
Nai dan Arimbi memeriksakan kehamilannya. Dua wanita itu memilih Saf yang bidan untuk menangani kehamilan mereka.
"Usia kehamilan sudah memasuki dua puluh enam masuk ke dua puluh tujuh minggu. Yang artinya sudah enam bulan kehamilannya," ujar Saf.
Deg! Deg! Deg? Detak pacu jantung yang sangat kuat terdengar. Langit dan Reno senang mendengar bunyi jantung janin-janin dalam perut istri mereka.
"Apa bisa lihat jenis kelamin mereka Uma?" tanya Langit.
Saf menggeser alat di perut Nai. Dua janin tampak saling menendang satu dan lainnya. Nai sampai meringis akibat kelakuan dua janin itu.
"Mashaallah, dalam perut saja mereka sudah serusuh ini!" kekeh Saf.
"Tenang sayang," lanjutnya mengusap atas perut Nai.
Dua janin tampak tenang. Tapi posisi mereka miring dan merapatkan kakinya.
"Wah ... Nggak dikasih liat!" kekeh Saf.
'Udah nggak apa-apa. Mau laki-laki atau perempuan sama saja!' ujar Nai.
Wanita itu bangkit setelah Saf membersihkan gel khusus di perut Nai dan merapikan gamisnya.
Lalu berganti dengan Arimbi yang juga diperiksa janinnya.
"Alhamdulillah semua sehat dan insyaallah sempurna ya. Mereka semua rusuh sama seperti kakak-kakaknya," kekeh Saf lagi.
"Jaga baik-baik ya kandungannya. Jangan makan dan jajan sembarangan. Perhatikan gizi dan nutrisi janin kalian!" peringat Saf lalu memberikan resep pada dua ibu hamil itu.
"Uma pulang yuk, Langit pengen makan kwietau buatan Uma!" rengek Langit mengajak Saf pulang.
"Eh ... Kan udah lewat trimester pertamanya!" sengit Saf kesal.
"Uma ...," rengek Langit lagi.
"Kalo nggak aku aduin sama Babies nih!" lanjutnya mengancam.
"Astaghfirullah, bisa-bisanya kalian!" gerutu Saf.
Nai dan Arimbi tak membela Saf sama sekali. Mereka langsung menarik tangan wanita bertubuh bongsor itu. Saf akhirnya ikut pulang setelah yakin tak ada praktek lagi.
Sementara di tempat lain. Nando berada di balik jeruji besi. Seharian ia menunggu Reni istrinya. Tapi sepertinya perempuan itu tak menunjukkan batang hidungnya.
"Ren, sayang. Kamu di mana?" tanyanya parau.
Di kediaman Nando yang sebenarnya itu adalah rumah milik mendiang istrinya. Tampak Reni memasukkan semua bajunya dalam koper.
"Aku harus keluar dan pergi dari rumah ini!' gumamnya panik.
"Sebelum aku ditangkap!" lanjutnya.
Perempuan itu mengambil sertifikat rumah. Ia akan menggadaikan surat berharga itu.
Setelah mengambil beberapa perhiasan milik Anya yang ia tau disimpan dalam brangkas. Sungguh Reni benar-benar pelaku kejahatan yang sangat pintar.
Reni menatap foto pernikahannya dengan Nando. Sekilas peristiwa masuk dalam ingatannya.
Lima tahun lalu, Anya sedang berulang tahun ke dua puluh. Gadis itu sangat mandiri dan begitu pintar. Anya mampu memiliki rumah dan kendaraan pribadi hasil kerja kerasnya sendiri.
Semenjak remaja Anya meracik produk kecantikan dan ia jual sendiri. Setelah mendapat ijin juga lolos tes lab dan lain sebagainya.
Di usia sembilan belas, Anya mampu memproduksi skincare dengan brand sendiri. Jatuh bangun gadis itu berjuang selama tiga tahun. Anya berhasil meraup omset miliaran rupiah sebulan.
Reni adalah sepupu Anya. Gadis itu adalah anak dari paman Anya. Reni begitu iri dengan keberhasilan sang sepupu.
"Sayang!' Nando menoleh.
Nando adalah kekasih Reni. Nando adalah pemuda yang bekerja sebagai staf biasa.
"Aku akan menerima lamaranmu jika kau bisa buat Anya jatuh cinta padamu?!' ujar Reni.
"Jangan ngaco kamu beb. Aku hanya cinta kamu!" tolak Nando waktu itu.
"Ayo lah katanya kamu akan melakukan apapun agar aku percaya jika kamu cinta Ama aku!" ketus Reni kesal.
"Iya ... iya ... Tapi apa kamu nggak takut jika aku malah naksir Anya?" tanya Nando.
"Makanya aku ada di antara kalian agar kau tau maksudmu mendekati Anya!" ujar Reni menggebu-gebu.
Reni memaparkan rencananya. Nando melihat kekayaan gadis bernama Anya juga tergiur untuk memilikinya.
"Jadi aku tinggal menaklukkan hatinya. Maka semua akan jadi milik kita?" tanya Nando lagi.
