THE BIG FAMILIES

THE BIG FAMILIES
MASIH DI MEKAH



Beberapa jamaah memang memilih tour keliling. Tapi keluarga besar Dougher Young dan lainnya memilih istirahat dan berbelanja.


"Abi ... Abi!" pekik Dewi berlari.


"Baby!" peringat Dahlan.


"Abi ... Dewi mau pergi ke pasar, anterin!" pinta gadis itu.


"Ayo!" sahut Dahlan.


"Apih ... apih .... Entut!" pekik putra Dahlan, Meghan.


Pria itu menggendong bayinya. Dewi menggandeng Dahlan dan mereka pergi ke pasar.


"Mau beli apa Baby?" tanya Dahlan ketika sampai.


"Beli anggur kering sama kismis, kacang arab sama coklat!" jawab Dewi semangat.


Semua apa yang diinginkan gadis itu terbeli, Dahlan membayar semuanya. Tak ada masalah karena memang seperti itu dari dulu.


"Sayang ... Kenapa kau menguras harta Abi mu?" Khasya menghela napas panjang.


"Apa Abi akan miskin membelikan Dewi ini?" tanya Dewi pada pria itu.


"Tentu tidak Baby!" jawab Dahlan tentu tak keberatan sama sekali.


"Bunda ... Jangan begitu!" lanjutnya.


"Sayang, jika semua anak minta kau yang membelikannya?" keluh Khasya.


"Tidak masalah bunda ... Saya minta lagi sama Ayah!" kelakar Dahlan.


"Ih ... Sok iye banget!" sengit Herman.


"Aku mau pelit ah!" lanjutnya sebal.


"Ayah!" peringat Terra.


"Tate puewit ... Tate peuwit!" pekik Maryam.


"Baby!" peringat Darren.


"Apah ... Tate peundili yan pilan Biya puewit!" sahut Maryam tak mau disalahkan.


"Ayah!" keluh Darren.


Herman berdecak kesal, ia lupa jika seluruh anak bayi akan menelan mentah-mentah apapun perkataan orang tua.


"Sudah ayo sini sama Kakek Bram. Kakek mah nggak pelit!" ujar Bram meledek Herman.


"Nanat sisilan!" sinis Herman yang membuat Terra mengigit bahunya.


"Auuu! Sayang!"


"Netnet ... pa'a yan tau latutan!" sahut Aaima marah.


"Ata'! Ata'! inih Zaza idit!" Faza mengejar Alia.


"Mama!" Alia berlari dari kejaran bayi yang merangkak.


"Baby ... nggak boleh ya!" Lidya mengangkut putri bungsunya.


"Kenapa selalu Alia yang jadi sasaranmu Baby?" keluh Demian.


Alia adik bungsu dari Della memang jadi tumpahan keusilan Faza. Bayi berusia dua tahun itu memang pendiam dan tak banyak tingkah.


"Sini sayang," Rahma menggendong Alia.


"Mumi," Alia memeluk erat perempuan itu.


"Minta maaf sama kakak!' perintah Demian.


"Zaza dat lalah Apah!" tolak Faza yang merasa tak bersalah.


"Baby, kamu salah. Kamu gigit kak Alia loh!' ujar Lidya.


"Apis ... Ata' yiyem jaja Mama! Zaza eumes!" jawab Faza yang geregetan.


"Baby!" Seruni mengejar putri bungsunya Rinjani. Bayi berusia empat tahun itu memang sama dengan perusuh yang lain.


"Baby, kamu mau kemana?" Dav menghela nafas panjang karena putrinya tak bisa diam.


"Mawu itut Poma Sosa!" tunjuknya pada satu jamaah wanita.


"Poma ada di sini Baby!' Rosa mengambil alih bayi itu.


Fathiyya ada digendongan ayahnya, Budiman. Sedang Horizon ada di kereta dorongnya.


"Mereka sepertinya harus di kereta dorong agar tak berlarian!" ujar Bart yang pusing melihat banyak keturunannya.


"Kan mereka keturunanmu," bisik Beni terkekeh.


Semua memilih berkumpul di lobi hotel. Banyak foto tercipta dibuat oleh Kaila. Gadis itu sangat pintar menggunakan kameranya.


"Papa liat sini!' Jac melihat hasil bidikan Kaila.


"Dari mana kau bisa memotret kupu-kupu yang ikut tawaf dengan para jamaah Baby?" tanya Jac takjub dengan bidikan gadis remaja itu.


"Kemarin pas ikutan jamaah tawaf sama Bu'lek ...."


"Kalian lepas dari penjagaan?" Virgou melotot.


"Babies sama saya Tuan!" jawab Tiana.


Sri nampak ikut menjaga anak-anak. Tiga anaknya jadi ikutan rusuh bersama para bayi yang kini dipegangi ayah dan ibu mereka.


"Daddy, mana berani Kaila pergi sendiri. Kalo nggak sama Bu'lek!" sengit Kaila.


"Dad, jangan terlalu posesif!" peringat Puspita.


