
Di sekolah, banyak anak yang sedang latihan. Bahkan ada yang melakukan pertandingan.
Tak seperti tahun-tahun sebelumnya. Tahun ini sedikit ada perubahan karena kepala sekolah yang baru saja diganti akibat kasus Gino kemarin.
"Apa ada yang mau jadi perwakilan sekolah di cabang atletik?" tanya pak guru di kelas Sky.
'' Saya Pak!" tunjuk Bomesh dan Sky.
"Saya mau badminton pak!" ujar salah satu murid menawarkan diri.
"Saya mau atletik lari pak!" ujar Arfhan tunjuk tangan.
Memang Sky, Bomesh dan Arfhan bukan murid yang jago di bidang olah raga.
"Baiklah, mulai sekarang kalian berlatih ya! Nanti ada guru pembimbingnya!' ujar pak guru.
"Semua boleh pulang yang tidak mau ikut perlombaan antar sekolah!" lanjutnya membuat semua anak bersorak.
Sky, Bomesh dan Arfhan juga dua murid lain yang mengajukan diri ikut guru mereka.
Sky memilih cabang lompat tinggi, begitu juga Bomesh. Arfhan memilih sprin 100 meter. Sedang dua lainnya memilih cabang bulutangkis.
"Gino ... Gino juga mau daftar?" tanya Pak guru ketika melihat Gino masuk.
"Iya pak, mau cabang lompat jauh!' ujar Gino menjawab.
Tak lama Harun dan lainnya juga mendaftar. Ditya yang tidak diperbolehkan ikut karena mereka kelas enam yang akan menempuh ujian akhir.
"Kak Radit nggak ikut olah raga?" Radit menggeleng.
"Nggak baby, kak Radit jadi penonton aja," jawab Radit.
"Baby Bar ikut apa?"
"Cabang gulat kak!" jawab gadis kecil itu.
"Nggak ada nak!" ujar guru menghela nafas besar.
"Adain dong pak!" pinta Bariana.
"Kalau mau bela diri seperti pencak silat atau lainnya?" tawar pak guru.
"Tapi kamu masih tujuh tahun. Kamu belum boleh olahraga keras!" lanjutnya.
"Aya juga mau deh yang olahraga bela diri!" ujar Arraya.
"Tapi kalian nanti latihan di bawah kelas bela diri ya!" ujar pak guru.
"Oh kek Merpati putih ya?" tanya Harun.
"Iya," jawab pak guru.
"Kita ada kok dari IPSI Panca Tunggal!' ujar Azha.
"Nah, boleh padepokan pencak silat kalian mendaftarkan diri ke sekolah agar bisa masuk komite dan ikut kejuaraan di manapun!' suruh pak guru.
"Baik pak!" sahut anak-anak.
Sky dan Bomesh juga Arfhan ikut ke lapangan untuk berlatih. Harun dan semua ke ruangan lain juga sama begitu juga yang lainnya.
Ken dan lainnya tengah menunggu di luar sekolah. Theo memilih masuk karena takut kejadian seperti kemarin.
"Baby?!" panggilnya pada Ditya dan Radit yang tengah menonton.
"Papa,"
"Kalian ngapain?" tanya pria itu.
"Nonton adik-adik latihan papa!" jawab Ditya.
"Ayo Baby Bomesh!" teriak Ditya memberi semangat.
Bomesh tersenyum lebar. Ia mengambil ancang-ancang. Bocah itu berlari kuat dan ketika di garis ia melompat dan mendarat di jarak 60cm dari titik tolak.
"Kurang nak, kamu harus melompat setidaknya satu meter!" perintah guru.
"Ayo Bomesh kamu bisa!" teriak Ditya lagi.
Sementara itu di ruangan lain, Harun, Bariana, Azha, Arraya, Arion dan Salim tampak melihat-lihat saja. Titis tidak ikut gadis itu punya masalah dengan kesehatannya jadi dia tidak mau ikut.
"Kok seruan di lapangan. Kita pindah jalur yuk!" ajak Sky.
"Pak pindah cabang atletik boleh nggak?" tanya Harun.
Guru hanya menghela nafas. Beruntung ia belum mendaftarkan anak-anak cerdas itu ikut lomba.
Harun dan lainnya digiring keluar ruangan. Di sana Radit, Ditya dan Theo tengah memberi semangat Sky yang tengah berlatih lompat tinggi.
"Arrrgghhh!' Sky meringis.
"Baby!' pekik Ditya, Radit dan Theo bersamaan.
"Nak!" guru langsung menghampiri Sky.
"Sakit!" pekik Sky meringis ngilu.
"Pelan-pelan nak, kita ke UKS ya. Kayaknya kakimu terkilir deh," ujar pak guru.
Arfhan masih melakukan pemanasan. Ia melihat Sky dibawa oleh gurunya langsung berhenti.
