THE BIG FAMILIES

THE BIG FAMILIES
CINTA



Tiga hari berlalu sudah. Pram menatap jendela rumah sakit. Ia ditempatkan di ruang tengah exclusive.


Rembesan air mengalir dari sudut matanya. Ia menangis dalam diam.


Pram menatap tangan kirinya yang telah terpotong hingga siku. Ia tersenyum miris. Sebuah bayaran mahal yang harus ia bayar.


"Nak," Debie duduk di sisi sang putra.


"Aku tak apa-apa ma," ujar Pram lirih.


"Ini bayaranku karena menelantarkan istri dan anak-anakku," lanjutnya terisak.


Sri datang, wanita itu sering mengunjungi mantan suaminya.


"Assalamualaikum," sapanya.


"Wa'alaikumusalam warahmatullahi wabarakatuh!' sahut Hardi dan Debie menoleh.


"Nak ... Hiks! Debie tiba-tiba bersimpuh di hadapan Sri.


"Bu ...."


"Nak, tolong maafkan kami nak. Kami tau jika kesalahan kami sangat besar padamu!" ujar wanita paruh baya itu tergugu.


"Nak, papa juga minta maaf. Papa mestinya yang menyadarkan Pram dan istri papa. Tapi justru Papa yang mendorong mereka untuk berbuat jahat padamu," sahut Hardi ikutan bersimpuh.


"Pa, Ma ... Bangunlah!" pinta Sri sedih.


Hati wanita itu bergelenyar iba. Sri menenangkan sepasang suami istri lanjut usia itu.


"Makan dulu ya ma pa," bujuknya.


Hardi dan Debie tak sadar jika mantan menantunya memanggil mereka dengan sebutan berbeda.


"Kami tidak berselera nak," tolak Debie.


"Ma ... Mama harus makan. Kalau mama sakit siapa yang urus papa?" tanya Sri membujuk.


"Papa bujuk mama makan ya. Papa juga makan, kalian harus sehat!" pintanya lagi.


Sri menyuapi kedua mantan mertuanya itu. Setelah makan, mereka dipinta pulang beristirahat. Pram sama sekali enggan menatap wanita yang ternyata masih peduli dengan ayah dan ibunya.


"Ssshhh ... Sakit sekali," keluhnya dalam hati sambil meraba dadanya yang seperti teriris sembilu.


Dua menit Hardi dan Debie pulang. Sri menatap mantan suaminya yang sedari kemarin tak mau menatapnya.


"Mas ...," panggilnya lirih.


Mata Pram memejam, ia merindukan panggilan sayang dari mulut perempuan yang telah ia sia-siakan cintanya itu.


'Saatnya aku merelakan Sri bahagia, ia pantas mendapatkan yang jauh lebih baik ke depannya,' putusnya dalam hati.


"Mas ...."


"Pergilah Sri ... Aku sudah ikhlas ...," suara Pram bergetar dan lirih ketika mengatakan hal itu.


Deg! Sri bungkam, ia menatap kepala Pram yang tak mau lagi menoleh padanya selama pasca amputasi lengan kirinya itu.


"Kamu berhak bahagia Sri," lanjut pria itu sangat lirih.


"Mas ... Lihat aku mas!" pinta Sri sedih.


Entah kenapa, wanita itu tak sanggup membuat luka besar di hati pria yang telah menyakitinya itu.


"Mas ...."


"Apa yang mau kau lihat Sri?" sentak Pram baru menoleh pada mantan istrinya itu.


Sri menatap sirat putus asa di mata pria yang pernah jadi suaminya itu. Pram benar-benar terpuruk dengan keadaan, pria itu sedang tidak baik-baik saja.


Deg! Deg! Deg! Deg!


Perlahan lantunan lagu cinta milik Melly Goeslaw terdengar.


"Cinta, tegarkan hatiku


Tak mau sesuatu merenggut engkau


Naluriku berkata tak ingin terulang lagi


Kehilangan cinta hati


Bagai raga tak bernyawa ...,"


Entah siapa yang memutar lagu itu, sedang ruangannya adalah ruangan exclusive. Perlahan tangan Sri meraih lengan kanan pria yang ternyata masih menggetarkan hatinya.


"Kau masih punya tangan kanan untuk menopang semuanya kan?" tanyanya dengan tatapan menuntut pada pria itu.


Pram memandangi mata Sri. Mata penuh ketenangan dan kelembutan dan cinta yang tulus. Mata yang mestinya tak pernah ia sia-siakan, bahkan mata yang dulu sering ia buat menangis.


"Tapi kau berhak bahagia Sri. Kau pantas mendapat sosok yang jauh lebih baik dari semua ini," ujar pria itu lirih.


"Hanya aku yang menentukan dengan siapa aku bahagia!' jawab Sri tegas.


