THE BIG FAMILIES

THE BIG FAMILIES
ARRAYA



"Arraya ...."


"Kamu siapa?!"


Arraya menatap wanita yang merangkak perlahan ke arahnya. Bocah cantik itu menatap sekeliling, semua serba gelap.


"Mama ... Papa, Daddy, Ayah, Bunda!" panggilnya berteriak tapi tak keluar suara.


"Arraya!" panggil makhluk itu lagi makin dekat.


"Kamu siapa? Apa maumu!" teriak Arraya mulai takut.


"Arraya ...."


Sebuah sinar menyeret makhluk itu hingga berteriak. Arraya menangis melihatnya. Gadis kecil berusia tujuh tahun melihat darah tercecer di lantai putih.


"Anakku ...anakku!" teriaknya.


"Oeeekk!"


Bayi mungil yang dirampas dari ibunya. Sang ibu dicekik dan kepalanya dihantam ke lantai.


"Hentikan!" teriak Arraya dengan suara tercekik.


Gadis kecil itu tak bisa memalingkan wajahnya. Ia terpaku dengan rentetan kejadian yang sungguh biadab dan diluar batas kemanusiaan.


"Hentikan ... Aya mohon!" teriak Arraya tanpa suara.


Tubuh kecilnya melorot ke lantai. Arraya melihat bagaimana tubuh wanita yang masih bernyawa itu diseret sedemikian rupa.


Sosok bayi dirampas dari tangan wanita itu. Perempuan itu menjerit, namun pelaku membantingnya ke lantai dan menginjak kepalanya dengan keras.


"Hentikan ... Tolong hentikan!" teriak Arraya menangis.


Gadis kecil itu tak bisa memalingkan wajahnya. Mata sucinya dipaksa melihat adegan kekerasan yang diluar batas kemanusiaan.


"Berhenti!" teriak Arraya sekuat tenaga, tapi hanya keheningan yang ada.


"Oeeek ... Oeeek!"


Ruangan mendadak putih semua. Suara tangisan bayi terdengar. Arraya menoleh ke kanan dan ke kiri.


"Oeeek ... Oeeek!"


"Baby ... Kamu di mana?"


Suara tangisan bayi makin kencang. Arraya bangkit dan mulai mencari asal suara.


Seorang laki-laki menatap Arraya dengan seringai menakutkan.


"Berikan bayi itu padaku!" teriak Arraya begitu berani.


"Jika kamu bisa ... Aya!"


Bayi dilempar begitu saja. Arraya berteriak sekuat tenaga.


"Baby!"


"Baby ... Bangun sayang!"


Arraya membuka matanya. Nafasnya tersengal, Terra langsung memeluk putri bungsunya yang mendadak pucat dan keluar keringat dingin.


"Mama ...," ujar Arraya lemah.


"Ma ... Aya kenapa ma ... Hiks ... Hiks!" tangis Arion.


"Tidak apa-apa baby. Baby Ay hanya mimpi buruk," ujar Terra menenangkan putra bungsunya.


Arion membangunkan ayah dan ibunya karena melihat tidur saudari kembarnya gelisah.


Pagi menjelang, Arraya tak bergerak dipelukan Terra. Bocah itu masih lemas dan tak mau lepas dari pelukan sang ibu.


"Nak, sayang," Haidar sedih melihat putrinya.


"Baby ... Baby kenapa?" tanya Kanya ketika datang.


Bram dan Kanya tiba setelah mendengar kabar jika Arraya sakit. Arion kembarannya pun ikutan sakit.


"Baby mimpi buruk Oma," jawab Terra.


Semua orang sudah memenuhi rumah Terra. Anak-anak diwajibkan sekolah termasuk Arion.


"Mama ... Bagaimana kita mau sekolah kalau saudara kita sakit?" ujar Azha yang tak mau sekolah.


"Baby ... Jangan pakai alasan saudaramu sakit kalau mau bolos!" peringat Dav.


Azha tak bisa berkelit terlebih Rion mulai terlihat marah.


"Baby!"


"Iya Papa ... Kita berangkat! Assalamualaikum!" putus Bariana.


Akhirnya semua anak pergi. Arraya tak mau berpindah tangan. Gadis kecil itu setia memeluk ibunya.


"Baby!" Lidya datang.


'Huuuu ... Huuu ... Mama Iya ... Hiks ... Aya cape ... Hiks!"


"Baby!" Lidya menghampiri gadis kecil yang mestinya adalah keponakannya.


Arraya baru mau berpindah pelukan. Lidya terdiam ketika memeluk bocah cantik itu.


"Baby ... Ada apa sayang?" tanya Lidya yang merasakan energi yang berbeda.


"Sayang ... Baby kenapa?" tanya Terra sedih.


"Uma belum datang?" tanya Lidya yang juga bingung dengan apa yang dirasakannya.


"Umamu sebentar lagi datang sayang," ujar Haidar.


Adiba datang bersama Satrio. Dinar dan lainnya juga datang. Bayi-bayi disingkirkan agar tak mendengarkan hal-hal buruk.


"Pa'a yan teulsadhi?" tanya Xierra pada Arsh.


"Pidat pahu ... Ata' Aya tatana bimpi pulut!' jawab Arsh.


"Bimpi pulut?" tanya Nauval dengan mata besar.


Gio berdecak me dengar pertanyaan putranya itu.


"Bagaimana baby ... Bukan bijimana!" ralatnya.


"Sayang!" peringat Aini kesal pada suaminya.


"Apa sih?" Gio tentu merasa tak bersalah.


