THE BIG FAMILIES

THE BIG FAMILIES
SEBUAH PERISTIWA



Keluarga besar itu mulai bersiap menuju padang Arafah. Bart menatap Rasya dan Rasyid tengah mengemasi beberapa pakaian miliknya.


Dari dulu pria itu memang malas berkemas. Duo R yang selalu menyiapkan perlengkapan pria paling tua itu.


"Apa sudah semua baby?" tanyanya.


"Sudah Uyut, semua sudah siap. Botol minum, spray dan juga kurma," jawab Rasyid.


"Baiklah, terima kasih sayang," ujar pria itu lalu memberikan sepuluh real pada dua kembar identik itu.



Duo R, 18 tahun.


Rasya dan Rasyid tentu senang mendapat hadiah itu. Setelah memberi kecupan pada Bart, keduanya keluar kamar.


"Mama, pakaian kita udah diberesin?" tanya Rasya pada ibunya.


"Belum sayang, Mama urusin adikmu Arraya dan Arion," jawab Terra.


"Oke, biar kita sendiri yang ngepakin!" sahut Rasya.


"Makasih Babies," ujar Terra senang.


"Mama, pakai lotion boleh nggak?" tanya Arraya yang merasa kulitnya sedikit kering.


"Pake baby oil aja ya sayang, kamu masih terlalu kecil jika pake body lotion," jawab Terra lalu mengeluarkan baby oil dan mengoleskan pada lengan putrinya.


Semua sudah siap menjalankan wukuf. Para staf juga telah memeriksa kesehatan seluruh keluarga.


Tiana menatap ponselnya. Di sana sang ayah tiba-tiba memberinya pesan singkat. Matanya sedikit tertegun.


"Nak, kamu kenapa?" tanya Sri.


Tiga anaknya tengah bersama anak angkat Bart. Sania, Arif dan Ustman lebih suka bermain bersama kakak-kakaknya.


"Ayah Bu," jawab gadis itu lirih.


Sri mengambil ponsel putrinya. Di sana sebuah kalimat yang membuat siapa saja sakit hatinya.


"Pria macam apa ini? Sudah jangan anggap dia Nak. Yang penting kita di sini bersama, kita memang berangkat haji!" ujar Sri menenangkan putrinya.


"Bu, kenapa dulu ibu menikahi pria berengsek seperti itu?" tanya Tiana kecewa.


"Nak ... Jangan begitu, kamu ada juga karena ada ayahmu. Kamu tidak boleh membencinya!" peringat Sri.


"Bu, apa ada seorang ayah mendoakan keburukan untuk semua anaknya? Apa-apaan dia bilang semoga kita semua mati dalam kecelakaan pesawat?!" oceh gadis itu kesal bukan main.


"Dia juga bilang, kita mimpi datang ke tanah suci, dia bilang semua foto adalah editan!" cerocos Tiana putus asa.


'Nak istighfar!" pinta sang ibu memohon.


"Jangan sampai ibadah kita tercoreng karena masalah dia percaya atau tidak!' lanjutnya memberi pengertian.


"Tidak apa-apa, kalau dia tidak percaya. Kita tak akan rugi sayang," Sri memeluk putrinya.


Virgou yang tengah berjalan mendengar percakapan itu. Pintu kamar Tiana dan ibunya memang terbuka.


"Tiana!' panggilnya.


"Tuan ...!"


Tiana terkejut, ia melepas pelukannya dan keluar kamar. Ia membungkuk hormat ketika dihadapan Virgou.


"Ayo ikut aku!" ajak pria itu.


Tiana hanya menurut, ia mengikuti ketuanya. Virgou memanggil beberapa pengawal, Dian, Exel dan Gita.


Mereka keluar dari hotel, di sana ada beberapa wartawan yang meliput rombongan haji. Melihat kedatangan Virgou membuat para wartawan mengerumuni pria itu.


Tentu saja sebagai pengawal mereka sigap menghalangi para pemburu berita mendekati pria dengan sejuta pesona itu.


"Tuan, tuan. Berapa budget yang anda habiskan untuk perjalanan ibadah ini?" tanya salah satu wartawan.


"Kalian hitung saja berapa banyak kami. Semua menggunakan haji plus!" jawab Virgou sedikit angkuh.


"Semua dimudahkan oleh Allah dan memang semuanya sudah digariskan untuk mengikuti ibadah haji ini!" ujarnya meralat bicaranya tadi.


Wajah Tiana terpampang di layar. Banyak orang menonton sebuah acara. Di sana seorang pria menatap layar dengan pandangan berkaca-kaca.


"Cis, aku yakin itu cuma akting!" tuduh seorang wanita yang tengah hamil besar.


