
Budiman masuk dalam sekolah. Ia sangat mengingat bagaimana dulu ia mengawal Darren di sana.
Bocah yang sangat pendiam dan genius. Darren tak banyak teman juga tak banyak ulah.
"Kenapa anak-anaknya malah jadi tukang ribut kek sekarang ya?" keluh pria itu.
Padahal Sky adalah putranya. Ia merasa semua anak adalah anak bersama.
"Tapi Sky, Benua dan Samudera adalah putraku. Dulu waktu sekolah aku tak seantusias mereka!" keluhnya.
"Ketua!" Budiman menoleh.
Dahlan juga sangat penasaran. Kenapa anak-anak suka sekali kabur dari pengawalan.
"Ketua, apa anda tengah bernostalgia di sini?" tanya Dahlan yang dijawab tatapan malas oleh Budiman.
"Bahkan ketika mengawal Tuan Sean dan lainnya. Mereka tak punya pikiran untuk kabur," ujar Dahlan.
"Mereka belum sebanyak sekarang Dahlan," sahut Budiman.
"Ah ... mereka makin pintar untuk mengelabui semua pengawal," sahut Dahlan lagi.
"Sepertinya tujuan mereka kabur dari pengawal hanya untuk mengerjai kita saja," lanjutnya mengeluh.
Bel istirahat berbunyi, semua anak berhamburan keluar kelas. Harun dan lainnya juga keluar dengan membawa kotak bekal mereka.
"Baba!" panggil Azha melihat Budiman.
"Baby," sahut Budiman.
"Kami makan selalu di sini Ba," ujar Harun lalu duduk di pinggir teras sekolah.
Budiman dan Dahlan ikut duduk. Dahlan menyuapi Salim. Bocah itu masih kesulitan memakan pakai sendok.
"Pake tangan aja ya? Nggak apa-apa?!" ujarnya tak enak hati karena sering disuapi.
"Udah makan aja. Abi nggak keberatan kok!" ujar Dahlan lalu menyorongkan sendok berisi makanan ke mulut Salim.
"Titis kok nggak makan?" tanya Bariana.
Titis menggeleng, ia hanya tersenyum. Arraya menyodorkan bekal makanannya.
"Nih buat kamu!"
"Nggak ah, masa ini buat aku sendiri tapi kamu nanti minta sama saudaramu yang lain," tolak Titis.
"Ya udah kalo gitu kita makan berdua aja!" ajak Arraya.
"Mau?" Titis lalu mengangguk.
"Kenapa nggak bawa bekal?" tanya Arion.
"Mama sakit udah dua hari. Jadi nggak ada yang masakin. Bapak pernah coba masakin buat makan, malah nggak bisa dimakan," jawab Titis.
"Sakit apa?" tanya Arraya.
"Kecapean sih keknya. Soalnya seminggu ini yang nyuci banyak banget," jawab Titis.
"Pernah sampe nolak rejeki dan minta pelanggan pergi ke laundry lainnya," ujar Titis.
"Jadi sekarang libur?" tanya Harun.
"Iya libur. Bapak beresin cucian sisa dua hari lalu," jawab Titis lagi.
Usai makan bekal mereka. Semua masih duduk-duduk sambil melihat teman-teman mereka bermain.
"Abinya Gino ... Abinya Gino!' tiba-tiba seorang anak keluar kelas.
"Eh iya?!" ujar Dahlan lalu berdiri.
"Gino mau dikeroyok!' adu anak itu yang membuat Dahlan gegas ke dalam kelas.
"Baby!"
Bruk! Satu anak jatuh akibat didorong oleh Gino. Bocah itu dikelilingi oleh empat bocah sepantaran.
"Hei!' tegur Dahlan.
Pria itu menahan pukulan anak yang hendak menyerang putranya. Bug! Tak ada rasa sama sekali.
"Kenapa, ada apa ini?!" tanya pria itu gusar.
"Gino tukang fitnah. Dia bilang kalo kita nyontek!" tunjuk salah satu anak.
"Aku melihatmu mengintip kolong meja. Guru yang memergokimu menyontek!" sahut Gino membela diri.
"Itu nggak! Buku itu bukan buku pelajaran yang dijadikan ulangan!" seru bocah itu.
"Sudah cukup!" sentak Dahlan membuat semua anak diam.
Dahlan cukup salut dengan nyali semua anak yang mengeroyok Gino. Mereka sepertinya nakal, tapi masih dalam batas wajar.
"Sekarang siapa yang bilang kalo Gino melaporkan kamu nyontek?" tanya Dahlan.
