
Pernikahan adalah hal yang paling dibenci oleh setan. Maka iblis mengirim seribu bala tentaranya untuk merusak satu ikatan yang namanya pernikahan.
Tentara-tentara iblis itu akan melakukan segala cara agar manusia tidak terikat secara halal. Itu yang dialami Fio.
Pria itu tengah membereskan berkas-berkas calon istrinya. Dalam berkas itu ada sebuah amplop warna pink.
"Apa ini?" tanyanya dalam hati dengan kening berkerut.
Selama menjelang pernikahan. Pria itu dibebaskan mengawal Dewa. Ia mendapat cuti lepas.
"Surat cinta kah ini?" gumamnya lagi.
Fio menaruh berkas Jelita dan membuka isi amplop. Secarik kertas warna senada. Kertas itu wangi permen karet yang menyegarkan penciumannya.
"Assalamualaikum ..
Dear sepenggal hati yang tergetar.
Hai, apa kabarmu hati? Kenapa riuh detakmu seakan tak mau berhenti ketika menatap wajahnya?
Kenapa menambah desiran halus dan itu membuatku sangat sakit ...
Dear hati ...
Bermasalah kah kesehatanmu? Dia memilih gadis yang cocok untuknya. Lalu kenapa kau merasa sakit? Seperti teriris sembilu?
Dear hati ... Tenanglah ... Jangan buat aku masuk rumah sakit hanya gara-gara detakmu makin tak karuan karena memikirkannya ...
Rabb ... Hanya pada Rabb-ku aku menyerahkan getaran ini.
Kuguncang Arsy dengan menyebut namamu ... Wahai calon imamku.
Semoga Allah merestui itu ...
Aamiin ...
F For J
Fio terbakar cemburu. Pria itu langsung meremas kertas tak bersalah itu dengan muka memerah.
"Apa-apaan ini! Rupanya dia pernah naksir pria lain dan pernah berdoa agar menjadi imamnya!" lanjutnya kesal bukan main.
Fio bangkit dari duduknya, ia meninggalkan berkas begitu saja. Ia bukan pria yang tak memiliki prinsip. Fio bertanya langsung pada calon istrinya tentang surat yang ia temukan.
"Saya ingin bertemu dengan nona Jelita sekarang!" ujar Fio ketika berhadapan dengan Najwa.
"Eh ... Mana boleh! Dia sedang dipingit!" larang wanita itu tentu lebih galak dari Fio.
"Nini, tolonglah. Aku bisa mati penasaran jika masalah ini tak selesai!' ujar Fio mulai frustrasi.
"Kau tenangkan dulu dirimu nak!" ujar Najwa.
"Nini, tolonglah!" pinta Fio memelas.
Najwa menatap Fio seperti orang putus asa. Akhirnya ia memanggil sang gadis untuk bertemu dengan calon suaminya.
"Ada apa bang?" tanya Jelita menunduk dengan wajah merona.
Fio memandang gadisnya terpana. Jelita jadi semakin cantik dan mempesona.
Namun bayang-bayang jika ada pria lain yang disukai calon istrinya. Membuat pria itu jadi tak tenang.
"Katakan sebelum ini lebih lanjut lagi!" ujar Fio dengan nada tegas.
Jelita mendongak menatap pria yang tingginya 187kg itu. Sedang dirinya hanya 157cm.
"Apa kau pernah mencintai orang lain?" tanya Fio menatap mata jernih Jelita.
"Tidak!" jawab Jelita jujur.
"Jangan bohong!" sahut Fio tak percaya.
"Ayahku mengajariku kejujuran. Aku tak pernah bohong seumur hidupku!" sahut Jelita mulai tak suka tuduhan pria di depannya itu.
Fio tak menemukan kebohongan di mata gadisnya. Ia masih tak percaya.
"Aku ganti pertanyaannya. Apa selain ayah dan Papa, ada pria lain yang kau sukai?" tanya Fio kini.
Jelita diam, hanya ada tiga pria yang ia cintai di dunia ini. Salah satunya ....
"Ya, aku mencintai pria lain selain ayah dan papa!" jawab Jelita jujur.
Fio mengepal tangan erat hingga memutih. Ia benar-benar terbakar cemburu.
"Kalau begitu kita batalkan pernikahan ini!" ujar Fio datar.
"Apa maksudmu bang?" tanya Jelita tak suka.
"Aku begitu bodoh selama ini! Mengira kau menerimaku karena memang mencintaiku," geleng Fio lemah.
"Apa?" Jelita tak mengerti perkataan Fio.
"Menikahlah dengan pria itu Nona Jelita!" ujar Fio lalu menyerahkan kertas yang ia remas ke tangan sang gadis.
"Abang dapat dari mana?" tanyanya yang menghentikan langkah Fio.
