
Senin pagi, anak-anak mulai sekolah. Theo kembali mengawal Sky, Bomesh dan Arfhan. Pria itu masih sedikit kaku dengan anak-anak.
"Papa tegang amat!" ledek Sky.
"Iya nih, santai aja sih Ama kita," sahut Bomesh.
Theo hanya bisa menghela nafas panjang. Setelah melihat kelakuan semua anak yang berhasil melarikan diri dari pengawalan. Membuat pria itu makin berpikir keras bagaimana dirinya selaku kepala pengawal tak kecolongan lagi.
"Ayo masuk sana!" suruh Theo.
Hari sedikit terik, anak-anak sudah berada di lapangan sekolah untuk melakukan upacara bendera.
Selama mereka sekolah, tak satupun anak yang pernah jadi petugas upacara.
"Sky!" panggil seorang guru.
"Saya pak?" sahut Sky.
Guru itu sedikit ragu untuk mengatakan sesuatu. Ia menatap ketiga anak didik yang sudah tinggi itu.
"Kalian latihan mengibarkan bendera sana!" suruh guru itu.
"Apa?!" pekik tiga anak kaget.
"Pak jangan pak. Latihan aja masih suka salah, apa lagi kami!" tolak Arfhan langsung.
"Dek!" Ditya datang.
"Dah, Arfhan jadi petugas pembaca acara deh. Ditya kamu jadi pengibar, Bomesh kamu menarik tali dan Sky kamu jadi pembawa baki!" perintah pria itu langsung.
"Pak!"
"Cepat kerjakan!" teriak guru itu.
Dengan persiapan yang minim. Keempat anak itu harus berlatih singkat.
"Ayo siap-siap!" teriak pria itu tak sabaran.
Usai latihan sepuluh menit. Mereka mulai bersiap. Jantung Sky, Ditya, Bomesh dan Arfhan berdetak cepat.
Waktu sudah menunjukkan pukul 07.20. Sangat telat untuk melakukan upacara. Tapi semua anak sudah berbaris rapi di halaman.
"Uh panas ya!' keluh salah satu murid merapatkan topinya.
Semua berpeluh, matahari makin terik. Beberapa anak pingsan karena tak kuat. Titis juga nyaris roboh jika tak digenggam tangannya oleh Bariana.
Tiga puluh menit upacara bendera selesai dilaksanakan. Kepala sekolah baru juga tak mempersulit anak-anak yang mulai kepanasan. Ia menyingkat pidatonya.
"Alhamdulillah selesai!" keluh Arraya mengusap peluh yang membanjiri dahinya.
Semua masuk kelas dan minum. Guru masuk, ia menatap anak-anak yang minum.
"Ck ... Lemah sekali kalian. Dulu pahlawan kita berjuang tanpa kenal lelah!" decaknya mencibir.
"Para pahlawan kita itu terus berjuang walau terik dan hujan melanda!"
"Ini baru berdiri lebih lima menit saja kalian sudah kehausan!" lanjutnya menggerutu.
"Emang tadi ibu nggak minum?" tanya Bariana dengan tatapan menusuk.
Guru itu melotot, ia paling tak suka jika disahuti begitu.
"Kamu berani lawan ibu?!" bentaknya.
"Loh yang melawan siapa Bu? Bariana kan cuma nanya?" sahut salah satu murid.
"Nggak ibu tadi nggak minum, karena ibu sedang puasa sunnah!" jawab wanita itu dengan mata besar.
"Puasa ... Ibu puasa? Tapi tadi sebelum upacara saya lihat ibu di kantin makan mie?" sahut anak lainnya.
Muka guru itu memerah, ia tak menyangka jika dirinya tertangkap makan di kantin pagi-pagi sekali.
"Kamu pasti salah lihat!" sanggahnya.
"Sekarang buka buku kalian!" lanjutnya memberi perintah.
Selama menunggu, Theo tampak terkesan dengan sekolah yang baru saja mengadakan upacara bendera.
"Mereka mengibarkan bendera itu buat apa?" tanyanya.
"Untuk mengenang jasa para pahlawan yang telah gugur," jawab Ken.
"Lalu kenapa hari Senin?" tanya Theo lagi.
"Alasan yang pertama kenapa upacara bendera selalu dilakukan pada Hari Senin adalah, karena merupakan hari awal. Sebelumnya, kita merasakan hari Sabtu dan Minggu, di mana biasa dijadikan sebagai hari libur. Hari Senin merupakan awal mula pada segala aktivitas yang akan kita lakukan," jelas Ken lagi panjang lebar.
"Di Afrika, selama dua puluh tahun. Aku tidak pernah merasakan sikap disiplin tinggi pada anak-anak. Bahkan Baby Harun harus berpanas-panasan untuk mengerjakan kegiatan ini!" ujar Theo.
Tak terasa bel istirahat berbunyi. Semua anak berhamburan keluar kelas. Mereka memenuhi kantin dan keluar gerbang sekolah untuk jajan.
Di teras sekolah, seperti biasa Harun dan lainnya berkumpul untuk makan isi kotak bekal mereka.
