THE BIG FAMILIES

THE BIG FAMILIES
HEBOH



"Hajan wuyuy!" pekik Arsh semangat.


Kean dan lainnya bertepuk tangan. Sementara para tamu undangan hanya bisa menonton pertunjukan gratis itu. Siapa sangka, para pebisnis adalah rekan Virgou di dunia mafia dan juga para pengawal yang bergabung di SavedLived.


"Apa ini ... Pertunjukan drama?" bisik salah satunya.


"Nikmati saja tuan!" sahut Deni santai.


Burhan tergeletak di lantai dengan hidung berdarah. Mita dan ibu juga ayahnya terdiam melihat itu.


"Kau memang tidak pernah mengakui putrimu Burhan. Kau lah yang bersalah di sini!" ujar Mita cuci tangan.


Terra paling sebal melihat orang yang culas. Wanita itu mendatangi Mita, dan ....


Plak! Satu tamparan keras mendarat di pipi wanita itu.


"Budi, Dahlan!" teriaknya.


Virgou hanya duduk santai, ia sangat tau apa yang ingin dilakukan oleh adik sepupunya itu.


"Nona!" dua pria tampan membungkuk hormat.


"Buang mereka ke tengah laut!" perintah Terra.


"Aku akan menghapus data mereka dan tak ada satu negara pun mengakui mereka!" lanjutnya dengan tatapan membunuh pada Mita dan lainnya.


Budiman dan Dahlan hendak bergerak. Anggraini tiba-tiba mencegah dengan menghadap Terra.


"Ma," pintanya dengan mata memelas.


"Tidak Nak!" tolak Terra.


"Ma ... Biar aku saja yang merasakan tidak dianggap anak. Biar mereka dapat hukuman lain dari Allah!" pinta Anggraini lagi.


"Nak, pria itu ...."


"Dia tetap ayahku," ujar Anggraini lirih.


Gadis itu melepas cincin pertunangan yang diberikan Michael. Pria itu menggeleng.


"Maaf mas ... Mungkin nasibku seperti ini. Tak diinginkan siapapun," ujarnya lalu menangis.


Anggraini pun berlari menuju lift. Khasya mengejarnya begitu juga Herman. Tiga manusia itu masuk lift dan berpelukan.


Michael menatap nanar cincin yang ada di tangannya. Bart memegangi dadanya. Exel dan Fio memapah pria itu. Burhan berdiri dan mengusap darah yang keluar dari hidungnya.


"Kau puas membuat putrimu menderita?" tanya Michael menatap Burhan tajam.


"Aku ayahnya ... Aku tau yang terbaik untuknya!" sahut Burhan masih sombong.


"Kau sudah membuangnya. Bukan kau punya putra yang tampan itu?!" teriak Nini.


Virgou masih dalam posisi diam, ia masih ingin menikmati drama. Lalu matanya melirik semua perusuh yang menelan bulat-bulat kejadian itu. Pria dengan sejuta pesona itu menghela napas panjang.


"Andi!" panggilnya pada salah satu pengawal.


"Ketua!"


"Bawa mereka pergi!" perintahnya sambil menunjuk semua perusuh.


"Minta tolong Tuan Frans dan Tuan Leon membantu kalian!" lanjutnya.


Frans didatangi Andi. Pria itu baru menyadari jika pertunjukan ini bukan untuk semua anaknya. Ia meminta Rion dan lainnya mengajak semua anak-anak pergi.


"Ah ... Grandpa ... Seru!" tolak Rion.


"Baby!" peringat Leon.


Rion cemberut, ia mengajak istrinya untuk membawa semua anak. Darren pun ikut walau sedikit berat, Saf tadinya masih mau tinggal tapi melihat semua anak ikut menonton akhirnya mengikuti perintah Leon.


"Daddy, kita ke kamar yuk!" ajak Lastri pada mertuanya.


Sriani dan lainnya juga diminta untuk ke kamar. Akhirnya di sana tinggal Virgou, Terra, Haidar dan semua tamu juga para pengawal.


"Michael!" pria yang punya nama menoleh.


Burhan dan Mita menatap pria yang tampannya di atas rata-rata itu. Mita menganga.


"Kau bilang apa tadi?" tanya Virgou pada Burhan.


"Ayah yang tau apa yang terbaik untuk putrinya?" Virgou tersenyum sinis.


"Kau bukan siapa-siapa!" bentak ayah Burhan dengan berani.


"Diam!" sentak Virgou melirik pria tua itu dengan tatapan membunuh.


Mita yang tengah dipeluk ibunya karena tadi ditampar Terra. Haidar mendekati istrinya.


"Yuk sayang, biar kakakmu dan lainnya yang mengurus cecunguk itu," ujarnya lalu menarik sang istri pergi dari sana.