Al Bara mendekat tanpa ada yang mengetahui keberadaan bayi super kepo itu. Ia mencuri dengar apa yang terjadi.


Saf datang bersama suaminya Darren dan empat anaknya. Tiba-tiba Arraya berteriak ketika melihat kedatangan Saf.


"Pergi ... Kamu pergi!" usirnya dengan suara aneh.


"Baby!" Terra tentu menangis mendengarnya.


Saf menatap Arraya, tak lama Herman datang dan makin menjeritlah Arraya sampai tak sadarkan diri.


"Baby ... Baby!" pekik Terra.


Haidar menenangkan istrinya. Virgou mengambil alih Arraya dari pelukan Lidya.


"Daddy, Ayah!" Lidya sedih melihat kondisi Arraya.


"Bawa dia padaku!" perintah Herman.


"Kalian urus semua anak. Jangan sampai ada yang melihat!" lanjutnya.


Semua bayi dibawa Rion ke halaman belakang. Tapi Al Bara yang sudah berhasil menyelinap mengikuti Herman dan Saf yang membawa kakaknya.


"Ah ... Bayi itu!" Virgou gemas sendiri.


Lidya yang lemas tentu ditangani oleh Aini. Putri datang bersama suaminya. Arsyad tidak ikut mereka. Rinjani bahkan bersama Layla dan Juno juga bayi kembar sepasang mereka.


Di ruangan lain, Herman meletakkan Arraya di ranjang. Pria itu duduk di sebelahnya. Saf menekan beberapa syaraf gadis kecil itu.


"Hiks ... Tolong ... Anak itu dibuang begitu saja ... Hiks ...!" Arraya mengigau.


Herman sangat kesal, jiwa suci cucu keponakannya harus berjibaku dengan setan yang membuat semua keluarga panik.


"Tolong keluar dari tubuh cucuku!" perintah Herman lalu menekan satu syaraf dekat telinga.


Herman membisikkan kalimat toyibah. Arraya mengerang hebat. Saf terus menekan urat-urat dan syaraf yang kaku dengan linangan air mata.


"Baby ... Hiks ... Hiks!"


Betapa berat apa yang dilalui Arraya. Gadis kecil itu jadi media mahkluk yang mestinya tak mengganggu.


"Aku akan cari jasad anakmu dan mengembalikannya padamu!" janji Herman.


"Uhuk!' Arraya terbatuk.


"Huaaaa ... Mama ... Huuuuu!" tangis Arraya pecah.


Herman segera memeluk cucunya itu. Seluruh doa yang ia tau dibaca dan membalurnya pada seluruh tubuh Arraya.


"Ayah ... kasihan Baby," ujar Saf iba.


"Arraya terlalu peka pada dimensi lain. Jaraknya dengan dunia lain hanya setipis kertas," sahut Herman tak berdaya.


"Baby sangat sensitif jika bersinggungan dengan mereka," lanjutnya lirih.


Keringat sebesar biji jagung keluar dari kening Arraya yang terlelap. Herman mengusapnya dengan telapak tangan.


"Kau luar biasa baby. Kau paling cepat jika bersinggungan dengan dunia arwah," ujar Herman.


Al Bara menutup pintu perlahan. Ia menelan mentah-mentah semua informasi yang ia dapat. Virgou tak mencegah itu semua. Ia memang gemas dengan apa yang dilakukan oleh bayi super kepo itu.


"Days!" ujarnya sambil berjalan dengan mata besar.


"Pa'a ... lada pa'a yan teulsadhi?" sambut seluruh saudaranya ingin tau.


"Days ... teulnata Ata' Aya basut pumia walwah!" jawab Al Bara.


"Pumia walwah?" seru Zaa dan bayi seumurannya tak percaya.


Mereka tentu belum tau jika Arraya bisa bersinggungan dengan dunia arwah. Peristiwa saat pernikahan Juno dan Layla.


"Apa baby melihat arwah gentayangan?" tanya Layla yang mendengar perkataan para bayi.


"Walwah pentayanan?" seru Arsh heboh sendiri.


"Peuntayanan peubelti pa'a?" tanya Zora putus asa.


"Tata Ata' Tean peuntayanan ipu peubelti layanan butus!" jawab Maryam yakin.


"Layanan butus?" semua bayi melotot.


"Tuh menayis ... Beumpayantan ... peutapa teusamna ...."


"Ata' tot banyi ipu?" tanya Fatih kesal dengan nyanyian Aaima.


"Ata' suma banyi tot. Powal na Mama suta bonton pilem yan sudhulna layanan butus!" jawab Aaima.


Al Bara menggaruk kepalanya. Ia jadi bingung sendiri kemana arah bicara semua saudaranya itu.


"Sadhi seupeunelna bunia walwah ipu layanan butus apaw walwah peuntayanan?" tanyanya gusar.


"Ah Ata' pahu!" sahut Fathiyya dengan mata besar.


Semua bayi menoleh padanya. Sedang para orang tua jadi gemas sendiri.


"Buntin pelaton ipu sepenis walwah peuntayanan yan siwana pidat piteulima pumi!' jawab bayi itu hingga membuat Gabe tersedak.


"Pelaton pa'a ladhi!' tanya Chira dan Zaa kesal sendiri.


"Pelaton ipu tata Ata' Seyan bahlut yan banyut ... Ipu woh yan sadhi busuhna ponbot!" jawab Arsyad ngawur.


Bersambung.


Atur kalian aja deh baby


Pelakor adalah sejenis makhluk yang mestinya tidak ada di muka bumi. setuju Readers?


next?