
"Bagaimana keadaan dari Rini?" tanya Virgou.
"Rini masih dalam pemulihan. Selongsong peluru tak mengenai objek vital dalam tubuhnya. Ia hanya shock dan menderita kelaparan akut," jawab Budiman.
Pria itu menatap ketuanya. Virgou memang mafia berdarah dingin. Tetapi semenjak kumpul dengan keluarga. Perlahan, sifatnya jadi lembut dan kurang garang.
Beruntung, Gomesh, Satrio, Rion dan putranya Kean berdarah dingin. Para mafia masih takut pada klan paling kuat di golongan hitam itu.
"Ketua," Virgou menatap Budiman.
"Aku tau keresahanmu. Tapi, aku sudah punya banyak keluarga. Aku takut hukum alam mengincar semua keluarga dan keturunanku," ujar pria dengan sejuta pesona itu beralasan.
Budiman juga mengerti itu. Ia juga tak lagi sedingin dulu. Melihat putranya kemarin yang bisa lolos dan hampir jadi korban penculikan, membuat ia berpikir dua kali dalam bertindak.
"Apa anak-anak kita bebaskan untuk berpetualang. Tapi setiap mereka dibebaskan ada saja kejadian yang buat kita cemas?" ujar Virgou.
"Buat apa ketua punya banyak pengawal jika mereka tidak dijaga?!" ketus Budiman.
"Ck ... Kau lihat anak-anak itu makin pintar. Bahkan empat pengawal terbaikku dikalahkan oleh mereka hanya dengan tusukan jari!" dengkus Virgou membuat Budiman cengengesan.
"Salahkan Nona Lidya dan Nona Saf ketua ...."
"Kau menyalahi putriku?!" sengit Virgou kesal.
"Astaga, apa keduanya bukan anak-anakku?" sahut Budiman juga sengit.
Virgou berdecak kesal. Sementara itu di hunian besar Demian. Mereka masih menginap di sana. Faza menyandera Herman.
"Uyuy obob mama Zaza!" perintahnya.
"Terus Uyut Nini sama siapa?" tanya Khasya gemas.
"Ma Zaza ugha!" jawab Faza.
Demian dan Lidya juga merayu sepasang suami istri kesayangan semua anak itu. Akhirnya Herman menginap Faza menjadi penengah antara dirinya dan sang istri.
"Aku tak bisa memelukmu sayang!" rengek Herman manja.
"Mas ih!" Khasya sebal dengan kelakuan suaminya yang tak tau umur itu.
"Uyut nan isit!' sentak bayi cantik itu merasa terganggu.
Herman gemas dan menciumi Faza sampai bayi itu menangis dan dikembalikan pada ibunya Lidya.
Ketika pagi Faza ngambek sama Herman. Pria itu sampai harus membujuknya, barulah Faza mau bersamanya.
"Days!" panggil Fael.
Semua menoleh, Fael termasuk kamera pengawas cadangan bagi para bayi.
"Pa'a Aypi?" tanya Aarav sambil mengunyah buah naga.
Mulut semua bayi cemong warna merah. Ryo mengelap telapak tangannya di kaos putih yang ia kenakan. Maka berwarnalah baju itu.
"Imi wuwah pa'a enti aypi?" tanyanya.
"Tata Apah wuwah nada," jawab Nisa.
Zora tengah digendong Sukma. Bayi itu masih mengantuk dan mau diayun. Sukma tentu dengan gemas dan menciumi pipi kemerahan bayi cantik itu.
"Inti!" rengek Faza kesal.
"Maaf baby ... Ssshhh ... Ssshhh!' Sukma meninabobokan Zora.
"Padhi aypi Ael bawu momon pa'a?" tanya Nisa.
"Ipu wowan puwa teunapa seupelti binun ya?" tanya Fael.
"Binun padhaibana?" tanya Arsh.
"Ipu apan Baji Baby Alsh, seumenjat batlet Pewa teumalin. Podhidal bayu banat yan datan," lapor Fael.
"Tatana Papa Fio seutalan sadhi penawal Batlet Pewa!' sahut Angel.
Zizam dan Izzat sedang bermain di dekat dapur sambil memakan buah naga. Baju mereka yang berwarna putih tentu sudah bernoda merah akibat buah yang mereka makan.
"Astaga ... Baju-baju itu!' keluh salah satu maid.
"Ish ... Nakal banget sih kalian!' sentak perempuan itu melotot pada dua balita yang berumur mau tiga tahun.
"Memanna teunapa?" tanya Izzat.
"Baju kalian itu loh! Kotor banget!" sahut si maid dengan nada tinggi.
Jarak dapur dan halaman memang jauh. Terlebih bunyi mesin cuci mengurangi volume suara perempuan yang bekerja sebagai asisten rumah tangga di hunian Demian.