Ken memindai semua anak dari balik pagar bersama Theo. Arraya kembali melambaikan tangannya.
"Ah, dia manis sekali. Sayang masih kecil," keluh Ken.
"Apa maksudmu?" tanya Theo gusar.
"Eh ... tidak ada ketua!" sanggah Ken langsung.
"Kulubangi kepalamu kalau sampai kau macam-macam sama para baby!" ancam pria itu.
Ken mengangguk, sungguh ia tak akan pernah bermaksud untuk mencelakai tuan dan nona mudanya.
Tapi Arraya memang sudah cantik dari kecil. Ken mengakui itu. Pria itu meyakini jika Arraya akan jadi kembang di manapun dia berada.
Sementara di hunian besar Demian semua anak tengah berenang. Rosa, Dian dan lainnya tengah mengawasi anak-anak.
"Moma!" pekik Faza tergelak.
Setelah tiga bulan menikah, wanita itu memang jarang bersama anak-anak. Remario sering mengajak istrinya bekerja bersamanya.
"Nyonya, jangan main air. Nanti pakaian nyonya basah!' larang Dian.
"Ck!' Rosa berdecak.
Dian menunduk, ia tak mau jadi sasaran kemarahan suami dari rekan kerjanya itu.
"Nyonya ... Saya mohon," pinta Dian sangat.
"Babies ayo sudah berenangnya!" teriak Najwa.
''Yah!" keluh protes keluar dari semua bayi.
"Eh ... kalian udah mau satu jam di air!" teriak Najwa lagi.
'pastu sam ladhi Mama!" pinta Aarav.
'No baby!" tolak Najwa tegas.
"Naikkan mereka Dian!" lanjutnya memberi perintah.
"Wayo pita peteunah!" suruh Meghan.
Dian melotot, tentu saja para bayi cerdik dan cepat itu bergerak ke tengah dengan gesitnya.
"Babies ...!" panggil Rosa.
"Tamih peulum buwas Moma!" teriak Zaa.
"Oh jadi kalian melawan ya. Oke mama nggak jadi buat pastel goreng deh!" ujar Najwa.
"Buat saja Nini tapi kasih kami!" sahut Exel dengan seringai jahil.
"Wah ... Pijibana imih?" tanya Xierra berbisik.
"Pa'a peunel Nini pidat atan tasyih pita matanan ipu?" tanya Aaima.
'Wah ... Atuh pidat bawu lapan!" tolak Fatih menggeleng.
"Dinin baby ... nait aja yut!' ajak Alia pada Faza.
"Wiya, Ata' Ania ugha udiminan!" ujar Sania menggigil.
Akhirnya semua bayi kalah. Mereka ke pinggir kolam hingga memudahkan para pengawal menaikkan mereka.
Tetapi di tengah Arif yang menuntun adik-adiknya untuk ke pinggir tiba-tiba merasa kakinya berat.
"Ughh!" keluhnya pelan.
Cepak! Cepak! Bunyi kecipak air terdengar. Arif berusaha untuk berada di atas air.
Ustman yang memakai ban di lengannya melihat sang kakak yang kesulitan naik ke atas permukaan air.
"Ata'?" bayi itu mendekat.
"Sana dek ... Janan detat!" teriak Arif.
"Ata'!"
Michael melihat Arif yang berenang seperti bermain. Pria itu menggeleng kepalanya.
"Jangan kebanyakan main baby!" peringat Michael.
Memang adik-adik Tiana berada di sana. Sri tetap berkunjung ke rumah majikan putrinya. Sang suami juga memperbolehkannya.
"Ata'!" teriak Ustman menangis.
Michael baru menyadari jika sesuatu tak beres terjadi. Pria itu gegas menceburkan diri ke kolam.
"Baby!" teriak Sri melihat putranya tengah ditolong Michael.
"Uhuk!" air keluar dari mulut bayi usia empat tahun itu.
"Baby!" Sri memeluk putranya.
"Terima kasih mas," ujarnya pada Michael.
"Kaki Alif klam Bu, jadi syuyah didelatin padhi," ujar Arif memberitahu.
Semua anak telah berganti baju dan makan pastel goreng. Arsh teringat perkataan Theo waktu itu.
"Days!" semua menoleh.
"Pa'a?"
"Pa'a yan teulsadhi pama Ata' Alif ipu seupelti tata Papa Beo?" tanya Arsh.
"Beumana Papa Peo pilan pa'a?" tanya Nouval.
"Seluntil!" jawab Arsh.
"Seluntil?" semua mata membesar.
"Pa'a ladhi ipu?" tanya Zaa sampai mendengkus kesal.
"Apan Baji Baby Alsh pidat pahu Anti peusil. Tata papa teumalin papa pilan seluntil, tewus susil lan tutil!" jawab Arsh yang makin membingungkan semua saudaranya.
"Banti pita panya pama Papa Peo pa'a alti ipu peumuwana!" tukas Aaima diangguki semua bayi.
Bersambung.
Nah selamat pusing papa Peo nanti pulang.
next?