"Benar ... Kita tidak usah capek-capek kerja! Dan kamu jadi pemimpin perusahaan tanpa harus bersaing dan mengeluarkan modal?" ujar Reni menggiurkan Nando.
Pria itu melakukan rencana kekasihnya. Tak butuh waktu lama. Anya yang polos dan lugu percaya jika Nando sangat mencintainya.
Setahun mereka pacaran, akhirnya menikah. Selama pernikahan, Nando bermain api di belakang istrinya.
Reni yang datang sebagai Mak comblang mengikuti kemanapun suami istri itu berada.
Hingga suatu malam di mana Nando berzina dengan Reni di kamar lain. Anya yang tak mendapat sang suami di sisinya terbangun dan mencari.
"Sayang?" panggilnya.
Anya berjalan hingga mencapai sebuah kamar di mana sang suami dan saudara sepupunya tengah merengguk kepuasan birahi.
Anya langsung mendobrak pintu. Sepasang pezina itu langsung terkejut.
"Aarrggh!" teriak Anya tak percaya.
Wanita itu tentu marah luar biasa. Reni hanya tersenyum sinis melihat betapa terpukulnya sang sepupu.
"Apa yang kalian lakukan!" teriak Anya.
Wanita itu berlari, Nando mengejar istrinya. Reni memutar mata malas. Ia pun bangkit dengan melilitkan selimut ke tubuh telanjangnya.
Sampai bawah pertengahan hebat antara suami istri. Rumah itu tanpa pembantu. Reni selalu berhasil membuat Anya mengerjakan semua pekerjaan rumah untuk menyenangkan sang suami.
"Ibadah seorang istri adalah menjaga rumah suaminya. Memang ini rumah kakak, tapi apa iya kakak mau jadi istri yang merendahkan suami?" ujarnya menasihati.
Anya memang baik hati, wanita itu terlalu polos hingga percaya dengan semua perkataan sepupunya itu.
"Pergi kalian dari rumahku!" usir Anya membuyarkan lamunan Reni.
"Anya!" Nando menampar pipi istrinya.
"Jangan merendahkan aku mentang-mentang kau pemilik rumah ini!"
"Tapi ini memang rumah ku!" teriak Anya.
Anya melempar semua benda ke arah Nando. Reni gegas mendekati Anya. Wanita itu mengambil pisau di dekat sana dan ....
Jleb! Anya melotot pada Reni. Tubuh wanita itu roboh dengan pisau menancap di dada.
"Jangan banyak berisik Anya ... Kau itu harusnya mati sejak lama. Aku membencimu!" ujar Reni menatap Anya penuh kebencian.
"A ... Apa salahku?" tanya Anya lirih diujung nafasnya.
"Karena kau terlalu disanjung keluarga!" ujar Reni menekan lebih dalam pisau di dada sepupunya itu.
Anya bergeming, wanita itu tewas dengan tusukan yang langsung di jantungnya. Nando berdiri mematung melihat kejadian itu.
Dengan santai Reni mengambil tangan Anya dan meletakkan genggaman tangan lemah itu di gagang pisau.
"Dengan begini kau akan dianggap mati bunuh diri. Aku sudah sebarkan gosip jika kau tengah mengalami Krisis keuangan di perusahaan. Kau stress dan memilih mengakhiri hidup karena tak kuat!" ujarnya menatap Anya yang telah tewas.
Reni mengelus foto pernikahannya dengan Nando. Ia tentu cuci tangan dengan semuanya. Wanita itu menggeret koper.
Ketika membuka pintu ia sangat terkejut melihat tiga polisi pria dan dua polisi wanita berada di depan pintunya.
"Nona Reni Farida, anda kami tangkap dugaan pembunuhan korban bernama Anya Liana!"
"Tidak!" teriak Reni.
Reni dibawa paksa oleh dua polisi wanita. Adan memeriksa rumah itu dengan seksama. Beberapa anak buah membantunya.
"Kami tak menemukan senjata yang benar-benar menusuk jantung korban komandan!" lapor salah satu petugas.
Adan menghela nafas panjang. Ia benar-benar buntu. Nando memang telah mengungkap kebenaran jika Anya mati dibunuh. Tapi alat untuk membunuh Anya tidak ditemukan.
"Jika begini akan sulit menyeret pelaku untuk diganjar hukuman berat," gumamnya.
Pria itu memindai seisi ruangan. Lalu matanya tertuju pada kumpulan pisau yang tersusun di tempatnya.
"Pratu Aldo, periksa benda-benda itu!" perintahnya.
Pria bernama Aldo Sembiring langsung mengerjakan perintah. Satu pisau panjang dengan noda aneh di ujungnya.
"Komandan?"
"Bawa itu ke lab!" perintahnya langsung.
Hanya dalam satu jam, Reni kini menjadi tersangka. Kesaksian Nando memberatkan wanita itu.
Bersambung.
Kebenaran itu pasti akan terungkap walau kecil kemungkinannya. Dan kebohongan pasti akan terbongkar walau semua mengakui kebohongan itu.
Next?