
Rasya, Rasyid, Dewa, Dewi dan Kaila keluar dari kelasnya masing-masing.
"Pa'lek!" Rasya tersenyum melihat Dewa.
"Baby," Rasya langsung menempel pada adik misan ayahnya.
"Ih, sana!" usir Kaila yang juga mau digandeng Dewa.
"Baby, ini ada Bu'lek loh!" ketus Dewi kesal.
"Hehehe, Bu'lek," kekeh Kaila.
Gadis itu akhirnya menempel pada Dewi. Rana keluar kelas langsung bertemu dengan saudara barunya.
"Ran!" sapa Rasya.
"Mas Rasya, Mas Rasyid, Mas Dew, Mba Dewi dan Mba Kaila!" sapa Rana.
"Widih ... Nyapanya komplit!" celetuk Kaila.
"Baby!" peringat Dewi.
"Hmm," Kaila merengek sambil manyun.
Rana tak pernah mempermasalahkan semuanya. Akhirnya mereka berenam pun duduk di kursi untuk makan siang.
Maria membawakan bekal untuk semua anak-anak yang masih sekolah. Bahkan yang sudah kerja masih dibawakan kotak bekal oleh wanita itu.
'Ma, sekali-kali jajan sih!" rengek Samudera.
"No!" tolak Maria langsung tak mau dibantah.
"Kalian nggak pernah jajan ya?" tanya salah satu mahasiswa yang melihat Dewa bersama saudaranya makan kotak bekal.
"Nggak!" jawab Dewa cepat dan datar.
"Kenapa?" tanya remaja itu lagi.
"Ya nggak apa-apa!" jawab Dewa lagi-lagi datar.
Rasya dan lainnya tak peduli. Mereka asyik memakan bekal mereka. Akhirnya remaja itu pun pergi tak mengganggu mereka lagi.
"Sibuk amat nanya-nanya!" sengit Dewi.
"Eh ... Udah ah!" sahut Rana menengahi.
Isi kotak makan habis. Keenamnya tampak bercengkrama. Hingga datang sekelompok mahasiswa.
"Eh ... Kalian bersaudara kan?" tanya seorang remaja pria dengan kumis tipis.
"Iya, kenapa?" jawab Kaila mewakili semuanya.
"Kamu cantik, mau nggak jadi pacar aku?" pinta remaja itu.
"Nggak!" tolak Kaila langsung.
'Jangan sombong ...," remaja pria itu hendak mencolek dagu Kaila.
Tapi belum sempat jari itu menyentuh dagu Kaila. Dewi sudah menangkap jari itu dan memelintirnya ke atas.
"Aarrggh!" remaja itu sampai bersimpuh.
Enam remaja pria lainnya hendak menolong. Tapi, Dewa, Rasya dan Rasyid tentu menghalangi mereka.
"Jangan sok jago loh!" tantang salah satu remaja itu.
"Gue nggak sok jago kok!" sengit Rasya.
Rana sedikit takut dengan keramaian itu. Ia berlindung di balik tubuh Kaila yang jauh lebih besar darinya.
Kaila ikutan berdiri. Gadis itu langsung meletakkan kotak bekalnya di kursi stainless.
"Lu ngapain nyolek dagu gue ... Punya apa lu?" tentang gadis itu.
"Arrrgghhh!" pekik remaja itu kesakitan karena Dewi menekan jarinya makin ke atas.
"Hei ada apa ini!" seru dosen yang melihat ada anak tengah disakiti.
Kini semua remaja ada di kantor dekan. Rasya, Rasyid, Dewa, Dewi dan Kaila tentu tak takut berhadapan dengan dekan karena mereka tak bersalah.
"Masa cuma nyolek aja sampe mau matahin jari orang Dew!" kekeh pembina mahasiswa.
"Emang anak perempuan bapak mau dicolek-colek gitu?" tanya Dewi sengit.
"Ya nggak lah!" jawab pria beruban itu.
"Nah saya juga nggak mau keponakan saya dicolek sembarangan!" sahut Dewi berani.
Tentu semua dekan, dosen dan rektor mengetahui siapa Kaila dan empat remaja lainnya. Mereka disuruh kembali masuk kelas setelah adanya perjanjian jika keenam remaja pria tak mengganggu Kaila.
"Mereka itu bersaudara dekat sekali ya?" ujar salah satu dosen setelah kepergian mahasiswa mereka.
"Hmmm ... Anakku ada tiga. Tapi mereka tak dekat satu dan lainnya," sahut dosen lain.
"Jangankan begitu, aku yang hanya punya satu anak, seperti tak punya anak!" sahut lainnya lagi.
"Apa yang diajarkan keluarga Hovert Pratama pada semua keturunannya ya, sampai bisa membela satu dan lainnya gitu?" tanya salah satu dosen wanita.
Semua diam dan tak bisa menjawab. Di tempat lain, Dimas tampak berjalan menuju ruangan Maisya dan Affhan.
