
Nai membawa Salim, bocah berusia tujuh tahun itu sedikit takut ketika memasuki hunian Nai.
Semua keluarga tengah berkumpul di sana. Arsh mendekati Salim.
"Asayatutatatitum Ata' Sawim ... Peultenaltan ... Atuh Apan Baji Alsh!" ujar bayi tiga tahun itu memperkenalkan diri.
Salim yang tadinya takut-takut akhirnya berani dan berkenalan dengan semuanya.
"Jadi semua sudah berangkat haji?" tanya bocah itu dengan mata besar.
"Wiya ... Bita peumuwa bait jaji!" jawab Zizam semangat.
"Mashaallah ...!' Salim begitu takjub.
Tak lama Salim dan lainnya tampak sibuk mengobrol. Hanya sebentar mereka langsung akrab dengan Salim.
Hari ini Tiana membawa ibu dan tiga adiknya. Ia tak mau meninggalkan lagi keluarganya di rumah.
Gadis itu diberitahu oleh Sania jika ada yang datang. Sri tak dapat berbohong pada anak gadis tertuanya.
"Sayang," panggil Khasya pada Tiana.
Semua tentu menoleh pada wanita itu. Herman juga heran kenapa istrinya begitu memperlakukan Tiana sangat spesial.
"Dia seperti anakku sendiri, jadi tak masalah kan?" ujar Khasya beralasan.
Memang semua dipanggil sayang oleh perempuan paling dihormati di sana. Khasya adalah tempat curahan hati semua pengawal. Semua sayang padanya.
"Ya bunda," sahut Tiana.
"Kamu tolong kawal Baby Dee ya katanya dia mau pergi ke mall sama Baby Ila," pinta Khasya.
"Baik Bunda," angguk Tiana.
Itu memang pekerjaannya. Dewi turun bersama Kaila. Tentu saja Maisya ingin ikut.
"Ikut Bu'lek," rengeknya.
"Ata' auh nanah?" tanya Zora berteriak.
Dewi menghela nafas panjang. Akan repot jika semua bayi ingin ikut. Virgou berdiri.
"Ayo kita geruduk mall!" ajaknya.
"Holeee!" seru semua perusuh.
Salim, Arif, Sania dan Ustman diam saja. Mereka menganggap jika yang ikut adalah anggota keluarga.
"Ayo babies!" ajak Dimas dan Kean pada mereka.
"Kami ikut?" tanya Salim bingung.
"Tentu baby, ayo!" Dimas menggendong Sania dan Usman.
"Ayo jeng," ajang Khasya pada Sri.
"Saya di rumah saja Nyonya," tolak Sri.
"Ayo ikut saja. Nggak apa-apa kok!" ajak Sriani.
Kean menggandeng Salim dan Arif. Semuanya akhirnya pergi ke mall mengunakan mobil masing-masing.
Sampai di mall, semua bayi ada di kereta dorong. Hal itu membuat para bayi protes.
"Amih auh salan!" ujar Zora cemberut.
Bayi itu melipat tangannya di dada. Tak ada yang peduli. Semua orang tua tentu memilih anak-anak mereka aman.
Salim dan lainnya dibelikan baju baru. Sania senang dengan dress warna pink yang dibelikan Dimas.
"Matasyih mas!" Dimas mencium pipi merah Sania penuh kasih sayang.
Arif juga dibelikan baju begitu juga Ustman. Ketika berjalan di lorong, Salim menatap etalase ayam tepung.
"Ya Allah, kapan Salim makan itu ya?" tanyanya lirih.
"Nanti mama buatin sayang," ujar Maria padanya.
Salim menoleh, mata terangnya menatap wanita cantik di sana. Salim ingat siapa wanita itu.
"Ibu yang di pasar!" ujarnya tersenyum.
"Panggil Mama sayang," ujar Maria lalu mengelus kepala anak yang telah piatu itu.
Ayah Salim, Parjo masih di markas mafia milik Virgou. Pria itu masih jadi bulan-bulanan Leo dan anak buahnya.
"Iya Mama," satu tetes bening jatuh di pelupuk matanya.
Salim tak menyangka dukanya tergantikan dengan kebahagiaan luar biasa.
Setelah sang ibu yang telah berpulang lebih dulu. Salim tadinya bingung hendak kemana. Ia tentu tak berani tinggal di huniannya yang lama.
"Jangan menangis sayang. Mama dan kami semua akan sayang sama Salim," ujar Maria lalu memeluk bocah itu.
Gomesh mendekat, ia memanggil dua putranya. Domesh dan Bomesh lalu menggandeng bocah sepantaran mereka. Sky dan Arfhan juga ikut dengan mereka.
"Astaga, Dahlan!"
"Saya ketua!" ujar Dahlan mendatangi Gomesh.
