
Pulang sekolah, anak-anak berhamburan keluar kelas. Ken sudah menjemput semua anak dalam sekolah.
"Babies!" Harun menoleh.
"Ah ... Papa!" keluh bocah itu protes.
"Eh ... Papa aduin Daddy kalian ya?!" ancam Ken.
Harun menghela nafas. Tak lama Gino keluar kelas.
"Ayo babies kita pulang!" ajak Ken.
Semua anak menurut, mereka baru kelas dua dan tiga tentu pulang lebih cepat dari lainnya.
Ken membawa semua anak bersama tiga pengawal wanita. dua mobil golf pergi dari luar gedung sekolah.
Tinggal Theo dan Santos menunggu, Sky, Bomesh, Arfhan, Ditya dan Radit.
"Mereka pulang lebih lama ya?' tanya Theo.
"Benar ketua, Tuan muda Sky dan lainnya pulang lebih lama," jawab Santoso.
Dua jam menunggu bahkan Ken kembali ke sekolah untuk menjemput. Akhirnya Sky, Bomesh, Arfhan dan Radit pulang. Tinggal Ditya yang belum karena masih ada pelajaran ekstrakurikuler.
"Ayo babies!" ajak Theo.
Theo bersama Ken dan Santoso membawa empat bocah laki-laki itu. Semua pulang dan Santoso kembali ke sekolah menjemput Ditya nantinya.
"Assalamualaikum!" seru semua anak ketika masuk rumah.
"Wa'alaikumusalam, ayo ganti bajunya sudah itu makan siang!" suruh Terra.
"Iya Mama!" sahut semua anak.
Theo sedikit lega karena ia tak berhadapan dengan para bayi. Hari telah siang, tentu saja semua bayi sudah tidur semua.
"Ah, kok kangen baby Faza," gumam pria itu ketika duduk di kursi jaganya.
"Mas makan dulu," ujar Ani pada Theo.
"Eh ... Iya bi," ujar pria itu sedikit kaget.
Theo memang cukup terkejut melihat bagaimana kepedulian keluarga ini. Ia diberi makan tiga kali sehari.
"Ketua ayo makan dulu!" ajak Dian yang membuyarkan lamunan Theo.
Usai makan siang, mereka diminta istirahat. Hanya beberapa saja yang berjaga termasuk Theo.
"Kamu nggak istirahat nak?" sebuah nada lembut bertanya padanya.
Theo menoleh, Najwa tersenyum padanya. Theo membungkuk hormat.
"Istirahatlah, kau butuh tenaga ekstra. Tadi Nini diminta para Babies untuk menyuruhmu menemui mereka," ujar Najwa dengan senyum lebar.
Wanita itu mengingat bagaimana Arsh mendatanginya dan menyuruhnya agar menahan Theo biar tidak keluyuran.
"Nini Pajwa ... tolon banti suwuh Papa Peo janan teubana-pana!" ujar Arsh bossy.
"Kenapa Baby?" tanya Najwa dengan kening berkerut.
"Sowalna lada wulusan beuntin Nini," jawab Arsh masih dengan nada bossy.
"Kenapa tidak kalian tunggu Papa?" tanya Najwa gemas.
"Oh biss deh!" jawab Arsh menepuk dahinya.
Najwa sampai mengigit bibirnya akibat ia sangat geregetan dengan bayi tampan itu.
"Pa'a Apan Baji Baby Alsh poleh pidat bobo sian?" tanyanya dengan nada malas.
"Tidak boleh Abang haji baby Arsh!" jawab Najwa.
"Nah ... Ipu pahu!" sahut Arsh memutar mata malas.
Najwa mencium gemas pipi bulat bayi tampan itu hingga protes. Arsh baru tenang setelah Najwa mengiyakan permintaan bayi itu.
"Jadi saya nanti harus menghadap siapa Nyonya?" tanya Theo membuyarkan lamunan Najwa.
"Semua bayi kepo itu Theo!" jawab Najwa tersenyum lebar.
Theo menghela nafas berat, Najwa terkekeh mendengarnya. Ia mengelus lengan kekar pria itu dan meninggalkannya.
"Sebaiknya aku tidur sebelum berhadapan dengan mereka!" gumamnya lalu pergi ke kamar.
Sore menjelang, semua anak bermain gobak sodor. Kali ini Theo harus ikut. Pria itu memutar otak agar memenangkan permainan yang baru ia ketahui itu.
"Dor, papa kena!" sahut Samudera tersenyum puas ketika tangannya menyentuh lengan Theo.
"Ck, sial!" umpat Theo kesal.
"Siapa yang sisilan papa?" tanya Samudera menatap pria besar itu polos.
"Sisi ... Apa?" tanya Theo.
"Papa keluar ... tadi papa udah kena kan!" usir Rasya.
Theo keluar, ia harus berdiri di sana bersama Michael dan Exel.
"Ayo Kak Sam bakar Tinti Dian, Tinti Sukma dan Tinti Ambar!" pekik Sky.
