THE BIG FAMILIES

THE BIG FAMILIES
SAVE ROSA



"Cepat beri papa uang!" perintah pria itu sambil menadahkan tangannya.


"Aku menolak!" sahut Rosa melipat tangannya di dada.


"Kenapa? Itu saudaramu. Apa kau mau kakakmu dipenjara karena ulahnya menghamili anak orang? Apa kata orang-orang nanti?!" tanya pria itu dengan melotot.


"Itu anakmu bukan kakakku. Ingat kan dengan perkataanmu sendiri?" dedas Rosa mengingatkan pria yang ia panggil papa.


"Jangan jadi durhaka kamu sama orang tua! Sampai mati kau tak akan pernah bisa menikah! Karena aku tak akan mau jadi walimu!" teriak pria itu lagi.


"Kau pria berengsek!' maki Rosa.


Satu tangan hendak menamparnya. Tapi di sana ada banyak pengawal. Heru menahan tangan pria itu.


"Dia putriku! Kau tak perlu ikut campur!" bentak pria itu.


"Saya akan ikut campur jika anda ingin menyakiti rekan saya!" tekan Heru dengan tatapan menusuk.


"Cis ... tubuhmu laku juga sampai ada pria yang membelamu seperti ini!" hina pria pada anak perempuan yang mestinya ia lindungi.


Heru tentu emosi. Pria itu menarik kerah ayah dari Rosa dan mengangkatnya hingga kakinya menjinjit.


"Heeekkk ... tukhruhnkhan ... akhku!" jerit pria itu tercekik.


"Her ... tenang Her!' Lex, Ridwan dan Sonny menenangkan rekannya.


Heru melempar pria bertubuh gempal itu hingga jatuh ke lantai. Rosa hanya menatap ayahnya sinis.


Remario datang, ia melihat pandangan semua orang pada satu titik. Seorang pria yang berselonjor di lantai.


"Cis ... kau benar-benar anak durhaka Rosa. Kau tau ibumu pasti akan sedih melihatmu tak peduli dengan kakakmu!" sahut pria itu.


Satu-satunya manusia yang membuat Rosa pulang ke rumah adalah ibunya. Walau sang ibu memperlakukan sama buruk dengan ayahnya. Tetapi kasih sayang keluarga di mana tempat ia bekerja membuat Rosa mengubah prilakunya sendiri pada keluarga.


Pria itu pergi menaiki mobil sedan hasil jerih payah Rosa. Gadis itu mengepal tangan erat. Dadanya sesak menahan gemuruh.


"Ros?" panggil Lex prihatin.


"Aku tak apa-apa! Aku tidak apa-apa!" ujar Rosa tersenyum pahit.


Rosa kembali ke dalam mansion diikuti Remario. Setelah di dalam, gadis itu dikerumuni para bayi yang masih merangkak.


"Tinti lalipana?" tanya Ryo kesal.


"Tinti dari luar baby," jawab Rosa yang berwajah ceria.


'Cepat sekali perubahan wajahnya!' gumam Remario dalam hati.


Remario yang penasaran memilih memeriksa latar belakang Rosa melalu bravesmart ponselnya.


"Lahir tiga belas Maret dua puluh tahun yang lalu. Anak ketiga dari tiga bersaudara ... berarti dia bungsu,"


Pria itu memilih duduk di taman sambil mengamati para perusuh yang seperti berlomba menaklukan rintangan permainan yang ada di belakang mansion Bart.


"Nilai akademiknya juga lebih bagus dibanding dua kakaknya? Bahkan ia mendapat beasiswa di salah satu universitas ternama dengan jurusan komputer design?" decaknya kagum.


Remario membaca semua data gadis yang tiba-tiba menarik hatinya. Rosa yang cantik, kuat dan pintar. Terlebih ia sangat sayang pada semua perusuh.


"Dia bisa jadi istri yang baik," gumamnya tersenyum penuh arti.


"Tapi umurnya masih muda sekali. Ia pantas jadi putriku!" keluhnya tiba-tiba.


"Dad!"


"Astaghfirullah!" Remario terkejut.


Reno terkekeh, ia dari tadi melihat ayahnya memandangi seorang gadis. Bahkan pria itu tadi mengikutinya ketika sang gadis keluar mansion.


"Daddy liat spasa?" tanyanya pura-pura tak tau.


Remario menatap putranya. Ia sedikit ragu untuk mengatakan apa yang ia pikirkan.


"Tidak ada!" jawabnya langsung.