"Awasi mereka. Aku punya firasat jika mereka akan buat kegaduhan sebentar lagi!" perinta Gomesh.
"Ayo sini sama Kakak!" Samudera datang bersama Benua.
"Alhamdulillah," Dahlan sedikit lega.
"Jangan terkecoh ketua!" peringat Ken salah satu pengawal.
"Tuan muda Samudera itu diam-diam menghanyutkan!" lanjutnya berbisik.
Dahlan mengikuti anak-anak yang haus akan petualangan itu. Ia lupa pada putranya Meghan.
Rahma menjaga empat bayi, Xierra, Nauval putra Hendra dan Ariyani putri dari Rio dan Ariya serta Meghan.
Rahma tengah memilih beberapa hijab untuk dibagikan pada ibu-ibu disekitar kampung tempat tinggalnya. Wanita itu masih terus melakukan aksi sosial.
"Pita tuyun yut!" ajak Xierra, putri dari Felix dan Sari ini.
"Ayut!" sahut bayi yang lain.
Mereka berempat berhasil turun. Beberapa pengawal memang menjaga mereka. Mereka saling bergandengan tangan.
"Umi ... umi ... Pita teusyana ya!" ujar Meghan meminta ijin pada ibunya.
"Iya baby," sahut Rahma yang lupa jika putranya belum cukup umur keluyuran di mall.
Meghan menggerakkan kepalanya. Dari semua bayi pengawal. Meghan adalah batita paling berani.
"Adhan ... Pita teumana?" tanya Xierra.
"Peubental pulu,' Meghan merogoh saku celananya.
Ia mengambil dua lembar kertas berwarna biru. Mereka tentu belum mengerti akan uang. Tapi tingkah laku para orang dewasa membuat para bayi cepat belajar.
"Teltas imi syelalu Umi patai talow pelanja!" ujar Meghan.
"Pa'a yan pita latutan nenan teultas ipu?" tanya Ariyani.
Ariyani adalah bayi pengawal paling muda. Usianya sama dengan Al dan El Bara. Mau dua tahun.
"Pita pisa pate imu puwat tutel balan!' jawab Meghan yakin.
"Beumana pisa peuli pa'a?" tanya Nauval.
"Pita soba peuli ipu!" tunjuk Xierra pada antrian orang-orang.
"Ipu pa'a bemana?" tanya Meghan.
"Seslim!" sahut Ariyani menunjuk orang yang keluar dari antrian.
Mereka pun berjalan dengan bergandengan. Banyak orang tentu tertarik dengan empat bayi yang memiliki rupa yang menawan.
Meghan dengan tatapan teduh, ia seperti ibunya tapi dibalik itu Meghan memiliki ketenangan seperti ayahnya. Xierra adalah putri Felix, bayi cantik itu sangat mirip ayahnya. Ia juga sangat berani. Tak jauh beda dengan Nauval putra Hendra. Bayi itu sama tenang dengan sang ayah, lalu Ariyani, bayi pengawal paling kecil. Bayi mau dua tahun itu sangat pemberani sama seperti ayahnya.
"Eh ... Anak-anak siapa ini?" salah satu pengunjung mendekati bayi-bayi itu.
Meghan sangat tenang, bayi itu melindungi semua saudaranya.
"Tamih lada wowan tuwa ... Tamuh janan sot teunal!" sentak Xierra galak.
Sedang di tempat Rahma berdiri. Wanita itu berteriak memanggil para bayi yang tak ada di kereta dorong mereka. Wanita itu menangis.
Semua pengawal sibuk mencari keberadaan bayi-bayi itu. Virgou menggaruk kepalanya.
"Ketua," Dahlan mau menangis.
"Putramu tak apa-apa. Ia tak jauh dari sini. Kau cari saja!" perintah Virgou.
"Babies!" Gino yang ikut mencari keberadaan adik-adiknya bernafas lega.
"Ata' Pino!" Xierra berhambur kepelukan Gino.
"Pita Beuli seslim Ata'!" ujar Meghan menunjuk outlet es krim.
"Maaf dek, mereka belum pesan. Tadi ditanya saya nggak ngerti bahasanya," ujar penjual.
"Baby mau beli rasa apa?" tanya Gino.
"Soslat!" jawab Ariyani.
"Nanila!" sahut Xierra.
"Topi!" sahut Meghan dan Nauval.
"Yang rasa kopi ada mbak?" tanya Gino.
"Ada dek," jawab penjual.
Setelah ditemukannya empat bayi itu. Akhirnya Budiman membagi tugas.
"Kalian jangan fokus pada yang besar saja. Ingat anak-anak kita juga sama perusuhnya dengan kakak-kakak mereka!"
Bersambung.
Welcome Salim.
Babies!
next?