THE BIG FAMILIES

THE BIG FAMILIES
CINTA FIO



Fio menggantikan Ilham menjaga Dewa. Setelah kemarin semua perusuh membuat perkara.


Maid yang mencubit Zizam dan Izzat ditimpuk bola tenis. Terra dan ibu-ibu lainnya tentu hanya memperingati bayi-bayi itu.


"Mama Aypi sisupit ma ... Sisupit!" sengit Zora.


Luisa hanya tersenyum lebar. Ia memang paling benci dengan orang yang tidak menyukai anak-anak. Apa lagi sampai menyakiti mereka.


Melihat kepala Idah yang benjut. Luisa dan ibu-ibu tak membela mantan asisten rumah tangga yang kini berurusan dengan hukum.


"Anak-anak kenapa mbanya dilempar bola?" tanya polisi berpakaian bebas.


"Woh ... Teunapa wowan ipu subit sualada atuh?" sengit Maryam menunjuk Idah yang tertunduk.


Petugas mengurutkan kening karena tak mengerti bahasa bayi. Akhirnya, Idah menjadi tahanan kota. Ia tak ditahan karena faktor kemanusiaan. Rion sempat protes.


"Dia nggak manusiawi ketika nyubit anak saya!"


"Tapi kan udah dibalas sama anak-anak pak, tuh kepalanya benjol," ujar petugas.


Rion kesal, ia masih belum puas. Tapi Khasya menenangkan pria muda itu.


"Baby, sudah ya," pintanya.


Jac juga tidak mempermasalahkan hal itu. Terlebih ia melihat benjolan di kepala wanita yang menyakiti anaknya.


"Udah lah ... Biar anakku kuat nantinya,"


Darren juga tak mempermasalahkan begitu juga Saf dan Putri.


Sementara dua bayi mau empat tahun itu kini manja dengan ibu mereka.


"Muma ... Atit Muma!" rengek Izzat pada ibunya.


Jika seluruh saudara Izzat bermata abu-abu. Berbeda dengan dirinya. Izzat bermata coklat terang seperti ayahnya. Bayi itu memeluk Saf ala koala. Begitu juga Zizam yang tak mau lepas dari ibunya.


"Yut bain!" ajak Aaima.


"Pumpen ajat bain. Piasana tamuh banyi?!' sindir Zaa.


"Wih ... Poleh nih banyi?" tanya Aaima.


"Tuh benayisss ...."


"Sop ... Sop!" pekik Zaa menutup kedua telinganya dengan telapak tangan.


"Doyan somplet ... Doyan somplet ... Ban Jaja palin danten!"


"Bang Azha baby!" tekan Azha mengingatkan.


"Pan Azha ... Balin panten ... Mima suta apan ... Suta setali!" ralat Aaima.


Terra berdecak mendengarnya. Azha dari bayi sudah mengklaim jika Aaima adalah miliknya.


'Kek ngerti aja!" ketus wanita itu sebal.


Selesai jumatan anak-anak tidur siang. Tak ada yang boleh melanggar hal itu.


Jelita duduk menatap pria yang juga memandangnya. Gadis itu menghela napas panjang.


Walau Bart adalah ayah angkatnya. Tapi Herman yang menjadi tolak ukur pria tua itu. Waktu Anggraini dipinang oleh Michael juga harus melalui persetujuan Herman.


"Siapa yang kau lihat?" sebuah suara mengagetkan gadis itu.


Herman menatap Fio yang membuang muka langsung. Pria tua itu menghela nafas panjang.


"Suruh Fio menemuiku dan papamu!" perintahnya.


Jelita menatap Herman. Gadis itu memandang tak percaya lelaki yang paling ditakuti dan disayang semua anak itu.


"Apa ayah serius?"


"Cepat suruh dia menemuiku sebelum aku berubah pikiran!" sungut pria itu menjawab kesal.


Herman hendak pergi, namun ia sangat terkejut ketika Jelita berteriak.


"Bang Fio! Temui ayah dan Papa sekarang!"


"Sayang!" peringat Herman.


Jelita hanya tersenyum lebar. Gadis itu memang sedikit bar-bar dibanding anak perempuan Bart lainnya.


"Kamu bilang apa?" teriak Fio.


"Anak sialan!" umpat Herman kesal.


Fio gegas mendatangi pria itu. Dian hanya memandang nanar pemuda yang dulu pernah menyatakan perasaannya. Tapi ia menolak karena masih fokus pada karirnya.


