THE BIG FAMILIES

THE BIG FAMILIES
KERIBUTAN 2



Salim berlari ke dalam rumahnya. Bariana mengikuti bocah yang sepertinya seusianya itu.


"Baby!" peringat Maria.


Gomesh dan Maria mengikuti putrinya ke dalam rumah yang cukup besar. Mereka masuk ke dalam.


Di sana ia melihat Salim tengah memukul gembok yang mengunci pintu.


Tang! Tang! Tang! Bunyi besi dipukuli kayu. Pukulan Salim tentu lemah.


'Nak, biar Om yang buka,' tawar Gomesh.


Tang! Hanya sekali pukul gembok itu terlepas dari pintu. Pria raksasa itu membukanya. Salim langsung berlari masuk.


"Ibu!" pekiknya.


"Nak ...,"


Maria dan Gomesh membelalak. Di sana seorang perempuan kurus dipasung. Wanita itu terlihat lemah, bau pesing menyeruak.


"Mom, bau!" keluh Bariana urung masuk.


Gomesh memanggil beberapa pengawal wanita. Tak lama ibu dari Salim itu pun dibebaskan dari pasung yang mengikatnya.


"Kita bawa ke rumah sakit ya Bu!' ajak Gomesh.


Perempuan itu menggeleng, air matanya luruh melihat putra tunggalnya. Tubuhnya sudah tak kuat lagi menahan sakit.


"Nak ... Maafkan ibu ya ... Maafkan ibu," ujarnya lirih.


"Bu ... Ibu ... Hiks!"


Salim memeluk ibunya. Maria berpaling ia memeluk putrinya yang juga ikutan sedih.


"Mom, ibunya Salim kenapa?" tanya Bariana lirih.


"Kita keluar ya Nak," ajak Maria.


"Kasihan Salim Mom," ujar Bariana iba.


Tak selang berapa lama, terdengar teriakan Salim memanggil ibunya. Beberapa petugas kepolisian datang hendak menggelar acara.


"Ibu dari anak ini baru saja meninggal dunia Pak!" ujar Gomesh memberitahu.


"Kasus terhenti karena ayah dari anak ini juga hilang. Kami tidak bisa melanjutkan kasusnya," lapor polisi.


"Baik Pak, tidak apa-apa!" ujar Gomesh tak masalah.


Tak ada yang mengatakan keberadaan Parjo sekarang. Pria itu jadi bulan-bulanan di markas BlackAngel, berikut beberapa anak buahnya.


"Ck ... Ketua ... Kenapa kau memberi kami keroco lagi?" keluh Leo mengelap tangannya yang berlumuran darah.


Sementara itu, Gomesh mengajak Salim ikut bersamanya.


"Mau ngurus jenazah ibu om," ujar bocah itu sambil mengusap kasar air matanya.


Beberapa wanita berdatangan. Para tetangga mengaku tak berani dengan ayah dari Salim karena diancam akan disakiti.


"Anak buahnya banyak Pak. Sedang kami di sini banyak janda yang ditinggal suami menikah lagi. Beberapa pria di sini juga lanjut usia," jelas salah satu warga.


"Nyonya pulang lah. Ketua menyuruh nyonya dan nona untuk pulang," ujar Sukma.


Maria mengangguk, Bariana tadinya menolak ikut. Tapi tatapan ayahnya membuat ia urung tinggal.


Kendaraan pergi mengantar Maria dan Bariana pulang. Gomesh dan beberapa pengawal membantu sebisanya.


Gomesh berkali-kali mengusap air matanya. Ia melihat bagaimana Salim memandikan tubuh ibunya yang dibalut dengan kain.


"Bapak tidak boleh di sini!" larang beberapa warga.


Gomesh duduk di sofa. Michael dan Santoso juga beberapa pria berpakaian hitam masih berjaga-jaga di sana.


"Bu, selamat tinggal Bu ... hiks ... Salim sayang ibu ... huuuu ... Uuuuu!" isak anak itu lalu menciumi wajah dingin ibunya terakhir kali sebelum dikafani.


"Apa Salim punya paman dan bibi?" tanya Gomesh pada ketua RT.


"Selama saya tinggal di sini. Salim selalu berada di sini bersama ayah dan ibu juga preman-preman anak buah Parjo," jawab pria paruh baya itu.


Gomesh mengangguk, ia mengeluarkan bravesmart ponselnya. Ia benar-benar mendata apa benar Salim tak punya saudara sama sekali.


Setelah mendapatkan data yang ia inginkan. Jenazah wanita malang itu sudah dikafani.


