
Pagi menjelang, semua orang kembali ke hunian Bart. Anggraini tampak lesu. Wajahnya tak lagi ceria, ia hanya tersenyum jika bersama anak-anak.
"Ini tidak bisa dibiarkan!" gumam Bart.
"Anakku bisa mati jika begini!" lanjutnya.
"Memang Daddy bisa apa? Ayahnya masih hidup. Jika ditanya oleh penghulu, apa masih punya wali sah? Daddy jawab apa?" tanya Herman gusar.
Bart kesal, ia sudah tau jika Virgou membuang keluarga itu ke tengah lautan.
"Boy membuang mereka. Apa yang akan dilakukan Rainiku jika tau ayahnya dibuang?" ujar Bart sedih.
Herman diam, pria itu juga bingung. Mengajukan wali hakim jika wali sah tak menyetujui, maka Anggraini tak bisa menikah.
"Boleh doain orang cepet mati nggak sih?" gerutunya bertanya.
Bart menatap datar Herman. Andai itu dibolehkan, maka ia ingin meminta Tuhan untuk mencabut nyawa ayah dari putrinya.
"Kalau itu takut aku yang mati cepat," keluh Bart.
"Dad!" peringat Herman tak suka.
Bart berdecak, Anggraini tak membuka praktek hari ini. Arsyad ada di pangkuan gadis itu. Michael tak bisa berbuat apa-apa. Ia patah hati.
Anggraini menatap pria yang sedari tadi menatapnya. Dua netra saling beradu. Satu tetes bening jatuh di antara keduanya.
"Ata' sayan ... teunapa euntau benayis?" tanya Arsyad sedih.
Anggraini cepat memutuskan pandangannya pada Michael. Gadis itu tersenyum dan segera menghapus jejak basah di pipinya.
"Kakak kelilipan baby," jawabnya berbohong.
"Ata' janan bolon!" ujar Arsyad tak percaya.
"Kakak nggak bohong baby!' sanggah Anggraini.
"Syasyad pidat peulsaya!' sahut Arsyad melotot.
"Pa'a Papa pecel beunyatiti Ata'?" tanyanya menyelidik.
"Tidak ...."
Bayi itu pun mencari keberadaan Michael. Pria itu gelagapan. Batita itu pun turun dan mendatanginya.
"Papa!" Arsyad berkacak pinggang.
"Baby!" Michael geregetan melihatnya.
"Pa'a yan tawu latutan pama teutasyih batitu!?" tanyanya galak.
Michael tentu kesal karena Arsyad mengakui gadisnya menjadi kekasih bayi itu.
"Hai bayi ... kamu nantang aku?"
"Days!" seru Arsyad.
"Peulbu!" seru Arsh.
Para bayi merubungi Michael galak tawa terdengar. Pria itu ditindih setidaknya sepuluh bayi.
Anggraini tertawa melihatnya. Lalu bibirnya mengulas senyum. Hatinya mulai ikhlas dengan apa yang terjadi pada hidupnya.
"Allah Maha tahu apa yang terbaik untuk hamba-Nya. Maka sebaiknya aku mengembalikan semua masalahku pada-Nya," gumam sang gadis lirih.
"Babies! Ayo makan kwetiau goreng!" teriak Maria.
"Hole .... Matan!" teriak Sania senang.
"Yut matan!" ajak Fatih lalu menggandeng Sania.
Darren berdecak melihat putranya yang baru mau empat tahun itu sudah berani menggandeng gadis cantik.
Sania pun malu-malu ketika digandeng oleh kakaknya. Sri tersenyum melihat tingkah anak-anak.
"Malyam ... Boleh kakak menggandengmu?" tanya Arif adik Tiana nomor dua pada Maryam.
Maryam mengangguk antusias. Kini Saf yang mengigit gemas bahu suaminya.
"Sayang ... Sakit!" keluh Darren protes.
"Baby kita sayang!" rengeknya.
"Atuh Pama spasa?" tanya Aisya sedih karena tak ada yang menggandengnya.
"Sini sama Kak Gino!"
Gino menggandeng Maryam, balita itu menurut dan ikut kakaknya. Darren dan Saf langsung berpelukan sambil merengek kesal.
"Kalian kenapa sih?" dumal Terra kesal.
"Babies ma ... Pada gandengan!" rengek Darren.
"Loh yang digandeng kan saudara. Jadi kenapa?" tanya Terra polos.
Saf dan Darren menatap wanita yang paling dicintai di sana. Terra menggeleng dan meninggalkan keduanya begitu saja.
"Mas ... kenapa anak-anak kita genit pas kecil. Tapi udah gede malah polos?" tanya Saf geregetan.
