
Tiana masih mengikuti ayahnya. Gadis itu melajukan perlahan kendaraan roda empatnya.
Pram memang telah hancur. Pria itu berjalan tanpa arah. Beberapa orang bersenggolan dengannya tapi tak ia hiraukan.
Bret! Dompet Pram diambil pencopet. Beberapa orang mengejar. Tiana nyaris turun, tapi melihat ayahnya yang terus berjalan tak peduli.
Pram benar-benar tak menghiraukan apapun. Tiana yang kesal mengambil ponsel. Ia sangat ingat nomor sang ayah.
"Ayah ... Ayah!" sebuah suara anak kecil terdengar dari ponsel Pram. Tiana tak mengetahui itu.
Pria itu sedikit terkejut. Suara putri pertamanya yang direkam ketika pertama kali memanggilnya.
"Nak?"
Air matanya meleleh, ia menggeleng. Melihat ayahnya telah mengangkat ponsel. Tiana mematikan panggilan itu.
Sap! Satu pria merampas ponsel Pram. Pria itu langsung menarik pria yang menjambret ponselnya.
'Itu milikku!" teriaknya.
"Bangsat!" maki pencopet bercadar.
"Woi!" bentak orang-orang di sekitar.
Pencopet itu panik, tarik menarik ponsel terjadi. Hingga, pria memakai cadar itu menarik belati dari sakunya.
"Heaaa!" teriak pria itu lalu menancapkan bertubi-tubi pisau di lengan Pram.
"Woi ... Woi dia pegang pisau!" teriak orang-orang.
Banyak orang tak berani melerai karena adanya senjata tajam. Polisi di sana juga tak bisa melakukan apapun.
Tiana adalah pengawal terlatih. Darah tercecer di mana-mana. Polisi mengurai kerumunan agar tak banyak orang celaka.
'Bangsat!" teriak Tiana.
Satu tendangan lurus mengenai wajah pencopet. Tubuh tambun itu terpental.
"Arrrgghhh!" teriak Pram.
Belati yang ada di lengannya tertarik oleh tangan pencopet yang masih menggenggamnya. Tiana gegas menendang cengkraman itu agar tak merobek lengan ayahnya.
Crash! Darah muncrat ke muka gadis itu. Lengan ayahnya robek sedemikian rupa. Polisi langsung mengamankan pencopet dari amukan pejalan kaki.
Brug! Pram roboh. Tiana menjerit memanggil.
"Ayah!"
Sementara di kediaman Khasya. Suara kaca jatuh ke lantai. Ustman menjerit ketika gelas itu jatuh.
"Baby!" teriak Khasya dan beberapa pengawal.
"Apa kerja kalian! Satu bayi saja kalian tak bisa menjaganya!" teriak Khasya marah luar biasa.
Aldi, Astrid dan Lina menunduk. Mereka memang tak menjaga ketat tiga bayi Tiana. Mereka belum berangkat ke kediaman Terra. Khasya masih menangkan Sri.
Ustman yang bermain hendak mengambil sesuatu di atas meja. Tiga bodyguard yang memang diminta menjaga Khasya memang tak seketat penjagaan di rumah Terra.
Gelas hias ada di sana dan tersenggol. Pelipis Ustman berdarah. Bayi itu menjerit.
"Astaghfirullah ... Astaghfirullah!' Khasya menangis melihat darah itu.
"Tidak apa-apa nyonya. Para pengawal tidak salah. Ustman saja yang terlalu lancang ...," ujar Sri tak enak hati melihat para pengawal dimarahi.
"Jangan membela Sri. Aku telah mengintruksikan semua pengawal agar lebih fokus menjaga anak-anak!" sahut Khasya.
Tiga pengawal menunduk. Untuk pertama kalinya Khasya memarahi mereka.
"Bersihkan serpihan kaca itu!" bentak perempuan itu lagi. "Kenapa malah hanya diam!'
Tiga pengawal tersadar, mereka langsung membersihkan serpihan kaca. Ustman di bawa untuk diobati ternyata lukanya cukup dalam.
"Peyih Pu ... Huuu ... Peyih ... Hiks ... hiks!"
"Kita ke dokter ya!' ajak Khasya.
Sri menggendong Sania yang juga menangis. Khasya lagi-lagi membentak para pengawal yang lamban menggendong para bayi.
"Apa harus ku perintahkan dulu baru kalian bergerak!"
Aldi menggendong Arif dan Lina menggendong Sania. Mereka pun pergi ke rumah sakit Arimbi.
Dua puluh menit mereka sampai. Ustman sudah pucat. Darah di pelipisnya tak berhenti-henti, padahal Sri telah menekan luka itu dengan kapas.
"Pipu ... Aypi Muman ... Hiks!' Sania sedih melihat luka itu.