Zack hanya jadi pengamat. Pria itu sesekali menatap Maisya. Gadis itu banyak diam dan bermanja dengan salah satu ibunya.


Sementara di hunian Bart. Pablo dan Fabio menginap, mereka akan pergi ke masjid untuk melaksanakan sholat jumat.


Gomesh menatap saudara kembar tapi tak sedarah itu dengan pandangan sendu.


"Mereka tampan sekali dengan baju koko," gumamnya.


"Papa nggak pernah ke gereja lagi," timpal Maria tiba-tiba.


Wanita itu mengusap punggung lebar suaminya. Sukma, Aisyah, Nai dan Arimbi tampak menyiapkan makanan. Suami mereka belum pulang dari perusahaan.


"Umi ... bumbunya diapain?" tanya Nai.


Wanita itu sebenarnya bisa memasak. Tetapi itulah Nai dan Arimbi, keduanya memang biang usil dan manja.


"Baby ... Itu garam. Memang tadi sudah atau belum diberi garam?" tanya Aisyah.


"Lupa Umi?" cengir Nai.


"Baby," keluh Aisyah yang memang harus memiliki ekstra sabar.


"Sayang ... Jangan ganggu umimu!" peringat Maria.


Wanita itu teralihkan gara-gara pertanyaan Nai. Wanita itu kembali menatap suaminya.


"Sudahlah ... Kita jalanin dulu ya sayang," ujar Gomesh meyakinkan istrinya.


Langit dan Reno datang, mereka langsung ke kamar bersama istri masing-masing. Setelah berganti baju. Keduanya buru-buru pergi ke masjid terdekat naik mobil golf diantar oleh Marco.


"Mommy!" rengek Bariana kesal pada dua kakaknya.


"Hei ... kenapa itu!" teriak Maria.


"Kak Bomesh!" teriak Bariana sudah kesal karena rambutnya dijadikan mainan.


"Baby kenapa kau ganggu adikmu?" Maria kesal bukan main.


"Mommy rambutnya kayak mie. Bomesh laper," kekeh Bomesh menjawab.


"Nih makan nih!"


Bariana menyorong rambut panjang nan keriting ke mulut kakaknya. Sukma melerai dua bersaudara itu.


"Baby!" teriak Maria.


"Tamuh!" pekik Fael tiba-tiba pada saudari kembarnya.


"Tamuh!" teriak Angel tak mau kalah.


Aksi dorong tak terelakkan lagi. Lima anak beda usia itu ribut entah masalah apa. Para pengawal melerai anak-anak itu.


"Babies!" teriak Gomesh murka.


Nai, Arimbi, Salma dan Aisyah ikut kaget mendengar teriakan raksasa itu.


"Pa!" peringat Maria.


"Siapa yang mulai?" tanya Gomesh pada lima anak yang kini menunduk takut.


"Hiks ... Hiks!' Angel dan Fael mulai menangis.


"Nangis bisanya ... Tadi sok jagoan kalian!" sentak Gomesh benar-benar marah.


"Ayo berantem lagi!" suruhnya lalu duduk menatap lima anaknya.


Semua pengawal memilih membalikkan badan mereka. Para pengawal tentu tak tega melihat anak-anak dimarahi.


Maria juga memilih diam dan pergi menenangkan Nai, Arimbi, Salma dan Aisyah yang ikut takut dengan kemarahan Gomesh.


"Papa nggak pernah ajarin kalian seperti itu?" Gomesh menahan kesedihan di hatinya.


Air mata semua anak luruh hingga menetes di lantai. Pria itu tentu sedih melihat bahu-bahu kecil itu bergetar menahan tangis.


"Kenapa berhenti berkelahi? Ayo lanjutkan!" teriaknya menggelar.


"Hiks ... Hiks ... Huuwaaaaa!" pekik Angel dan Fael menangis ketakutan .


Bomesh, Domesh dan Bariana memeluk dua adik kembarnya. Mereka ikutan menangis.


"Maaf Papa ... Maafin kami ... Hiks ... Hiks!"


"Ketua," peringat Sukma dan Ambar.


Gomesh tentu tak bisa marah terlalu lama. Ia takut jika semua anak malah ketakutan dan trauma.


Pria itu berdiri dan memeluk lima anaknya.


"Maafin papa sayang ... Maafin papa hiks ... hiks!" Gomesh menyesali kekasarannya.


"Nggak Pa, kami yang salah. Tapi kami memang suka mengganggu saudara kami," ujar Domesh.


"Mamap papa, Ponti Jejel eundat atan ladhi ... Hiks ... Hiks!"


Gomesh mengangguk, walau ia sangat yakin tak sampai sepuluh menit usai meminta maaf. Lima anaknya kembali berulah.


Dugaan pria raksasa itu tak pernah meleset. Angel kembali meneriaki kakaknya, kali ini Domesh mengusilinya.


"Tamuh nanat sisilan!" teriaknya.


"Jel ... tamuh tan judha nanat sisilan!' sahut Fael mengingatkan saudarinya.


"Oh ... Wiya ya!' angguk Angel teringat.


Bersambung.


Ah ... Papa Gom 🥹


Next?