"Diam Sinta!" tekan Pram.


"Apa sih mas! Belaiin aja terus mantanmu sama anak-anaknya itu, kau memang lebih suka kan ...."


"Diam!" bentak Pram, wanita itu seketika terdiam.


"Mereka anak-anakku!" lanjutnya.


"Aku gugurkan anak yang ada dalam kandungan ini!" ancam wanita itu.


"Gugurkan lah!" sahut Pram menatap tajam.


"Kau memang pria jahat!" teriak wanita itu.


"Aarrrghhh!" tiba-tiba ia mengerang memegang perutnya.


"Perutku!" teriak wanita itu.


Pram tentu panik, pria itu gegas menggendong istri mudanya. Ia berlari dan membawanya ke mobil.


Hingga sampai rumah sakit. Pram berteriak minta tolong.


"Tolong istri saya!"


Beberapa petugas medis berdatangan membawa brangkar. Sinta diletakkan di sana. Tangan Pram menggenggam erat tangan istrinya.


"Mas ... Mas ... Sakit mas," erang Sinta kesakitan.


"Maaf, Bapak hanya bisa sampai sini saja!" cegah seorang perawat ketika masuk ruangan.


"Tapi saya suaminya!"


"Bapak tenang dulu ya!" ujar perawat.


Nai datang dengan tangan terangkat, ia telah memakai sarung tangan dan lapisan ok.


Pram duduk dengan kecemasan tinggi. Teringat ia ketika memilih Sinta di banding Sri istri yang menemani separuh hidupnya.


Sri yang sederhana dan tak banyak menuntut. Bahkan wanita itu rela dipoligami asal Pram tak meninggalkan keluarganya.


"Aku tidak mau dimadu Mas!" tolak Sinta keberatan.


Sinta berhasil merayu keluarga besar. Terlebih istri mudanya itu berpendidikan tinggi dan anak orang kaya juga.


Sri menerima keputusan suaminya untuk bercerai bahkan rela meninggalkan rumah yang digadaikan Sinta entah untuk apa.


Pram memijat kepalanya. Awal bertemu Sinta juga bukan disengaja. Pria yang bosan dengan keadaan rumah dan istri yang terlalu penurut.


Pram bermain api dengan gadis yang pintar membuatnya tertawa dan merasa diinginkan. Rengekan manja Sinta dan tuntutan gadis itu membeli apapun yang ia mau.


"Sri ...," lirih suaranya memanggil mantan istri.


"Kudengar kabar, kau berhasil melunasi utang yang sebenarnya bukan tanggunganmu," gumamnya lirih.


"Kerabat dari pasien!" panggil seorang perawat.


"Kerabat dari pasien!" dua kali perawat memanggil.


"Eh ... Saya ... Saya!" teriak Pram lalu bangkit.


'Pak tolong siapkan darah B, bayi membutuhkannya karena anemia akut!" ujar perawat.


"Golongan darah B?' pria itu bingung.


'Iya Pak!'


"Tapi saya golongan darah A dan istri saya juga A. Bagaimana darah anak saya B?" tanya Pram lagi.


"Kami kurang tau pak!" jawab perawat.


Lalu kantung darah tersedia. Beruntung, semua sigap hingga menyelamatkan bayi.


Satu jam berlalu, Sinta sudah ada di bangsal perawatan. Wanita itu tak mau menyusui anaknya.


"Bu, anak ini butuh ASI," ujar perawat membujuk.


"Nggak ah, nanti dadaku jelek!" tolak Sinta.


"Astaghfirullah!" perawat tentu kaget.


Pram masuk dengan wajah merah. Sinta membuang muka.


"Aku nggak mau nyusuin anak kamu!" ujar wanita itu.


"Anak siapa itu Sinta!" bentak Pram.


"Pak, tolong kendalikan diri, ini rumah sakit!" peringat Suster.


"Aku sudah tes DNA, dan itu bukan darah dagingku!" teriak Pram tak peduli.


"Jangan ngaco kamu. Kamu kan yang meniduri aku!" teriak Sinta tak terima.


"Mungkin rumah sakit ini menukar anak kita!" lanjutnya tak mau disalahkan.


"Jangan sembarangan bicara Bu!" sanggah perawat.


"Hari ini hanya anda yang melahirkan di rumah sakit ini!" lanjutnya marah.


"Anda bisa kami tuntut!' ucapnya lagi mengancam.


"Ada apa ini?" Nai datang dengan kening berkerut.


"Dok, wanita ini menuduh kita menukar bayinya karena darah dan DNA tak cocok dengan suaminya!" lapor perawat.


"Apa?"


Bersambung.


Wah?


Next?