THE BIG FAMILIES

THE BIG FAMILIES
BERANGKAT HAJI



Nai dan Arimbi memeluk orang tua mereka. Semua sudah bersiap untuk berangkat haji.


Bahkan keluarga besar itu dijemput oleh utusan dari kemenag. Jumlah jemaah haji terbanyak dan semua adalah anggota keluarga.


Beni, Leni, Sriani, Mia, Fery, Shama dan Basri tentu antusias dengan keberangkatan ini. Bart memakai baju koko yang telah disiapkan panitia begitu juga semuanya.


Gomesh menangis ketika tuannya pamit. Pria raksasa itu memeluk Virgou.


"Jangan lama-lama di sana Tuan ... hiks!"


"Mana bisa bodoh!" umpat Virgou kesal.


Pablo dan Fabio juga haru, mereka tak berangkat karena istri keduanya tengah hamil muda.


"Jadi umi Salma mau saingan sama Nai?" cebik wanita muda itu menghilangkan rasa sedihnya.


"Sayang," Salma memeluk Nai.


Fael dan Angel senang mereka diajak walau hanya sampai bandara. Bart menyuruhnya demikian.


"Dah Amah Apah!" pekik dua batita kembar itu melambaikan tangan pada ibu dan ayahnya.


Domesh, Bomesh dan Bariana sedih karena harus berpisah sementara dengan saudara mereka.


"Arfhan ikut juga?" tanya bocah sembilan tahun itu menatap Virgou.


"Iya baby, kau dan tiga adikmu juga berangkat. Walau sekali seumur hidup. Kita jangan melewatkan kesempatan ini!" jawab Virgou.


Della dalam gendongan Fio, sedang Alia dan Firman ada dalam gendongan Exel dan Dewo.


Tiana bersama ibu dan tiga adiknya tampak canggung. Terra mendekati mereka.


"Ayo masuk sayang," suruhnya.


"Kenalkan ini ibu dan tiga adik saya nyonya!" ujar Tiana.


"Sri, nyonya," ujar wanita yang masih tak percaya berada dalam rombongan haji.


"Bu, panggil Terra aja ya," pinta Terra lembut.


Semua naik, lambaian tangan dan isak tangis mengiringi kepergian mereka.


Gomesh bahkan berlari mengejar bus yang melaju. Beberapa pengawal yang berbeda keyakinan dan tinggal di mansion menahan laju pria itu.


"Ketua!"


"Tuan ... saya mau ikut!" teriak Gomesh.


"Asyhadu an laa ilaaha illallaahu, wa asyhaduanna muhammadar rasuulullah!" lanjutnya.


"Ketua ... jangan gegabah mengucap sesuatu yang membuat anda menyesal!" peringat Marco.


"Saya mau ikut ... huuuu ... uuuu!" Gomesh benar-benar ketakutan ditinggal oleh Virgou.


"Mas!" pekik Maria.


"Papa ... hiks!" tiga anaknya yang lain juga memanggil pria raksasa itu.


Gomesh sampai bersimpuh di jalan menatap bus yang perlahan menghilang dari pandangannya. Pria itu sesenggukan.


Maria dan tiga anaknya memeluk Gomesh dan ikut menangis.


"Ayo masuk Pa, papa harus menjaga kami semua di sini. Perusahaan juga butuh Papa. Tahun depan jika ada panggilan itu lagi. Kita yang akan meninggalkan mereka ya pa!" ujar Maria.


Gomesh terisak, memang Virgou melepas jabatannya sementara dan menyerahkan pada Gomesh seorang.


"Ketua!" Pablo dan Fabio menenangkan pria itu.


Sementara di tempat lain. Rina dan dua anaknya tengah menikmati perjalanan, mereka berada di sebuah pesawat bersama para pendeta dan beberapa biarawati.


"Nyonya, apa ini perjalanan pertama ibadah anda ke Betlehem?" tanya seorang wanita pada Rina.


"Iya benar," jawab Rina terharu.


Raja duduk di dekat jendela. Remaja itu berkali-kali mengucap terima kasih pada Samudera.


"Jika kamu jadi boss nanti. Aku mau jadi ajudanmu Sam!" tekad Raja yakin.


Raja berubah banyak, ia jadi lebih sering belajar. Virgou memberi ibunya sebuah modal usaha jualan di pasar. Bajaj miliknya disita oleh pria dengan sejuta pesona itu.


"Kendaraan ini sangat berbahaya nak!"


Raja sangat ingat kebaikan-kebaikan keluarga super kaya raya itu.


"Entah bagaimana aku membalasnya Sam. Semoga Tuhan melancarkan dan memberi keselamatan pada kalian semua!" doa Raja dalam hati penuh harap.