"Kau bertanya aku dapat ini dari mana? Apa itu begitu penting hingga merasa aku lancang menemukan surat itu?!" hardik Fio.
"Maksud Abang apa sih?" Jelita tak mengerti bahasa pria di depannya.
Fio berbalik badan dengan mata merah. Ia benar-benar marah pada gadisnya.
"Kau mencintai pria lain, tapi malah menerima pinanganku! Apa kau anggap aku pelampiasan?" sentak Fio.
Najwa sudah pergi dan meninggalkan keduanya. Wanita itu membiarkan sepasang calon pengantin ini berbicara dari hati ke hati.
"Katakan ... berapa kali dia mencium mu? Di mana saja ...."
Plak! Satu tamparan keras mendarat di pipi Fio. Sangat keras hingga membuat kepala pria itu menoleh dan melukai bibirnya.
"Aku bukan wanita serendah itu!" tekan Jelita dengan nada bergetar.
"Tapi surat itu buktinya!"
Plak! Satu lagi tamparan yang sangat keras hingga membuat Fio terjajar. Pria itu tak menyangka jika Jelita sekuat itu.
"Kau menuduhku tanpa bertanya baik-baik!" Jelita mengangguk, ia merobek kertas wangi itu hingga jadi serpihan kecil.
"Kau tau buat siapa surat ini, Tuan Fio Davidson?" lanjutnya lalu melempar serpihan kertas itu ke wajah Fio.
"Namun sebelumnya aku ingat jika kau membatalkan pernikahan ini kan?" ujar Jelita lagi menatap tajam pria di depannya.
Fio hanya diam, ia memandang mata indah milik Jelita yang penuh kemarahan.
"Baiklah kita batal menikah!" angguknya setuju.
"Jadi benar tuduhanku bukan?" sahut Fio.
"Kau salah tuan. Surat ini memang untuk pria yang kucintai ...," Jelita menghentikan perkataannya.
"Dan pria itu adalah kamu!" lanjutnya.
"Jangan bohong Jelita!" sahut Fio tak suka.
"Aku bukan pembohong Tuan Davidson!" bentak Jelita marah.
"Sekali lagi! Aku bukan pembohong!" lanjutnya dengan air mata yang meleleh di pipi.
"Tapi F itu inisial ...."
"Apa inisialmu Tuan Davidson!?" bentak Jelita dan membuat Fio bungkam.
"F bukan?" lanjut Jelita.
Gadis itu menghapus kasar pipinya yang basah. Hatinya begitu terluka dituduh sedemikian rupa oleh pria yang ia perjuangkan di pertiga malamnya.
"Kau tau tuan. Ketika aku melihatmu pertama kali di rumah ini. Aku langsung meminta pada Rabb-ku agar menjadikanmu imamku. Bahkan ketika kau digadang-gadang dijodohkan dengan Nona Maisya, aku tetap berharap dan menggantungkan doaku di antara bintang-bintang," ujarnya lirih.
Jelita berlari dari tempat itu dan meninggalkan Fio seorang diri. Gadis itu pergi ke kamarnya dengan air mata yang membanjiri.
"Huuuuwaaaa ... Huuuuu ... Uuuuu!"
Jelita menjatuhkan dirinya di kasur empuk. Kamarnya yang bernuansa serba pink. Berbagai piala dan sertifikat menjadi penghias kamar layaknya tuan putri itu.
Jelita menangis tersedu, hatinya sakit bukan main dituduh sedemikian rupa oleh pria yang ia cintai sepenuh hati.
Sedeng Fio berdiri mematung. Hatinya yang langsung terbakar api cemburu tak melihat secara detil isi surat cinta itu.
"F for J ... Fio untuk Jelita ...," ujarnya lirih.
Fio bersimpuh di lantai yang dingin. Seribu penyesalan menyergap hatinya. Ia benar-benar menyesali kebodohannya.
"Bodoh ... Kau bodoh Fio!" sengit pria itu pada dirinya sendiri.
"Bagaimana ini ... Bagaimana jika Jelita sayangku benar-benar membatalkan pernikahan ini?!" tanyanya gusar.
"Sebaiknya aku segera bertemu ayah dan papa sebelum sayangku menemui mereka!" ujar Fio lalu cepat berdiri.
Pria itu mencari keberadaan Bart. Pria paling tua di rumah itu. Fio lebih memilih menemui Bart di banding memilih Herman.
"Pa ...," panggilnya pada sosok paling tua di sana.
Bart menatapnya , pria itu belum mengetahui apa yang terjadi.
"Pa ... Apapun yang Jelita sampaikan ... Pernikahan ini tetap terlaksana ya pa?" ujar Fio langsung.
"Eh ... kenapa?" tanya Bart.
Bersambung.
Eng ing eng
Next!