THE BIG FAMILIES

THE BIG FAMILIES
KIDS ADVENTURE



Harun, Salim, Azha dan Arion diberi hukuman karena berisik. Empat bocah itu mengaku bersalah karena mereka bermain saat jam pelajaran.


"Baru kali ini ibu kecewa melihat kelakuan kalian!" sesal Bu guru.


"Iya Bu, kami mengaku salah," ujar Harun menunduk.


Tadinya Bu guru enggan memberikan hukuman. Tapi salah satu murid protes.


"Hukum mereka juga dong Bu! Jangan pilih kasih!"


"Tapi mereka selama ini kan baik," ujar Bu guru membela.


"Saya juga baik, tapi ibu tetap hukum saya waktu itu!" sahut yang lainnya ikut protes.


"Nggak apa-apa Bu, kami emang pantas dihukum," ujar Azha.


Guru akhirnya meminta mereka ke perpustakaan untuk menyusun buku. Ada mang Kusni di sana yang membantu mereka.


Mereka berjalan ke arah perpustakaan yang sedikit jauh ada di belakang sekolah.


Suasana sudah sedikit siang, tapi tempat itu berasa lembab. Salim memutar kepala melihat jalan koridor yang mereka lalui.


"Kok kek aneh ya?" tanyanya lalu mengusap sebelah lengannya.


Arion berjalan sedikit cepat, bocah itu memang agak merasakan sesuatu.


"Ayi!" Harun dan lainnya mengekori langkah Arion.


"Ayo cepat!" seru bocah itu.


Akhirnya, mereka sampai di perpustakaan. Banyak tumbuhan rambat yang menutupi bangunan. Jendela yang sedikit kotor, karena memang bangunan itu tak banyak dikunjungi.


"Mang Kusni!" panggil Harun.


Keempat bocah itu mencari keberadaan pria tukang bersih sekolah itu.


Srek! Srek! Srek! Bunyi seperti benda terseret terdengar. Salim langsung mendekati Azha. Bocah itu sedikit ketakutan.


"Zha," bisiknya pelan.


Harun mendekati suara yang menyeret itu, yang lain mengekorinya.


"Mang!'


"Astaghfirullah!' seru mang Kusni kaget.


Salim akhirnya lega, ketakutannya tak terbukti. Pria itu memang tengah menyeret kardus berisi banyak buku-buku.


"Ngapain kalian di sini?" tanya pria itu bingung.


"Kami kena hukuman mang," jawab Harun malu.


"Astaghfirullah, padahal kalian murid teladan dan jadi panutan semua anak!' sahut pria itu tak percaya.


"Ternyata bisa bandel juga!" lanjutnya terkekeh.


"Ya sudah, kalian duduk saja, ini sudah mau selesai!" ujarnya lagi tak tega melihat anak-anak yang tampan itu bekerja.


"Tapi kami dihukum ...," ujar Arion tak enak.


"Udah nggak apa-apa!' ujar Mang Kusni melanjutkan pekerjaannya.


Selang delapan menit, pekerjaan sudah selesai. Mang Kusni membawa semua anak ke rumah di mana ia beristirahat.


Sekarang pintu pagar mang Kusni selalu terkunci. Rupanya pihak sekolah merespon laporan keluarga Dougher Young untuk mengunci pintu itu.


"Yah dikunci!" keluh Azha melirik gembok yang menutup kunci pagar.


"Heh ... ayo masuk!" ajak mang Kusni.


Mereka masuk ke dalam rumah dengan kipas angin menyala. Semua anak duduk di dipan di mana Kusni selalu beristirahat.


"Mamang buatin makan ya," ujar pria itu.


"Jangan repot-repot mang!" tolak Salim.


"Nggak, nggak repot kok!" ujar pria itu.


Tak lama bau mie instan tercium hingga membuat perut empat bocah itu berbunyi.


"Hehehe ... Laper kan?" semua anak mengangguk sambil tersenyum dan mengelus perut mereka.


Semua menyantap hidangan yang disediakan. Tampak Harun begitu lahap memakan mie instan. Di rumah, mereka jarang memakan makanan itu, bahkan tak pernah.


"Kalau ketauan mommy pasti kita dimarahin!" ujar Salim lalu menghirup kuah mie langsung dari mangkuknya.


"Eh kok keknya enak?" ujar Arion lalu mengikuti cara Salim.


Bocah itu mengangkat mangkok dan menghirup kuahnya.


"Ini pake kerupuk!" ujar Mang Kusni memberi kerupuk bulat warna putih satu persatu.


"Makasih mang!" seru semua anak girang.


"Kalian kenapa sih selalu kabur dari pengawalan?" tanya Kusni setelah membereskan bekas makan mereka.