Tiga wanita hendak berpencar. Tapi sayang pergerakan mereka terbaca dan semua pengawal perempuan itu kalah.
"Boom!" teriak Dewa semangat.
"Hole! Ata' beunan!" seru triplet Dougher Young, Maryam, Aisya dan Al Fatih.
"Badhus Paypi!" tepuk Zaa dan Nisa puas.
"Ah ... talian suma dedhe padan doan!' ledek Aarav pada para pengawal.
"Apan Baji Baby Alsh, pa'a tamuh beulupatan pestuwatu?!' ujar Chira mengingatkan keponakan bayinya.
"Pa'a ipu?" tanya Arsh yang lupa.
"Sowal padhi yan peultataan Papa Beo!' sahut Zaa.
"Oh wiya .... Bampil pupa!" tepuk Arsh di dahinya.
"Ipu papa ladhi dudut-dudut nenat!" tunjuk Fatih.
Semua bayi mendekati pria tampan itu. Theo sangat terkejut, baru saja ia kalah dan diledek oleh bayi yang baru belajar berjalan kini sudah berhadapan dengan kakak-kakaknya.
"Aypi?" Zora mengerutkan keningnya.
Faza yang juga baru saja meledek Theo tampak bingung.
"Ata'?"
"Janan tuwatil Paypi. Ata' pama apan Baji Baby Alsh banya inin peulpanya pama Papa Peo!" ujar El Bara menenangkan Faza.
"Oh ... entan upil ipu ya?" tanya Hafsah mengingat.
"Wiya!" angguk Arsh menjawab.
Theo tampak mati kutu, pria itu benar-benar tak mengerti bahasa yang digunakan oleh para bayi itu.
Della hendak mendekat tapi ditahan oleh Harun.
"Kak,"
"Udah biarin aja!" ujar Harun usil.
"Nggak boleh gitu kak. Kasihan papa," ujar Della iba.
Akhirnya Theo terselamatkan karena Della menjadi penterjemah para bayi.
"Oh ... Peulnata teumalin ipu papa palah baham?" sahut Aaima baru mengerti.
"Biya, papa pidat meneulti pahasa pita," sahut Arsyad.
"Sadhi tutil ipu beunyatit tulit ya Ata'?" tanya Izzat.
"Iya baby, kutil adalah penyakit kulit," jawab Della.
"Tayat pa'a tutil?" tanya Zizam.
"Dia sepelti benjolan kecil-kecil gitu. Coba minta papa nyalakan hapenya untuk cali tau apa itu kutil," jawab Della.
"Papa soba nyalatan besmat sompel papa!" suruh Arsh bossy.
"Bes apa?" tanya Theo bingung.
"Besmat sompel papa!' jawab Arsh setengah berteriak.
"Blefsmalt ponsel pa," jawab Della mengartikan.
"Apa lagi itu?" tanya Theo.
Della menghela nafas, rupanya pria itu juga kesulitan mengerti kata-katanya.
"Ponselnya Abah Dallen, apa papa punya?" tanya Della.
"Ponsel Tuan Darren?" Della mengangguk dengan senyum mengembang.
"Nona, bagaimana saya bisa memiliki ponsel Tuan Darren? Saya hanya punya ponsel saya sendiri," jawab Theo.
"Ya pake ponsel papa aja deh!' sahut Della sedikit kesal.
Theo pun mencari tau apa itu kutil. Pria itu juga baru mengetahui jika nama itu adalah sebuah penyakit yang berasal dari jamur dan menyerang kulit.
Setelah itu, semua anak teralihkan dengan makanan yang disiapkan oleh ibu-ibu mereka.
Theo mengusap peluhnya. Baru kali ini ia menggunakan otak dan ototnya bersamaan untuk meladeni semua anak-anak.
"Mereka luar biasa. Padahal semua adalah anak orang kaya. Apapun yang mereka butuhkan semua lengkap. Tapi sepertinya Ketua mengajarkan kemandirian pada semua anak," gumam pria itu.
"Bukan itu saja ketua!" sahut Michael.
"Mereka itu juga terlatih semenjak dini oleh kami," lanjutnya memberitahu.
Theo mengangguk, Ia sudah tau dan merasakan bagaimana Sky dan anak-anak lain mengerjai pengawal dengan kabur dari penjagaan.
"Sepertinya kita kalah dengan mereka?!' ujarnya.
"Benar ketua, kami kalah dengan semua anak-anak," jawab Michael.
Bersambung.
Benjolan kecil, berdaging pada kulit atau selaput lendir yang disebabkan oleh virus papiloma manusia.
Kutil disebabkan oleh berbagai strain virus papiloma manusia. Strain yang berbeda dapat menyebabkan kutil di berbagai bagian tubuh. Kutil dapat menyebar dari satu bagian tubuh ke bagian lain, atau antarmanusia melalui kontak dengan kutil.
Next?