Sangat luar biasa sayang. Mereka sangat baik. Karena terlalu baik jadi bisa dibodohi!' jawab wanita.
Keduanya tergelak, mereka berdua menikmati kekayaan yang mestinya bukan milik mereka. Tapi Nando sangat pintar bermain hingga bisa menikmati harta mendiang Anya bersama pacar yang ia sembunyikan selama ini.
"Kau terlalu cinta maka kau tak melihat realita jika aku telah berselingkuh di belakangmu Anya," ujar Nando dengan tersenyum licik.
Siang itu sangat terik. Setelah bermesraan dengan istrinya, Nando turun dari ranjang dengan bugil.
Ia baru saja menghirup percintaan dahsyat dengan sang istri. Pria itu mengusap pundak dan mengecup bahu Reni mesra.
"Mas ...," rengek manja Reni masih kelelahan setelah bercinta dengan suaminya.
Nando terkekeh, inilah yang ia suka dengan Reni. Wanita itu kalah dengan permainannya.
"Kau memang beda sayang. Tak seperti sepupumu yang mungkin sekarang sedang direbut cacing," ujarnya menghina mendiang Anya.
Tok! Tok! Tok! Sebuah ketukan keras di pintu mengejutkan Nando.
Pria itu memakai jubah mandi untuk menutupi tubuh telanjangnya.
"Spada!" teriak orang di luar lalu menggedor-gedor pintu dengan kerasnya.
"Ya sebentar!" teriak Nando.
"Siapa sih yang gedor-gedor pintu ...."
Pintu terbuka, muka Nando yang sebal mendadak pucat setelah melihat siapa yang datang.
"Anda Bapak Nando Alam?" tanya polisi dengan pangkat perwira menengah.
'Ya-ya saya ...," jawabnya tergagap.
"Ini panggilan kepolisian. Anda diwajibkan hadir untuk diperiksa!" ujar pria berseragam itu menyerahkan amplop bercap kepolisian.
"Apa ... Tapi kasus mendiang istri saya sudah final dan sudah ...."
"Silahkan ikut kamu pak!" ujar polisi tadi memotong pembicaraan Nando.
"Tidak ... Ini pasti sebuah kesalahan!" teriak Nando.
Karena merasa mempersulit kinerja kepolisian. Nando digelandang polisi. Pria itu berteriak keras.
Sementara itu pria berpangkat IPDA menerima laporan dari lab tentang mayat Anya yang diautopsi ulang.
'Tidak ada gangguan mental?" tanyanya.
"Benar komandan. Jika dilihat dari otak dan rekam medis semua bersih dari penyakit apapun. Hanya ada satu retorik yang membekas di salah satu urat jantung," jelas kepala autopsi.
"Apa itu?"
"Keterkejutan dan mati mendadak!" jawab pria berjas sneli itu.
Pria itu berdiri dan mengucap terima kasih. Ia berjalan menuju sebuah ruangan di mana keluarga Anya berada.
"Jadi putri saya diperkirakan dibunuh secara langsung dengan menikam jantungnya pak?' tanya seorang pria dengan suara parau.
"Benar pak!" jawab Adan dengan sangat menyesal.
"Kalau begitu. Saya mau kasus ini dibuka kembali. Cari pembunuh putri saya pak!" pinta Pria itu dengan wajah datar.
"Pak ... Anya putri kita pak?" isak seorang wanita memeluk suaminya.
"Tenang Bu, pak polisi pasti membantu kita!" jawab pria itu menatap Adan.
"Saya sangat yakin jika bisa mengungkap kasus ini cepat dan pembunuh ibu Anya akan dipenjara seumur hidup!" janji Adan pada sepasang suami istri itu.
Bersambung.
Keadilan Anya dimulai.
Bravo Abah Darren!
Next?