THE BIG FAMILIES

THE BIG FAMILIES
KEBERSAMAAN



Hunian Herman kini penuh dengan manusia. Para bayi mendominasi keluarga.


"Yuyuy!" pekik Hafsah pada Beni, ayah dari Lastri.


"Baby, kamu mau apa?" kekeh pria tua itu.


"Odet nih!' jawab Hafsah menggoyang pinggulnya ke kiri dan ke kanan.


Beni dan lainnya tertawa terbahak-bahak. Hafsah senang bisa menghibur para orang tua.


"Apah Endog!' pinta Ryo pada ayahnya.


"Apah Zon udha!' pekik Horizon yang tak mau kalah.


Rion menggendong dua jagoan tampan itu. Azizah mencium keduanya.


"Papa juga dong mama!' pinta Rion memonyongkan bibirnya.


Azizah malah menakup bibir sang suami dengan jemarinya.


"Banyak anak!' bisiknya gemas.


"Yiyal Yiyo yan yium Apah!' ujar Ryo lalu mencium pipi ayahnya.


"Zozon udha!' Horizon meng-hap pipi Rion hingga basah dengan liurnya.


"Baby," Rion gemas dan menciumi keduanya.


"Umi, ini masaknya diapain?" tanya Nai melihat cumi.


"Mau digoreng tepung baby," jawab Rahma.


"Umi aja yang masak ya," rengek Nai manja.


"Iya umi aja. Kita tinggal makan!" angguk Arimbi yang enggan memegang ikan.


"Babies ... Kalau di rumah siapa yang masak kalau kalian tak belajar!" tegur Terra.


"Ma," rengek kedua wanita yang baru jadi ibu dua minggu itu.


"Masak!" suruh Terra sambil melotot pada dua anak perempuan.


Nai dan Arimbi mau tak mau berjibaku di dapur. Rahma membantu dua ibu manja itu.


"Umi ... Amis!" rengek Arimbi.


"Baby," kekeh Rahma.


"Sudah cuci tangan sana. Bantu umi Layla potong buah sini!" perintah Layla.


Nai dan Arimbi bergerak dari perikanan ke buah setelah mencuci tangan mereka.


Kaila menggandeng kakaknya Mai. Dua gadis Dougher Young itu tampak menatap semua orang.


"Kak ... Jajan yuk di luar!" ajak Kaila berbisik.


"Mumpung pada sibuk!" lanjutnya merayu.


"Pasti kita diawasi baby," bisik Mai menyahuti.


"Bayi-bayi lagi main tuh kak!" tunjuk Kaila dengan dagunya.


"Jalannya pelan-pelan aja," lanjutnya masih merayu kakaknya.


"Di seberang ada tukang jajanan. Ila mau beli crepes red Velvet itu!' lanjutnya masih merayu sang kakak.


"Bosen makanan rumah," sahut Maisya juga.


Keduanya berjalan mundur ke belakang menuju pintu utama. Kaila melihat motor listrik milik Samudera yang kemarin dibelikan David karena berhasil melarikan diri dari pengawalan.


'Kunci motornya ada kak!" seru Kaila girang.


"Ssshhhh!' peringat Mai meletakan telunjuk ke bibir adiknya.


Kaila mengangguk dan melipat bibir ke dalam. Para bodyguard di depan sepertinya sedang longgar.


"Kak, beruntung banget ini remote gerbang ayah!" lagi-lagi Kaila kegirangan melihat keberuntungan yang ada.


"Yuk bawa dek, kita pake motor ini!' ajak Mai.


Sang kakak menjadi pembawa motor dan sang adik berada di boncengan.


"Gas!" seru Kaila senang.


Motor melaju dengan kecepatan sedang.


"Nona!" teriak Edie yang baru saja dari kamar mandi.


Mengira semua anak ada di dalam membuat lengah para pengawal. Deni yang juga baru dari belakang terkejut melihat pergerakan motor listrik.


"Nona!" ia mengejar motor.


Edie ikut mengejar kendaraan itu. Kaila bersemangat.


"Kakak gas pol! Aku buka gerbang!" suruhnya sambil melihat ke belakang.


Mai menggeber motor itu. Kaila memencet remote gerbang. Pintu itu terbuka perlahan. Mai menyelip sebelum gerbang terbuka lebar.


"Tutup lagi baby!" teriaknya memberi perintah.


Kaila kembali menekan tombol. Pintu itu kembali menutup cepat, tepat Deni dan Edie yang langsung terkurung di dalamnya.


"Nona!" teriak keduanya.


"Kamu bawa uang kan baby?" tanya Mai.


"Bawa dong kak!' seru Kaila memperlihatkan dompet yang ia pegang.


Sementara di kediaman Herman Virgou kesal dengan semua pengawal yang lalai dalam tugas.


"Sudah jangan marah-marah!" tegur Khasya.


"Biarkan mereka, beri kepercayaan!" lanjutnya menenangkan pria dengan sejuta pesona itu.


"Baby!" panggil Virgou pada Dewi yang baru turun dan kecarian dua misannya itu.