Pria itu duduk, waktu istirahat tinggal tiga puluh menit lagi. Pria itu membiarkan semua bocah duduk bahkan tidur di dipannya yang beralaskan kasur tipis. Pria itu memilih duduk di kursi rotannya.


"Kami suka berpetualang mang," jawab Harun lalu bersendawa.


"Kenapa nggak minta sama orang tua kalian?" tanya Kusni lagi.


"Mana ada tantangannya kalau ngomong mang?"


"Kalian memang kemana kalau mau kabur itu?" tanya Kusni lagi.


"Ke sekolah Kak Samudera mang!" jawab semua anak kompak.


"Kalian memang cakap nak," ujarnya lalu keluar rumah dan melanjutkan pekerjaannya.


Arraya dan Bariana juga Titis tampak menunggu semua saudara mereka.


"Mereka kok belum datang sih?" tanya Bariana.


"Kita susul yuk?" ajaknya kemudian.


"Iya sekalian bawa bekal makannya," ujar Titis mengangguk setuju.


"Tunggu Kak Gino sama Kak Radit dulu yuk!' ujar Arraya yang tiba-tiba gelisah.


"Tapi jam istirahat kita jadi mepet Ya!" seru Bariana kurang setuju.


Arraya menatap saudaranya itu. Bariana memberi kekuatan untuk Arraya. Lalu akhirnya Arraya mengangguk setuju.


Ketiga gadis cilik itu berjalan melalui koridor. Untung jam istirahat jadi suasana tampak ramai.


Namun ketika berbelok, suasana mendadak sepi. Ketiga gadis kecil itu langsung bergandengan tangan. Arraya paling peka pada semua energi yang ada.


"Assalamualaikum, jangan ganggu ... jangan ganggu!" gumamnya.


Akhirnya mereka sampai pada bangunan yang sedikit tak terawat itu. Arraya harus menjinjit untuk melihat apakah ada saudaranya di sana.


"Harun!" panggilnya.


"Azha, Arion, Salim!' seru Bariana juga memanggil.


Titis memegang handel pintu. Ia mencoba membukanya.


"Kekunci!' serunya.


"Keknya mereka nggak di sini deh!" ujar Bariana yakin.


"Terus mereka kemana" tanya Titis.


"Nggak mungkin mereka kabur kan?" lanjutnya cemas.


Bariana melihat lapangan sekolah. Ada mang Kusni tengah menyapu di sana.


"Kita tanya mamang yuk!' ajaknya.


ketiga gadis kecil itu pun mendatangi pria tukang bersih sekolah itu.


"Mang!" Kusni menoleh.


"Eh neng!" sahut pria itu tersenyum lebar.


"Mang liat Azha, Harun, Arion sama Salim nggak?" tanya Arraya langsung menatap pria tua kurus di depannya tajam.


"Oh, mereka ketiduran di tempat mamang neng! Tadi habis makan mie instan!" jawab Kusni.


Mereka pun pergi ke rumah, Harun dan lainnya sudah bangun.


"Dih enak banget kalian!" sengit Bariana sewot.


"Yey, makanya sekali-kali bandel!' ledek Harun.


"Eh ... Nggak boleh gitu!" tegur Kusni.


"Ayo Mamang anterin sampe kelas!" ajaknya.


Mereka memang harus berjalan melewati perpustakaan lagi. Jika lewat halaman, mereka harus melompati pagar tanaman yang lumayan tinggi.


Wush! Angin dingin mendadak bertiup. Semua anak termasuk Kusni menghentikan langkah mereka.


"Kush!" suara serak menggema di pojok-pojok bangunan.


"Mang!" semua anak berada di belakang pria itu.


"Udah jangan takut nak!' ujar pria itu lalu berdoa.


"Yuk bismillahirrahmanirrahim!" ajaknya.


Mereka berjalan, namun seperti ada dorongan besar hingga membuat mereka tak mampu menembusnya.


Wush! Angin kembali mengembus kencang. Kusni merentangkan tangan untuk melindungi tujuh anak yang berada di belakangnya.


"Mang!" teriak Titis yang tiba-tiba ditarik.


Arraya menangkap sahabatnya. Kusni langsung membalik badan memeluk mereka.


"Jangan ganggu, pergi!" teriak pria itu.


"Kush!" seru sosok tanpa rupa yang membuat semua bulu merinding.


Kusni membalik anak-anak agar ada di depannya. Ia melihat celah yang ada.


"Nak, jika mamang bilang lari. Kalian lari ya!" pinta pria itu.


"Satu ... Dua ... Tiga! Lari!" teriak pria itu menyuruh semua anak bergerak.


Titis, Salim, Azha, Harun, Bariana Arion dan Arraya berlari menjauh. Kusni ikut lari ...


Brug!


"Mang Kusni!' pekik semua anak.


Bersambung.


Eh ... Ada apa ... ada apa?


Next?