"Kayak orang kampung aja kamu!' hina perempuan itu.
Izzat dan Zizam tentu tidak mengerti apa yang dikatakan oleh maid mereka.
"Eh malah ngeliatin lagi! Nih liat nih baju kalian buat kerjaan aku numpuk!" sentaknya lalu mencubit kecil perut Zizam dan Izzat bersamaan.
"Huaaaa!' pekik dua batita itu menangis.
Bukan berhenti mencubit, perempuan itu malah kalap mencubit lengan dan kaki dua bayi montok itu.
"Idah!' pekiknya marah.
Idah mendadak kaku, matanya melotot melihat pembantu yang paling disayang oleh majikannya itu.
Usia Ani memang sudah menjelang enam puluh tahun. Wanita itu bekerja bersama Terra di usia mau tiga puluh, ia mengikuti mendiang saudaranya, Romlah.
"Apa yang kau lakukan pada cucu-cucuku!" bentaknya.
"Ih ... cucu darimana, orang kamu juga babu!" sengit Idah merasa tak bersalah.
Dua bayi masih menangis sambil memegangi tangannya yang tadi dicubit. Rion yang ingin mengambil minum di dapur mendengar teriakan dan tangisan anak-anak.
Pria muda itu gegas ke ruang cuci. Matanya membesar melihat dua anak kakaknya menangis.
"Babies?!"
"Papa ... huwwaaa ... Izam pisubit!' adu Zizam menangis sambil memperlihatkan lengannya yang sedikit membiru.
'Kurang ajar!' bentak Rion.
"Bi Ani, bawa Babies pergi!" perintahnya pada Ani.
Ani pun gegas menggiring dua bayi. Idah langsung beringsut takut.
"Saya adukan pada polisi jika anda memakai kekerasan!" ancamnya berani.
"Oh begitu! Baik!" angguk Rion.
"Michael, Exel!" panggilnya berteriak.
Dua pengawal datang dengan wajah tegang. Mereka memang tak melihat jika Zizam dan Izzat pergi ke dapur. Mereka juga tak menyangka jika maid mencelakai tuan muda mereka.
"Tuan baby!"
"Laporkan wanita ini atas kasus kekerasan pada anak!" perintah Rion.
Idah pucat, tiba-tiba Demian datang. Perempuan itu mendadak berakting.
"Tuan ... Ampuni saya ... saya memang wanita miskin yang tidak tau apa-apa ..."
"Bangsat! Kau apakan putra-putraku!" bentak Demian hendak menyenggrang Idah.
Rion menahan kakak iparnya. Michael dan Exel memanggil Dian dan Sukma untuk membawa wanita itu berkemas dan pergi dari hunian itu.
"Pastikan dia dipenjara selama lima belas tahun!" teriak Rion yang membuat Idah makin menunduk.
Semua bayi mengerumuni Zizam dan Izzat. Zizam dan Izzat seusia Arsh. Satu putra Darren dan satunya lagi putra Jacob.
"Satit ya?" tanya Maryam sedih, ia mengelus tangan adiknya Izzat.
"Atit Ata' ... Hiks! Peyut aypi ugha bisubit," adu Zizam.
"Beulani-peulanina banita Ipuh!" sungut Fatih kesal.
"Atuh atan puwat peulhitunan!"
"Days sowot!' serunya memanggil.
"Biya!"
Arsh, Fael, Nouval, Aarav, Vendra dan bayi laki-laki lainnya berkumpul.
"Badhaipana, pa'a pespujuh!" tanya Fatih.
"Sadhi pita puwat pipi Pidah satuh talena teuldelinsil, beudithu?" tanya Arsh memastikan.
"Bentu sasa!" sahut Fatih yang dendam.
"Pate pa'a pita puwat piya satuh?" tanya Nouval putra Hendra.
"Pate ...."
"Imih Ata'!" Horizon mengambil bola tenis.
"Pita lempan pate imih tatina!" usul Aarav yang diangguki semua bayi.
Arsh, Aarav dan bayi laki-laki berjalan. Fio yang baru kembali dari luar menatap semua bayi yang masing-masing memegang bola.
"Mau apa mereka?"
Fio mengikuti semua bayi yang bergerak ke arah belakang mansion. Di sana ia melihat salah satu maid dengan tas besar. Maid itu tampak menangis.
"Selan!" seru Arsh mengomando.
"Aarrggh!" teriak Idah lalu jatuh telungkup karena beberapa bola mengenai kakinya.
"Babies!" seru Dian dan Sukma yang juga nyaris jatuh akibat serangan mendadak itu.
Bersambung.
Yah gitu deh!
Next?