THE BIG FAMILIES

THE BIG FAMILIES
JALAN-JALAN SORE



Kaila benar-benar suntuk di rumah. Gadis itu ingin sekali hang out bersama kakak dan Bu'leknya.


"Kak, yok pegi, jalan-jalan!" rengek Kaila.


"Mau ngapain dek?" tanya Maisya yang juga sudah lelah berbaring saja di kasurnya.


"Pergi ke kafe kak Sean yuk!" ajaknya.


"Ah ... Males ... Gimana kalo kita ke taman kota aja. Di sana banyak jajanan! Kakak mau beli crepes, cilor sama seblak!" ajak Maisya.


"Biar nggak ruwet kita ajak Tinti Tiana!" cetus Kaila.


"Ayo deh!" angguk Dewi setuju.


Sore itu memang mansion Virgou sedikit sepi. Para bayi dibawa ibu mereka memenuhi kafe milik Adiba. Sean mengajak semua saudara laki-laki ke kafe miliknya.


Sebenarnya ketiga gadis itu diajak pergi. Tapi, Maisya bosan ke kafe saudara misannya itu.


"Yuk cap cus!" ajak Dewi yang langsung memakai outfit rajut.


"Udah mandi?" tanya Maisya.


"Udah lah!" jawab Dewi dengan senyum lebar. "Tadi pagi!"


"Ih Bu'lek, mandi dulu ah!" sungut Kaila.


"Kan keluar bentaran! Ngapain mandi!" elak Dewi enggan mandi.


"Ah, Bu'lek ... Mandi!" suruh Kaila tak peduli.


Dewi harus menurut sebelum Kaila mengomelinya. Gadis itu pun mandi secara kilat. Hanya tujuh menit plus berpakaian.


"Buset deh ... Mandi apa cuci muka sih?" ledek Maisya.


"Mandi!" jawab Dewi cuek.


Ketiganya pamit pada Gina. Wanita itu tak bisa mencegah ketiganya untuk keluar.


"Ada Tinti nek!" rengek Kaila menghiba.


"Jangan macam-macam ya!" peringat Gina was-was.


Deno sang suami diajak Frans keluar membeli peralatan. Tiana pun diminta Gina menjaga tiga gadis baik-baik.


"Tunggu Papa Exel ya!" ujar Tiana.


"Yah ... Tinti!" rengek Kaila.


"Bisa nggak hanya cewe aja gitu!" lanjutnya cemberut.


"Eum ...."


"Ayolah ... Keburu malam!" Dewi menggenggam tangan Kaila dan langsung melangkah keluar mansion.


Tiana mau tak mau mengikuti tiga nona mudanya. Keempatnya memilih menggunakan mobil listrik. Jarak mansion dan taman kota hanya sepuluh menit. Tiana menyetir mobil listrik itu.


Sampai di sana, banyak orang lalu-lalang. Para pedagang memenuhi pinggiran pagar taman.


"Wah ... Surga makanan!" seru Kaila berbinar.


"Beli es piscok dulu yuk!' ajak Dewi.


Ketiganya turun dari mobil listrik. Tiana mengikuti mereka dengan memelankan jalan mobilnya.


"Tinti mau nggak?" tawar Maisya.


Mulut gadis itu sudah penuh dengan selai coklat. Ia memang seperti bayi jika berhadapan dengan coklat.


"Kak ... Sini foto!" ujar Kaila lalu membidik kakaknya melalui kamera ponselnya.


Maisya berpose dengan memanyunkan bibirnya. Bidikan Kaila memang sangat luar biasa. Gadis itu langsung memajangnya di akun sosmed.


"Kita bertiga yuk!' ajak Dewi yang langsung melumuri bibirnya dengan coklat.


"Ayo-ayo!" angguk Kaila.


Ketiganya berpose memajukan bibir mereka. Tampak aksi ketiganya mendapat perhatian kaum adam.


Maisya yang manis, Kaila yang cantik dengan mata birunya. Lalu Dewi yang tenang juga memancarkan kecantikan alami.


"Nona, ayo masuk!" suruh Tiana mulai posesif.


"Masih mau jajan Tinti!' rengek Kaila.


"Iya, masuk dulu. Makan itu sambil duduk, bukan berdiri!' sahut Tiana.


Ketiganya masuk mobil. Mereka memakan pisang tusuk yang dilumuri coklat dengan toping keju dan meises itu.


"Bu'lek es puding duren!" pekik Maisya ketika melihat pedagang yang dimaksud.


"Biar saya yang beli ya!" ujar Tiana lalu turun.


"Mau rasa coklat ya Tinti!" teriak Dewi.


Empat cup es puding durian dengan toping beda rasa. Kaila lagi-lagi memposting apa yang dimakannya di sosial media.