Beberapa ibu mengangkatnya ke keranda. Beberapa pria mengangkat keranda itu.


"ketua mau kemana?" tanya Michael ketika melihat Gomesh berdiri.


"Ikut anak itu!" jawab Gomesh.


"Ketua tidak boleh," larang Michael.


"Kenapa?"


"Tidak ada larangan untuk itu pak!' sahut salah satu tetangga Salim.


"Hanya saja kami kekurangan orang mengangkat keranda," lanjutnya.


"Tapi kami beda agama Pak!" Michael sedikit menyesal mengatakan itu.


"Mashaallah ... Eh ... dari mana mereka?" tanya beberapa orang bingung.


Sepuluh pria berpakaian serba putih dan bersorban datang entah dari mana. Mereka ikut mengotong keranda yang sepertinya kesulitan diangkat karena kekurangan orang.


"Ibu ... Ibu ... Ibu!" teriak Salim tergugu.


"Nak ... Ikhlas nak ... Ikhlas!" ujar para ibu menenangkan anak itu.


Sampai di makam, Salim tak sadarkan diri. Perutnya yang kosong dan teriknya panas membuat kondisinya lemah.


"Biar saya yang membawanya!" ujar Gomesh mengambil anak itu.


"Nggak om ... Mau liat ibu sampai liang lahat," tolak Salim lemah.


"Nak ... kamu sudah pucat nak," ujar Gomesh.


"Mau liat ibu ... Mau adzani ibu. .. Huuuu ... Hiks ... Hiks!" ujar Salim menangis.


"Jenazah sudah di liang lahat. Siapa yang mengadzaninya?" tanya pria bersorban putih.


Salim melangkah dengan lemas. Bocah itu mengangkat tangan ke telinganya.


"Allahuakbar Allahuakbar ...."


Berkumandang lah adzan yang merdu dari mulut kecil Salim. Diiringi tetesan air mata, semua menunduk dalam kepiluan mendengar adzan yang mengiris hati.


"Pak, boleh saya syahadat!' pinta Michael menangis.


Hatinya merasa terpanggil, satu cahaya putih seakan masuk dalam relung hatinya yang gelap.


"Nak, pikirkan lagi ya," ujar pak RT memberi pengertian.


"Pak ... hati saya terasa sejuk mendengar adzan itu," ujar Michael terisak.


"Nak, jika selama tiga hari kau merasakan hal sama ketika mendengar adzan. Kau boleh ke rumah bapak ya. Bapak siap membaiat kamu masuk Islam secara sah!" ujar pria itu lagi.


Michael memeluk ketua RT yang tampak sudah sepuh itu. Gomesh menatap pengawal itu dengan mata sendu.


Hati pria raksasa itu bergolak setengah mati. Perlahan ia menggeleng pelan.


"Mungkin hidayah itu belum datang padaku" gumamnya lirih.


Sepulang memakamkan ibu Salim. Apa yang ditakutkan Gomesh benar terjadi.


"Mana kakak saya!" teriak seorang wanita histeris.


"Maaf anda siapa ya?" tanya beberapa warga yang tak mengenali orang itu.


"Saya adalah adik kandung Sayuni!' wanita itu menangis tapi bisa menjawab.


"Siapa?" tanya ketua RT mulai curiga.


"Panggil saja polisi, apa benar dia adalah keluarga Salim!" sahut beberapa warga.


"Saya adiknya!" teriak wanita itu tentu agak panik.


Salim yang sudah lemah kembali tak sadarkan diri. Wanita tadi dibawa ke rumah pak RT. Gomesh membawa Salim ke rumah sakit.


Di sana Nai menangani bocah malang itu. Wanita hamil itu mengusap peluh yang membanjiri kening Salim.


"Kamu kuat Nak, kamu bisa melewatinya," ujarnya menenangkan Salim.


'Andai ada kak Iya,' keluh Nai sedih.


"Salim berada di fase kritis. Asam lambungnya naik dan membuat lambungnya sedikit terluka," jelas Nai.


"Salim juga memiliki trauma kekerasan yang mungkin dilakukan oleh ayahnya," jelas Nai lagi.


Di Mekah, Virgou mendapat laporan tentang apa yang terjadi di tanah air. Ia langsung meminta Leo menahan keinginannya membunuh Parjo.


"Aku sedang berhaji. Jika bisa membimbingnya di jalan yang lurus," pinta pria itu.


"Baik ketua!" ujar Leo.


Leo menatap Parjo yang sudah terkapar tak berdaya. Pria itu memang bejat dari awalnya.


"Kau menyusahkan saja!" keluh Leo.


Bersambung.


ah ..


next?