THE BIG FAMILIES

THE BIG FAMILIES
MALAS



Minggu datang, semua anak hanya berbaring tak ada kegiatan. Sean telah menuju kafenya. Adiba bersama Satrio melihat perkembangan kafe bayinya.


"Pita eundat pa'a-pa'ain dithu?" tanya Arsh suntuk.


"Banas Paypi," jawab Aarav.


"Iya padahal baru jam delapan pagi," ujar Della.


"Banyak banget pengawal sampe kita nggak bisa main di luar!" keluh Sky.


"Kak, kan setiap kita keluar nggak bisa lepas dari bahaya!" sahut Harun mengingatkan.


Sky berdecak, padahal ia ingin berpetualang. Tapi para pengawal tak mau melepas pandangan mereka.


"Bagaimana jika Daddy tantang kalian untuk bisa lari dari penjagaan kami?" ujar Virgou tiba-tiba memberi ide.


"Sayang!' peringat Puspita.


"Boleh Dad!" sahut Kean antusias.


"Tapi dengan syarat! Kalian tidak boleh bekerjasama!" ujar Virgou.


"Mana bisa ... Kalian juga menjaga kami bekerjasama kan!" sahut Al ketus.


"Usul kita buat kelompok, masing-masing kelompok membuat cara sendiri untuk bebas dari pengawalan?!" Arfhan mengungkap ide.


"Wah, ide bagus itu!' Terra langsung setuju.


"Bagaimana jika Papi akan kasih hadiah. Siapa yang bisa kabur dari mansion Grandpa tanpa ketahuan. Papi hadiahkan satu motor trail roda tiga!'


"Oke papi ... papi yang bilang ya?" sahut Dewi ikut-ikutan.


Semua perusuh senior berembuk. Kean, Cal, Al dan Dimas serta Daud jadi satu untuk membentuk kelompok.


Maisya masuk dalam kelompok Dewi dan Kaila. Duo R bersama Dewa dan Samudera.


"Wah kita ikut siapa nih?" tanya Benua.


"Sama kita aja Kak!" ajak Sky.


Benua, Domesh ikut kelompok Sky, Bomesh dan Arfhan.


"Kita nggak ikutan gitu?" tanya Bariana pada Harun.


"Really?" Harun memutar mata malas.


"Kita ikut baby!" sahut Ditya.


"Kak?" Harun tak percaya.


"Kita ikut!" sahut Ditya tersenyum.


"Asik!' seru Bariana.


Ditya, Radit, Gino, Harun, Azha, Bariana, Arraya dan Arion pun berkumpul membentuk kelompok.


"Della juga ah, siapa yang mau ikut!"


"Lino, Lana, Leno!' triple eL menyahut.


"Aku juga!" ujar Seno dan Ari.


Sedang yang lain memilih diam. Aminah dan semua kakaknya tak ada yang ingin ikut.


"Imih pidat pisyah pibialtan!' sungut Arsh.


"Pita tabun jaja! Ndat syuyah pate lensana!" sahut El Bara.


"Atuh tabun!' seru Xierra yang berlari dan disusul bayi-bayi lainnya.


Para pengawal tentu kerepotan. Di sanalah para senior beraksi. Kean pura-pura mengejar para bayi.


"Dapat aunty baby!' pemuda itu menangkap Zaa.


"Aypi peusal!" pekik Zaa.


Kean menciumi bayi itu dan berjalan namun bukan menuju dalam rumah. Cal, Al dan Daud juga melakukan hal sama.


Banyaknya bayi merangkak dan lebih cepat bergerak di banding para pengawal. Semua heboh dan berteriak-teriak.


"Baby ... Papa Exel jatuh baby!' rengek Exel yang pura-pura jatuh.


Hal itu membuat para bayi kembali pada mereka. Semua bayi berhasil tertangkap, tapi tidak dengan Kean, Calvin, Al dan Daud.


"Semua tertangkap ... Eh ... Tuan muda Kean?" Michael sampai berputar mencari keberadaan mereka.


"Nona Zaa, Nona Zora dan Tuan baby Vendra ikut serta!' lapor Ken.


"Mereka belum jauh. Jaga penjagaan di semua pintu masuk!' perintah Dahlan.


Sementara itu Kean yang menggendong Tante kecilnya mengambil gendongan di jemuran. Al, Daud dan Calvin melakukan hal sama.


"Semua papa pasti menjaga pintu!' ujar Cal.


"Wewat sendela Aypi beusal!" sahut Zora memberi ide.


"Jendela?" Kean berkerut.