"Baby!" panggilnya pada Affhan.
"Banyak amat berkasmu baby?" kekeh Dimas melihat tumpukan berkas di meja Affhan.
"Itu baru setengah Pa'lek," keluh Affhan malas.
"Udah yuk ke Baby Mai!" ajak Dimas lalu membawa Affhan.
Maisya keluar bersama Rando, Dimas langsung merentangkan tangan Mai menyambut tangan itu.
"Papa mau makan bareng kita?" tawar Dimas pada Rando.
"Tidak baby, papa pulang aja. Mama Lusy masak banyak," jawab Rando menolak.
"Oh baiklah pa. Salam untuk mama, nenek, kakek dan juga Baby Raslia ya," ujar Dimas tak memaksa.
Ketiganya pergi ke kantin dekat perusahaan. Mereka duduk di satu meja. Tak ada yang berani mendekat bahkan para sekretaris sekalipun.
"Astaga, kenapa Pak Dimas, Pak Affhan dan Bu Maisya seperti membangun tembok tinggi ya?"' ujar salah satu karyawan.
"Mereka hanya bisa didekati ketika masalah pekerjaan saja," sahut lainnya lagi berbisik sambil melirik tiga atasan mereka.
Sedang di meja, baik Maisya, Affhan dan Dimas tak peduli dengan yang lain.
"Pa'lek, nanti boleh dong pergi ke swalayan kan baru dapet bonus," rengek Maisya.
"Oke!" angguk Dimas setuju.
Sore menjelang, Dimas dan dua keponakan misannya pergi ke mall bersama empat pengawal. Dimas menggandeng Affhan dan Maisya sedang empat pengawal menjaga mereka.
Maisya berburu sepatu-sepatu lucu untuk semua adiknya.
"Ih lucu banget kalo dipake sama baby Ali!" pekik gadis itu kegirangan.
"Beli untuk yang lainnya baby," ujar Dimas.
"Tentu Pa'lek, bisa jadi rempeyek kali kalo nggak dibeliin!' sahut Maisya membayangkan dirinya akan dikeroyok oleh makhluk-makhluk gembul nan cerdas itu.
Affhan membeli baju-baju untuk semua adiknya, sedang Dimas membeli pernak-pernik aksesoris untuk para ibu.
"Beli makanan juga kali ya!' sahut Affhan melihat kue-kue dipajang.
"Nggak usah, banyak makanan di rumah!" larang Dimas.
"Kalau diprotes?" sahut Maisya yakin.
"Udah serahin jawaban sama Pa'lek!" ujar Dimas yakin.
Usai maghrib, mereka baru sampai hunian besar Bart. Semua anak menanti mereka.
"Assalamualaikum!" ujar ketiganya memberi salam.
"Wayaitumtayam!" seru semua bayi menyambut ketiganya.
"Baby ... Pa'lek sama kakak bawa oleh-oleh banyak ini!" ujar Dimas.
"Pawa paa aypi peusal?" tanya Zaa langsung mendekat.
Semua bayi mengerumuni mereka. Semua mendapat sepatu dan kaos yang bagus.
"Matasyih Ata'!" seru Aaima.
"Matanana bana?" tanya Arsh melihat semua paper bag.
"Kan di rumah banyak makanan Abang haji Baby Arsh," ujar Dimas.
"Ata' apan Baji Baby Alsh tan posen matanan mumah!" sahut bayi itu protes.
"Setali-seutali matan dolenan!" lanjutnya bersungut.
"Baby, tadi mama bikin gorengan loh!" ujar Terra.
"Ah ... Behdnsysbshdjsnshzusbdyxysbsyaikwhsysuwnsyzywl!" oceh Arsh menggunakan bahasa planet.
"Baby!" peringat Rion.
"Hiks ... tan suma Penen matanan luan ... Hiks ... Hiks!" Arsh langsung mencebik.
"Baby, lebih enak makanan dari pada makanan luar," ujar Dimas memberi pengertian.
"Baby Mila dan baby Yusuf udah pulang ya?" tanya Mai yang tak melihat keberadaan dua bayi itu.
"Sudah baby, sebelum maghrib tadi," jawab Khasya.
"Ya udah, nanti ini titip buat mereka ya bunda," ujar Mai sambil menyerahkan dua pasang sepatu dan juga dua kaos lucu.
"Iya sayang," ujar Khasya tersenyum.
Malam telah tiba, Khasya melihat baju dan sepatu bayi untuk Jamila dan Yusuf.
"Kita mendidik anak-anak kita dengan baik sayang," ujar Herman mengelus punggung istrinya.
"Iya, Alhamdulillah. Mereka ingat saudara mereka ketika dalam keadaan suka dan selalu bersama dalam keadaan duka," ujar Khasya.
Bersambung.
Saudara itu harusnya menjadi penguat antar satu dan lainnya.
Next?