Sementara di bandara semua rombongan sampai. Fael dan Angel tertidur karena perjalanan jauh.


"Kalau mereka kembali. Aku yakin mereka sedih ketika kita sampai," keluh Bart.


Sukma dan Ambar membawa dua bayi itu pulang ke mansion.


"Ayo naik pesawat!" seru Dahlan.


Semua terbagi dengan baik. Para bocah di bawah usia enam tahun ikut ayah ibu mereka. Zhein dan Karina menggandeng Gino dan empat adiknya.


Beberapa anak angkat Bart sudah bisa menjaga diri mereka sendiri itu pun masih bersama para pengawal.


Lima pesawat siap memberangkatkan rombongan haji. Paling akhir adalah rombongan Keluarga Dougher Young.


Tentu saja rombongan mereka sama dengan rombongan haji lainnya. Selama sepuluh jam perjalanan akan mereka tempuh untuk sampai di kota suci Mekkah.


Di mansion, Sukma dan Ambar sampai menggendong Fael dan Angel. Gomesh sedih lebih-lebih Maria.


"Mereka pasti rewel ketika tak melihat saudaranya," keluh wanita itu.


Sepasang suami istri itu mengambil alih bayi kembar mereka.


"Mama ... lapar loh!" keluh Nai.


"Eh ... iya sayang," ujar Maria.


Wanita itu tampak linglung karena sendirian di mansion besar itu. Bart meminta Maria dan semua menginap di sana selama keluarga berhaji.


Fabio dan Pablo sudah membawa pulang istri mereka. Para pembantu dan pengawal tampak terbengong-bengong.


"Astaga;" seru Marco kesal sendiri.


"Kenapa?" kekeh Michael.


"Kenapa aku seperti orang tersesat?" tanya Marco yang memang benar-benar kehilangan semua kerusuhan.


"Kalau gitu papa ... gimana kalo Domesh yang ngerjain papa!" celetuk Domesh.


"Baby!" peringat sang ayah.


"Nggak apa-apa Tuan muda ... coba lah!" sahut Michael tertantang.


Domesh menatap Bomesh yang malas. Bariana sama sekali tak menanggapi ide kakaknya itu.


"Nggak jadi deh Pa!' sahut Domesh lemah.


"Nggak seru," lanjutnya.


Michael dan lainnya hanya bisa menghela napas. Kini mereka seperti bersantai menjaga hunian besar itu.


Sepuluh jam perjalanan tak terasa. Ketika sampai mereka berjalan menuju hotel dan akan melakukan tawaf setelah mengganti baju ihram.


Semua anak bayi tetap dibangunkan. Semua tak ada yang rewel. Mereka antusias dengan kegiatan itu.


Pengawalan SavedLived tak bisa dianggap remeh. Kesatuan mereka menjaga klien tentu bisa diacungi jempol.


Tapi di kota suci itu semua bisa terjadi. Namun, para pengawal adalah manusia-manusia disiplin tinggi. Mereka bergerak sesuai arahan dan tak ada cacat sama sekali.


"Muma ... pa'a pita atan butelin ta'bah?" tanya Maryam lalu menguap.


"Iya baby, kita harus putar Ka'bah tujuh kali," jawab Saf.


"Bana ta'bah?" seru Arsyad dan bayi-bayi lain heboh.


"Wah ... banat wowan!" ujar Arsh takjub.


Mereka bergerak mengelilingi Ka'bah. Semua mengikuti para staf haji dan berdoa sesuai urutan.


"Mama mau cium hajar aswat!" pinta Sky langsung maju menerobos orang-orang.


"Baby!" Fio dan lainnya sigap sebelum bocah itu terinjak-injak.


Sky bergerak, Benua dan lainnya juga bergerak. Anak-anak berhasil mencium batu suci itu.


"Aku juga!" sahut Bart.


Pria gaek itu bergerak. Herman ikut dan lainnya juga. Seluruh rombongan berhasil mencium batu yang katanya dulu berwarna putih itu dan kini berubah hitam akibat banyak manusia berdosa menciumnya.


Usai tawaf, semua mengerjakan sholat di depan pintu Ka'bah. Kekhusyukan keluarga besar itu jadi sorotan terutama anak-anak bayi yang tak berulah sama sekali.


"Sholat selesai, kita istirahat dan akan melakukan ibadah lainnya esok hari!" ujar staf haji.


Bersambung.


Ah ... udah di tanah suci aja nih!


othor berdoa moga-moga semua Readers dan othor akan berangkat haji suatu hari nanti. aamiin ya rabbal alaamin!


next?