"Kamu nanya?" tanya Darren ala-ala yang tengah viral.
Kean di sana asik makan kwietau satu piring dengan Sean. Pemuda itu tak mau cuci piring makanya ia numpang di piring suadaranya.
"Ambil sendiri sana!" Sean menjauhkan piringnya.
"Mama ... Sean pelit!" teriak Kean mengadu.
"Baby ... Ini banyak! Jangan ganggu saudaramu!" teriak Terra.
"Ah ... Mama nggak asik!" gerutu Kean.
Pemuda itu tak hilang akal, ia mengambil kertas nasi, baru ia ambil makanan.
"Baby ... Ada piring!"
"Males cucinya ma!" tolak Kean.
"Pake piring Den, nanti Bi Gina yang cuci piringnya!" ujar Gina lalu menyerahkan piring dan menuangkan makanan dari kertas nasi yang Kean pegang.
Virgou, Gomesh, Budiman dan Dahlan belum pulang. Empat pria itu masih asik menyiksa Burhan, Mita dan kedua orang tuanya.
"Ketua?" Dahlan mendatangi pria sejuta pesona itu yang tengah menatap layar besar.
"Buat seolah-olah ada ikan hiu menyerang mereka!" perintah Virgou.
Dahlan membungkuk hormat. Mereka ada di sebuah gedung dengan peralatan canggih.
tiga sampan yang dipisah dengan layar biru. Empat orang itu telah dicekoki obat halusinasi tinggi.
"Bikin film The Lost People keknya bagus nih!" gumam pria itu dengan seringai sadis.
Rupanya Virgou membuat satu bangunan berisi peralatan untuk pembuatan film.
Tiga sampan yang Burhan, Mita dan kedua orang tuanya tengah seakan-akan mengarungi samudera luas.
"Ciptakan hujan lebat!" teriaknya.
Burhan menatap langit yang tiba-tiba mendung. Awan hitam mengumpul cepat. Lalu kilat menyambar-nyambar.
Jelgar! Bunyi petir mengagetkan keempatnya. Dua orang tua saling berpelukan. Mita menangis dan memanggil dua anaknya yang masih kecil.
"Ketua, salah satu putri dari Mita jatuh sakit akibat ibunya tidak pulang semalaman!" lapor Deni.
Virgou berdecak kesal. Lalu di sana, sang pria tua tiba-tiba pingsan.
"Ketua!"
"Biarkan dulu!" potongnya cepat.
Hujan turun, Burhan segera menguras sampannya agar tak tenggelam. Sedang Mita membiarkan sampannya penuh dengan air begitu juga sang ibu yang histeris karena suaminya jatuh tak sadarkan diri.
"Ketua, suami dari Mita menghadap!' lapor salah satu pengawal.
"Kalian membawanya ke sini?" tanya Virgou kesal.
"Dia bawa dua bayi yang sakit," jawab pria itu menunduk.
"Anak sialan!" umpat Virgou kesal.
"Bawa Mita dan dua orang tuanya!" lanjutnya kemudian.
Di ruangan lain, Indro menenangkan dua anaknya yang rewel. Ia sebenarnya marah pada sang istri, tapi cintanya lebih besar dari kemarahannya terlebih dua anaknya memang sangat dekat dengan ibunya.
"Ini salah saya yang tidak mendidik istri saya dengan benar," gumamnya menyalahkan diri sendiri.
"Kenapa tak mau bawa anakmu ke rumah sakit?" sebuah tanya mengagetkan Indro.
"Mama ... Hiks ... Mama ...!!"
Virgou berdecak kesal. Mita keluar dengan pakaian basah. Ia langsung bersujud di kaki suaminya.
"Mas ... Maaf mas ... Maaf!"
"Mama!"
Dua anak yang masih kecil-kecil ikutan menangis. Indro tentu langsung merengkuh bahu istrinya dan meletakkan dua bayinya di lantai.
"Kita pulang," ajak sang suami.
Mita mengangguk, lalu ia ingat jika ada ayah dan ibunya.
"Mama sama papa masih di laut Pa!"
"Biar mereka. Aku yang urus!" tukas Virgou yang membuat Mita dan suaminya takut.
Mereka menggendong anak mereka masing-masing, lalu pulang bersama.
Sedang ayah dari Burhan di bawa ke rumah sakit milik Daud. Sang istri menangis tersedu-sedu.
"Pa ... Jangan tinggalin mama pa. Mama ikut kalau papa pergi!" isaknya.
Bersambung.
Sukurin ... Othor belum puas nyiksa Burhan!
Next?