THE BIG FAMILIES

THE BIG FAMILIES
MIMPI GINO



Virgou menatap Marco yang diam tertunduk. Ia memang salah membawa semua anak melihat even besar di tengah kota melewati jalan arteri dengan mobil listrik.


"Kau tak berpikir ...."


"Sayang, sudah jangan terus dimarahi!" ujar Khasya menenangkan Virgou.


"Kau tau sendiri jika semua putramu akan penasaran jika tak dituruti. Lebih baik dituruti dari pada buat kita jantungan karena mereka melarikan diri dari pengawalan!" lanjutnya menjelaskan.


Virgou cemberut, Khasya memang selalu ada di pihak yang benar. Perempuan itu selalu bisa mengambil sikap netral.


"Maaf tuan. Ada aduan tentang tuan muda Gino," ujar Marco memberitahu.


"Kenapa dengan putraku satu itu?" tanya Virgou dengan kening berkerut.


"Wakil wali kelasnya kedapatan Tuan muda suka berpandangan kosong," jawab Marco.


"Apa itu menganggu pelajarannya?" tanya Virgou.


"Beliau berkata, memang setiap diberi pertanyaan tuan muda selalu sigap. Tapi, jika tidak diperhatikan akan mengganggu belakang hari," jawab Marco lagi.


"Baiklah!" angguk Virgou.


"Kau boleh pergi!" lanjutnya mengusir anak buahnya itu.


Khasya suka berdecak melihat kelakuan arogan Virgou. Ia mengelus bahu Marco dan meminta maaf.


"Tidak masalah bunda," ujar Marco tersenyum.


"Sayang," Khasya mendekati Virgou.


Pria itu menatap perempuan yang ia sayangi. Mendapat tatapan menuntut dari Khasya membuat Virgou minta maaf.


"Tolong ubah sikapmu sayang. Kau punya banyak anak. Mereka mengkopi semua perbuatan dan perkataan kita mentah-mentah!" ujar Khasya memperingati pria itu.


"Bunda tak mau semua anak berlaku kurang ajar karena melihat tingkah kita sayang," lanjutnya memberi pengertian.


"Iya bunda, maaf," ujar Virgou menunduk.


Khasya memeluk pria yang disayang semua anak-anak. Khasya juga sangat menyayangi Virgou seperti anak yang ia lahirkan dari rahimnya sendiri.


Sementara itu, Gino tengah duduk mengawasi semua adik-adiknya yang bermain. Della mendekatinya.


"Kakak," Gino menoleh.


"Eh ya dek!?" sahut Gino sedikit terkejut.


"Kakak mikilin apa? Kok sepelti bengong?" tanya Della.


Chira, Zora dan Vendra sedang berada di dekat Gino jadi ikut melihat arahnya.


"Benon pa'a Aypi?" tanya Chira.


"Bengong itu sepelti melamun," jawab Della.


"Aypi peusal seupenah beumana mitilin pa'a?" tanya Chira lagi.


"Nggak aunty baby, baby besar setengah nggak mikir apa-apa!" jawab Gino.


"Janan bolon woh!" peringat Chira.


"Wiya amuh nti lolosa!" tunjuk Zora menakuti.


"Lolosa ipu pa'a?" tanya Vendra lalu memasukan biskuit ke mulutnya.


"Lasil peulpuwat pidat pait aypi," jawab Chira.


"Sontohna bolon!" lanjutnya sengit sambil menatap Gino.


Gino hanya diam, ia tak menyangkal perkataan bibi bayinya. Bocah itu tak menjawab apapun.


"Kak," panggil Della lagi merasa cemas.


"Kakak nggak apa-apa dek, kamu main aja sana!" ujar Gino meminta Della tak mengkhawatirkan dirinya.


"Tapi kakak ...."


"Baby!" peringat Gino sedikit meninggi suaranya.


Semua bayi menoleh pada Gino. Bocah itu menutup mata. Della, sudah biasa kena marah dulunya ketika ia masih tinggal bersama ayah dan ibunya. Jadi suara keras Gino tak berarti apa-apa.


"Baby, kenapa kamu teriak?" tanya Layla yang mendengar suara keras Gino.


"Nggak ada apa-apa Umi!" jawab Gino.


"Bolon Mumi ... Aypi Ino bolon!" adu Chira.


"Baby?" tanya Layla menatap bocah berusia mau delapan tahun itu.


"Sayang," wanita beranak kembar sepasang itu mendekat dan duduk di depan Gino.


Semua bayi nampak tertarik, mereka ikut mengerumuni Layla.


"Sayang, mau cerita sama umi?" tanya Layla lalu memegang tangan kecil Gino.


