THE BIG FAMILIES

THE BIG FAMILIES
KESEMPATAN YANG HILANG



Hardi dan Debie menatap hunian cukup besar bercat putih gading.


Di halaman rumah itu terdapat taman bunga warna-warni. Sri mantan menantunya memang sangat piawai mengolah tanaman.


"Tangan Sri memang dingin ya Ma," ujar sang suami menatap halaman rumah mantan menantunya.


Sepasang suami istri itu duduk di mobil mereka. Keduanya memang sangat menyesali perbuatan mereka.


"Kita kenapa dulu malah meminta Pram menceraikannya?" tanya Hardi masih setia menatap bangunan itu.


"Aku tak tau," jawab Debie.


"Dari pertama Pram membawanya dan memperkenalkannya sebagai kekasihnya. Aku memang tak begitu menyukainya," jawab Debie.


"Tapi aku tak pernah melarang Pram memilih Sri jadi istrinya," lanjutnya.


"Apa karena namanya Sri?" tanya Hardi.


"Nama yang terkesan kampungan?" lanjutnya seperti bingung.


"Aku tak tau, mungkin juga karena pendidikan Sri?" sahut Debie.


"Kita terpikat Sinta karena lulusan dari universitas ternama," lanjutnya menghela nafas panjang.


"Kita banyak salah. Apa perlu kita minta maaf?" tanya Hardi.


"Aku dengar atasan tempat ia bekerja memberangkatkan mereka haji. Empat cucu kita sudah haji lebih dulu dibanding kita Pa," sahut Debie lagi.


"Kita turun yuk," ajak sang suami.


Debie mengangguk setuju. Hardi memajukan kendaraannya. Berhenti tepat di samping pagar tinggi. Mereka masuk membuka pagar yang memang tak dikunci.


Sepasang manusia itu berada tepat di depan pintu. Hardi mengetuk pintu dan memberi salam.


"Assalamualaikum!"


"Wa'alaikumusalam, siapa ya?!" sahut suara dari dalam rumah.


Pintu terbuka, tiga pasang mata saling tatap. Ketiga manusia itu terdiam.


"Bu ... Spasa ipu?" Ustman paling kecil, bayi itu baru dua tahun.


"Ah ... tamu nak," jawab sang ibu.


"Mari masuk ... Pak, Bu!" ajak Sri mempersilahkan mantan mertuanya masuk.


Hardi dan Debie masuk ke dalam, Sri mempersilahkan dua orang itu duduk. Ustman ikut duduk dan memandangi keduanya dengan kening berkerut.


"Sayang, main sama Kak Sania dan Kak Arif sana!" suruh Sri pada anak bungsunya itu.


"Wiya Bu," sahut Ustman menurut.


Bayi itu pun pergi meninggalkan kakek neneknya. Ustman tak mengenali keduanya, karena memang ia lahir tak diakui oleh keluarga.


Sinta berhasil menghasut semua orang juga Ustman bukan darah daging dari Pram. Padahal Ustman sangat mirip ayahnya.


"Tunggu ya ... Pak, Bu, saya ambilkan minum!" ujar Sri lalu ke dapur.


Hardi menatap istrinya. Di sana genangan air mata hendak tumpah. Dulu ia paling vokal menuduh Sri selingkuh dan pernah meminta menggugurkan kandungannya.


"Kita benar-benar banyak salah Bu," ujarnya lirih.


Debie tak dapat berkata apa-apa, wanita itu juga tak membela Sri ketika ditindas dulu.


"Silahkan Pak, Bu," ujar Sri lalu memberikan dua cangkir teh pada mantan mertuanya.


Hardi tak ragu menghirup air kecoklatan itu. Rasa teh yang dihidangkan Sri masih sama seperti yang dulu ketika jadi menantunya.


"Ahhh ... Segarnya!" Debie mengangguk setuju.


Tangan Sri yang dingin dapat mengolah apapun. Makanan yang ia masak selalu cocok di lidah mereka. Kue-kue buatannya juga jadi rebutan teman-teman arisan Debie.


Ketiganya hening seketika. Baik Debie dan Hardi bingung ingin mengatakan apa.


"Bu ...!" rengek Sania.


Bayi berusia tiga tahun datang sambil mencebik. Air matanya meleleh. Tapi ketika melihat dua orang yang tak dikenalinya membuat ia diam.


Sania memang lupa pada nenek dan kakeknya. Terlebih ia baru satu tahun ketika ayah dan ibunya bercerai.


"Pu .. Meleta spasa?" tanyanya ketika sudah dekat pada ibunya.