"Aku mau buang mereka ke laut Pa!" teriak Terra.


"Sudah ... Biar saja ya!" bujuk Haidar tetap membawa sang istri pergi.


Tujuh orang diangkut. Tiga diantaranya berteriak dan mengaku hanya dibayar untuk mengacaukan pesta.


"Tuan lepaskan kami ... kami tidak tau apa-apa!"


"Ketua," Dahlan menatap Virgou.


"Ck ... Kau terlalu baik!" decak Virgou kesal.


Akhirnya tiga orang dilepaskan. Kedua orang tua Burhan yang renta juga sangat ketakutan. Mita juga takut, tadi ia nekat pergi padahal sang suami telah melarangnya.


"Ma ... Kamu telah merusak rumah tangga adikmu sendiri. Sekarang kamu juga masih ingin merusaknya?" tanya sang suami tak habis pikir.


"Ngerusak gimana sih!" bentak Mita.


"Pokoknya Papa tak ridho kalau Mama masih nekat keluar!" ujar pria itu.


Mita tak ambil pusing. Ia tetap pergi dari rumah. Maka seluruh langkahnya telah dilaknat malaikat karena membangkang perintah suami.


"Nak ... kami mau dibawa kemana?" tanya ibunya Burhan.


Para pengawal tak ada yang menjawab. Mereka semua bermuka datar. Tak ada sedikitpun rasa iba.


Mereka tiba di sebuah bangunan. Keempat orang diseret begitu saja dan dimasukkan dalam gudang yang gelap.


"Keluarkan aku dari sini!" teriak Burhan.


Hidungnya masih sakit. Pria itu tentu harus mendapat pengobatan.


Sementara itu Reno menenangkan Michael. Tentu saja Michael hancur hatinya karena gagal mempersunting Anggraini.


"Jika dia jodohmu. Pasti dia untukmu. Jangan khawatir, minta sama Allah agar dipermudah semuanya," ujar Reno menenangkan rekan seprofesinya itu.


Langit juga menenangkan pria yang tengah bersedih itu. Sedangkan di kamar. Anggraini tertidur dipelukan Khasya.


"Apa dia sudah tidak apa-apa?" tanya Herman.


"Hati putri mana yang tak hancur ketika ayahnya tak merestui putrinya menikah," ujar Khasya sedih.


Wanita itu mengusap rambut Anggraini, Khasya yang membukanya. Baginya Herman adalah ayah dari gadis itu, maka tak masalah jika suaminya melihat aurat putrinya.


Terlebih, Anggraini juga baru berhijab setelah berusia delapan belas tahun dan memakai cadar tiga bulan setelahnya.


"Malangnya nasibmu nak,"


Sebuah ketukan di pintu. Herman membukanya. Nini ada di sana dengan raut wajah khawatir.


"Apa Raini tak apa-apa?" tanyanya.


"Masuklah Bu!" perintah Khasya.


Herman membuka pintu lebar. Nini membungkuk ketika melewati pria yang sangat ia takuti itu.


Herman berwajah datar setiap menatapnya. Pria itu memang tak menyukai apa yang dilakukan Nini pada putrinya.


"Tidurlah bersamanya Bu. Kamu ibunya, tentu kamu lah yang harus menenangkan putrimu," ujar Khasya lalu ia berdiri.


Herman menatap tak suka pada sang istri. Ia juga menolak ketika Khasya membawanya keluar dari kamar Anggraini.


"Sayang, ayo. Biarkan mereka ya," bujuk Khasya lembut.


"Mestinya dia kabur sama anaknya!" gerutu Herman kesal.


"Sayang, jika ia bersama anaknya. Anggraini tidak ada di tangan kita!" peringat Khasya lagi.


Herman mendumal panjang pendek, pria itu akhirnya bisa dibawa pergi oleh Khasya.


Nini mengelus kepala putrinya. Ia sangat setuju, mestinya ia tak meninggalkan putrinya begitu saja.


"Tapi jika kau ikut ibu. Kau pasti tak sebesar ini nak," ujar Nini lirih.


Pagi menjelang, Burhan kaget ketika melihat dirinya berada di atas sampan kecil. Ia menatap sekeliling hanya air biru yang luas.


"Tolong!" pekiknya.


"Kak Mita, Mama, Papa!" teriaknya lagi.


Ombak besar datang membawa sampan itu ke tengah laut. Pria itu histeris.


Sedang di sampan lain, ayah dan ibu dari Mita juga Burhan saling berpelukan. Sepasang suami istri yang mengikuti kemauan sang putri.


"Ma ... Kita benar-benar dibuang Ma!"


"Pa ... Papa!" sang istri memeluk suaminya erat.


Sedang Mita berada di sampan lain hanya diam mematung dengan air mata bercucuran.


Bersambung.


Kan ... Beneran dibuang?


Next?