Bocah itu menggeleng, ia bersikeras tak memberitahu apapun apa yang ia rasakan.


"Sayang, kamu tau kan kalau berbohong itu dosa?" ujar Layla mengusap pipi Gino.


"Bukankah dosa kita tanggung sendiri umi?" pertanyaan Gino membungkam Layla.


"Memang sayang, tapi nanti umi dan semuanya akan ditanya sama Allah kenapa membiarkan Baby berbohong," jawaban Layla yang kini membuat Gino bungkam.


"Sayang mau cerita?" tanya Layla lagi.


"Selita Ata'!" paksa El Bara.


"Janan puwat tamih bati peunasalan!" sahut Arsyad.


"Atuh pidat bawu sadhi petan peuntayanan!' geleng Al Bara.


"Pundu pulu!" seru Maryam merentangkan tangannya.


Semua bayi diam, lalu Maryam meminta Gino menceritakan keresahannya.


"Kakak nggak apa-apa! Bener!" jawab Gino dengan senyum.


"Pa'a tamih putan pa'a-pa'a Ata'?" tanya Fatih sengit.


"Biya, tamih ipu sauladamu Ata'!" ujar Arsh bijak.


"Pa'a yan sadhi basalah. Apan Baji Baby Alsh atan peumpantumu!" lanjutnya.


Gino menitikkan air mata. Bocah itu memang sedang gelisah akhir-akhir ini. Ia bermimpi ayahnya yang masih mendekam di balik jeruji besi.


"Gino mimpi ayah manggil-manggil Gino," jawabnya dengan air mata berderai.


"Kok kakak nggak celita?" sengit Lilo dan Seno kesal.


"Ata' bimpi papa pa'a?" tanya Dita sedih.


"Susul Ita taneun papa," lanjutnya dengan suara lirih.


"Ngapain kamu kangen papa! Papa nggak pernah sayang Ama kita!" seru Lilo dengan muka memerah.


"Peumana papa Ata' Dhino teumana?" tanya Fathiyya.


"Di penjala!" jawab Seno dengan nada benci.


"Pensala?" semua mata bayi membesar.


"Peumpat paa ipu?" tanya Aisya.


"Atuh pahu!" seru Xierra.


"Pa'a?" tanya semua bayi menatapnya.


"Peumpat wowan-wowan sahat pindal!" jawab Xierra yakin.


"Janan nadhi-nadhi aypi!" peringat Aarav.


"Lila dat adhi-adhi pom payi!" seru Xierra.


"Bana lada papa sahat mama nanatna peundili!?" sengit Al Bara bertanya.


"Atuh butina!" jawab Vera.


Empat tahun berlalu, keberadaan Prapto dan dua pria lainya memang tak diketahui lagi. Virgou membiarkan ketiga pria itu membusuk di penjara.


"Lalu apa yang buat Baby sedih?" tanya Layla tak menggubris obrolan para bayi sok tau itu.


"Kakak kangen papa?" tanya Della.


Gino menggeleng, ia seperti takut mengutarakan mimpinya.


"Baby, baby lihat umi!" pinta Layla lalu menatap bocah yang seperti ketakutan itu.


"Umi dan semua ibu di sini akan melindungi Gino dari apapun, jadi jangan takut!" lanjutnya memberi kekuatan pada Gino.


"Papa datang dalam mimpi, minta maaf dan pamit umi," jawab Gino yang membuat Layla diam.


"Lalu apa Baby mau maafin papa?" tanya Layla.


"Aku nggak!" tolak Lilo dan Seno bersamaan.


"Ata'," Dita mendekati Gino.


"Baafin papa Ata'," pinta gadis kecil itu.


"Baby!" seru Lilo dan Seno, keduanya berlinang air mata.


"Teunapa talian sadhi nanat dulhata syih!" sengit Aarick pada Seno dan Lilo.


"Nggak apa! Bial kami masuk nelaka kalena ndak maafin papa!" seru Lilo.


"Janan tasal mama papa Aypi!' peringat Sena Starlight kembaran Aarick, Alva mengangguk membernarkan.


"Memaafkan itu tempatnya surga loh," ujar Layla.


"Masa kalian lebih memilih neraka?" lanjutnya menatap Lilo dan Seno.


"Biya pi neulata pidat nenat. Pita butan ladhi nanat sisilan pama nanat fifiya!" angguk Chira.


"Gino boleh jenguk papa umi?" tanya Gino.


"Untuk apa kamu mengunjungi ayahmu?" sebuah suara gusar membuat semua bayi menoleh padanya.


Bersambung.


suara siapa Yo?


Next?