Budiman membiarkan anak buahnya mengatasi masalah kecil itu. Tak lama masalah Gino selesai.
Rupanya memang anak-anak itu ketahuan guru mencontek ketika ulangan.
"Mereka masih kelas dua tiga SD. Ibu keras amat mendidiknya!" protes Dahlan.
"Loh pak, sebenarnya saya memberikan ujian dadakan agar melihat bagaimana cara mereka belajar atau tidak di rumah. Memang jika pulang, anak-anak seusia mereka kebanyakan main dan memilih gadget dari pada buku pelajaran. Saya lakukan ini agar mereka lepas dari gadget!" sahut Bu guru membela diri.
"Jadi saya membiasakan mereka untuk belajar lagi di rumah agar bisa melewati ujian dadakan yang saya berikan. Dengan begitu pengaruh gadget akan berkurang!" jelas guru itu melanjutkan.
Dahlan akhirnya mengerti, ia juga melihat soal yang sangat mudah dikerjakan oleh para murid jika mereka belajar di rumah awalnya.
Tak lama bel akhir belajar pun berbunyi. Semua anak berhamburan keluar kelas. Harun dan lainnya tampak berjalan santai dan membiarkan seluruh teman-temannya keluar lebih dulu.
"Baba gendong!" pinta Arraya.
Budiman menggendong bocah cantik itu. Semua bergandengan tangan menuju mobil golf di sana.
Sementara di tempat lain. Dewa menjadi sosok paling ditakuti di kampus. Remaja yang sebentar lagi sembilan belas tahun itu, tingginya hanya 177cm dengan bobot 67kg.
Perawakannya memang lebih kecil dibanding Satrio dan Dimas, kakaknya.
"Eh ada monster lewat!" bisik-bisik para mahasiswa ketika Dewa melintas di depan mereka.
Remaja itu hanya diam. Ia memang setenang air, tak beriak sama sekali. Pupil hitamnya sangat tajam.
"Dewa!" panggil suara lemah.
Pendengaran Dewa sangat baik. Ia menoleh. Sosok gadis bertubuh kecil, berdiri di sana dengan tubuh gemetar.
"Ya, ada apa?" tanyanya.
Untuk pertama kalinya, Dewa berjalan sendiri. Karena seluruh saudaranya belum keluar kelas.
"Aku boleh minta tolong nggak?" pinta gadis itu takut-takut.
"Minta tolong apa?" tanya Dewa.
"Tolong lawan ayahku," jawab gadis itu dengan kepala menunduk dalam.
Dewa mengernyit, ia menatap tampilan teman kuliahnya itu. Baju yang dikenakan cukup usang.
Rambutnya kasar, tubuh kurus. Pakaian kaos entah warna apa karena sudah pudar dan luntur. Memakai bawahan rok selutut yang warnanya sama dengan atasannya yang pudar itu.
Universitas di mana Dewa dan lainnya menimba ilmu memang memberikan beasiswa pada murid-murid terpelajar dan memiliki kecerdasan. Dewa meyakini jika mahasiswi yang ada di depannya termasuk mahasiswi dengan beasiswa penuh.
"Lawan ayahmu?" gadis itu mengangguk.
Perlahan, ia melirik kanan dan kiri, seakan-akan takut akan sesuatu. Lalu ia menarik kaos lengan panjang dan memperlihatkan lengannya yang terlihat banyak memar.
"Aku dipukuli ayah dan nyaris diperkosa ...," adunya sangat lirih.
"Apa? kenapa tak lapor polisi. Mana ibumu?" cecar Dewa terkejut.
"Shhhhh! Pelankam suaramu!" pinta gadis itu memohon.
"Apa?" tanya Dewa lagi kali ini berbisik.
"Jika aku lapor. Nyawa ibuku terancam," jawab gadis itu sangat pelan.
Dewa menatap temannya itu. Ia sedikit ragu, kembali memandang gadis bernama Rana Senja.
Sudut bibir gadis itu tampak terluka, ada sedikit memar di sekitaran mata. Dewa tak melihat adanya kebohongan di sana.
"Tunjukkan aku di mana ayahmu itu!" ujar Dewa setuju.
Rana menatap Dewa. Remaja tampan itu mengangguk. Lalu keduanya berjalan keluar kampus. Sementara itu Tiana melihat jika salah satu tuan mudanya pergi.
"Eh Kak Abraham, itu tuan muda mau kemana?" tanyanya menunjuk Dewa yang berjalan.
"Biar aku ikuti!" ujar Abraham lalu gegas mengikuti jejak tuan mudanya.
Bersambung.
Wah ...
Next?