"Tamu nak," jawab Sri lirih.


"Sri ...," peringat Hardi.


"Sania sama kakak Arif ya," suruh Sri pada putrinya.


Sania mengangguk, Arif datang. Bayi empat tahun itu memang tengah menggoda adiknya. Melihat kedatangan kakek dan neneknya membuat ia langsung waspada.


"Ibu ... Kenapa bialkan meleka masuk?" tanyanya gusar.


"Nak, ajak kakakmu ya!" pinta Sri tegas.


Arif memang lebih bisa bicara dibanding kakak dan adiknya. Arif membawa kakaknya ke dalam, ia menurut apa perkataan ibunya.


"Apa mau bapak dan ibu?" tanya Sri pada akhirnya.


"Nak ... Kami ke sini hanya ingin minta maaf ...."


"Saya sudah maafkan bapak dan ibu!" potong Sri.


"Alhamdulillah, kalau begitu apa kita bisa ...."


"Tidak!" potong Sri langsung.


"Nak!"


"Pak ... Bu, tolong hargai keputusan kami!" pinta Sri memohon.


"Kami sudah bahagia sekarang tanpa kalian. Kami sedang mengobati luka akibat perbuatan kalian!" lanjutnya menahan isak.


Tiana sedang bekerja, ia hanya mengambil libur satu hari. Padahal Herman membebaskan gadis itu. Tapi memang Tiana tak mau melewatkan momen bersama keturunan atasannya.


"Kami tau kami banyak salah. Tapi kami mohon beri kami kesempatan untuk memperbaiki semuanya!" pinta Hardi setengah memaksa.


"Maaf Pak, Bu!" sentak Sri.


Dua manusia itu kaget mendengar suara keras Sri. Untuk pertama kalinya Sri berbicara keras pada keduanya.


"Nak,"


"Pak Bu, maaf. Kami semua memaafkan kalian. Tapi tolong jangan kembali lagi pada kami. Sudah cukup Pak, Bu!" pinta Sri memohon.


Hardi dan Debie diminta pergi oleh Sri. Lagi-lagi satu tabiat yang baru mereka ketahui.


"Aku tak menyangka kau begitu kasar pada kami. Mentang-mentang ...."


"Cukup Bu ... cukup!" bentak Sri.


"Apa kalian tak mengingat perilaku kalian pada kami?" lanjutnya menatap nanar pada mantan ibu mertuanya itu.


"Ibu lah yang bersuara paling keras menuduh saya selingkuh dan mengatakan Ustman adalah anak haram!" lanjutnya terpekik tertahan.


"Waktu itu kami terkena hasutan ... Kami benar-benar buta ...."


"Pergi!" usir Sri memotong perkataan Debie.


"Jangan sombong kamu! Baru saja naik haji ...."


"Pergi kata saya!" bentak Sri marah.


"Kalian keterlaluan sama saya dulu! Saya tak akan membiarkan kalian menginjak-injak lagi harga diri saya!" lanjutnya dengan mata besar.


"Nak kamu sudah haji ... Apa tidak ada ...."


"Saya bilang, saya memaafkan kalian. tapi mohon maaf ...."


"Tidak untuk kembali jadi keluarga kalian. Tolong, biarkan kami bahagia!" lanjutnya meminta.


Tampak jelas luka di pandangan Sri. Hardi dan Debie merasakan kesakitan wanita itu. Debie masih ingin bersikeras. Tapi Hardi menariknya ke mobil.


"Pa, biarkan Mama bicara sama Sri!" teriak Debie.


"Sudah ma ... sudah!" teriak Hardi pada istrinya.


"Dia sudah tidak lagi memanggil kita Mama dan papa!" lanjutnya lirih.


Debie menangis tersedu, kesalahan besar telah menutup kesempatan untuk mereka. Semua hanya karena keegoisan semata dan memandang rendah seseorang karena namanya.


"Kita tak memiliki kesempatan kedua lagi Ma," ujar Hardi ikut menangis.


Sedang di dalam rumah, Sri terduduk di lantai. Ia menekan dadanya yang sesak. Rembesan air mata mengalir deras membasahi pipinya. Arif, Sania dan Ustman datang lalu memeluk ibu mereka.


"Bu ... Janan nayis Bu," ujar Sania lirih.


"Biya Pu ... Anan ayis!" sahut Ustman.


Keempat manusia beda usia itu pun berpelukan dan menangis bersama.


Bersambung.


Ketika tak ada lagi kesempatan. Sebenarnya manusia itu hanya diberi dua pilihan dalam hidup mereka.


bertahan atau melupakan.


Next?