Reno berdecak, ia sangat paham jika sang ayah masih ingin menyimpan perasaannya. Namun, ia menghargai keinginan Remario yang masih belum mau terbuka.


"Aku hanya bilang. Aku pasti mendukung apapun keputusan Daddy!" ujar Reno meyakinkan ayahnya.


Remario menatap lagi putra satu-satunya itu. Semua bermain hingga tiba-tiba Rosa pamit pada ketuanya.


"Ketua saya ijin pulang. Ibu saya tiba-tiba drop!" ujarnya.


"Sebentar ya Babies. Tinti pasti kembali!" ujarnya.


Remario cemas, ia sangat yakin jika ada konspirasi aneh. Ayahnya baru datang dan memberi penekanan pada Rosa.


"Dad mau kemana?" tanya Reno melihat ayahnya berdiri.


"Menyusul calon ibumu!" jawab Remario asal.


Pria itu pun melesat menyusul Rosa. Reno sedikit takut, tapi bibirnya tersenyum.


"Oh ... astaga!" ujarnya menepuk kening pelan.


"Kemana ayahmu itu?" tanya Herman.


"Mau susul calon mommy ku!' jawab Reno dengan senyum lebar.


Rosa meminjam motor milik Saf. Motor besar itu benar-benar jadi tunggangan para pengawal.


Rosa sebenarnya sudah punya mobil. Sang ayah berhasil merampasnya dengan dalil untuk mobilitas antar jemput sang ibu ke rumah sakit.


Ibunya, Renata memang sedang stroke dan kemana-mana pakai kursi roda. Bahkan Rosa harus mengeluarkan uang untuk membayar perawat yang mengurus ibunya itu di rumah.


Motor bernama Jogger dan helm Shinchan melesat di jalan raya. Butuh waktu dua puluh menit ia sampai di sebuah rumah yang cukup mewah.


Sang ayah Doko Lukmanto, 49tahun menikah dengan Renata 45 tahun. Mereka memiliki tiga anak dan paling bungsu adalah Rosa Delia Lukmanto.


Dari kecil, Rosa selalu dibandingkan dengan dua kakaknya yang laki-laki. Doko menganggap Rosa tak memiliki kemampuan dan menolak semua prestasi anak gadisnya.


Hingga Rosa membuktikan dengan bekerja di SavedLived sebagai pengawal wanita. Gaji gadis itu dibayar pertahunnya.


Sang ayah merampas slip gaji anak gadisnya. Uang senilai dua ratus juta tentu membuat pria itu tak percaya.


"Kau harus menanggung biaya penyakit ibumu sebagai baktimu pada orang tua!" ujar pria itu.


Kartu debit Rosa ada di tangan ayahnya. Mobil dari bonus juga direbut dengan alasan untuk membawa sang ibu ke rumah sakit.


"Ma! Ma!" panggil gadis itu.


"Pelgi kau anak dulhaka!" teriak Renita dengan suara celat.


"Ma ...," panggil sang gadis lirih.


Prang! Satu guci kecil terlempar dan nyaris mengenai kepala Rosa.


"Untuk apa kamu datang?' sebuah suara yang begitu membencinya.


"Kak ...."


"Kau ingin mengolok-olok ku begitu?" tanya pria itu sinis.


Rendra Lukmanto, 27 tahun menatap benci sang adik.


"Aku sedang kesusahan, tapi kau malah tak mau membantuku?!" lanjutnya kesal.


"Dia datang pa!'


Doko muncul menatap sinis putrinya. Renata juga menatapnya penuh permusuhan.


"Apa salahku Mama ... pa? Apa?" tanya gadis itu berteriak.


"Kalau gara-gara aku yang lahir perempuan. Kenapa kalian tak menyalahi bibit kalian dan membuatku jadi perempuan!' lanjutnya marah.


"Kau itu sebenarnya anak selingkuhan!" sahut Denar Lukmanto 25 tahun.


"Kenapa aku yang disalahkan. Kenapa bukan yang berselingkuh saja!" teriak Rosa lagi.


"Jaga bicaramu Rosa. Aku bahkan tak tau kau anak siapa. Perempuan itu datang dan mengaku hamil dengan diriku!" sahut Doko penuh amarah.


"Lalu kenapa kalian tak membuangku bangsat!" maki Rosa kesal.


"Pelgi!" teriak Renata lalu kembali melempar vas bunga.


Prak! Vas itu tepat mendarat keras di kening Rosa. Darah pun seketika mengalir.


Bersambung.


wah?


next?