"Ya Dad?"


"Dua adikmu kabur, kau carilah!" suruh pria itu menyerahkan kunci mobil listrik.


"Daddy serius?" tanya Dewi tak percaya.


Virgou berdecak, ia hendak mengambil lagi kunci itu. Dewi berkelit dan langsung lari. Sayang, langkahnya dihadang oleh lembarannya Dewa.


"Disuruh Daddy susul baby Mai dan baby Ila!' jawab Dewi santai.


"Ikut!" ujar Dewa merampas kunci.


"Pa'lek!' Rasya dan Rasyid mengejar adik misan ibunya itu.


"Ikut!" kekeh keduanya.


"Apah ... Apah!" teriak Zora pada ayahnya.


"Baby?"


"Wawu papain leleta?" tanya Zora pada empat anak besar.


"Nggak tau," jawab Andoro yang memang tak tau.


"Ata'!" pekik Al Bara yang El Bara.


"Itut!"


"Arrrgghhh!" keluh Virgou kesal.


"Ayo kita susul baby!" ajaknya kemudian.


Seluruh keluarga akhirnya keluar mansion. Sedang di pusat jajanan, Kaila tengah mencoba kue yang sedang viral itu.


"Bismillahirrahmanirrahim!" ujarnya lalu menyuap potongan besar kue itu.


"Hmmm ... Enyak!" angguknya.


"Coba baby," Mai membuka mulut, Kaila menyuapi kakaknya.


"Wah enak!" angguk Mai setuju.


"Habis manis kita coba yang pedes kak!" tunjuk Kaila pada pedagang aci.


"Cirembay!" sahut Maisya.


Dua gadis cantik itu pun mendatangi pedagang. Mereka memesan satu porsi dengan kepedasan level lima.


"Hah! Bengkak bibir kak!' ujar Kaila kepedasan.


"Minum es limun mang!" seru Maisya yang juga kepedesan.


Tak lama lokasi itu penuh dengan pria dan wanita berpakaian serba hitam. Virgou menatap gusar pada dua putrinya.


"Enak tau Daddy!" ujar Saf yang menyuapkan crepes tiramisu pada Virgou.


Pria itu memakan kue, ia mengangguk setuju. Para bayi pun ikut menikmati kue tersebut.


Kenyang jajan, mereka pulang. Rahma menatap sedih semua makanan yang sudah selesai di masak.


"Nanti malam nggak usah masak sayang," ujar Khasya menenangkan wanita itu.


"Iya Umi, jangan khawatir," ujar Terra yang memasukkan mie ayam bakso di mangkuk.


"Enak kayaknya!" ujar Haidar sang suami.


Pria itu menarik mangkuk. Hal itu membuat Terra langsung uring-uringan.


"Papa ih!"


"Jangan banyak makan sayang. Nanti kamu gendut!" ujar Haidar santai lalu memakan mie ayam milik istrinya.


"Papa tuh yang gendut!" seru Terra kesal.


"Bunda!" rengek wanita itu mengadu.


"Sayang," kekeh Khasya.


"Sudah sayang! Nih, kakak tadi masak sup pangsit!' ujar Maria.


Terra masih merengek kesal pada suaminya. Ia tadi memang ingin dibawa pulang makanan yang ia inginkan.


"Tau tadi Te makan di sana!" gerutunya kesal.


"Makan nggak boleh marah-marah sayang," ujar Haidar.


Pria itu menghabiskan mie ayam milik istrinya. Ia pun bersendawa, lalu mengelus perutnya yang sedikit membuncit.


"Lemak dipiara!" ledek Terra.


Haidar berdiri, lalu mengecup pipi istrinya.


"Biar perut ibu berlemak, tapi kamu tetep kalah kalau sudah di ranjang sayang," bisik pria itu pelan.


"Ih papa!" rengek Terra kesal bukan main.


Haidar tertawa puas, ia memang senang menggoda istrinya itu. Ryo naik ke kursi, bayi itu tertarik dengan apa yang dimakan neneknya.


"Netnet ... Atan pa'a?" tanya sambil menjilat bibirnya.


"Baby mau?" tanya Rahma.


"Au mumi!" angguk bayi itu antusias.


"Punya nenek aja baby, nenek sudah banyak makan!" suruh Haidar.


"Boong baby ... Nenek belum makan!" sanggah Terra sengit.


"Ini baby, jangan ganggu nenek makan ya," Rahma memberikan mangkuk berisi sup kepada Ryo.


"Zaza au mumi!" pekik Faza.


Semua bayi juga mau makan sup. Khasya menggeleng melihat betapa kuatnya semua anak makan.


"Tapi mereka tidak ada yang obesitas ya!' ujarnya lega.


"Bagaimana mereka mau obesitas sayang," sahut Lastri.


"Habis makan mereka pasti berlarian lagi," lanjutnya.


Dan benar saja, sepuluh menit selesai makan. semua bayi kembali berulah mengerjai para pengawal.


Bersambung.


Dah ... begitu deh!


Next?