Akibat perbuatannya, taman kota kini banyak pria dan wanita berpakaian serba hitam.


Ini semua akibat Sean dan lainnya heboh dengan jajanan yang diunggah Kaila.


"Mana es krim puding durian tadi!" pekik Sean.


Pemuda itu memang penggila buah berbau khas itu. Semua bayi heboh ingin makan.


"Amah ... Lulen pa'a?" tanya Horizon.


"Duren itu buah enak dengan bau yang sedikit menyengat baby," jawab Maria.


"Pa jangan makan itu!" larang Terra.


"Ini hanya sate kikil sayang!" seru Haidar tak peduli.


Virgou pun sama, pria itu memburu makanan lontong pecel dengan peyek udang. Pria itu sampai menghabiskan dua porsi.


"Sate Padang!" seru Bart lalu memesan makanan khas itu.


"Dagingnya aja ya!" ujar Gisel langsung memesan.


"Sayang, aku mau babat juga!" ujar Bart.


"No Grandpa!" larang Gisel.


"Ah, nggak asik!" gerutu Bart.


"Ommy at sasit!' angguk Horizon yang juga dilarang makan es durian.


"Amah ... Au lulen!" pekik Zora yang juga mau makan duren.


"Belum boleh baby!' larang Luisa.


"Papa nggak makan duren baby!" ujar Andoro yang memang tak suka buah berkulit duri itu.


"Uh ... lelalu ipuh-ipuh ... Amih abun nih!" ancam Zora yang mau kabur.


'Eh ...!' Luisa menyodorkan seujung sendok es yang dimakannya.


"Nah, enak nggak?"


Zora mengecap lidahnya. Ia mengerutkan kening. Memang tidak berasa sama sekali. Karena sang ibu tak memberikan apa-apa.


"Dat dada sasana!" gelengnya.


"Nggak enak kan?" tanya Luisa lalu memasukkan satu sendok es ke mulutnya sendiri.


Kening Zora berkerut, ia merasa jika sang ibu membohonginya. Vendra saudara kembarnya tengah menikmati pisang coklat.


"Oh Amah ohonin atuh?" angguknya.


Bayi itu turun dan langsung berlari. Luisa tentu panik dan berteriak.


"Baby!"


Hal itu membuat semua bayi ikut berlari mengejar. Semua pengawal mengejar dan menangkap mereka.


"Kenapa kabur baby?" tanya Azizah pada putranya.


"Titut-titutan Amah!" jawab Ryo.


"Baby?" tanya Lastri pada dua putri kembarnya.


"Aypi Yoya abun ... Iput abun judha!' jawab Zaa santai.


"Aypi teunapa tamuh tabun?" tanya Aarav.


"Amah ohonin Yoya!" jawab bayi itu dengan mencebik-cebikkan mulutnya.


"Amah Susisah bolon?" tanya semua bayi dengan mata besar.


"Mama nggak bohong kok!' bantah Luisa.


"Amah ohon!" seru Zora dengan air mata meleleh.


"Bohong kenapa baby?" tanya Adiba terkekeh.


Zora ada digendongan Sukma. Bayi itu tak mau diambil alih ibunya.


"Amah ilan ... esna dat nenat ... Apih amah matan anat-anat!" jawab Zora kesal.


Semua mata bayi tertuju pada Luisa. Pandangan penuh penghakiman. Xierra mencibir wanita itu.


"Palu pahu wowan puwa suta bolon!"


"Biya, soba nanat seusil yan bolon!' sahut Nouval menimpali.


"Bastina pita pibilan nanat dulhata!" dengkus Al Bara kesal.


"Natnat lulhata pa'a Ata'?" tanya Horizon.


"Nanat yan suta beumpantah!' jawab Al Bara.


"Hei ... Ayo pulang. Sebentar lagi Maghrib!" seru David yang tidak mengetahui apa yang terjadi.


Semua pulang ke mansion Virgou dengan perut sedikit kenyang. Sean pun mulai membuat konsep untuk menambah menu yang sama seperti yang ia makan tadi di taman kota.


Semua bayi mandi kembali. Adzan maghrib berkumandang. Semua berbaris rapi di mushola yang telah lama ada di mansion Virgou.


"Allahuakbar!" seru Demian sebagai imam.


Malam telah lalu, Luisa mengecup pipi bulat kedua anaknya. Setelah tadi menyambangi cucunya. Ia kembali ke kamar di mana dua anaknya tertidur lelap.


"Bagaimana diadili anak-anak sayang?" tanya Andoro sang suami.


"Ih!" decak Luisa sebal.


Lalu keduanya terkekeh, mereka belajar banyak. Walau sebagai orang tua. Mereka tak berhak membohongi anak-anak demi alasan apapun.


Bersambung.


Setuju Readers?


next?