"Tidak apa-apa baby, doakan adiknya ya," ujar Khasya menenangkan Sania dan Arif.
Sampai rumah sakit Ustman langsung ditangani oleh dokter.
"Kenapa darahnya tak berhenti Dok?" tanya Sri dengan air mata di pipi.
"Sebentar ya Bu," ujar Dokter.
"Subhanallah ... Kacanya masuk ke sini!" ujar pria berjas sneli itu.
Theo terkaget-kaget dengan kepedulian Virgou. Ia sangat mengenal pria dengan sejuta pesona itu.
"Apa ... kenapa ketua begini?" tanyanya heran.
Gomesh tak menjawab, Theo sedikit kesal dengan kepedulian Virgou.
"Ketua ... Sebaiknya kita tak perlu mengurusi anak buah ...."
"Siapa yang menyuruhmu bicara?" sebuah suara yang mendadak membuat Theo bungkam.
Sosok pria kecil dengan tatapan datar. Herman memang sangat ditakuti oleh semua orang termasuk Virgou.
"A ...,"
Theo hendak bersuara tapi ternyata, suaranya hilang seiring keberaniannya tadi. Herman menatap tajam pada sosok tinggi besar di depannya.
"Siapa kau?!" tanyanya datar dan sangat dingin hingga membuat seluruh ruangan hening.
Untuk pertama kalinya. Ratheo menunduk sedalam-dalamnya terhadap pria di depannya. Ia benar-benar tak berani menatap tatapan mata yang seakan mengeluarkan jantungnya itu.
"Jangan hiraukan dia yah," ujar Virgou lalu menarik Herman.
Di sana Herman menampar dua pengawal yang lalai menjaga anak-anak sampai dua tubuh itu terpelanting ke lantai. Theo menelan saliva kasar.
"Gom ...," panggilnya lirih.
"Hmmm," sahut Gomesh hanya berdehem.
"Siapa dia?" cicit Theo bertanya.
"Para mafia menjulukinya The Death Eyes," jawab Gomesh bangga.
Theo sedikit mendengar tentang sosok pribumi yang baru muncul tapi langsung ditakuti seluruh mafia. Sean Buditama pemilik dari klan Harimau benggala mengakui kehebatan pria berjulukan mata mematikan itu.
Sementara itu Sri masih menunggui putra bungsunya dengan cemas. Ia berdoa agar tak ada masalah serius.
Tiana menatap beberapa orang yang dikenalinya.
"Ayah ... Ketua?" panggilnya.
"Ibu?"
"Nak?" Sri menangis melihat putrinya.
Wajah Tiana masih membercak darah. Sri langsung khawatir.
"Kau tidak apa-apa nak?" tanyanya.
"Tidak apa-apa Bu, ibu kenapa di sini?"
Sri pun menjelaskan kejadiannya. Tak lama dokter keluar.
"Dok?" Sri dan Tiana mendatangi pria berjas sneli.
Sania dan Arif bersama Khasya. Tiga pengawal dikembalikan ke markas untuk dievaluasi ulang.
"Pasien tidak kenapa-kenapa. Darahnya sudah berhenti, ia hanya shock saja dan bisa pulang sebentar lagi," jelas dokter.
Semua bernafas lega. Kini semua mata menatap Tiana.
"Ayah ada di sini Bu ...," jawab gadis itu lirih.
Sri mengerutkan keningnya. "Apa?"
"Ayah di sini ...."
Tiana menjelaskan apa yang terjadi. Sri menutup mulutnya dengan tangan.
"Sri, Tiana. Kami akan bawa anak-anak. Kamu urus ayahmu, Tiana. Walau itu mantan suamimu. Pram adalah ayah dari anak-anakmu Sri!' ujar Herman.
Sri mengangguk, tiga anaknya dibawa oleh Herman. Virgou mengikuti mereka bersama Gomesh, Satrio dan Theo.
Theo melirik takut pada Herman. Ia berjalan sedikit menjauh dari sosok yang membuat seluruh tulangnya bergetar itu.
Sementara itu Tiana dan Sri ke ruangan di mana Pram ditangani. Polisi ada di sana.
"Apa tidak masalah kami tinggal mba?" tanya salah satu petugas.
"Tidak apa-apa Pak! Makasih!' jawab Tiana lalu memberi anggukan hormat pada petugas.
Dua polisi pergi, dokter keluar dari ruangan. Ia membuka masker dan menatap Tiana dengan pandangan menyesal.
"Dok ... Apa yang terjadi dengan ayah saya?" tanya Tiana sangat khawatir.
"Maaf Nona. Kami harus mengamputasi tangan kiri pasien. Seluruh uratnya putus dan tak bisa kami kembalikan lagi!"
Bersambung.
Karma dibayar kontan?
Next?