Fio mengikuti Herman begitu juga Jelita. Jelita sudah menjadi dokter umum. Gadis itu bernasib sama dengan Anggraini dan anak-anak panti.


Jelita, dua empat tahun. Gadis cantik berhijab. Tak banyak ulah karena ia memang tak ingin menarik perhatian. Doanya di pertiga malam diijabah. Gadis itu memang menyukai Fio.


"Tikungan paling mustajab adalah doa di pertiga malam!" gumamnya semangat.


"Jadi kau benar-benar menyukai jelita dan ingin menjadikan istrimu?" tanya Herman duduk di hadapan sepasang manusia yang menatapnya antusias.


"Iya ayah!' jawab Fio.


Bart datang, ia duduk di sisi Herman. Pria itu langsung memberitahu jika Fio menyukai Jelita.


"Kau tau, aku paling tidak suka jika kalian berlama-lama menjalin hubungan tanpa ikatan?" ujar Bart langsung.


Fio sangat tau itu, makanya ia telah menyiapkan semuanya.


"Tuan, saya sudah punya rumah walau kecil. Ada kendaraan juga. Gaji saya juga cukup menghidupi istri dan anak-anak saya kelak!" ujar Fio memastikan.


"Fio anak yang baik dan bertanggung jawab dad. Kau tidak akan menyesali putrimu dinikahkan dengan salah satu pengawal," ujar Herman.


"Anggraini Dewi telah dipersunting Chef yang bekerja di kafe milik Adiba. Lalu Anggraini yang satu lagi telah menikah dengan Michael. Lalu Jelita, tinggal Ratini yang belum, apa aku jodohkan saja dia dengan Theo?" tanya Bart pada Herman.


"Apa Theo mau menikah?" tanya Herman ragu.


"Apa ... Kenapa kau ragu?" tanya Bart.


"Ya ... Dia orangnya dingin dan kaku seperti itu. Aku takut burungnya sudah dibekukan ...."


"Anak sialan!" sentak Bart kesal.


"Sudah, kau urus pernikahan kalian. Kalau bisa dipercepat!" lanjutnya memberi perintah pada Fio.


"Jadi saya boleh menikahi Jelita?" tanya Fio tak percaya.


"Lalu, apa aku harus melarang kalian!" tanya Bart sengit.


"Jangan Pa!" seru keduanya kompak.


Jelita dan Fio saling pandang. Lalu keduanya tersenyum malu. Bart dan Herman langsung berdecak.


"Oke, mulai sekarang kau harus menjauhi Jelita! Temui dia setelah sah menjadi istrimu! Aku beri waktu dua minggu mengurus semuanya!" perintah Herman lagi.


Pria itu berdiri dan mendekati Jelita. Gadis itu diamit tangannya dan dibawa pergi dari sana.


"Cepat! Apa yang kau tunggu anak sialan!" sentak Bart yang melihat Fio bergeming di sofa.


Fio gegas berdiri, ia akan langsung minta surat ijin menikah dari kesatuan. Dahlan yang mengetahui itu langsung memberi memo pada Deni untuk membantu Fio.


"Ada apa ini, kok pada heboh?" tanya Theo yang melihat Dahlan selesai menelepon Deni di kantor pusat.


"Fio akan menikah dengan putri angkat Tuan besar Bart," jawab Dahlan.


Theo yang sudah diberitahu jika dua pengawal telah berhasil menikahi anak dari atasan mereka. Langit dan Reno sangat beruntung mendapatkan keturunan langsung dari Dougher Young dan Triatmodjo.


"Eh, katanya kau mau dijodohkan dengan Ratini," ujar Dahlan.


"Ra ... Siapa?" tanya Theo.


"Nona Ratini Andoro. Gadis yang menjadi guru olah raga di sekolah Tuan muda Samudera," jawab Dahlan.


Theo terdiam, ia memang belum menikah di usia matangnya. Ia belum mengenal banyak semua anak-anak.


"Apa aku boleh menyelidiki siapa itu Ratini?" tanyanya mulai tertarik.


"Tentu saja. Semua data gadis itu ada di markas!" jawab Dahlan.


Sementara itu di sebuah Dojo. seorang gadis baru saja mengalahkan lawannya dengan satu kali tendangan.


"Hatchi!' Ratini bersin.


"Duh, siapa lagi nih yang ngomongin?!' keluhnya menggosok hidung.


Bersambung.


Semua pada mau nikah.


Othornya tetep jomblo ... Hiks!


Next?