"Eh ... Kok berhenti?!" cegah guru yang melatih khusus sprin.
"Mau lihat saudara saya dulu pak!" ujar Arfhan tak peduli.
Kedekatan seluruh anak-anak keluarga kaya itu memang sangat diketahui oleh semua guru..
"Ya sudah tapi nanti balik lagi ya!" ujar pak guru memberi ijin.
Arfhan mengangguk, ia pun mengejar saudaranya yang pergi ke sebuah ruangan kesehatan.
"Tapi kemarin Sky lompat galah nggak pake pemanasan!" ujar Bomesh.
"Nah itu salah nak," ujar guru olah raga itu lembut.
"Pemanasan itu penting untuk merenggangkan otot-otot kita juga melemaskannya. Kemungkinan otot ini sudah tegang karena kamu kemarin memaksanya bergerak," jelas pria itu.
Sky sedikit merengek ketika guru menekan keras di otot yang sakit. Semua sedih melihat kesakitan Sky.
"Ya ini sudah tidak apa-apa. Tapi istirahat dulu ya, besok baru boleh olah raganya!" ujar guru setelah membebat kaki Sky.
"Boleh pake jalan pak?" tanya Sky.
"Kalau bisa digendong," ujar guru lagi.
"Sini Baby!' Ditya membalikkan tubuhnya.
"Naik punggung kakak!" suruhnya.
Sky langsung naik ke punggung lebar Ditya. Tas bocah itu dibawa oleh Azha.
Theo hanya diam saja. Mereka kembali ke lapangan. Arfhan kembali berlatih. Sky turun dari punggung Ditya.
Dua jam berlatih, mereka pulang dengan peluh membanjiri tubuh. Nafas mereka ngos-ngosan.
'Wah, olahraga ternyata itu sangat melelahkan ya!" ujar Bariana mengembuskan nafas berat.
Sampai rumah, Budiman melihat putranya digendong Ditya langsung menghampiri.
"Baby kenapa?" tanyanya khawatir.
"Kakinya terkilir ketua," jawab Theo santai.
Budiman mengambil alih putranya yang sudah tertidur nyaman di punggung Ditya.
"Baba," panggilnya ketika membuka mata.
"Sini Baby, sama baba!' ujar pria itu menggendong putranya ala kanguru.
Sky memeluk ayahnya erat dan menyurukkan kepalanya di leher pria itu.
"Assalamualaikum!" seru semua anak.
"Wayaytum sayam!" pekik semua perusuh paling junior.
"Ata' Spy teunapa?' tanya Maryam langsung sedih.
Semua bayi mengerumun, tapi para ibu menjauhkan mereka.
'Biar kakak ganti baju dulu ya," ujar Layla.
"Ata' Spy teunapa Mumi?" tanya Aisya sampai mencebik sedih.
"Nanti kita tanya ya," ujar Layla.
Gisel langsung ke atas mengikuti suami dan anak-anak.
"Tamuh!' teriak Ryo pada Theo.
Perbandingan antara kurcaci dan raksasa terlihat di sana. Theo yang memang takut dengan anak-anak bayi beringsut mundur.
"Sial!' umpatnya dalam hati.
"Baby, yang sopan panggilnya!' peringat Azizah.
"Amah ... owan imih indi weutali Amah!" tunjuk Ryo pada Theo.
"Itu karena kamu masih kecil baby," ujar Azizah lagi.
"Tot papa bundul?" tanya Maryam melihat Theo yang perlahan mundur.
Theo tak bisa menjawab. Mata para perusuh begitu penasaran melihatnya.
"Pa'a papa tatut Pama pita ya?" tanya Aaima.
"Basa peunawal tatut!" sanggah Fatih tak percaya.
'Butina papa salanna bundul!" tunjuk Aaima.
Horizon melihat kain lap di kursi. Bayi itu mengambilnya dan menutupi kepalanya dengan kain itu.
"Apah ... Apah!" ujarnya berjalan sempoyongan, ia hendak menakuti Theo.
Theo hanya bengong. Pria itu seperti terpaku dengan tingkah laku anak-anak.
"Apah ... Atut antu!" ujar Horizon lagi menakuti Theo.
Theo makin mundur. Semua anak jadi ikut-ikutan menakuti pria itu.
"Babies Mama bawa kue pancong!" teriak Luisa dari luar pintu.
"Ah ... Mama dat syasyit!" sungut Zaa protes.
"Loh kok Mama nggak asik!?" tanya Luisa bingung.
"Pita bawu natutin Papa Peo mama. Papa Peo dali padhi salanna bundul?!" adu Aarav diangguki semua bocah.
"Sudah ... Biarkan papa Theo itu. Kita makan kue pancong yuk!" ajak Luisa.
Dan Theo ditinggal para bayi yang memilih makanan dibanding menakutinya lagi.
Bersambung.
Kelakuan para bayi.
Next?