Mulut Pram terbuka lebar. Ia sangat tak percaya dengan pendengarannya. Setelah kesakitan yang ia buat pada wanita ini. Sri malah ingin kembali bersamanya.


"Apa ... Jangan gila kau Sri!" sergah Pram menyadarkan Sri.


"Aku pria yang pernah menyakitimu sedemikian rupa. Aku adalah pria yang menuduhmu dengan bukti-bukti palsu. Aku ... Mmmpppffhhh!"


Sri membungkam mulut Pram dengan kecupan bibirnya. Hanya sebentar Sri menjauhkan bibirnya.


Pram sangat merindukan ciuman lembut mantan istrinya itu tentu tak mau kehilangan kesempatan. Ia menahan tengkuk Sri dan menaut bibirnya.


"Mas!'


Sri kehabisan pasokan oksigen. Ia masih mencintai mantan suaminya itu. Setelah amputasi lengan Pram. Sri bersujud di pertiga malamnya. Ia juga menanyakan kesediaan Tiana, putrinya.


"Apa ibu bahagia jika ibu memaafkan semua kesalahan ayah?" tanya gadis itu.


"Jujur hati ibu sebagian masih belum memaafkan ayahmu," jawab Sri dua malam lalu.


"Ibu hanya mengikuti rasa ini. Jika jawaban Allah adalah ibu memang harus kembali pada ayahmu, karena ia adalah jodoh ibu ....'


"Rujuklah dengan ayah Bu," pinta Tiana.


Sri menatap netra pekat milik putrinya. Wajah Pram mencetak di rupa sang gadis. Tak ada yang menyangsikan jika Tiana adalah putri dari Pram Anung Lukito. Bahkan tiga adiknya juga sangat mirip mantan suaminya itu.


"Menikahlah kembali dengan ayah," ujar Tiana yakin.


Gadis itu juga telah memikirkan semuanya. Ia juga merasa bersalah dengan apa yang terjadi pada ayah biologisnya itu.


"Sayang?" panggil Pram pada wanita yang sedang melamun.


"Ah ... Mas," sahut wanita itu lalu menunduk malu.


"Apa kau yakin ingin memulai semua dari awal denganku?" tanya Pram lagi.


Sri menatap suaminya, ia kembali mengingat atasan putrinya, Terra Arimbi Hugrid Dougher Young.


Terra menceritakan kepahitan hidupnya pada Sri. Malah lebih parah dibanding dirinya. Mendiang ayah dari atasan putrinya itu malah memiliki tiga anak dari hasil perselingkuhan.


"Tapi ketika kita lebih menanam cinta dibanding kebencian," ujar Terra menatap seluruh keluarganya.


"Te pasti hidup sendirian hingga tua nantinya," lanjutnya.


"Sri jawab Sri!" paksa Pram yang tak sabaran dengan semuanya.


Lamunan Sri kembali buyar, ia menatap netra pekat suaminya. Perlahan ia mengangguk.


"Aku bersedia Mas!" jawabnya tegas.


"Dengan aku yang cacat ini?" Sri mengangguk penuh ketegasan.


"Aku bersedia!"


"Alhamdulillah ya Allah!" teriak Pram lalu memeluk mantan istrinya itu.


Keduanya bertangisan, Tiana yang datang melihat itu semua. Dahlan menepuk bahu gadis itu.


"Belajar lah memaafkan Na! Kamu lihat keluarga ketua. Ia juga melakukan kesalahan besar terhadap Nona Terra. Tapi sekarang kau lihat sendiri. Mereka jadi keluarga yang paling ditakuti oleh semua kalangan bisnis!"


Tiana mengangguk, ia juga telah menyingkirkan semua egonya. Ia melihat kebahagiaan di mata sang ibu ketika dirinya menyerahkan semua keputusan pada ibunya.


"Benar ketua, saya memang harus belajar banyak pada keluarga Nona Terra!"


Sementara itu di hunian Zhein. Semua anak memenuhi halaman depan rumah bertingkat tiga di sana.


"Baby ... Jagain adik-adiknya!" teriak Karina pada dua buah hatinya.


"Jangan khawatir ma!" teriak Raffhan.


Zheinra tengah berlarian, ia menghindar dari kejaran Kaila. Gadis berusia enam belas tahun itu berkulit kemerahan, dengan rambut yang juga kemerahan.


Brug! Dua tubuh nyaris terjerembab jatuh. Azlan menahan bahu Zheinra.


"Hati-hati dek!' peringat Azlan.


Karina tertegun menatap putri bungsunya yang sudah remaja. Lalu ia menatap ketampanan Azlan.


"Ah ... mereka masih kecil!" ujarnya dalam hati.


bersambung.


Cinta, tegarkan hatiku


Tak mau sesuatu merenggut engkau


Naluriku berkata tak ingin terulang lagi


Kehilangan cinta hati


Bagai raga tak bernyawa ...


next?