
Hari Sabtu semua pemuda tengah bersantai. Anak-anak pelajar masih belum pulang sekolah maupun kuliah.
"Sean ... Jemput Babies di TK yuk!' ajak Kean.
"Yuk, udah lama aku nggak antar jemput Babies!" angguk Sean.
"Ma, pergi jemput Babies ya!" pamit Kean pada Terra.
'Ja ...."
"Iya sayang, hati-hati!' seru Rahma lalu melirik sebal pada Terra.
"Makasih Umi!" sahut Kean tersenyum.
Pemuda itu tau jika Terra akan melarang mereka. Padahal sudah ada pengawal yang menunggu di sekolah adik-adiknya.
Terra cemberut, ia masih terlalu posesif pada semua anak. Rahma menghela nafas panjang.
"Jika Nyonya terlalu mengekang anak-anak. Kapan mereka belajar mandiri. Kita tak selamanya kuat Nyonya," peringat Rahma panjang lebar.
Terra hanya manyun, memang usia mereka merambat tua. Ia menatap Kanya yang tengah bercengkrama dengan yang lain.
Tampak rambut yang memutih memenuhi kepala Kanya. Terra sedih bukan main.
'Umi," panggilnya pada Rahma.
Terra adalah wanita paling muda di sana. Rahma melihat arah pandangan Terra. Wanita itu memeluk atasan dari suaminya itu.
"Nyonya, suatu hari nanti. Giliran kita yang seperti Nyonya Kanya," ujarnya lalu mengelus kepala Terra yang terbungkus hijab.
"Umi," rengek Terra manja.
Terra menyandarkan kepalanya di bahu Rahma. Wanita istri dari Dahlan itu sudah sama seperti Khasya.
Rahma yang lembut dan sangat bijaksana. Kesenduan itu hanya terjadi beberapa saat ....
"Baby Meghan ... turun ya. Sini sama Momud!" bujuk Rosa pada Meghan
Bayi usia mau lima tahun itu sudah ada di dahan pohon cerry. Mereka ada di mansion Dominic. Banyak pohon-pohon besar di halaman belakang rumah pria itu.
"Adhan nayit Momud!' seru bayi itu lalu menaikkan kakinya.
Rosa sangat cemas, ia juga ikut naik secara perlahan agar tidak mengejutkan bayi tampan itu.
"Umi ... Anak umi tuh!" sengit Terra mencibir.
"Dia anakmu Nyonya!" sengit Rahma kesal.
Terra terkekeh, ia membiarkan Rosa mengurus salah satu anak yang hiperaktif itu.
"Te bayangin kalau semua anak tiba-tiba naik pohon!" kekehnya.
"Paling yang nangis kamu!" sengit Rahma yang membuat Terra langsung merengek.
"Babies!" teriak Dian dan Sukma bersaman.
"Oya sesal sisat Tinti!" pekik Zora.
Lalu para pengawal dibuat sibuk karena semua bayi ada di atas pohon.
"Babies ... Turun!" teriak Terra.
Wanita itu langsung panik karena anak dan cucunya seakan berlomba menaiki batang pohon besar itu.
"Nah ... Tuh, ucapan adalah doa!" sengit Rahma kesal.
Terra menangis, ia menyesal berkata yang tidak-tidak. Sementara Kean sudah sampai di sekolah Della dan semua saudaranya.
"Papa, Tinti!" sapa Kean pada Adri, Dewo, Astia dan Rini.
"Tuan!" ujar empat pengawal membungkuk hormat.
"Kalian pulang aja deh, biar kita yang nunggu. Nanti kita bawa mereka mau jemput kakaknya!" suruh Sean.
"Maaf Tuan. Kami dilarang meninggalkan semuanya apapun yang terjadi!" tolak Dewo.
"Ih ... Papa! Kan ada kami!" sengit Kean kesal.
"Maaf tuan, ketua sudah memberi perintah!" tolak Dewo lagi.
Kean kesal, ia tentu sudah punya rencana bersama para adiknya. Sean sudah diberitahu soal itu.
"Ya udah, tapi kami bolehkan bawa mereka jemput kakak-kakaknya?!" ujar Sean.
Keempatnya saling pandang. Walau sedikit ragu, tapi Kean dan Sean meyakinkan para pengawal.
"Biar mereka sedikit jalan-jalan Pa,"
Akhirnya mereka mengangguk setuju. Kean senang, Sean menenangkan saudaranya paling tua itu.
"Sabar Bro ... Jangan keliatan banget!" ujarnya dengan bahasa isyarat.
"Eh ada kue ape tuh. Beli yuk!" tunjuk Kean pada penjual jajanan.
"Ayuk, aku yang coklat ya!" ujar Sean.
"Yey ... Lu bayar ndiri!" sengit Kean.
"Bilangin Daddy nih!' ancam Sean.
"Idih ... Tukang ngadu!" sengit Kean lagi kesal.
"Biarin!" sahut Sean tak peduli.
"Lagian jangan pelit-pelit! Ntar kuburan lu sempit!" lanjutnya mengingatkan.
"Dih ... Lu nyumpahin guwe cepet mati!' seru Kean.
"Tuan muda!" sentak Dewo membuat dua pemuda itu terdiam.
"Kenapa kalian malah ribut perkara beli makanan?!" tanya pria itu menatap gusar pada dua pemuda yang tak pernah lepas dari kepolosan.