"Gudang belakang ada jendela menuju jalan raya. Tapi itu kecil banget!" ujar Al mengingat.


"Ayo bergerak cepat sebelum para papa menjaga bagian pintu belakang ini!" tukas Al tak sabaran.


"Kita lari ya!?" ajak Kean yang diangguki semua saudaranya.


Kean mengintip, ia melihat beberapa pria berpakaian hitam berjalan cepat menuju pintu. Ia langsung melangkah lebar.


"Lari semuanya!" teriaknya.


Al, Daud dan Calvin berlari. Semua pengawal yang melihat mengejar tiga pemuda yang membawa bayi.


"Tuan!"


Kean menghentikan satu taksi, ia langsung duduk di depan. Al, Daud dan David buru-buru masuk dan menutup pintu.


"Jalan Pak!" teriak Kean.


Supir menurut, pria itu menekan pedal gas. Para pengawal tentu tertinggal. Ken melihat plat mobil.


"Plat B 27689 EN!' lapornya melalui headset di telinganya.


Taksi itu bergerak sesuai arahan Kean. Pemuda itu harus bergerak cepat. Ia tak mau terkejar.


"Sampai di perapatan itu belok ya pak!" ujar Kean menunjuk.


"Itu kan tower listrik dek, bahaya buat bayi!' tolak pria itu.


"Udah nggak apa-apa pak!" ujar Al.


Mobil berbelok, mereka bertiga keluar. Kean yang membayar kendaraan itu.


Sebuah angkutan umum warna merah lewat. Ketiganya naik angkutan itu.


"Mereka pasti nggak ngira kalau kita naik angkot!" ujar Kean tersenyum penuh kemenangan.


"Pak ini ke mana pak?" tanya Al.


"Ke Mangga besar mas!" jawab sang supir.


"Wah ... Udah sejauh itu?" kekeh Kean tak percaya.


"Aypi ... Waus!" keluh Zora.


"Oh baby haus ya!" Kean berdecak.


Zora belum boleh minum apa-apa selain susu ibunya, begitu juga Vendra.


"Ah ... gagal lagi kita!" sahut Calvin menghela nafas panjang.


Kean terpaksa turun, ia membeli air putih kemasan untuk sekedar melepas haus bibi dan paman kecilnya.


"Yah ... Pita pulan don?" sahut Zaa kecewa.


"Maaf baby," ujar Kean.


Tak lama mereka dijemput oleh beberapa pengawal. Zora dan Vendra sudah menangis karena haus.


"Gimana?" tanya Virgou dengan seringai jahil.


Zora dan Vendra sudah berada dalam dekapan ibu mereka. Kean, Cal, Al dan Daud hanya menunduk.


"Kita kalah," aku Kean jujur.


Puspita memarahi suaminya. Ia tak suka cara sang suami memberi tantangan.


"Salah mereka sendiri!" kelit Virgou tak mau disalahkan.


Sky, Arfhan dan Bomesh saling pandang. Ketiga anak berusia sepuluh tahun itu tentu punya rencana lain yang tak diduga oleh semua orang dewasa.


Mereka bergerak seperti biasa. Ketiganya kini ada di tempat yang sama di mana Kean dan lainnya melarikan diri.


"Papa nggak pernah menjaga lagi kalau anak-anak sudah tertangkap," ujar Arfhan.


"Aku bawa uang di saku lima ratus ribu!' ujar Bomesh.


"Banyak amat!" sahut Sky sewot.


"Ah ... ayo kita gerak!' ajak Arfhan.


Krieet! Pintu belakang yang terbuat dari besi terbuka. Arfhan menatap sosok tinggi menjulang di sana.


"Baby?" sapa Gomesh gemas dengan putra-putranya yang selalu tak kehilangan akal.


"Papa kok di sini?" tanya Arfhan berlaga polos.


"Masuk Baby!" ajak Gomesh.


Bahu Arfhan, Sky dan Bomesh turun. Mereka gagal berpetualang lagi. Virgou memandangi tiga anak pemberani dan banyak akal itu.


"Berpikir lebih cerdik lagi sayang," tantang pria dengan sejuta pesona itu.


"Nggak apa-apa, nanti ada lagi waktu untuk kita berpetualang ya!" sahut Ditya menenangkan adik-adiknya itu.


"Sayang!' peringat Aini cemas.


"Tidak apa-apa sayang, biar mereka mengembangkan imajinasi dan ide mereka untuk kabur dari pengawalan kami!" putus Gio.


"Dengan begitu kami pasti bebenah untuk memperbaiki kinerja kami!" lanjutnya.


Bersambung.


Ah ... belum seru.


Next?