"Kean nih pa!" rajuk Sean sambil manyun.
"Ya kan ...."
"Udah diem!" potong Dewo kesal.
"Ini yang coklat buat Tuan Sean dan yang pandan buat Tuan Kean!" ujar Dewo memberikan dua kue ape.
"Makasih Papa!" seru dua pemuda dengan seringai jahilnya.
Sean dan Kean saling hi-five. Dewo terbengong melihatnya. Dua pemuda melangkah masuk ke sekolah sambil memakan kue yang dibelikan Dewo.
"Ketua," Adri menenangkan ketua pengawal para bayi teka itu.
"Hmmm ... Mereka memang begitu dari kecil," keluh Dewo.
Dewo adalah pasukan pengawal ketika Arraya dan Arion lahir. Kelakuan usil para anak hingga remaja sudah jadi makanan para pengawal.
"Dan herannya, kami selalu tertipu," lanjutnya terkekeh.
"Padahal tinggal minta saja, pasti kita beliin ya ketua!' sahut Astia yang diangguki Rini.
"Ya itu lah mereka," keluh Dewo.
"Tuan Kean tampan ya Rin," bisik Astia.
"Jaga bicaramu As, nanti disemprot sama ketua utama baru tau kamu!" peringat Rini berbisik.
Astia pun diam, ia dan Rini baru masuk pengawal satu tahun. Ia masuk berbarengan dengan Alma yang kemarin dipindahkan.
Tak terasa bel pulang tanda usai belajar berbunyi. Semua anak berhamburan keluar sambil berdendang.
"Mali pulang ... malilah pulang ... Malilah pulang belsama-sama!"
"Kakak!" seru Della ketika melihat Sean dan Kean.
"Babies!" ujar Sean tersenyum.
"Kakak jemput kami?" tanya Lilo dengan pandangan berbinar.
'Iya baby, kita jemput Kak Harun juga yuk, mau kan?' ajak Sean.
"Mau!" jawab anak-anak balita kompak.
"Sambil nyanyi ya!" ujar Kean lalu menggandeng, Lilo dan Seno.
Della dan Aminah juga Ari digandeng Sean.
"Della nggak usah digandeng deh," ujar Della.
Aminah dan Ari yang kini ada di gandengan Sean. Mereka bernyanyi sepanjang perjalanan ke sekolah Harun.
Lima belas menit mereka sampai. Semua anak turun berikut kakak mereka. Di sana ada Ken, Theo, Santos, Dila dan Ria.
"Ketua!" sambut Ken pada Dewo.
Pria itu mengangguk lalu membungkuk hormat pada Theo. Theo pangkatnya lebih tinggi di banding Dewo.
"Tuan muda ke sini buat apa?" tanya Theo.
"Mau jemput Babies lainnya ketua," jawab Dewo.
Sementara itu Kean menatap Ditya yang baru saja keluar kelas. Rupanya bocah dua belas tahun itu sudah selesai belajar lebih cepat dari biasanya.
"Baby udah selesai?" tanya Kean yang dijawab anggukan oleh Ditya.
Tak lama Radit, Sky, Bomesh dan Arfhan keluar. Rupanya mereka juga belajar cepat hingga bisa pulang awal.
"Tinggal baby Gino, Baby Harun, Baby Azha, Baby Bariana, baby Ayi, baby Aya dan baby Salim yang belum keluar nih!" ujar Sean.
Tak lama ia berucap, yang disebut tadi pun keluar dari kelas mereka.
"Kak Kean!" seru Harun.
"Baby," ujar Kean pada adik bungsunya itu.
"Wah ... Ada kakak di sini sama adik-adik. Kok, kek merencanakan sesuatu deh?" tebak Arfhan.
"Tau aja kamu baby," kekeh Sean menyeringai.
"Apa itu? Jangan bilang mau kabur dari pengawal?" sahut Ditya.
"Tentu baby," jawab Kean semangat.
"Tapi pasti semua tau jika kita akan lewat pintu yang sama!" keluh Sky.
"Kita nggak lewat situ kok!' sahut Kean.
"Hah?"
Sementara Dewo dan lainnya tampak gelisah. Tadi mereka bertanya pada Titis yang keluar dari sekolah.
"Masih ada di sekolah kok!" jawab gadis kecil itu.
"Astaga, pintu belakang!" seru Ken lupa dengan pintu mang Kusni.
Ken dan Santoso pergi ke arah belakang. Ternyata pintu itu tergembok, bertanda semua anak tak lewat sana.
Sementara Dewo dan Theo memilih masuk dalam sekolah. Koridor sepi dari anak-anak didik.
"Tuan muda?"
Sementara di sebuah perusahaan. Virgou menghela nafas panjang. Pria itu menatap pergerakan anak-anaknya yang lari dari pengawalan lagi.
"Apa kita susul daddy?" tanya Satrio.
"Ayo deh!" keluh Virgou.
Sementara itu, Kean dan lainnya tertawa karena berhasil kabur dari pengawalan.
"Dari sekolah Kak Sam kita bisa kabur lagi nggak Kak?" tanya Sky semangat.
"Tentu saja dong. Kan kakak tau semua pintu rahasia!" jawab Kean.
Bersambung.
Lah ... Kan ...
Next?